CAHAYA NUSANTARA Membangun dan Menghidupkan Kekuatan Tatanan Masyarakat Nusantara

DASAR PEMIKIRAN

cahaya 2

JapungNusantara.org.Seluruh warisan, puncak-puncak karya  dan  peristiwa penting masyarakat Nusantara, sangat perlu dibuka dan  dikelola sebagai  kekuatan sejarah  bangsa yang   dapat  mendorong jati  diri   kebhinekaan dalam  setiap   pribadi manusia Indonesia yang bebas, kuat  dan berdaulat sebagai  warga negara.

Kata-kata “Matahari Timur” atau  “Mercusuar Dunia”, bukanlah kalimat omong kosong  bagi  rakyat  Nusantara,  sebab   leluhur dan   nenek   moyang kita  telah membuktikan kepada dunia, bahwa mereka adalah bangsa yang  bermartabat dan  mampu mensejajarkan diri  dengan bangsa manapun di  atas  muka bumi. Leluhur  kita  adalah  pemimpin  Nusantara  yang   ‘diakui’  dunia  atas   seluruh puncak pencapaian kebudayaannya dalam semua sektor  kehidupan.

Masyarakat Nusantara  adalah bangsa yang  sejak  dahulu dikenal unggul dan handal  dalam segala   bidang,  baik  secara   politis-ekonomi  dan   perdagangan- kesejahteraan-arsitektur dan  tata ruang-kesenian-maritim-agrikultur bahkan spiritual.

Berbagai  peristiwa penting, baik  yang  tercatat secara  material didalam berbagai artefak   yang  tersebar diseluruh penjuru bumi,   maupun yang  tinggal sebagai sejarah   dan   legenda turun  temurun  di  dalam  pola   sosio-kultur  masyarakat Indonesia, ataupun yang  sampai hari  ini masih  berjalan dan  berproses menyesuaikan  diri   dengan  zaman,  adalah  kekuatan  yang   patut  kita   olah. Kekuatan itulah yang  akan  menjadi basis  pertahanan bangsa Indonesia di masa mendatang dalam perjuangannya menghadapi era globalisasi.

Nasionalisme  dalam  konteks  sebagai   warga  negara  Indonesia  tidak   dapat dibangun dalam sekejap,  tanpa mengetahui sejarah   yang  sebenarnya tentang siapa  dan apa diri kita. Secara geopolitis Indonesia adalah sebuah negara, namun kekuatan bangsa ini terletak pada kultur masyarakatnya, yang  disebut tatanan masyarakat Nusantara.

SEJARAH SEBAGAI SUMBER KEKUATAN DAN  JATI DIRI

Peninggalan sejarah  baik  secara  fisik maupun non  fisik tidak  sepatutnya hanya kita lestarikan sebagai  sebuah catatan atau  kita pajang  di dalam etalase  museum, padahal didalamnya terukir berbagai peristiwa hidup dan  puncak pencapaian budaya  yang   seharusnya  menjadi acuan   bagi  seluruh  masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menggali, mempelajari dan melanjutkannya secara serius.

Tonggak-tonggak  sejarah   yang   telah   dipancangkan oleh  leluhur  bangsa kita bukanlah  benda  purba,  ratusan  bahkan  ribuan  tonggak  itu   adalah  dasar kekuatan yang  seharusnya berfungsi sebagai   modal utama setiap   putera dan puteri Indonesia di masa kini dan menyambut masa depan.

Perubahan  keadaan,  pergeseran  zaman  adalah  kondisi  yang   berjalan sesuai dengan  waktu, tapi  sesungguhnya dunia tidak   berjalan secara   linear,   segala sesuatu akan  kembali pada titik yang  sama  di waktu yang  tepat,  akan  tetapi  ada juga unsur yang  tinggal sebagai  hal permanen, misalnya jati diri.  Tanpa  jati diri seorang manusia tidaklah dapat disebut sebagai  manusia utuh. Tanpa  identitas personal seorang manusia tidak  memiliki kekuatan. Tanpa  kekuatan dan kemandirian seorang manusia tidak  memiliki daya  saing dan harga diri.

Sebagai  bagian  dari  sebuah bangsa yang  besar,  setiap  manusia Indonesia patut mengenal  jati  diri,   siapa   leluhurnya  dan   kekuatan  apa   yang   sesungguhnya tersimpan di  dalam  dirinya. Sejarah   bukanlah  sekedar masa   lalu,  ia  adalah fondasi bagi  setiap  diri  untuk melangkah maju  ke  masa  depan. Sejarah  yang tersimpan atau  sengaja  disimpan, sejarah  yang  tersembunyi atau  disembunyikan sudah  saatnya  dibuka,  dipelajari,  diolah  dan   difungsikan  sebagai   sumber kekuatan bangsa.

Terlampau  banyak  warisan  leluhur  yang   belum   kita   kembalikan  dan   kita berdaya gunakan sebagai  energi  berkebangsaan, menerimanya berbagai mozaik peristiwa  lalu   mengutuhkannya  sebagai   bagian   dari   perjalanan hidup  dan kehidupan bangsa Indonesia. Upaya yang  paling penting dilakukan adalah menegakkan kembali Tatanan Masyarakat Nusantara,  bukan  sekadar  sebagai catatan peristiwa dan  puncak pencapaian budaya di masa  lalu,  namun sebagai kekuatan dan energi  kita sebagai  bangsa dan warga negara Indonesia.

MOZAIK PUNCAK PENCAPAIAN  BUDAYA

cahaya 4

foto by rahmat

Budaya bukan kesenian. Budaya bukan pengentalan tradisi lama.  Budaya bukan sekedar bagian  dari  pariwisata. Budaya bukan komiditi pasar. Budaya adalah seluruh pola  perilaku kehidupan, yang  pada setiap  sektornya dapat mengalami puncak  pencapaian  tertinggi  atas   usaha  dan   upaya  pengembangan  yang dilakukan  oleh   manusia  sebagai   pelaku  utama  sebuah  peradaban.  Budaya adalah gambar dari kehidupan itu sendiri.

Budaya tak pernah berhenti berjalan,  berakulturasi dan  berkembang. Oleh sebab itulah maka   setiap   unsur  kebudayaan tak  pernah statis,   namun pada setiap peristiwa  puncaknya  dicatat oleh  dunia  dengan tinta   emas   sebagai   moment penting yang   seyogyanya difungsikan  sebagai   acuan   bagi  kehidupan di  era generasi selanjutnya.

Beberapa puncak kebudayaan Masyarakat Nusantara antara lain adalah :

  1. PUNDEN BERUNDAK

Sejak  situs   ini  di   ekskavasi  oleh   Tim  Terpadu  Riset  Mandiri,  nama Gunung Padang menjadi topic  pembicaraan dunia. Keberadaan situs  ini tidak  sendirian, namun masih  banyak lagi  situs-situs serupa di  seluruh pelosok Indonesia yang  masih  belum  digarap secara  menyeluruh. Namun demikian, hal  ini  telah  membuktikan bahwa leluhur Bangsa  Nusantara bukanlah  orang-orang  yang   terbelakang,  melainkan  sekelompok masyarakat yang  memiliki kemampuan tinggi  dan  telah  mencapai suatu peradaban   yang    luhur.   Ditengarai  situs    ini   merupakan  bangunan arsitektur tertua di dunia.

  1. SUKU BUGIS

Terkenal di  seluruh dunia sebagai   bangsa yang   handal dalam urusan kelautan,  kapal   Phinisi   merupakan  bukti   sejarah   yang   masih   hidup sampai kini.  Bahkan  undang-undang dan  hukum kelautan internasional sebagian   besarnya   bersumber   dari    tulisan   seorang   pelaut   Bugis, Laksamana Amanagappa.

Dalam  segi sastra,  naskah tua yang  ditulis dalam lontara yaitu  I La Galigo telah diangkat ke latar internasional dan dipergelarkan ke seluruh dunia.

  1. BOROBUDUR

Keniscayaan Borobudur sebagai  bukti  bahwa leluhur dan  nenek  moyang bangsa Indonesia pada zamannya telah  mencapai puncak teknologi yang tak  tertandingi dalam segi  arsitektur dan   tata  ruang, baik  dari   unsur material  maupun   spiritual.  Borobudur  adalah  World    Heritage  atau warisan  dunia  yang   sampai  hari   ini   tak   seorangpun  yang   mampu membuka seluruh rahasia yang  terkandung didalamnya secara  jelas dan rinci.  Yang  jelas,  Borobudur  adalah  sebuah  monument  yang mencerminkan bahwa leluhur bangsa ini  adalah masyarakat yang  sarat dengan ilmu pengetahuan, dan ini adalah suatu keniscayaan.

  1. PERDAGANGAN INTERNASIONAL
cahaya 3

foto by Rahmat

Ajaran  luhur nenek  moyang kita telah  menyebabkan mereka mengetahui dengan pasti  apa yang  terkandung di dalam rahim Ibu Pertiwi, baik yang tersimpan  di   bawahnya  maupun  apa   yang   dapat  tumbuh  di   atas tanahnya. Keajaiban Nusantara yang  super subur dan  pengelolaan alam yang  dilakukan dengan welas  asih,  dikelola dengan kebijakan lokal  dan tanpa keserakahan telah melahirkan kalimat ‘gemah ripah  loh jinawi’.

Nusantara juga  dikenal dengan nama  Swarnabhumi yang  berarti bumi emas   atau   tanah  emas.   Sejak  ribuan  tahun  lalu   Swarnabhumi  atau Nusantara  atau   masa   kini   disebut  dengan  nama   Indonesia  memang terbukti sebagai  tanah yang  menghasilkan emas,  baik  ditinjau dari  sudut pandang pencitraan maupun realitanya.

Hasil  bumi  yang  unggul dan  berlimpah ruah seperti : padi-beras-jagung dan  berbagai jenis tanaman lain lebih  dari  cukup untuk mensejahterakan rakyat. Hasil  bumi   yang   tergolong dalam  jenis  khusus yaitu   rempah- rempah seperti : tembakau, cengkeh, pala  dan  lada  telah  membuat mata dunia barat  melirik  tajam  menyorot tanah ini. Kekayaan berlimpah dari hasil rempah-rempah inilah yang menyebabkan timbulnya kegiatan perdagangan yang intensif  antara masyarakat Nusantara dengan dunia.

Harus kita  akui  dengan jujur  bahwa satu-satunya penyebab terjadinya penjajahan selama  berabad-abad di atas  tanah air ini adalah diakibatkan oleh   puncak  pencapaian  masyarakat  agraria  yang   berhasil memberdayakan dan mengolah kesuburan tanah ibu pertiwi.

  1. SUMPAH PEMUDA

Kegelisahan masyarakat  muda  Nusantara  yang   berasal   dari   berbagai suku-suku besar  atas  keinginan untuk menyatukan diri  dalam suatu visi dan  misi  yang  seragam ke masa  depan, telah  menghasilkan kesepakatan bersama untuk mencairkan segala  macam perbedaan. Kongres besar  yang dengan sangat berani  dilaksanakan saat itu, secara  tidak  disadari sesungguhnya telah  mengembalikan gambaran tatanan asli  masyarakat Nusantara yang diobrak-abrik dan dipecah belah oleh penjajah.

Dibangun berlandaskan kesadaran penuh atas  keberagaman yang dipersatukan, dalam konteks kehidupan bernegara dan  kebulatan tekad untuk bersama-sama berjuang bagi kemandirian bangsa telah  melahirkan Deklarasi Sumpah pemuda. Titik  awal  perjuangan para  pemuda dengan memilih nama  Indonesia sebagai  tujuan politis  yang  kemudian di  masa depan  mendasari seluruh  kegiatan bernegara dan   bermasyarakat  dari setiap  individu rakyat Indonesia.

  1. PROKLAMASI DAN LAHIRNYA PANCASILA

Keberanian untuk  berdiplomasi dengan  dunia  dan   menjawab  sebuah tantangan besar  bahwa seluruh rakyat menginginkan kembalinya kemerdekaan dan kedaulatan masyarakat dengan memberdirikan dan menegakkan  sebuah  negara  yang   disebut  dengan  Negara  Kesatuan Republik Indonesia, yang warga negaranya berpedoman kepada azas Pancasila dengan  berlandaskan  semboyan kuna   Nusantara :  Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana  Dharma Mangrwa.

  1. BHINNEKA TUNGGAL IKA, TAN HANA DHARMA MANGRWA

Tak  ada  satu  negarapun di  atas  muka bumi   yang   mampu menyaingi kekayaan  keberagaman  di  tatar   Indonesia.  Sejak  zaman  dahulu  kala leluhur bangsa ini  telah  hidup dalam kebhinekaan yang  masing-masing dilindungi dan  dibangun atas  tatanan masyarakat adat,  lengkap dengan kebijakan lokal dan  keutuhan tradisinya namun mengikatkan diri dengan sadar kepada azas  tunggal ke Nusantaraan, dimana hari  ini Masyarakat Nusantara  telah   bertransformasi  secara   administratif  menjadi  warga negara Indonesia.

Kalimat  Bhinneka Tunggal Ika,  Tan  Hana  Dharma Mangrwa telah  eksis dalam tatanan kehidupan masyarakat Nusantara jauh sebelum NKRI didirikan. Semangat nasionalisme ke-Nusantara-an telah  tumbuh dan mengakar dalam diri  seluruh rakyat yang  hidup dan  berkehidupan di dalam kawasan Nusantara.

Dengan jati diri  Bhinneka Tunggal Ika,  NKRI  dapat tetap  berdiri teguh didukung oleh  seluruh masyarakat yang   sejatinya memang  dilahirkan dengan DNA  ke-Nusantara-an yang  kental,  diwarisi dari  leluhur bangsa yang   telah   berhasil  membangun  tatanan  masyarakat  yang   adil   dan makmur.

  1. ABHAYAGIRI – SITUS KERATON BOKO – BOROBUDUR

Salah  satu  dari  keajaiban warisan leluhur yang  merupakan cikal  bakal lahirnya Borobudur yang  menyimpan sejarah  panjang tentang Nusantara. Di tempat inilah  Nusantara kecil  digambarkan, tatanan kehidupan yang lengkap tumbuh di tempat ini.

Demokrasi  yang   berazaskan  kedaulatan  rakyat  berjalan dengan  baik, keberagaman  dan   kebebasan individu  sangat dihormati  dan   dijunjung tinggi.   Kemajuan  di   bidang  ekonomi  dan   perdagangan  yang   diolah sendiri oleh  masyarakatnya telah  menyebabkan Abhayagiri yang  semula hanya merupakan sebuah desa  kecil  tumbuh dan  berkembang menjadi sebuah wilayah kerajaan yang besar.

Masyarakatnya sangat spiritual, ajaran  budhi pekerti dan  perasaan keTuhanan yang   tinggi   telah   membuat  Abhayagiri tak  hanya sekedar menjadi  sebuah  wilayah  kekuasaan  namun  terkenal  sebagai   tempat belajar,  sebuah universitas kehidupan yang  terbuka dan  didatangi oleh banyak orang  dari berbagai belahan dunia.

Pengolahan alam  dan  pembangunan fisik dilakukan oleh  seluruh rakyat tanpa adanya unsur eksploitasi. Seluruh manusia yang  menjadi bagian masyarakatnya  membangun  seluruh  aspek   kehidupan  baik   material maupun yang  immaterial dengan azas musyawarah dan  mufakat. Sedangkan pelaksanaannya dilandasi oleh  rasa  kebersamaan dan  gotong royong.

Secara fisik, Abhayagiri atau  yang  sekarang dikenal sebagai  Situs Keraton Boko adalah satu-satunya situs keratuan atau  rumah raja yang masih  utuh berdiri  sejak  abad   8M.  Keraton  yang   secara   fisik  masih   dapat dibaca secara  jelas,  bukan hanya sebagai  sebuah bangunan yang  menunjukkan ciri sebagai  pusat kekuasaan namun lebih merupakan sebuah sarana bagi pusat kehidupan bermasyarakat.

Mengembalikan kekuatan tatanan masyarakat Nusantara  adalah satu-satunya jalan  bagi  bangsa Indonesia hari  ini  untuk  menghadapi  semua tekanan dan menjawab tantangan dunia, agar  mampu berdiri mandiri sebagai  sebuah bangsa dan masyarakat yang utuh.

Mengelola kemandirian dalam semua sektor  kehidupan, mengeluarkan diri dari keterpurukan,   menegakkan  azas   kebersamaan  untuk  membangun  tatanan kekinian   berdasarkan   sejarah     kejayaan   dan     keluhurannya,   mencairkan perbedaan  dan   kembali  menjadi  sebuah  bangsa  yang   kuat,   berdaulat  dan sanggup berdiri tegak menghadapi masa depan dengan penuh percaya diri.

Ini adalah sebuah langkah besar  yang  harus dimulai dari  sekarang, digerakkan dari   berbagai  sektor,   dimulai  oleh   setiap   individu  sebagai    warga  negara Indonesia  untuk   bekerja    bersama-sama   dan    bergotong   royong   sebagai masyarakat yang merdeka dan bebas menentukan masa depannya sendiri.

Dengan pengetahuan sejarah  yang  lengkap dan  benar,  rakyat Indonesia akan memiliki pemahaman  yang  lurus  tentang apa  dan  siapa  dirinya. Berdasarkan itulah maka  jati  diri  bangsa akan  tumbuh dan  menjadi kuat.  Siapapun yang berdiri di  atas  tanahnya dan  mengakui dirinya sebagai   warga negara, secara otomatis  akan   berpikir  dan   bertindak  untuk  dan   atas   nama   negara  demi menguatkan tatanan masyarakatnya.

NKRI  sebagai  sebuah negara yang  lahir  dengan semangat keNusantaraan tak dapat dipisahkan dari semboyan Tan Hana  Dharma Mangrwa Bhinneka Tunggal Ika  sebagai  ruh  sejati  bangsa Indonesia. Ruh  yang  menghidupi tanah air  Ibu Pertiwi selama  berabad-abad, menghidupkan masyarakatnya dan  mengantarkan Nusantara sebagai  bangsa besar yang berdaulat dan bermartabat.

Kekuatan dan  kedaulatan NKRI ada  ditangan rakyat, apapun kebijakan pemimpinnya,   sekalipun   kebijakan  dan    keputusan   itu   telah    benar-benar berpihak kepada rakyat dan  berlandaskan Pancasila, mustahil aplikasinya dapat dilaksanakan dengan baik  dan  lancar  tanpa dukungan dari  kekuatan masyarakatnya.

Negara  Indonesia  sejatinya bukanlah  sekadar  wilayah  politis   namun  secara spiritual sepanjang rentang sejarah,   ia  ditunjang oleh  sebuah kekuatan yang fantastis, yang  tidak  dimiliki oleh  bangsa manapun di  atas  muka bumi,  yaitu kekuatan tatanan masyarakat Nusantara.

Dengan tatanan itulah,   setiap   warga negara akan  melangkah ke  masa  depan dengan ruh   yang   sama,   semangat  Bhinneka Tunggal  Ika,  bergotong  royong dengan sistem  tunggal : dari rakyat-oleh rakyat dan untuk rakyat.

Berdasarkan semangat ke-Nusantara-an, niat  yang  kuat  untuk membangun dan menghidupkan  tatanan  Masyarakat Nusantara  adalah  sebuah  pengembalian konsep harmoni awal  yang  harus ditunjang oleh seluruh elemen  kekuatan yang berasal  dari masyarakat itu sendiri.

Berdasarkan  semangat  ke-Bhinekaan,  niat   yang   besar   untuk  membuktikan gambar asli  dari  sebuah bangsa yang  pernah hidup dalam sebuah peradaban luhur,  yang   terbuka  dan   mampu  menerima kebudayaan  lain  sebagai   mitra dalam   berkehidupan   dan    memiliki   kepercayaan   diri    yang    kuat    untuk menyambut  semua hal  baru   yang   datang di  dalam hidupnya  tanpa pernah merasa ragu  untuk melangkah dan  bekerjasama dengan siapapun, adalah tekad yang seharusnya dibangun bersama-sama oleh semua pihak.

Konsep  gotong royong antar  individu, antar  kelompok, antar  golongan, antar seluruh   komunitas  seharusnya  menjadi  tak   terbatas  bagi   seluruh  rakyat Indonesia. Ini  adalah tugas   seluruh masyarakat Nusantara untuk menjadikan bangsa dan  rakyat Indonesia memahami kekuatannya, lalu  kekuatan itu  akan mendukung setiap  kebijakan pemimpinnya dengan kesadaran penuh, melaksanakan tugas  dan  kewajibannya sebagai  warga negara dengan segenap jiwa,   berpikir  dan   bertindak  sebagai   manusia  utuh  yang   bermartabat  dan memiliki jati diri kebangsaan.

Saatnya  kita   bersama-sama  membangun   jembatan   masyarakat  Nusantara, dengan  mengolah dan   memfungsikan seluruh  sumber kekuatan  tak  terbatas yang  dianugerahkan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Mari  kita  mulai  bekerja untuk   melanjutkan  sejarah    kejayaan   yang    sudah   diukir   para    leluhur, menghormati dan  menempatkan dengan baik  setiap  warisan kebudayaan yang tak  dapat dirubah dan  dihapus dengan alasan  apapun, lalu  bekerjasama untuk menggotong semua kenyataan sejarah  dan  warisan budaya itu sebagai  kekayaan hakiki  untuk diolah dan dikelola bersama.

Dengan bekal  itulah bangsa kita  akan  mampu mengurus seluruh kekayaannya dengan   kemampuannya   sendiri,  menentukan   apa    yang    bermanfaat  bagi bangsanya tanpa campur tangan bangsa lain, memilih apa yang  baik bagi keberlangsungan  hidup  seluruh  lapisan  masyarakatnya  tanpa  tekanan  dari pihak manapun, mengutamakan kepentingan bangsanya dan  bukan untuk atau atas  nama  bangsa lain,  menjaga harmoni dan  kesejahteraan negerinya dengan kekuatannya sendiri dan  memiliki kesediaan untuk  merawat seluruh warisan kebudayaan dengan sadar dan   memahami bahwa hal  itu  adalah bagian   tak terpisahkan dari  sejarah  kehidupan pribadinya selaku  bagian  dari  masyarakat adat  Nusantara.

Melalui  jembatan  inilah,  dengan  mengusung  semangat Bhinneka Tunggal Ika, kita  semua akan  bergandengan tangan, menyatukan semua potensi yang  ada untuk mengembalikan seluruh puncak pencapaian kebudayaan kepada masyarakat,  tidak   sebagai   harta  karun, tetapi   sebagai   sebuah  kekayaan  dan kekuatan milik bersama, sebagai  sebuah bangsa.

MENUJU CAHAYA NUSANTARA

  1. Keyakinan Terhadap Kebenaran Sejarah

Sejarah  babad Nusantara masih  dapat dibaca  dengan jelas. Dibuktikan dengan masih  utuhnya peninggalan leluhur, dengan maksud supaya dapat difungsikan maksimum menjadi pertanda keluhuran peradaban yang  pernah dicapai oleh nenek  moyang. Sebuah  peradaban luhur hanya dapat dicapai oleh  masyarakat yang  terdiri dari  manusia-manusia yang  luhur juga  buddhi pekertinya, luhur pengetahuan dan luhur spiritualitasnya.

Di luar  fakta dan  data  arkeologis, masih  begitu  banyak manusia Nusantara yang dititipi  alur   cerita   dan   tetap   diperkenankan  membaca  atau   menuturkannya dengan  jelas,   sesuai    dengan  fakta   peninggalan  yang    relatif   masih    utuh. Kebenaran   sejarah    tak    dapat   hanya   sekedar  dianggap   legenda,  namun seharusnya disikapi dengan wacana yang  lebih  luas  dan  hati  yang  lebih  cerdas, bahwa kebenaran fakta dan  ceritanya lebih merupakan suatu rangkaian yang  tak terpisahkan.

Bukti tersebut sebenarnya adalah jalan pengetahuan untuk memahami siapa  dan bagaimana kita sebenarnya serta  apa  yang  akan  kita hadapi dimasa mendatang. Dan  pengetahuan itu  sesungguhnya dapat  dipergunakan untuk  membangun rasa   kebangsaan  dan   menimbulkan  kebanggaan  pada  diri   setiap   manusia Indonesia sebagai  bagian  dari  masyarakat Nusantara. Dengan perasaan itulah kita  dapat menjalin suatu kerjasama yang  baik  antar  individu, dengan berbekal keyakinan yang digali  dari sejarah  lampau untuk melangkah ke masa depan.

Untuk itu  dibutuhkan sebuah kerjasama yang  baik,  sebagai  upaya untuk membentangkan peta  Nusantara, bukan peta  kerajaan-kerajaan kecil yang  hanya merupakan bagian  dari  mozaik besar.  Perlu  adanya upaya bersama untuk merumuskan runutan sejarah,  paling tidak  sejak  ditemukannya catatan tertulis tentang apa yang  ada di tanah ini. Keberanian menyusun berbagai kemungkinan dengan  menggunakan  metodologi  dan   tanda  baca   yang   ditinggalkan  oleh leluhur, dan  tidak  hanya meyakini teori-teori dari  luar.  Keberanian ini  adalah bagian  dari jati diri, berani  untuk menyatakan identitas dirinya sendiri.

  1. Paham Tentang Ketetapan Waktu

Sejarah   memiliki waktunya  sendiri.  Sebuah   putaran  yang   kecepatannya  tak dapat dikendalikan oleh  manusia. Pengulangan peristiwa selalu  terjadi,  namun kita  hampir selalu  luput memaknainya sebagai  sebuah tanda perulangan yang telah ditetapkan waktunya oleh alam.

Berbagai  peristiwa hanya kita  anggap sebagai  sebuah kejadian ansich,  dan  kita tak   sempat  memandangnya  sebagai   suatu  pertanda  yang   sebenarnya  telah diuraikan oleh  masa   lalu  dalam  berbagai peninggalan dan   penggalan kisah. Sehingga kita tak menyadari sesungguhnya peristiwa tersebut sudah dicatat oleh zaman di dalam berbagai alur  cerita  dari  sekian  banyak bukti  faktual agar  kita dapat meraba perjalanan waktu, saat kapan rotasi  itu akan membawa

kita   pada  titik   yang   pernah  dilalui  di   zaman  lampau.  Benarkah  kejayaan Nusantara akan  kembali? Alam  telah  mengirimkan banyak kabar  dan  pertanda, tergantung   kita    mau    membacanya  dengan   teliti    atau    tidak.    Sementara pandangan dunia mengarah ke  timur, dan  para  ilmuwan mengendus dengan pengetahuannya,  alangkah naifnya bila  kita  tak  sudi   untuk  menoleh barang sejenak,  membuka pikiran dan  hati  untuk menerima kebenaran akan  ketetapan waktu yang   bergulir  seperti bola  salju  ke  arah   dimana  semua mata   sedang memusatkan pandangan.

  1. Upaya Untuk Mengenali dan Memahami Tugas

Bahwa  setiap  individu memiliki tugas  yang  berbeda-beda di dalam kehidupan. Ibarat  sebuah mesin  yang  terdiri dari  berjuta komponen, demikianlah peradaban diperjalankan dan  diusung oleh manusia. Mengenali tugas  kehidupan bukanlah hal  yang  sulit  apabila kita  masih  mau  menengok sejarah,  bukan hanya sejarah diri   sendiri  namun  sejarah   kehidupan  itu   sendiri  yang   didalamnya  berisi perjalanan dunia, lengkap dengan segala peristiwanya.

Apalagi  bila  setelah   mengenali  lantas   meyakini kebenaran  yang   terkandung didalamnya, berikut memaknai setiap  peristiwa sebagai  sesuatu yang  nyata  dan melengkapkannya  dengan  berbagai data   faktual  dan   social,  mustahil  berita tentang tugas  itu  tidak  tergambar sedangkan semuanya tercetak dengan jelas dalam berbagai media informasi yang diwariskan peradaban.

Bayangkan apabila setiap  orang  mengenali dan  memahami tugasnya dalam kehidupan, apalagi yang  berkaitan dengan roda  sejarah  yang  tetap  waktu pengulangannya, maka  dalam setiap  detik  perputaran itu  segenap komponen mesin   bekerja  dengan  maksimal sehingga segala  sesuatunya  berjalan dengan optimum, karena setiap  individu menempati posnya masing-masing.

Dengan demikian saat  waktu menetapkan ketibaannya, kita  sudah siap  untuk menyambut kedatangan semua peristiwa sebab sudah memahami tugas  masing- masing dan apa yang harus dilakukan berkenaan dengan tugas  tersebut.

  1. Kesadaran Untuk Menjadi Jembatan Informasi

Siapa pengemban informasi itu? Kita semua. Belajarlah  dari  leluhur, tirulah cara mereka menulis dan  menatah peradaban  melalui berbagai media penyampai. Dalam  keterbatasan semuanya bahkan bisa  menjadi utuh dan  maksimal sebab mereka sadar bahwa setiap  diri wajib menjadi jembatan informasi antar  generasi.

Tidak    heran   ketika    peninggalannya   ditemukan,   dari    situlah   kita    dapat mempelajari banyak hal,  segenap keajaiban masa  lampau yang  sampai hari  ini masih  dapat dibaca  dengan jelas,  misalnya kekawih dan  kidung-kidung sarat ajaran,   lukisan batik  yang   mengandung  makna luhur, peralatan musik yang bunyiannya penuh dengan simbol  kebijakan, tarian yang  melahirkan keindahan petuah,  bangunan  candi   dan   berbagai  situs   purba  yang   menggambarkan kemajuan peradaban, serta  tatahan batu  yang  menyimpan banyak cerita  dan pelajaran.

Berbekal  itulah sebenarnya kita  mampu merangkai masa  lalu  sebagi  bekal  hari ini   menuju  masa    depan,   membaca  zaman   silam    sebagai    pertanda  bagi kedatangan peristiwa masa  mendatang, mengemasnya dalam bentuk dan  pola yang selaras  dengan zaman.

  1. Usaha Untuk Mengemban Tugas

Beruntunglah orang-orang yang  diberi  ‘kemampuan dan  keadaan yang  lebih’, serta  memiliki kesempatan yang  tidak  dipunyai oleh  orang  lain.  Kelebihan dan kesempatan yang  membuat dirinya mampu untuk berbuat jauh  lebih  banyak sebagai  pengemban informasi atau  penyampai yang  dengan karya  atau keahliannya dapat  menjadi pengemban  tugas   yang   berfungsi  maksimal  bagi setiap  detik  perjalanan nafasnya.

Sekali  lagi  mari  kita  belajar  pada leluhur, kesadaran yang  tinggi  untuk dapat berbuat banyak bagi kelangsungan kehidupan agar mata  rantai peradaban dapat diwariskan pada anak  keturunannya membuat mereka mampu berpikir secara komunal dan  kesadaran itulah yang  mendorong mereka untuk bekerja  bersama- sama,  bergotong royong membangun peradaban dan  berpikir visioner, jauh  ke depan, mempersiapkan, membangun dan  menciptakan beragam karya  konkrit yang terang dan jelas terbaca  oleh kita, selepas berabad-abad.

  1. Membangun Mitos

Kesenjangan waktu yang  terlalu lama, menyebabkan kita harus berpikir, sebagai manusia yang  sadar bahwa dirinya adalah salah  satu  komponen dari  mesin besar   perjalanan  peradaban,  sebagai   manusia  yang   diberi   kemampuan  dan keadaan  lebih,   memiliki  waktu  dan   kesempatan  untuk  menjadi  jembatan informasi  dari   mata   rantai  peradaban,  seyogyanya  dapat  bersinergi  untuk bersama-sama membangun kekuatan.

Seperti  yang  dilakukan para  leluhur, mengujar ajaran  meliputi teknologi-buddhi pekerti maupun  spiritual melalui berbagai media dan  cara,  ternyata mampu membangun kelompok masyarakat yang  maju-cerdas dan  berakhlak mulia  lebih dari satu generasi.

Manusia bermartabat luhurlah yang sanggup membangun dan mencapai puncak peradaban yang   tinggi,   kesadaran  atas  sifat  kemanusiaanlah  yang   membuat mereka mampu  menjadi kelompok masyarakat yang  memahami arti  harmoni dan  mereka lah yang  ternyata berjalan dengan gagah  di atas muka bumi  sebagai pemimpin-pemimpin agung pada zamannya.

Dengan keyakinan akan   rotasi   perulangan sejarah,   maka   sesungguhnya  kita termotivasi untuk membangun rasa  kepercayaan diri  dan  rasa  bangga sebagai bagian  dari  masyarakat Nusantara, dengan membuat karya-karya yang  konkrit, memiliki nilai  ajaran  yang  luhur dan  berguna bagi  banyak orang,   sampai di beberapa generasi sesudahnya.

Bersinergilah   seperti   leluhur   kita    dahulu,   bekerjasama  dalam   satu    visi, membentuk dan  membangun sebuah dunia yang  baik  dengan pola  kehidupan yang   bermartabat, menyampaikannya pada masyarakat luas  dengan cara  yang selaras   zamannya. Kemampuan dan   keadaan lebih  serta  adanya kesempatan adalah pertanda khusus bahwa sebagian dari  kita  adalah petugas mata  rantai peradaban.

Bangsa  ini tidak  mendadak hadir, bangsa ini memiliki sejarah  panjang yang  tua usianya, bangsa ini bukan turunan buruh dan  kuli, bangsa ini dibangun dengan kerja  keras   leluhur,  bangsa  ini  butuh  orang-orang yang   mau   berbesar  hati memfungsikan  kelebihannya untuk  membaca peninggalan  dengan  baik   dan mengembalikannya  kepada   masyarakat  dengan   membangun   dan menyampaikan  dalam  bentuk  informasi  sebagai   mitos-mitos  yang   dikemas dengan baik  dan  selaras  dengan zaman, agar  dapat membangkitkan kebenaran sejarah  menjadi kenyataan, bahwa bangsa kita adalah benar-benar pewaris pusat peradaban   dunia   di    masa     lampau   dan     tidak     mustahil   waktu   akan mengantarkannya kembali pada kita.

gambar dari www.galeri.com

 

 

Jakarta, 23 Oktober 2009,

 

Trie ‘iie’ Utami

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *