Buku Referensi untuk para pembakti Kampung di Indonesia ” MENITI ARUS LOKAL GLOBAL ” Jejaring Budaya Kampung

Pendahuluan

Melani Budianta

Jika kita menyanyikan lagu “Kampung nan Jauh di Mato” atau “Desaku yang Tercinta”, akan muncul gambaran sebuah pedesaan dengan alam yang asri dan terbersit sebuah komunitas dengan tradisi dan ikatan sosial yang guyub. Bayangan ini berkontras dengan ingatan tentang kota yang bising oleh lalu lintas, udara yang terpolusi, gedung-gedung bertingkat, dan kesendirian di tengah mal. Dikotomi semacam ini akan buyar ketika kita mengunjungi desa dan kampung di berbagai wilayah di Indonesia saat ini. Bahkan, sepuluh tahun lalu, di sebuah desa di Jawa Timur, batang pohon yang berjajar di tepi sawah tertutup papan reklame motor, tawaran kredit, dan lowongan kerja sebagai TKI. Petani kekeringan air, orang tua mengeluh anak-anaknya ketagihan gawai, dan warga sibuk mengurus kebutuhan ekonomi keluarga yang tak punya waktu berkumpul. Persoalan urban ternyata dapat ditemui di wilayah pedesaan atau perkampungan. Permasalahan yang terjadi bukan sekadar penyakit kota masuk ke desa atau gejala urbanisasi yang semakin masif, melainkan suatu perubahan tatanan global yang merambah bukan hanya kota, tapi juga pelosok desa yang terhubung dengan infrastruktur dan teknologi informasi. Memasuki dekade kedua abad ke-21, arus migrasi penduduk, benda, uang, modal, teknologi, dan informasi bergerak secara ulang-alik dan menyebar melintasi batas-batas wilayah desa, kota, dan bahkan negara. Globalisasi, selain mempercepat lalu lintas, juga membawa berbagai masalah yang kompleks. Arus yang masuk dan keluar ikut menyusupkan narkotika dan memperjualbelikan manusia.

Ketika migrasi lintas batas semakin intens, xenophobia atau ketakutan dan prasangka pada hal yang dianggap asing meningkat. Ketika fundamentalisme pasar menyebar di dunia, menguat pula berbagai fundamentalisme yang lain, termasuk di bidang agama. Di tingkat nasional desentralisasi berpotensi menguatkan “raja-raja” lokal dan adanya kecenderungan konservatif (Hadiz, 2017). Tersedianya pilihan berbagai budaya mancanegara yang memiliki daya tawar tinggi dan dipasarkan masif di media massa, tak pelak menggusur ingatan budaya, bahasa, dan kesenian lokal. Di sisi lain, globalisasi memberikan peluang yang tak terbatas karena komunitas dapat terhubung dengan jejaring di mana saja, melalui teknologi informasi dan media sosial. Kaitan saling membutuhkan antara desa-kota melebarkan kesempatan inovasi sosial dan kreativitas. Sebagai wilayah yang mempunyai sumber daya ekologi

dan budaya yang berbeda dan unik, desa dan perkampungan memiliki daya tawar untuk memberikan keragaman bagi dunia yang cenderung menjadi serupa. Bagaimana kampung-kampung di berbagai wilayah Indonesia, di dekade kedua abad ke-21 ini, meniti arus budaya lokal-global yang kompleks tersebut? Buku ini menghimpun “cerita-cerita kampung”, pengalaman para pegiat –dan penggiat— komunitas di berbagai daerah, dari Jawa Timur, Jawa Tengah, sampai Kalimantan Timur. Konteks, kondisi, dan jenis setiap kampung yang dibahas sangat beragam. Masalah yang dihadapi tiap kampung juga berbeda. Ada persoalan lingkungan alam, seperti kekeringan atau kebanjiran, masalah sosial seperti tingkat kriminalitas dan radikalisme, terbengkalainya anak-anak buruh migran, buruknya tata laksana pemerintahan desa, kemiskinan, hingga ancaman kehilangan lahan. Para pegiat, yang sekaligus menjadi penulis atau narasumber dari buku ini –dengan latar posisi dan profesi berbeda-beda— mendampingi kampungnya untuk bernegosiasi dengan berbagai kekuatan, pasar, agama, negara, dan kepentingan politik. Inovasi dan strategi itu dibangun dengan cara berbeda-beda, dengan kelebihan dan kekurangannya, keberhasilan dan kegagalannya, dan semua masih merupakan proses yang belum selesai. Buku ini bertujuan untuk membangun pengetahuan tentang gerakan kampung yang meningkat di abad ke-21 di Indonesia. Dengan mengabstraksikan pola, prinsip, dan strategi yang dilakukan para aktor –dalam konteks dan kondisi yang berbedabeda— dan belajar dari kegagalan, kelemahan, dan capaian mereka, cerita-cerita kampung ini menyumbangkan gagasan bagi para pengambil kebijakan dan pegiat di lapangan.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *