Bakti Kampung Untuk Indonesia

Bagi sebagian orang judul di atas mungkin terkesan muluk-muluk. Atau bisa pula dianggap sekedar khayalan. Wajar saja. Karena kenyataannya sudah cukup lama wajah Kampung dilumuri stigma negatif.

Stereotip tentang Kampung yang mendominasi ruang publik kita adalah; orang-orangnya kolot, tak berpendidikan, gaptek,  dan masih banyak lagi suara-suara negatif lainnya. Semua itu terakumulasi dalam diksi Kampungan. 

Tetapi menariknya, masyarakat Kampung sendiri justru tidak pernah membalasnya. Jangankan membalas. Mereka seperti tak peduli dengan tetap bersikap seperti biasanya; ramah, rendah hati, sederhana – apa adanya, dan tetap gemar menolong serta bergotonog royong. Tak terkecuali kepada yang pernah men-cap buruk mereka.

Prilaku Masyarakat Kampung seperti disebutkan di atas rupanya menarik minat Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia (BPIP RI) untuk merealisasikan program kerjanya. Salah satunya dengan bersinergi bersama perwakilan Masyarakat Kampung dari seluruh provinsi di Indonesia melalui sebuah acara yang diberi nama Persamuhan Nasional 2019 “Bakti Bangsa” yang digelar di Anyer, Serang, Banten, pada 26 hingga 30 Oktober 2019.

Dari data yang diungkap panitia acara, ada 340 orang yang diundang hadir ke acara persamuhan tersebut. Dan mereka adalah para pegiat di Kampungnya masing-masing dengan berbagai capaian prestasi yang patut diapresiasi. Ada yang di bidang literasi, wisata, ekonomi kreatif, event kesenian – kebudayaan, dan masih banyak lagi bidang-bidang lainnnya.

Dalam acara itu para Pegiat Kampung dari 34 provinsi bertemu, saling berinteraksi, dan tentunya saling berbagi pengalaman selama empat hari.

Saya sendiri sangat berterimakasih karena turut diundang dan bisa hadir berada di tengah-tengah mereka. Mendengar secara langsung cerita-cerita tentang bagaimana praktek membaktikan diri kepada kampung, desa, kabupaten, provinsi, dan tentu saja kepada Indonesia. Saya pun turut merasakan bagaimana mereka berjuang untuk kemajuan kehidupan dan penghidupan mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya yang bahkan diantaranya hingga berdarah-darah.

Dalam berinteraksi dengan perwakilan orang-orang Kampung dari Sabang sampai Merauke itu pula saya menemukan nilai-nilai Pancasila yang nyata baik dalam tampilan secara bahasa, budaya maupun laku interaksi mereka yang lain.

Dalam hal ini, saya sangat mengapresiasi langkah BPIP RI sebagai lembaga negara yang tugas pokoknya membangkitkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang selain telah mempertemukan perwakilan pegiat Kampung dari seluruh Indonesia, juga menggelar serangkaian peringatan acara Sumpah Pemuda 28 Oktober yang beda dari biasanya.

Acara itu diawali dengan upacara di pantai dan dimeriahkan dengan Parade Beduk yang berlokasi di sekitar Mercusuar Anyer Banten dengan peserta semua Pegiat Kampung dan perwakilan Masyarakat Serang Banten dari Pesantren dan sekolah serta tokoh setempat.

Nilai lebih dari acara Parade Beduk yang dihadiri oleh Musisi Perkusi kenamaan Indonesia, Gilang Ramadhan itu adalah karena bertujuan besar, yaitu membangkitkan nilai-nilai sejarah dimulainya era Baru sebagai Bangsa Indonesia yang cukup mempengaruhi lahirnya Sumpah Pemuda.

Perwakilan BPIP Taufik Razhen yang membuka acara tersebut mengatakan bahwa monumen yang sekaligus berfungsi sebagai mercusuar Anyer adalah pertanda dimulainya peradaban baru di Indonesia, karena ketika itulah dimulai pembangunan jalan utama yang menghubungkan pulau Jawa di sepanjang jalur Pantura. Peristiwa sejarah dan jalan yang dibangun tersebut kemudian dikenal sebagai Anyer – Panarukan. Pemerintah juga telah menetapkan titik berdirinya Mercusuar Anyer sebagai titik nol kilometer.

Hal yang tak kalah mengesankan adalah alasan pihak BPIP menetapkan Anyer Banten sebagai tempat digelarnya pertemuan. Salah satu yang mendasari adalah untuk ikut membantu saudara-saudara kita di Banten khususnya Anyer dalam memulihkan banyak hal, terutama yang berkaitan dengan pariwisatanya.

Anyer dan beberapa daerah di Banten seperti kita ketahui belum lama mengalami bencana tsunami yang menelan banyak korban. Akibat bencana tersebut, hingga tadi malam saya melihat secara langsung di sana banyak usaha-usaha yang gulung tikar. Hotel-hotel sepi pengunjung. Dan hal itu tentu saja sangat berdampak pada pendapatan masyarakat sekitar.

Karena itulah BPIP memutuskan menggelar acara Persamuhan Nasional 2019 “Bakti Bangsa” di Anyer. Ke 340 pegiat Kampung berkumpul di sana selama empat hari, menggelar event besar yang disiarkan di salah TV Nasional dan diberitakan media-media lainnya. Harapannya untuk menunjukkan kepada semua orang di seantero nusantara bahwa Banten khususnya Anyer sudah benar-benar aman untuk kembali dikunjungi. Selain itu, para perwakilan masyarakat kampung akan mengabarkan kepada orang-orang di daerahnya masing-masing tentang kondisi terkini di Anyer khususnya dan Banten pada umumnya setelah pulang nanti. Dan atas dasar ini semua maka tulisan ini saya beri judul Bakti Kampung Untuk Indonesia.

Terakhir saya harus mengabarkan kepada masyarakat luas bahwa orang-orang Kampung yang selama ini distigma negatif adalah orang-orang yang sangat Pancasilais dengan kerendahhatiannya, kesederhanaannya, serta tolong menolong dan gotong royongnya. Mereka berbuat tak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk kampung, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan tentu saja untuk Indonesia.

Redy Eko Prasetyo yang dipilih oleh BPIP sebagai salah satu Ikon Pancasila 2019 sering mengatakan bahwa Kampung adalah Serambi Indonesia. Setidaknya di acara persamuhan ini sudah dibuktikan bahwa pendapat tersebut benar.

Terimakasih Saudara-saudara Pegiat Kampung atau Pembakti Bangsa. Terimakasih BPIP RI dan semua yang telah memujudkan acara persamuhan ini. Semoga Tuhan yang maha esa senantiasa meridhoi dan semesta mendukung setiap langkah kita dalam membangun kehidupan dan penghidupan di Kampung yang berarti juga turut membangun masa depan Indonesia. Amin.

Reportase: Imam Fadholi (Kampung Blimbing Besuki Situbondo)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *