BENANG KUSUT BIROKRASI DAN PEMBANGUNAN MANUSIA

 

Dua hari ini saya berinteraksi dengan teman-teman pelaku seni, pemerhati, pegiat dan pembakti budaya, birokrat, dan akademisi di Tenggarong, Kutai Kartanegara.  Selain ada agenda asistensi kelompok dampingan mengikuti pameran di International Erau Folks anda Arts Festival (IEFAF), saya memang sengaja menemui beberapa teman pembakti Jaringan Kampung (Japung) Nusantara yang ada di Kukar.

Banyak diskusi yang kami lakukan. Di antaranya menggali dan memetakan potensi, nilai, dan kearifan lokal, sekaligus mengidentifikasi dan mengurai problematika di sekitarnya.

Kami berhasil menemukan sekian banyak potensi, mulai dari kekayaan alam yang telah tersedia (given), warisan budaya (heritage), hingga potensi sungai dan pertanian yang masih menyimpan ruang besar eksplorasi dan pengembangan, juga ceruk pasar yang begitu luasnya.

Namun, kami juga menemukan beberapa problem mendasar. Di antaranya adalah problem manusianya, yakni bagaimana mendekonstruksi cara berpikir lama, membangun kesadaran akan potensi lingkungan dan dirinya sendiri, mendorong untuk bisa mengenali masalahnya sendiri sekaligus melatih kemampuan untuk mencari solusi, yang pada akhirnya akan mampu melahirkan kreativitas yang diterjemahkan dalam tindakan nyata sebuah perubahan.

Problem kedua adalah kusutnya birokrasi akibat persepsi dan nalar yang salah dalam menyikapi segala potensi kekayaan alam,  lingkungan, sekaligus potensi pembangunan manusia, sehingga apa yang dilakukan lebih sering artifisial, superfisial,  dan kontraproduktif.

Dalam titik ini kadang kami menyadari ada watak yang sama (tipologis) dalam setiap birokrasi, di manapun ia berada. Namun ini bukan pesimisme, karena faktanya saat ini telah banyak pemerintahan yang melakukan reformasi birokrasi dan mampu menciptakan visi baru yang betul-betul berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Ini yang akhirnya menjadi PR kami bagaimana bisa merumuskan sebuah gerakan yang komprehensif dan strategis dengan mengintegrasikan segala potensi yang ada di masyarakat (dalam hal ini orang-orang yang punya visi, peduli dan mau bergerak) dengan melakukan gerakan pendampingan di pelosok-pelosok atau kampung-kampung yang selama ini tak (atau jarang) tersentuh.

Kami percaya Indonesia ini bisa dibangun dari desa, dari kampung, dari entitas budaya yang kecil. Kuncinya adalah percaya dengan apa yang kita pikirkan, yang kita visikan, dan yang ingin kita wujudkan.

Terbukti dengan gerakan yang dilakukan teman-teman Japung Nusantara melalui pendekatan seni dan budaya telah mampu mendorong perubahan signifikan di beberapa masyarakat di Indonesia, meskipun belum secara masif. Setidaknya di titik-titik tertentu telah terjadi transformasi.

Untuk urusan problematika yang membentur segala potensi yang ada, itu semua bukanlah hal yang patut dijadikan halangan,  termasuk juga kebijakan yang belum berpihak, atau birokrasi yang kusutnya kadang bikin kaki ini terselandut (bahasa opo iki?). Konsentrasi pertama yang harus digarap adalah manusia itu sendiri, bukan birokrasi. Artinya, perubahan pola pikir dan mentalitas masyarakat harus kita benahi. Tentunya bersama masyarakat itu sendiri, karena mereka adalah subjek perubahan yang sesungguhnya.

Bersambung. …

Bukit Biru, 23-24 Juli 2017
#pembangunan_manusia #birokrasi #japungnusantara #bustan_af




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *