BELAJAR DARI SPIRIT CANDI BOROBUDUR

BELAJAR DARI SPIRIT CANDI BOROBUDUR

Oleh: Bachtiar Djanan M.

borobudur

Coba kita bayangkan, sekitar 1.300 tahun yang lalu, di sebuah tempat berkumpullah para arsitek terkemuka  dan petinggi-petinggi kerajaan. Mereka berdiskusi tentang perencanaan pembangunan sebuah megaproyek, yang kini kita kenal dengan nama Candi Borobudur.

Apa yang mereka bicarakan? Tujuan membangun candi? Konsepnya? Rencana konstruksinya? Cara mengumpulkan bahan batunya? Cara memotong batu? Cara menata batu-batunya? Desain reliefnya? Cara membuat reliefnya? Tenaga pekerjanya? Pembiayaannya?

Sungguh sulit dibayangkan, bagaimana para leluhur kita mendapat gagasan, merancang, mendesain, dan mewujudkan pembangunan sebuah candi raksasa yang sampai hari ini, 13 abad kemudian, masih berdiri tegak. Sebuah mahakarya nenek moyang yang tiada tandingannya.

Warisan Peradaban

Para penggagas, perancang, dan pembangun candi yang dibuat pada era dinasti Syailendra ini, tentunya adalah masyarakat telah mencapai hakekat spiritual yang tinggi, falsafah kehidupan, lelaku moral, cara berpikir, sistem nilai-nilai, dan citarasa estetika yang tinggi. Borobudur bukan saja sebuah situs kebudayaan, Borobudur adalah sebuah monumen peradaban.

Tentu saat itu telah terjadi sebuah sistem kerja yang baik, terkoordinir, dan termanajemen dengan rapi. Tentu pengerjaan  candi selama puluhan tahun ini melibatkan ribuan tenaga, yang bekerja  saling bersinergi, bergotong-royong untuk membangunnya.

Spirit itulah yang coba ditangkap dan diwujudkan kembali di era kini, melalui kegiatan Borobudur Cultural Feast. Sebuah acara hari raya kebudayaan bagi masyarakat sekitar Candi Borobudur.

Candi Borobudur yang mungkin selama ini tanpa sadar hanya sekedar dianggap sebagai “obyek wisata” ataupun “obyek bisnis”, kini mulai kembali mengambil peran sebagai sumber inspirasi, dan sumber untuk mendapatkan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang.

Kenalkah dengan Borobudur?

8_stupaSelama puluhan tahun sebagian masyarakat di sekitar Candi Borobudur telah mendapatkan rejeki karena kedatangan wisatawan. Memang tidak semua masyarakat memperolehnya. Namun kenyataannya, Borobudur telah menghidupi sebagian dari mereka.

Berbagai bisnis dibuat oleh warga, terkait dengan ekosistem pariwisata Borobudur. Homestay, kerajinan, toko suvenir, kuliner, persewaan transport, operator wisata, dll, telah marak tumbuh di desa-desa sekitar Borobudur, dimulai sejak tahun 70-an.

Demikian pula para pemilik bisnis bermodal besar yang datang dari luar daerah, bahkan dari luar negeri, yang telah berinvestasi dan membeli tanah-tanah di sekitar Borobudur. Rupiah, dollar, euro, yen, telah mengalir ke kantong para investor, memberi keuntungan yang mungkin tidak sedikit.

Dari potret kondisi tersebut, muncul sebuah pertanyaan menggelitik, masyarakat sekitar candi dan juga para pelaku bisnis pariwisata ini, apakah mereka sudah mengenal Borobudur?

Apakah nilai-nilai dari leluhur yang dipahatkan pada 1.460 panil relief cerita dan 1.212 panil relief dekoratif Candi Borobudur masih menjadi spirit kehidupan masyarakat setempat? Atau jangan-jangan nilai-nilai itu sudah tidak dikenali lagi?

Dunia Hari Ini

Di jaman serba digital saat ini, nilai-nilai sudah menjadi sesuatu yang langka. Kehidupan manusia di dunia tak ubahnya mesin.  Manusia terjebak oleh kehidupan serba material, terperangkap dalam rutinitas hidup seperti robot, dengan motif bertahan hidup, kekuasaan, uang, dan eksistensi.

Demikian pula yang terjadi di nusantara. Nilai-nilai luhur yang telah dicapai oleh nenek moyang, hari ini telah banyak tergerus dan tak dikenali lagi. Sesama anak bangsa saling berebut kepemilikan, finansial, dan pengaruh. Bahkan agama yang seharusnya suci pun telah banyak menjadi sebuah komoditas dan kendaraan kepentingan.

Dunia sakit. Nusantara carut marut. Manusia tak lagi mengenal fitrah dirinya. Lingkungan hidup rusak. Bencana alam di mana-mana. Keseimbangan semesta alam bergejolak.

Kembali  ke Spirit Borobudur

Borobudur yang dibangun 13 abad yang lalu mungkin bisa menjadi salah satu panduan solusi menghadapi jaman yang makin gamang ini. Borobudur adalah ilmu pengetahuan. Borobudur adalah catatan mengenai sebuah proses menuju tatanan peradaban yang luhur, yang telah dicapai oleh nenek moyang kita.

Lebih dari 70% relief di candi ini menceritakan tentang nilai-nilai kehidupan, tentang hukum sebab akibat, pertanggungjawaban perilaku, moralitas, kemanusiaan, tolong-menolong, pengorbanan, kepahlawanan, dan berbagai value yang perlu dipahami, dihayati, dan menjadi lelaku manusia.

Manusia berproses untuk menjadi pemimpin, minimal untuk memimpin dirinya sendiri dalam kesalehan lelaku, dan kemudian bagaimana manusia memberi manfaat kepada orang lain, makhluk lain, dan alam sekitarnya. Itulah spirit yang disampaikan para leluhur melalui relief Borobudur.

Perhelatan Borobudur Cultural Feast menjadi sebuah titik balik membangun kesadaran terhadap ilmu dan nilai yang diwariskan para leluhur melalui Borobudur. Bagaimana mengenal Borobudur bukan saja sebagai benda arkeologi, atau bahkan sekedar sebagai obyek wisata dan obyek bisnis, namun lebih pada bagaimana menemukan pesan dan spirit Borobudur.

Tiga kali rangkaian aktifitas Sonjo Kampung yang dilakukan oleh tim Jaringan Kampung Nusantara ke desa-desa di sekitar Candi Borobudur dan ke beberapa komunitas, sejak pertengahan bulan Oktober 2016 sampai awal Desember yang lalu, ternyata menjadi bola salju yang bergulir membesar.

Kehausan yang tak disadari oleh masyarakat sekitar Borobudur, terhadap nilai-nilai luhur yang sebenarnya milik mereka sendiri, mulai menjadi sesuatu yang mewujud. Sonjo kampung yang kami lakukan hanya sebagai pemantik. Masyarakat telah mulai menemukan sendiri cara mereka melepas dahaga akan nilai-nilai yang sebenarnya mereka rindukan.

 

Gotong Royong

Bagwhatsapp-image-2016-12-07-at-21-06-21aimana seorang artis sekaliber Trie Utami blusukan ke pelosok-pelosok dusun, seorang KRMT Indro Kimpling Suseno bergerilya ke lurah-lurah dan tokoh masyarakat, seorang Pak Bambang Irawan dari Malang menularkan ilmu dan pengalamannya membangun kampung 3G, ini semua sekedar menjadi sebuah sumber inspirasi bagi masyarakat desa.

Bagaimana seorang Redy Eko Prastyo, Pak Dwi Cahyono, Mas Rully Febrian, Mas Singgih Prayogo, Jamal Looge, Pak Lurah Danis, Agus Wayan Joko Prihatin, dan saya, berbagi pengalaman untuk “memprovokasi” warga, juga support dan dukungan penuh Tim Bakti Borobudur, Mas Supri Desa Jamus Kauman, Mas Suprih Lurah Wringin Putih, dan Mas Didit Desa Salaman, ini semua sekedar menjadi penyulut api semangat warga.
Bagaimana seorang maestro gitar Dewa Budjana menciptakan komposisi untuk Borobudur, seorang Trie Utami menuliskan lirik lagu, seorang Ali Gardy mewujudkan alat musik dawai yang tergambar di relief Borobudur, bagaimana Redy, Ganzer, Argo, dan Febri mengeksplorasi laras nada, juga peran Om John Kopirock, Rayhan Sudrajat, Ali Gardy, dan Redy, yang menggarap komposisi musik dawai, serta Mas Didik Nini Towok yang menghadirkan olah gerak tubuh luwesnya di pentas, ini semua menjadi sumbangsih persembahan bagi masyarakat Borobudur dengan harapan bisa menginspirasi ruang-ruang kreatif warga.

Belum lagi sumbangsih pemikiran para pegiat Jaringan Kampung Nusantara dari berbagai kampung di Indonesia, semua menjadi support positif bagi masyarakat Borobudur.

Namun dari itu semua, yang terpenting adalah bagaimana masyarakat sekitar Borobudur sendiri mulai bergeliat menemukan kembali spirit nenek moyang mereka. Masyarakat sekitar candi Borobudur bisa jadi adalah keturunan darah langsung dari para perancang dan pembangun candi ini.

Semangat bergotong-royong, menyatukan visi, berkarya dengan hati, mencurahkan segenap tenaga dan pikiran, serta memberikan sumbangsih terbaik, itulah spirit Borobudur.  Itulah pelajaran luhur dari nenek moyang, yang diwariskan melalui wujud candi agung seluas 15.129 m2 beserta 2.672 panel reliefnya.

Borobudur Cultural Feast

posterTerdapat 20 desa di sekitar Candi Borobudur. Setiap lima desa saling bekerja sama mempersiapkan panggung pentas rakyat. Lima stage, berada di sisi timur, selatan, barat, dan di sisi utara candi Borobudur, dan sebuah stage di area halaman Candi Borobudur.

Borobudur Cultural Feast, hari raya kebudayaan milik rakyat. Berbagai kesenian kontemporer dan kesenian tradisional rakyat ditampilkan di masing-masing stage, aneka lomba-lomba, pasar kuliner, stand kerajinan, pengajian dan sholawat, lomba lampion, lomba bregada, dan lain-lain. Menjadi sajian dalam selebrasi budaya ini.

Pementasan Karawitan Gangsa Nagari yang dimainkan oleh 44 pemain dari 22 negara, Kirab Nitilaku Mahakarya Borobudur, dan Tari Gita Persada Borobudur, menjadi suguhan istimewa dalam pembukaan Borobudur Cultural Feast.

Sound of Borobudur sebagai sesi launching tiga jenis alat musik dawai yang bentuknya mengambil dari pahatan relief Karmawibhangga, menjadi salah satu menu utama dalam rangka “membunyikan” Borobudur, dan meresonansikannya kepada dunia.

Bagaimana camat, para kepala desa, dan segenap warga lintas desa saling bekerjasama, bersinergi untuk mempersiapkan perhelatan akbar ini, menjadi sebuah geliat yang menggelora. Dan menurut warga, ternyata dalam beberapa puluh tahun terakhir, baru pertama kalinya kebersamaan seperti ini terjadi di Borobudur.

Ini Baru Permulaan

Gotong-royong pitutur agung guyub rukun gemah ripah loh jinawi jayaning nusantara amargo laku-lelaku. Itulah tema besar dalam Borobudur Cultural Feast, yang maknanya adalah bergotong-royong, pesan agung untuk membangun masyarakat yang guyub rukun, dan segala kemakmuran serta kejayaan nusantara dibangun oleh lelaku manusianya.

Borobudur Cultural Feast dengan rangkaian Sonjo Kampung-nya adalah sebuah permulaan. Dan ini bukan hanya sebuah event, bukanlah sekedar sebuah program. Tapi semua ini telah diniatkan sebagai lelaku dari mereka-mereka yang menyadari arti penting nilai-nilai yang diwariskan leluhur melalui mahakarya Borobudur.

Borobudur sebagai sebuah literatur mega perpustakaan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai, Borobudur sebagai sumber inspirasi dan rekam jejak perjalanan sebuah kejayaan peradaban. Tinggal bagaimana warga sekitar dan masyarakat nusantara mau belajar dari Borobudur.

Sebuah lelaku tentu terkait erat dengan bagaimana kondisi kejernihan hati. Motif yang bersih, tujuan yang mulia, meminimal kan ego dan eksistensi diri, dan semangat yang gigih untuk berbuat.

Borobudur akan “membuka dirinya” jika kita memang sungguh-sungguh ingin mengenalnya lebih jauh. Kesadaran untuk berpikir terbuka, mengapresiasi, dan menghargai Borobudur beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, akan menjadi  “password” pembuka gerbang untuk bisa memahami pelajaran-pelajaran yang telah diwariskan leluhur kita 13 abad yang lalu.

Itulah kunci awal untuk membangun “keterhubungan” antara warga desa sekitar candi maupun masyarakat nusantara, dengan situs warisan dunia yang kaya ilmu dan sarat nilai ini.

Ini semua sudah diawali. Tak akan ada hasil besar tanpa dimulai dari langkah kecil. Masyarakat sekitar Candi Borobudur telah memulainya dengan indah. Tinggal bagaimana terus bergerak, dan terus belajar dari Borobudur.

Semoga apa yang telah dimulai terus bergulir, dan tak lagi berhenti. Dan semoga pelajaran dari Borobudur ini dapat beresonansi ke segala penjuru nusantara. Demi kejayaan nusantara.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *