2017: Tahun Ayam Jago dan Titik Nol Kebangkitan Nusantara

2017: Tahun Ayam Jago dan Titik Nol Kebangkitan Nusantara.

ihihi

Ayam jago menyimbolkan dua hal utama, yakni simbol dimulainya periode terang dan simbol maskulinitas.

Bunyi ayam jago umumnya terdengar kala matahari hari mulai muncul dan malam menutup, ketika kegelapan usai dan keterangan siap mengambil alih.

Matahari adalah simbol kebangkitan keTERANGan, atau ilmu pengeTAHUan; tak ada keterangan dan pengetahuan tanpa matahari.

Matahari adalah inisiator dualisme, yang memecah gelap dari terang, inisiator terpilahnya pengetahuan dan ketidaktahuan, kesadaran dan ketidaksadaran, ukuran salah dan benar, dan yang pada gilirannya menjadi fondasi bagi hukum dan aturan.

Secara filsafat, seseorang yang mewarisi pengetahuan yang diprakarsai oleh matahari disebut dengan Guru, dan representasi ilahiah dalam keilmuan disebut dengan Batara Guru atau GuruDev, al-Alimu.

Karena perannya yang vital, ayam jago banyak dijadikan simbol di berbagai belahan dunia. Terutama di lingkungan kerajaan (sebenarnya adalah Keratuan/Queendom) di seluruh dunia.

Suatu kerajaan tak valid jika tak menyandang artikel simbol matahari, karena matahari, sebagai simbol raja, langitan, “memberi mandat” pada ratu, bumi.

Nusantara, sebagai bagian bumi yang paling banyak dilimpahi berkat dari Matahari adalah bangsa yang paling signifikan dalam mengemban “amanah Matahari” ini, sehingga bertanggung jawab atas distribusi sumber daya ke seluruh dunia.

Hal ini sudah dilakukan sejak dahulu kala melalui tangan tangan kekuasaannya di seluruh muka bumi, terutama sejak dari zaman kerajaan Galuh yang artinya adalah ‘bangsa/negara Matahari. (‘Gallo’ adalah bahasa Eropa lama yang artinya adalah Ayam Jago). Selain sebagai sumber daya dunia, Nusantara juga merupakan sumber ilmu pengetahuan dunia.

2017 berjumlah 10, atau dari satu ke nol. Mengimplikasikan bahwa dunia akan mengalami prakarsa reset dalam seluruh aspek, yakni secara ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Seluruh akan mulai dari titik nol lagi, seperti fajar yang menandai mulainya bangkitnya matahari, timbulnya terang. Jumlah dari 17 adalah delapan, yakni menggambarkan titik balik, looping.

Karena Indonesia adalah negara yang merepresentasikan Nusantara, maka Indonesia akan menjadi titik putaran awal yang akan memprakarsai putaran global. Bangsa kita harus bersiap terhadap perubahan besar yang akan mulai terjadi secara radikal di Indonesia. Perubahan ini tak akan hanya terjadi di tahun ini namun akan memakan waktu yang lama, namun tahun ini adalah tahun prakarsanya.

2017 juga memiliki angka 17 yang adalah juga simbolisasi maskulin (18 adalah feminin). Pada tahun ini kekuatan maskulin akan lebih dominan. Secara makro kosmis, artinya kekuatan langitan, representasi karakter karakter maskulin keilahian akan lebih dominan. Dalam skup universal, kekuatan maskulin adalah daya matahari (kekuatan feminin adalah Bulan).

Matahari memiliki dampak yang radikal terhadap aspek aspek iklim, seperti gempa, pasang, dan angin. Musibah akan lebih banyak terjadi sebagai akibat dari aktivitas tanah, air dan udara. Mari kita waspada dan berdoa semoga dampaknya seminimal mungkin.

Secara sosial politik, Indonesia juga akan mengalami banyak koreksi melalui sistem pembersihan. Kekuatan akan mulai bergeser pada titik kesetimbangan. Yang pernah menabur akan mulai menuai. Yang sakit rohani akan semakin menjadi, yang sehat juga akan makin tercerahkan.

Mari semakin eling dan waspada, agar sehat sejahtera dan selamat.

Hendra Hendarin
2017.

****




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *