Catatan dari The 12th Biennial Crossroads in Cultural Studies Conference Shanghai University, China, 12-15 Agustus 2018

 

Para pegiat kampung dari kota Malang berbagi pengalaman dan menginspirasi para akademisi dan peneliti cultural studies dari seluruh dunia. Tim dari Jaringan Kampung Nusantara (Japung Nusantara) menjadi salah satu pembicara pada sesi spotlight di konferensi The 12th Biennial Crossroads in Cultural Studies Conference di Shanghai University, Shanghai, China, pada tanggal 12-15 Agustus 2018 yang lalu.

Suasana Cultural Studies Conference

Biennial Crossroads in Cultural Studies Conference ke -12 ini merupakan ajang bertemunya para pakar dan peneliti cultural studies dari seluruh dunia, yang diselenggarakan tiap dua tahun sekali untuk berbagi ilmu, bertukar informasi, mempresentasikan hasil-hasil penelitian, membahas teori-teori baru, dll, terkait dengan seputar keilmuan cultural studies, yang sejak tahun 60-an makin menjadi perhatian para akademisi dan peneliti lintas disiplin ilmu.
Dalam konferensi ini delegasi Indonesia terdiri dari Profesor Melani Budianta (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia), Redy Eko Prastyo (Jaringan Kampung Nusantara pegiat Kampung Cempluk, Kab. Malang), Bachtiar Djanan (pergerakan Hiduplah Indonesia Raya, pelaku pemberdayaan masyarakat di Kab. Banyuwangi, Lamongan, dan Tegal), Danis Setiabudi Nugroho (Kepala Desa Gondowangi, Kec. Wagir, Kab. Malang), dan Farha Abdul Kadir Assegaf (komunitas Tanoker, pegiat pendampingan anak di desa Ledokombo Kab. Jember).

Mereka diundang sebagai salah satu panelis konferensi internasional yang dihadiri oleh hampir 600 orang profesor, doktor, pasca sarjana dari kalangan peneliti, akademisi dan pemerhati cultural studies dari seluruh penjuru dunia.
The Nusantara Kampong Network: Cultural Alternative for Social Transformation menjadi tema besar yang diusung oleh komunitas Jaringan Kampung Nusantara (Japung Nusantara). Komunitas ini merupakan jejaring pegiat pendampingan kampung dan desa, yang dibentuk untuk saling support, saling menguatkan ide, dan saling bersinergi, yang dalam kesehariannya aktif berinteraksi dan berdiskusi dalam ruang sosial media, website, dan terutama melalui grup WhatsApp.

Dalam tema besar mengenai alternatif pergerakan kultural untuk transformasi sosial ini, masing-masing panelis dari Japung Nusantara mempresentasikan bahasan-bahasan sebagai berikut:

Profesor Melani Budianta (guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, salah satu pelopor cultural studies di Indonesia, aktivis dan pakar kajian gender, kelahiran kota Malang tahun 1954) menyampaikan:

Pengantar mengenai gambaran umum apa, siapa, dan bagaiman paraa praktisi pendampingan masyarakat Jaringan Kampung Nusantara yang diajak oleh Profesor Melani hadir dan menyampaikan presentasi di konferensi ini
Stereotype antara pedesaan dan perkotaan: orientasi alam – orientasi teknologi, tradisional – modern, semangat kolektif – individual, mengolah alam – industri dan perusahaan, kesehatan terkait pertanian – kesehatan terkait polusi, tidak konsumtif – konsumtif, perputaran uang lambat – menumpuk keuangan dan kekuasaan, rumah tradisional – rumah modern.

Pemetaan permasalahan sosial, kualitas SDM, tenaga kerja, perluasan kota, konstruksi sosial, sosio politik
Pemetaan kondisi kampung urban di perkotaan, terkait kampung di sekeliling real estate dan kawasan industri yang menyediakan lapangan kerja, terjadinya pembelian lahan-lahan kampung dan beralih fungsi, penggusuran kampung terkait masalah sosial (kriminal, pelacuran). Trend kampung-kampung dikembangkan menjadi destinasi wisata artifisial yang memberi keuntungan finansial, tapi seringkali menghilangkan nilai-nilai.

Di situlah jejaring kampung/desa Japung Nusantara mengambil peran transformasi sosial melalui jejaring sosial media, mendorong potensi ekonomi dengan bijak, mendorong demokratisasi yang sehat, mendorong pengelolaan lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat, saling menginspirasi antar kampung melalui aktivitas “sonjo kampung”, mendorong tumbuhnya aktivitas seni budaya melalui festival-festival kampung, mendorong pemanfaatan sosial media yang sehat dan produktif, memotivasi inovasi sosial dengan media-media kreatif

Redy Eko Prastyo (Tim Kreatif UBTV & Radio – Universitas Brawijaya, inisiator Japung Nusantara, inisiator Kampung Cempluk, Kab. Malang, kelahiran tahun 1979), menyampaikan:

Sejarah terbentuknya Japung Nusantara dideklarasikan di Banyuwangi, pada 17 Januari 2016, dalam kegiatan Festival Kampung Temenggungan Banyuwangi. Jejaring ini sebagai sebuah wadah untuk saling-silang ide, saling belajar, saling mendukung, dan saling bersinergi antara para pegiat kampung se-nusantara. Japung Nusantara berisi jejaring para pegiat pendampingan dan pemberdayaan masyarakat serta budaya. Saat ini jejaring Japung Nusantara telah menggerakkan lebih dari 75 desa dan kampung se-Indonesia.

Para pegiat Japung Nusantara memiliki aneka latar belakang, mulai dari akademisi, jurnalis, seniman, budayawan, pengusaha, kalangan pemerintahan, artis, pegiat karang taruna, dll. Dengan keberagaman latar belakang ini, maka pergerakan desa dan kampung yang didorong oleh Japung Nusantara menjadi kaya dengan berbagai sudut pandang dan referensi, sesuai pengalaman, pemikiran, kajian, dan keilmuan masing-masing pegiat.

Pegiat Japung Nusantara bergerak atas dasar “panggilan”, menggerakkan bidang-bidang yang sesuai minat, bakat, dan pengalaman masing-masing pegiat, dengan aturan main berupa “koridor” hati nurani dan etika.

Bachtiar Djanan (inisiator pergerakan HIDORA – Hiduplah Indonesia Raya, pegiat pendampingan dan pemberdayaan masyarakat desa-desa di Kab. Banyuwangi, Kab. Lamongan, dan Kab. Tegal, lahir di kota Malang tahun 1974, dan kini tinggal di Banyuwangi), menyampaikan:

Sebelum dimulai

Budaya lokal adalah sebuah proses sinergi dan harmoni antara manusia dengan masyarakat dan dengan alam tempat di mana ia hidup, serta dengan dimensi spiritualnya. Salah satu penyebab putusnya proses mewariskan kekayaan budaya lokal, adalah saat generasi muda desa memilih pergi ke luar desa untuk bekerja ke kota besar, bahkan ke luar negeri, untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar sesuai zona nyaman modern, maka kekayaan budaya tidak lagi dipelajari, dilupakan, bahkan punah.

Salah satu solusi melestarikan budaya adalah bagaimana generasi muda desa bisa memenuhi kebutuhan hidup dasar di desanya sendiri, sehingga mereka bisa memiliki kesempatan yang luas untuk menggali, mempelajari, serta merawat alam dan budaya yang ada di desa.

Wisata desa dapat menjadi salah satu jawaban yang bisa diaplikasikan, karena desa memiliki banyak keunikan alam dan budaya yang menarik. Namun pariwisata itu seperti api, bisa untuk memasak air, dan bisa juga membakar dapur bahkan rumah kita, kesalahan konsep dan pengelolaan wisata justru akan merusak tatanan sosial budaya yang ada di desa. Wisata desa harus dikonsep dan dikelola dengan hati-hati, dikembangkan berbasis value (nilai-nilai), dengan koridor pelestarian alam dan lingkungan hidup, merawat budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Anak muda sebagai ujung tombak desa yang harus memiliki kecintaan dan kebanggaan pada kampungnya. Mereka perlu dibekali dengan leadership, hardskill dan softskill agar menjadi SDM yang handal, yang tergerak untuk berkarya dan berbuat bagi desanya.

“Begini ya … iya”

Danis Setiabudi Nugroho (Kepala Desa Gondowangi, Kec. Wagir, Kab. Malang, salah satu kepala desa termuda, lahir tahun 1986), menyampaikan:

Permasalahan yang seringkali terjadi di desa antara lain: desa berpola paternalistik, pengambilan keputusan top down, tidak ada transparansi pengelolaan keuangan, warga desa pasif, anak muda kurang mendapat ruang (untuk berpikir kritis dan berekspresi), urbanisasi, kurangnya kesadaran lingkungan hidup, dan perputaran ekonomi yang kurang sehat untuk produk-produk pertanian yang seringkali dikuasai oleh jejaring tengkulak.

Langkah terobosan yang dilakukan adalah: membangun kepercayaan warga terhadap Pemerintah Desa dengan transparansi pengelolaan keuangan desa, membangun iklim musyarawarah warga desa, memfasilitasi dan mendorong anak muda untuk berkegiatan positif, membangun kesadaran terhadap pelestarian budaya dan lingkungan hidup, pengembangan sistem lumbung desa yang menjamin pembelian produk pertanian warga dengan harga yang sehat.

Pemerintah desa harus hadir dan terlibat aktif dalam pengembangan sumber daya manusia, terutama bagi generasi muda, untuk menumbuhkan kecintaan anak muda pada desanya, dan mendorong anak muda berkarya nyata yang positif bagi desanya. Misalnya dengan Program pelestarian kesenian Wayang Krucil yang sudah berusia lebih dari 300 tahun.

Farha Abdul Kadir Assegaf (komunitas Tanoker, pegiat pendampingan anak di desa Ledokombo Kab. Jember, kelahiran Ambon tahun 1963), menyampaikan:

kedua dari kanan

Pemetaan kondisi dan permasalahan sosial yang terjadi pada anak-anak para pekerja migran, di mana orang tuanya pergi bekerja ke luar negeri dan si anak dititipkan kepada kakek/neneknya. Warga Ledokombo sekitar 40% bekerja sebagai TKI ke luar negeri. Anak-anak pekerja migran seringkali drop out sekolah atau kurang mendapatkan edukasi yang layak, terjadinya pelecehan anak, kekerasan anak, pernikahan muda, kecanduan rokok, kecanduan alkohol dan narkoba, kecanduan gadget.

Komunitas Tanoker mengambil peran sebagai fasilitator bagi anak-anak pekerja migran, untuk mendukung, menjadi pembimbing dan konseling, serta menjadi teman bagi anak-anak.

Komunitas Tanoker mendorong anak-anak untuk bermain egrang, untuk meningkatkan kepercayaan diri, ketrampilan, dan bangga pada budaya lokal. Selain itu komunitas Tanoker melakukan revitalisasi terhadap permainan-permainan tradisional, belajar sambil bermain. Hal ini dilakukan sebagai metode untuk menginspirasi orang tua, masyarakat, pemerintah, dan rekanan-rekanan yang lain. Salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah Collaborative Parenting, kerjasama hal parenting berkolaborasi antara pemerintah lokal, publik figur, tokoh agama, institusi pendidikan, kelompok dan individu di desa, komunitas Tankoker dan jejaringnya, dengan semboyan: anakmu, anakku, adalah anak kita. Empat pilar dari Collaborative Parenting adalah: pembelajaran parenting untuk ibu, pembelajaran parenting untuk bapak, pembelajaran parenting untuk nenek, dan pemerintah sebagai “orang tua”: layanan dokumen, akses ke kesehatan dan kesejahteraan.

Konsep Ledokombo sebagai lingkungan ramah anak dengan perhatian khusus pada “anak yatim sosial”; Indonesia dan dunia datang ke Ledokombo, mereka tinggal untuk belajar, bermain dan berbagi ide; suatu area untuk semua dan merangkul keberagaman; orang tua, komunitas, dan distrik menjadi hidup dengan kreativitas; migrasi bukan lagi satu-satunya pilihan

Beberapa pendapat dari para akademisi dan peneliti cultural studies tentang tema besar yang dibawa oleh delegasi Indonesia yang disampaikan dalam forum konferensi, maupun dalam diskusi-diskusi informal di luar forum:

ketemu konco kampung

Profesor Meaghan Morris (guru besar studi gender dan cultural studies di University of Sydney, Australia, mantan Ketua Profesor Studi Budaya di Lingnan University, Hong Kong, anggota Hong Kong Academy of the Humanities dan Australian Academy of the Humanities), disampaikan dalam sesi Keynote Speaker penutup The 12th Biennial Crossroads in Cultural Studies Conference:

Saya beruntung bisa menghadiri Spotlight Session, di mana para aktivis dari The Nusantara Kampong Network (Japung Nusantara) dari Indonesia berbagi pengalaman dalam mendampingi dan mendorong transformasi sosial positif masyarakat desa. Saya sangat terinspirasi. Para akademisi dan peneliti cultural studies perlu belajar mengimplementasikan dan membumikan berbagai teori cultural studies di masyarakat langsung, bukan hanya terjebak dalam teori. Walaupun saat ini kita seringkali terjebak dalam berbagai keterbatasan, tapi kita perlu terus bergerak seperti halnya orang melakukan kung fu, dengan lincah dan tangkas mengolah jurusnya agar memenangkan pertempuran, sebagai sebuah seni mewujudkan segala sesuatu yang diteorikan menjadi kenyataan.

Profesor Samir Dayal (guru besar Bentley University, Amerika, di bidang English and Media Studies), menyampaikan:

Berbagai program yang dilakukan oleh Japung Nusantara dalam mendampingi masyarakat desa dan kampung merupakan aplikasi riil dari cultural studies. Para akademisi perlu keluar dari ruang kerjanya di kantor dan melihat langsung bagaimana para aktivis membangun pergerakan bersama masyarakat. Banyak ide, gagasan, metodologi, dan praktek para aktivis di lapangan yang mungkin belum pernah ditulis sebagai sebuah teori. Sebetulnya ini menjadi tugas bagi peneliti cultural studies untuk meriset dan mempublikasikannya secara akademik.

Stuart R. Poyntz, PhD (Pembantu Dekan dan Pembantu Profesor pada School of Communication di Simon Fraser University, Canada, dan President dari Association for Research in Cultures of Young People), menyampaikan:

Sangat menarik untuk mengetahui lebih dalam bahwa jaringan Japung Nusantara terdiri banyak orang yang memiliki berbagai latar belakang yang berbeda, mulai dari akademisi, aktivis, pelaku bisnis, kepala desa, seniman, budayawan, dll. Bagaimana anggota komunitas “terpanggil” untuk berbuat, bukan karena uang, tidak dibayar, dan bukan karena kepentingan politik, tapi karena masing-masing merasa memiliki tanggung jawab sosial, ini adalah sebuah kerja luar biasa yang sangat menginspirasi.

Lin Proitz, PhD (doktor dalam studi Gender dan Ilmu Media, dosen dan peneliti pada Fakultas Psikologi di Universitetet i Oslo /University of Oslo, Norwegia), menyampaikan:

Aktivitas pemberdayaan masyarakat di desa kebun kopi rakyat (Gombengsari, Banyuwangi) melalui program wisata desa sangat menarik, memberi alternatif solusi bagi para pemuda desa untuk mendapatkan basic income (penghasilan dasar) tanpa harus pergi ke luar desa. Seperti dijelaskan oleh Guy Standing (profesor dalam bidang Studi Pembangunan Inggris di School of Oriental and African Studies, Universitas London,Inggris, keynote speaker pembuka dalam konferensi ini), basic income menjadi salah satu faktor penting agar secara psikologis masyarakat merasa aman (dalam ranah ekonomi) dalam kehidupan kesehariannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Fan Yang, PhD (Asisten Profesor di Universitas Maryland, Baltimore County/UMBC, Amerika, di Departemen Studi Media dan Komunikasi), menyampaikan:

Aktivis-aktivis pergerakan di Indonesia punya pekerjaan rumah besar, yaitu bagaimana mengkomunikasikan dan mempublikasikan gerakannya, baik berupa website dengan bahasa Inggris, channel youtube, buletin, ataupun jurnal-jurnal ilmiah. Tema pergerakan komunitas Japung Nusantara adalah tema yang menarik bagi banyak pihak, untuk dipelajari, diteliti, dan sangat menginspirasi, sayang belum terpublikasikan ke dunia internasional secara optimal

Akiyama Tamako (dosen di University of Tokyo dan Rikkyo University, Jepang, anggota Center for Asian Area Studies), menyampaikan:

Dari melihat video yang ditunjukkan Japung Nusantara, itu cukup memberikan gambaran mengenai apa yang diperjuangkan aktivis-aktivis Indonesia. Sebetulnya sangat menarik, dan disarankan agar komunitas aktivis Indoneisa bisa memperbanyak dokumentasi-dokumentasi audio visual dari apa-apa yang telah dikerjakan di lapangan, untuk dipublikasikan lebih meluas.

Veli-Matti Karhulahti, PhD (peneliti postdoctoral dari The School of History, Culture and Art Studies , University of Turku, Finlandia), menyampaikan:

Untuk mengembangkan gerakan edukasi dan membangun kesadaran kepada masyarakat luas, terutama generasi muda, perlu pendekatan melalui berbagai pintu masuk, salah satunya adalah memanfaatkan aplikasi online, game online, dan film. Bagaimana pergerakan pemberdayaan masyarakat seperti yang dilakukan aktivis-aktivis di Indonesia, bisa digambarkan dan disimulasikan sesuai trend lifestyle anak muda, dengan visual yang menarik, namun tetap dengan prinsip-prinsip yang idealis. Anak muda di seluruh dunia saat ini cenderung untuk lebih mudah menerima sesuatu yang tidak terlalu teoritis dan textbook. Berbagai skenario global yang menggiring masyarakat dunia menjadi hedonis dan konsumtif, bahkan isu-isu ideologi saat ini disusupkan secara masif ke alam berpikir anak muda seluruh dunia melalui aplikasi online, game online, dan film, maka cara untuk melawannya juga perlu memanfaatkan media yang sama.

Dr. Anna Maria Murtola (dosen senior di Auckland University of Technology, New Zealand, dewan redaksi jurnal Organization: The Critical Journal of Organization, Theory and Society, menulis beberapa buku tentang anti-kapitalisme, anti-konsumerisme, dll) menyampaikan:

Dalam menyikapi kapitalisme global, perlu ada gerakan lokal yang bisa menghadang. Masyarakat desa perlu memiliki semangat, ilmu, dan ketrampilan untuk berwirausaha. Aktivitas ekowisata dan pengembangan bisnis lokal masyarakat desa memasarkan kopi langsung kepada customer melalui penjualan online seperti yang dilakukan pergerakan aktivis di Banyuwangi Indonesia, ini bisa menjadi salah satu langkah efektif untuk menghadang kapitalisasi pariwisata dan penguasaan produk-produk lokal oleh perusahaan kapitalis. Perlu diperkuat sinergi dan jejaring antara para pelaku pergerakan sejenis di berbagai penjuru dunia.

Bipin Sebastian (dosen di Departement of Communication and New Media, National University of Singapore), menyampaikan:

Ingin berkunjung ke Indonesia, untuk melihat sendiri bagaimana komunitas Japung Nusantara bergerak di desa dan kampung. Di India (tempat kelahiran Bipin Sebastian) juga ada beberapa pergerakan sejenis walaupun dengan bentuk yang berbeda, yang mungkin cocok berjejaring dengan Japung Nusantara.

Profesor Luo Xiaoming (guru besar Program Cultural Studies, di Shanghai University, China; Direktur Center for Contemporary Cultural Studies, di Shanghai University; steering committee di Inter-Asia Cultural Studies Society; organizing committee di The 12th Biennial Crossroads in Cultural Studies Conference), menyampaikan:

Mengapresiasi positif partisipasi tim Indonesia dalam The 12th Biennial Crossroads in Cultural Studies Conference, dan berharap aktivis-aktivis Japung Nusantara bisa mendapatkan manfaat maskimal serta dapat membangun jejaring yang lebih luas melalui media konferensi ini. Pengalaman Japung Nusantara di lapangan diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para peneliti cultural studies.


Sekilas tentang Cultural Studies

Cultural Studies (kajian budaya) adalah suatu cara pandang teoretis mengenai suatu objek dengan perspektif bidang kritik sastra, sosiologi, sejarah, kajian media, dan berbagai bidang lainnya. Cultural Studies merupakan bidang interdisipliner yang mengambil berbagai cara pandang dari aneka keilmuan untuk meneliti hubungan antara kebudayaan dengan politik atau kekuasaan. Objek cultural studies tidak hanya dipahami secara sempit mengenai seni atau kebudayaan yang terkait nilai estetis, namun lebih pada menyentuh kehidupan sehari-hari manusia yang menyangkut budaya populer.

Adapun tema-tema dan objek yang menjadi pusat perhatian cultural studies antara lain: isu-isu subjektivitas, identitas, etnisitas, ras, bangsa, gender, televisi, sosial media, teks, penonton, ruang kultural, tempat urban, anak muda, gaya hidup, subkultur, politik kultural, dan kebijakan kultural. Lahirnya cultural studies berawal dari Inggris menjelang tahun 60-an, lembaga pertama yang bergerak di bidang cultural studies adalah Center For Contemporary Cultural Studies, yang berdiri pada tahun 1964, dengan direktur pertamanya yaitu Richard Hoggart, seorang profesor sastra Inggris di Universitas Birmingham, Inggris. Sejak saat itu, dari Inggris cultural studies kemudian berkembang menjadi tradisi studi yang meluas di kalangan intelektual di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Perancis dan India, kemudian menyebar lebih luas lagi ke negara-negara Asia dan Afrika.
Tokoh penting cultural studies adalah Stuart McPhail Hall, yang mengembangkan cultural studies hingga menjadi sebuah disiplin kajian tersendiri di antara kajian ilmu-ilmu sosial lain. Hall bersama beberapa rekannya menciptakan gerakan intelektual internasional terkait cultural studies. Pemikiran yang dituangkan dalam buku-buku karyanya banyak menjadi referensi utama dalam cultural studies sampai hari ini.

Di Indonesia, cultural studies mulai berkembang era tahun 90-an, dengan terbitnya beberapa jurnal penelitian dan kajian budaya, kemudian mulai merambah perguruan tinggi sebagai mata kuliah di S2 maupun S1 di Universitas Indonesia, kemudian diikuti oleh Universitas Petra Surabaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Udayana Bali, Universitas Airlangga, dan kini di beberapa perguruan tinggi Indonesia telah membuka program pasca sarjana untuk cultural studies. Profesor Melani Budianta merupakan salah satu tokoh pelopor cultural studies di tanah air.

Sekilas tentang The 12th Biennial Crossroads in Cultural Studies Conference

Crossroads in Cultural Studies Conferences merupakan konferensi internasional mengenai cultural studies yang diadakan setiap 2 tahun sekali, bergantian di berbagai negara, dan untuk yang pertama diadakan di Tampere, Finlandia, pada tahun 1996. Konferensi ini diselenggarakan oleh Association for Cultural Studies (ACS).
ACS berdiri tahun 2002, bertujuan untuk membangun dan mempromosikan berkembangnya komunitas cultural studies di seluruh dunia, sebagai alat untuk membangun hubungan interdisipliner dan transnasional yang kuat. ACS membangun jejaring antara akademisi dan peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan dari berbagai negara, menyebarkan informasi, serta mendorong terbentuknya kerja-kerja kolaboratif.

Crossroads in Cultural Studies Conference telah memainkan peran penting dalam penciptaan diskusi global Cultural Studies. Konferensi ini menjadi konferensi internasional utama, di mana para akademisi dan peneliti dari lima benua berkumpul secara teratur untuk bertukar penelitian, pandangan kritis, dan wawasan ilmiah mereka.
The 12th Biennial Crossroads in Cultural Studies Conference merupakan konferensi internasional cultural studies ke-12. Konferensi ini diselenggarakan di Shanghai University, China, pada tanggal 12-15 Agustus 2018, diikuti oleh 572 peserta, yang berasal dari lebih dari 40 negara. Ketua organizing committee kegiatan ini adalah Profesor Wang Xiaoming, dari Centre of Contemporary Cultural Studies, Shanghai Unversity.

Dalam konferensi ini, terdapat 4 macam sesi utama, yaitu 2 kali sesi keynote speaker dan 2 kali sesi pleno yang dilaksanakan di gedung berkapasitas 800 orang, 13 kali sesi panel yang masing-masing terdiri dari 11-15 panel paralel yang dilakukan bersamaan di ruang-ruang berbeda, dan 2 kali sesi spotlight yang masing-masing dilaksanakan bersamaan 3 panel paralel di ruang-ruang seminar berkapasitas 250 orang. Presentasi dari tim Jaringan Kampung Nusantara berada dalam sesi spotlight ini.

Sekilas Shanghai University

Shanghai University berdiri tahun 1922, kini memiliki 34,437 mahasiswa, dan terdapat lebih lebih dari 3800 mahasiswa internasional yang belajar di 4 kampus Shanghai University, yang berasal dari 119 negara. Shanghai University berada pada peringkat 422 dunia (QS Global World Ranking), peringkat ke-75 di Asia, dan peringkat ke-15 di China.

Saat ini Shanghai University memiliki 71 program sarjana, 221 program magister, 17 program magister teknik, 117 program doktoral, 17 program pasca-doktoral dan 2 program MBA. Perguruan tinggi modern yang berasal dari leburan 4 universitas di kota Shanghai ini memiliki 72 lembaga penelitian dan sebuah taman pengembangan teknologi tinggi canggih, dan memiliki perpustakaan dengan lebih dari 4 juta koleksi, lebih dari 4.600 terbitan berkala, koleksi referensi elektronik, dan terdapat koleksi buku-buku kuno langka dari masa Dinasti Qing (1644-1912).

Shanghai University dalam dua dekade ini berkembang pesat mirip dengan perkembangan kota Shanghai, dengan komunitas multikultural yang besar. Tidak hanya puas dengan kebesaran dan kemuliaan di masa lalu, Sanghai University berusaha menjadi universitas terkemuka di dunia dengan prestasi global diversifikasi, internasionalisasi dan inovasi, yang mengedepankan pengembangan bakat, dikombinasikan dengan perspektif global dan kesadaran kreatif.

Sekilas Kota Shanghai

Kota Shanghai merupakan kota yang telah berumur sekitar 1000 tahun, yang dulunya hanya menjadi bagian dari kota Songjiang, pada masa pemerintahan Dinasti Song (tahun 960-1279). Nama “Shanghai” memiliki arti harfiah “atas” dan “laut”. Dibukanya pelabuhan Shanghai pada tahun 1842 menjadi tonggak awal berkembangnya Shanghai menjadi kota pelabuhan internasional yang strategis.

Dari total penduduk China yang berjumlah lebih dari 1,3 milyar jiwa, kota Shanghai yang memiliki luas 6.340 km² ini menjadi kota dengan jumlah penduduk terbesar di China, yaitu 24,1 juta jiwa, dan juga menjadi salah satu kota dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Shanghai adalah kota yang menjadi tulang punggung ekonomi bagi negara Cina, 30% GDP negara Cina berasal dari kota Shanghai. Dan Shanghai juga merupakan salaha satu kota dengan biaya hidup termahal di negeri tirai bambu ini.

Shanghai juga dikenal sebagai ‘Paris of the East’ dan ‘Queen of the Orient’. Julukan tersebut pun memang pantas disematkan pada kota Shanghai, karena kota Shanghai tertata sangat rapi, terlihat sangat indah terutama di malam hari, belum lagi style fashion masyarakatnya yang sangat modis. Kota Shanghai memiliki jalan-jalan raya yang lebar, dengan mobil-mobil mewah berlalu-lalang, namun suasana di kota ini terasa cukup nyaman, teratur, dan tidak bising. Pedestrian lebar yang tertata rapi dan artistik bertebaran memberi kenyamanan bagi para pejalan kaki.
Transportasi publik difasilitasi dengan belasan jalur kereta MRT bawah tanah dan bis listrik. Masyarakat tidak menggunakan sepeda motor berbensin, hanya diperbolehkan menggunakan sepeda motor listrik, atau sepeda kayuh, dan mobil-mobil harus lolos uji emisi yang ketat. Jadi, meskipun penduduk kota Shanghai sangat besar, di kota ini polusi udara maupun polusi suara tidak terasa.

Kota Shanghai sangat modern. Di Shanghai, dan kota-kota lain di China, segala macam transaksi pembayaran sudah tidak lagi menggunakan uang tunai, melainkan menggunakan uang elektronik dengan memanfaatkan aplikasi chatting WeChat atau layanan e-commerce Alipay. Saat ini, pembayaran elektronik dengan aplikasi mobile di China berkembang sangat pesat, mencapai jumlah hampir 50 kali lebih besar dibanding di Amerika, dan lebih maju 8 sampai 9 tahun ketimbang di Eropa (data dari Financial Times, 2017).

Dengan ponsel pintar, aplikasi WeChat, dan deposit uang di rekening virtual, masyarakat bertransaksi hanya dengan memindai kode QR di ponselnya. Sangat praktis. Dan ini berlaku hampir di semua lini perdagangan dan jasa, bahkan sampai untuk pembayaran pedagang kaki lima. Aplikasi WeChat WeChat menyatukan semua fungsi sehari-hari, mulai dari chat, telepon, video call, berita, pembayaran elektronik, games, sosial media, bahkan bisa mendeteksi keberadaan sesama pengguna WeChat di sekeliling kita.

Bulan Maret 2018 yang lalu, aplikasi WeChat telah menembus angka 1 milyar pengguna aktif bulanan. Semakin pesat mengejar jumlah pengguna Facebook (2,1 milyar pengguna) dan aplikasi pesan WhatsApp (1,5 milyar pengguna). Dan di China, memang WhatsApp, Facebook, Twitter, Youtube, Gmail, dan semua aneka produk Google diblokir oleh pemerintah.

 

Penulis laporan : Reddy Eko Prasetyo                 Editor : Kristanto Budiprabowo

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *