CELAKET KOTA MALANG: KAMPUNG SINAU BUDAYA

1[MALANG, 2Juli2016] Setelah melalui proses persiapan yang panjang dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat yang ada di kampung Rampal-Celaket, hari ni diadakan pertemuan bersama antara para pemerhati seni budaya dan tetua kampung dengan disaksikan oleh para tetangga penggiat dan penggerak kampung seni-tradisi-budaya yang ada di Malangraya. Satu pesan utama yang hendak disuarakan:

“Jika sebuah kampung sedang memiliki “hajat” untuk menyelenggarakan perayaan budaya kampung, para tetangga kampung di sekelilingnyalah yang paling efektif dapat berbagi pertolongan.”

Para tetua pemerhati budaya kampung sudah menetapkan sebuah dunia ideal bersama yaitu kampung sebagai tempat edukasi, pelestarian, dan inovasi terbaik bagi gerak karya dan laku seni tradisi dan budaya. Agar generasi muda memiliki jiwa sosial yang tinggi, mereka perlu diperkenalkan dan disegarkan terus dengan karya agung leluhurnya. Merekalah masa depan ketahanan budaya bangsa. Di tangan generasi barulah budaya akan menghidupi dan menjadi spirit utama dalam membangun masyarakat yang beradaban dengan kearifan dan kedamaian. Oleh karena itulah fokus pada generasi muda adalah pusat dari segala upaya laku budaya dijalani.

celaket

Foto by: Heri Mulyono

Diselingi dengan pembicaraan serius mengenai perencanaan teknis penyelenggaraan perayaan budaya yang akan dihelat 23-24 Juli 2016, pertemuan ini terus dengan sangat mendalam melihat konsep-konsep dasar sebagai alasan mengapa sebuah kampung perlu menjadi sebuah kampung tempat dimana setiap anggotanya mengasah kepekaan dan berkarya dalam pelestarian seni-tradisi-budaya.

Kampung Sinau Budaya

Sejarah telah membuktikan bahwa tempat paling efektif dan berhasilkarya untuk belajar dan mengembangkan diri dalam hal seni-tradisi-budaya lokal adalah di Kampung-Kampung. Infrastruktur yang mendukung seperti kampus dan sekolah-sekolah, juga termasuk sanggar-danggar dan atau padepokan adalah tempat yang secara langsung mendapat efek atau akibat dari geliat dan laku orang-orang yang berada di dalam Kampung. Singkatnya, Kampung adalah tempat paling nyata dimana setiap orang bisa belajar tentang seni-tradisi-budaya lokal.

Selain itu, kekerabatan dalam kampung yang bersifat egalitarian memudahkan bagi siapa saja untuk menjadi bagian dari geliat itu. Tiap orang bisa menjadi guru sekaligus murid, tiap orang adalah pelaku dan penonton, tiap orang adalah apresiator dan sekaligus konsumen yang baik. Sinau budaya adalah keseharian dengan makna-makna keindahan dalam karya seni-tradisi-budaya yang memberi makna kehidupan manusia yang utuh. Demikianlah Kampung Rampal-Celaket memiliki visi agar tiap anggota kampung, dan kemudian menyebar-menular-melebar ke seluas-luasnya anggota masyarakat mampu bangga menjadi bagian dari gerak mempelajari dengan tekun dan serius budayanya sendiri.

Kampung Pelestari Budaya

Patut dicatat bahwa kampung seni-tradisi-budaya biasanya adalah sisa-sisa yang masih tertinggal dan tersedia di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota. Namun tidak demikian dengan Kampung Celaket. Mereka adalah komunitas yang tinggal tepat di tengah-tengah kota. Bahkan secara historis kampung ini berada dalam kawasan yang sangat menarik perhatian pemerintah kolonial untuk mengembangkan sebuah perkotaan baru. Pohon-pohon endemik yang hingga kini beberapa masih dapat kita jumpai, adalah sisi lain bahwa wilayah di sekitar kampung ini adalah tempat yang sangat subur dan menarik hati.

Foto by: Heri Mulyono

Foto by: Heri Mulyono

Jejak fisik perjalanan peradaban wilayah kampung ini dapat dijumpai dan tetap dapat dilihat betapa kaitan kampung ini dengan leluhurnya tidak pernah terputus sekalipun mendapat banyak sekali interupsi pelestariannya. Ada sebuah Punden yang nampak merupakan peninggalan era megalitikum yang oleh masyarakat setempat dinamai “Punden mBah Tugu”. Peninggalan era kolonial juga nampak dengan jelas telah menghimpit panorama pandang kampung ini terhadap keindahan alam. Pertumbuhan kota memang kadang tak bisa dihindari. Namun kampung Celaket membuktikan satu hal, bahwa dalam jiwanya mereka tetap tersimpan semangat untuk terus bangga dan bahagia berjatidiri seni-tradisi-budaya lokal. Beberapa orang yang mampu menangkap kesadaran ini tak henti-hentinya terus bersuara dan bahkan memulai sendiri apa yang oleh pemerintah bahkan diprogramkan dalam departemen tersendiri. Pelestarian bukan hanya soal hoby, pelestarian adalah soal kecintaan, soal dimana semangat hidup sebuah komunitas tertuju padanya.

Kampung Inovasi Budaya

Perkembangan teknologi yang berpengaruh terhadap tatanan sosial masyarakat lama perlu disikapi dengan kearifan ekstra agar seni-tradisi-budaya lokal tetap mampu menjadi pusat makna pendewasaan masyarakat. Kampung Celaket dengan Aremaker (Arek Malang Karawitan) yang sebagian besar anggotanya adalah anak-anak dalam jenjang sekolah dasar dan lanjutan, telah menjawabnya dengan inovasi karawitan yang tetap dapat menjadi daya tarik bagi generasi muda dan juga menjadi tontonan menarik bagi semua generasi lainnya.

Inovasi budaya berkembang secara natural dan sangat menghargai inisiatif serta keahlian lokal dalam mengelola apa yang ada menjadi sesuatu yang memberi harapan pada masa depan bersama. Budaya tidak pernah statis, namun dalam sifat dinamisnya selalu terltak dasar-dasar pemaknaan yang penting. Demikianlah kampung ini akan berusaha berada dalam arus inovasi seni-tradisi-budaya lokalnya dalam perjumpaan tulus dan kolaborasi bersama dengan segala bentuk ekspresi keindahan dari segala penjuru dunia.

Tiga pilar kesadaran ini menjadi pesan yang sangat penting bagi geliat seni budaya Malangraya dan Nusantara. Sebuah pesan yang tidak hanya penting untuk ditumbuhkan pada tiap orang penggerak seni budaya kampung, namun bagi semua orang, pemerintah tak terkecuali. Bahwasanya, dari geliat kampunglah, percikan jiwa kesadaran berbangsa akan menjadi jatidiri yang teguh dan memiliki karakter yang kokoh.

ULEM

[Ditulis oleh Tatok, sebagai reportase kegiatan Sonjo Kampoeng fatsal-7 yang di selenggarakan di Kampung Celaket]




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *