DUNIA PEMBERDAYAAN DUNIA KEMANUSIAAN (2)

DUNIA PEMBERDAYAAN DUNIA KEMANUSIAAN (2)

Oleh: A. Bustanul Arif

Menyambung tulisan saya sebelumnya tentang dimensi kemanusiaan dalam kerja pemberdayaan, saya akan coba menarik ke belakang lagi bagaimana kerja sosial itu dijalankan dengan kesadaran dan semangat kemanusiaan.

Dulu sebelum saya terlibat dalam pemberdayaan masyarakat di sektor ekonomi, saya pernah terlibat dalam program pemberdayaan politik perempuan di Jawa Timur. Dalam program yang dijalankan oleh Yayasan Cakrawala Timur dan disupport oleh UNDP (United Nation for Development Program) itu saya terlibat dalam kerja idealisme teman-teman saya satu pergerakan dulu semasa menjadi mahasiswa. Di situ kami melakukan sebuah perjuangan kemanusiaan melalui penyadaran terhadap masyarakat, khususnya kaum perempuan yang selama ini dipinggirkan dan dinomorduakan sehingga akses apapun yang akan menambah nilai mereka dikebiri, mulai dari akses politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Alhasil, mereka benar-benar menjadi “the second sex” di dalam struktur sosial dan budaya masyarakat kita. Sebenarnya, hal ini tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara atau bangsa-bangsa lain di dunia. Bahkan, di negara-negara maju sendiri seperti Amerika sampai saat ini masih terjadi kesenjangan dan ketidakadilan pada kaum perempuan, bahkan di titik tertentu lebih parah daripada di Indonesia.

Produksi minyak goreng kelapa, Babulu Laut, PPU,Foto by A. Bustanul Arif

Produksi minyak goreng kelapa, Babulu Laut, PPU,Foto by A. Bustanul Arif

Idealisme yang mewarnai perjuangan (kerja sosial) kami begitu membara sehingga kami betul-betul ada di garis yang lain di luar kemapanan sebuah sistem budaya, sistem sosial, dan sistem politik yang menggerakkan negeri ini. Apalagi saat itu Indonesia sedang ada dalam masa transisi dari belenggu rezim Orde Baru menuju kebebasan di Era Reformasi. Sebuah ledakan emosi sedang terjadi di negeri ini, sehingga ekspresi apapun bisa dengan mudah muncul di permukaan dan menemukan momentumnya untuk eksis di panggung eforia perubahan sosial yang sedang terjadi.

Tentu di satu sisi kenyataan ini sangat menguntungkan karena masyarakat mulai “terbuka” (bisa bernapas) setelah mengalami keterbelengguan, namun di sisi yang lain masih ada barikade sistem yang begitu mapannya sehingga tidak mudah untuk ditembus oleh upaya perubahan kesadaran yang akan membawa mereka pada nilai sesungguhnya sebagai manusia, yaitu kebebasan dan martabat (nilai). Di sisi yang lain lagi, yakni dalam sistem dan struktur politik di Indonesia, begitu banyak hal yang harus diubah (ditransformasikan) agar sistem dan struktur yang ada memiliki unsur keadilan (fair) bagi semua jenis kelamin (adil gender). Dan itulah medan perjuangan kami.

Produksi minyak goreng kelapa, Babulu Laut, PPU, Foto by A. Bustanul Arif

Produksi minyak goreng kelapa, Babulu Laut, PPU, Foto by A. Bustanul Arif

Tentu saja upaya kami ini hanyalah salah satu bagian kecil dari sebuah upaya besar gerakan transformasi sosial yang juga dilakukan oleh pihak-pihak lain waktu itu dengan medan penggarapan kesadaran politik masyarakat, khususnya kaum perempuan yang selama ini cenderung dimarjinalkan. Kami ingin membuka kesadaran bahwa setiap orang, entah itu laki-laki atau perempuan sesungguhnya memiliki hak dan kewajiban yang sama, baik secara sosial, politik, ekonomi, pendidikan, maupun budaya.

Salah satu capaian yang membahagiakan bagi kami adalah lahirnya kader-kader di tiap daerah di Jawa Timur melalui komunitas-komunitas lokal. Kader-kader itulah yang kemudian menjadi penggerak (pelopor) sebuah upaya transformasi sosial di masing-masing wilayahnya hingga di kemudian hari. Tentu ini tidak mudah karena sekali lagi yang dihadapi adalah sebuah sistem sosial dan politik yang mapan yang setiap jengkalnya memiliki tantangan, yakni resistensi dari status quo (orang-orang yang sudah mapan dengan sistem yang ada), juga alam pikir dan mentalitas masyarakat yang sudah terhegemoni oleh sistem yang membelenggu sebelumnya, termasuk juga tafsir agama yang dijadikan instrumen dan legitimasi bagi ketidakadilan yang sudah terstruktur ini. Oleh sebab itu, kami menyadari bahwa upaya ini hanya awalan yang masih membutuhkan upaya lebih besar dan lebih masif lagi agar sebuah perubahan sosial (transformasi) terjadi di negeri ini. Sementara, sekali lagi, kami hanya bagian yang sangat kecil dari sebuah upaya besar (gerakan) transformatif itu.

produk minuman herbal 2, Foto by A. Bustanul Arif

produk minuman herbal 2, Foto by A. Bustanul Arif

produk minuman herbal 1, Foto by A. Bustanul Arif

produk minuman herbal 1, Foto by A. Bustanul Arif

Capaian-capaian lainnya adalah lahirnya regulasi baru tentang keterwakilan perempuan di sektor publik (politik), keterlibatan mereka dalam forum-forum pengambilan keputusan, dan juga penganggaran berdasarkan kebutuhan perempuan (gender budgetting). Di ranah kultural, masyarakat (melalui komunitas-komunitas yang ada) mulai sadar akan haknya untuk terlibat di wilayah publik untuk mempengaruhi lahirnya kebijakan yang adil bagi mereka. Dan sebagian mereka juga pada akhirnya duduk sebagai bagian dari pengambil kebijakan di wilayah publik itu.

Pelatihan Manajemen usaha, Foto by A. Bustanul Arif

Pelatihan Manajemen usaha, Foto by A. Bustanul Arif

Ini adalah sekelumit hasil dari upaya pemberdayaan yang kami lakukan terhadap kaum perempuan agar mereka sendiri menyadari hak dan peran pentingnya dalam kehidupan ini, mengingat hegemoni yang terjadi selama ini membuat mereka tidak berkutik dan hanya berperan di wilayah domestik yang rentan terhadap penindasan dan ketidakadilan.

KALIMANTAN DAN PROBLEM SOSIALNYA

Sekarang kita melompat ke wilayah yang lain, tempat kemudian saya berjibaku dengan dunia pemberdayaan. Kedatangan saya di satu wilayah di Kalimantan Timur membelalakkan mata saya betapa telah terjadi kesenjangan yang luar biasa antara masyarakat yang ada di Kalimantan ini dengan masyarakat yang ada di Jawa. Kesenjangan itu terutama adalah masalah pengetahuan yang tidak imbang dengan kekayaan. Umumnya, masyarakat di Kalimantan mengalami pertumbuhan yang luar biasa (cepat) dalam hal ekonomi, namun sangat lambat mengalami pertumbuhan di bidang pendidikan dan pengetahuan. Ada ironi di sana yang menggelitik hati saya untuk kembali terjun di wilayah pemberdayaan.

Maka atas nama kemanusiaan saya terpanggil untuk kembali melakukan kerja sosial, yakni pemberdayaan masyarakat. Tentu sangat berat – seperti yang pernah saya singgung di tulisan sebelumnya – karena saya tidak punya embel-embel lembaga dan dana yang mewadahi niat saya untuk melakukan transformasi nilai dan penyadaran demi menumbuhkan semangat berproses masyarakat untuk terus belajar menjadi “manusia” yang “bermartabat”, yakni membangun kesadaran kemanusiaan mereka sebagai insan yang sudah semestinya harus bertumbuh terus untuk menjadi lebih baik. Saya meyakini bahwa manusia sudah selayaknya “terus bertumbuh”, melakukan peningkatan kualitas diri secara terus menerus sebagai manusia yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan orang lain dan lingkungan kehidupannya.

Pemdampingan kelompok, Menghitung harga jual produk, Foto by A. Bustanul Arif

Pemdampingan kelompok, Menghitung harga jual produk, Foto by A. Bustanul Arif

Karena saya berdiri hanya sebagai pribadi maka saya mencoba mendekati pemerintah desa sebagai lembaga yang bisa saya jangkau waktu itu untuk bisa menjadi jembatan dalam melakukan upaya pemberdayaan masyarakat. Saya diuntungkan oleh keberadaan beberapa teman di dalam birokrasi desa yang mau menyambut positif dan memberi ruang saya untuk menjalankan beberapa gagasan pemberdayaan. Salah satu yang berhasil terwujud adalah lahirnya organisasi perempuan yang dimotori oleh beberapa pegawai perempuan pemerintah desa, yakni Lembaga Pusat Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan (LP4). Karena semua yang ada di struktur organisasi memiliki pengalaman yang sangat minim dalam berorganisasi dan dalam kegiatan pemberdayaan, maka hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan pembelajaran bersama-sama tentang wacana dan isu-isu seputar perempuan dan problematikanya. Kami sama-sama belajar tentang gender dan gerakan emansipasi perempuan. Kami belajar tentang ketidakadilan dan perubahan sosial. Kami belajar tentang bagaimana membangun kesadaran kaum perempuan akan hak-haknya baik di ruang publik maupun di ruang domestik. Kami belajar tentang keadilan bagi kaum perempuan.

Produk Kripik 2, Foto by A. Bustanul Arif

Produk Kripik 2, Foto by A. Bustanul Arif

Di luar lingkaran internal, kami juga melakukan upaya penyadaran kepada masyarakat dengan mengadakan kegiatan sosialisasi dan diskusi publik seputar isu perempuan dan keadilan gender. Tentu yang dilibatkan bukan hanya kaum perempuan, tetapi juga kaum lelaki yang menjadi bagian integral dari kehidupan perempuan, terutama di level rumah tangga. Karena kami menyadari bahwa dalam konteks pendidikan dan penyadaran ini keduanya (laki-laki dan perempuan) harus tersentuh.

Pemberdayaan itu kemudian berkembang lagi menyentuh wilayah ekonomi. Kami kumpulkan beberapa ibu-ibu yang ada di desa untuk membentuk satu usaha bersama. Setelah diorganisasikan kemudian kami hubungkan dengan pemerintah desa, dan alhamdulillah akhirnya kelompok bisa mengakses dana sebesar Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dari dana penyertaan modal yang dialokasikan untuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dari modal itulah kemudian kelompok menjalankan usaha produksi makanan ringan, yakni keripik buah dan berbagai olahan makanan ringan. Produk mereka dipasarkan di seputar wilayah desa dan kecamatan. Omset yang bisa dihasilkan berkisar 4-6 juta rupiah per bulan.

Produk Kripik 1, Foto by A. Bustanul Arif

Produk Kripik 1, Foto by A. Bustanul Arif

Sayangnya, kelompok ini hanya bertahan selama satu tahun, karena terkendala tenaga pemasaran. Selama ini tenaga pemasaran hanya ditangani oleh anggota kelompok, belum menggandeng pihak lain (rekanan pemasaran atau distributor) sehingga ibu-ibu merasa “kuwalahan” (capai) karena harus membagi kegiatan antara produksi dan marketing.

Hal berharga yang saya pelajari dari pengalaman ini adalah: sebuah program atau kegiatan pemberdayaan harus didukung oleh sistem dan manajemen yang bagus (teruji dan terukur), juga dengan support pendanaan yang memadai. Sementara hal ini sangat sulit jika kita hanya mengandalkan pemerintah. Karena bagaimanapun, pemerintah tidak disetting untuk mendampingi masyarakat, tetapi hanya memberi pancingan (stimulus) entah itu berupa fasilitasi pelatihan, modal terbatas, dan sedikit fasilitas peralatan. Sementara untuk hal yang paling substansial, yakni dukungan sistem dan pendampingan intensif, pemerintah tidak bisa memenuhi itu. Oleh sebab itu diperlukan pihak lain di luar pemerintah yang bisa melakukan pemberdayaan secara lebih baik dan terukur (measurable).

Pelatihan Manajemen usaha, Foto by A. Bustanul Arif

Pelatihan Manajemen usaha, Foto by A. Bustanul Arif

Saya membuktikan ketika berada di sebuah lembaga sosial yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, ternyata bukan semata-mata anggaran besar yang akan membuat kegiatan atau program pemberdayaan itu berhasil, tetapi lebih pada sistem yang tersusun dengan rapi dan strategis untuk dilakukan di lapangan dengan hasil yang sangat realistis untuk tercapai. Selain itu dimensi sustainability (keberlangsungan dan keberlanjutan terus-menerus) adalah kata kunci dari keberhasilan sebuah kerja pemberdayaan. Artinya, ketika sebuah program dan pendampingan berakhir, apakah mereka bisa mandiri? Inilah tujuannya: masyarakat harus mandiri. Dan untuk membangun kemandirian itu wilayah garapan kita bukan sebatas memfasilitasi mereka dengan modal, infrastruktur, atau pengetahuan (soft skill dan hard skill), tetapi (yang lebih penting) adalah bagaimana membangun mentalitas mereka menjadi mentalitas yang mandiri (tidak bergantung pada orang lain atau pemerintah), tidak menjadi peminta-minta (pengharap bantuan), dan tahan banting terhadap segala kondisi (karena bagaimanapun kondisi tidak tetap sama alias akan selalu ada masalah dan tantangan).

Inilah hal-hal yang penting dalam dunia pemberdayaan. Tentu saja ini bukan pekerjaan yang ringan. Ini tanggung jawab sosial yang sangat besar jika kita memang berniat untuk membangun masyarakat kita. Banyak PR yang harus digarap. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Meski demikian, semua itu akan sangat mudah ketika kita bisa menempatkan diri kita murni pada niat baik untuk membangun masyarakat (meningkatkan derajat kemanusiaan). Kita menempatkan empati pada setiap tindakan sosial kita. Kita menjunjung tinggi moralitas universal. Dan kita menggantungkan harapan pada kemahakuasaan Tuhan untuk bisa mengubah masyarakat kita menjadi manusia yang lebih baik, lebih berdaya, lebih terhormat dan bermartabat.

Mari kita terus membangun optimisme untuk Indonesia kita yang lebih baik.

 

Kutai Kertanegara, 2 November 2016




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *