Edisi “Keprihatinan Heritage” “SOS” MAGAZIJN LOA KULU

Pembiaran BCB Era Awal Pertambangan Batubara di East Borneo

Oleh : M. Dwi Cahyono

Sejarah pertambangan batubara di Kalimantan Timur (East Boneo) meninggalkan jejak awalnya di Loa Kulu. Sebuah distric lama (kini “kecamatan”) yang kini berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Loakulu bertetangga dekat dengan Tenggarong (IK Kukar), dan sama-sama berada pada lintasan mahanadi (sungai besar) Mahakam. Kawasan tambang di Kutai Raya, termasuk di dalamnya Kukar, dengan demikian gayut erat dengan heritage budaya di Loa Kulu. Batubara adalah suatu mineral tambang yang punya kontribusi besar bagi pemajuan Kutai Raya. Dari tempat ini (Loa Kulu)-lah debut pertambangan batubaranya bermula. Syukurlah, meskipun telah berjeda waktu sekitar satu abad dari sekarang, namun infrastruktur dan areal tambang arkhais (kuno) itu kini masih meninggalkan jejak artefaktual dan ekofaktualnya, sehingga dapat dijadikan sebagai sember data penting untuk menyingkapkan periode awal kesejarahan tambangannya.

Kondisi gedung terkini (foto oleh dwi cahyono )

Jejak lama pertambangan batubara di Loa.Kulu terbilang kompleks. Terdapat areal eksplorasi batubara, yang masih menggunakan terowongan, dan sisa perangkat penambangannya. Pada DAS Mahakam, sekitar 5 km dari areal eksplorasi tersebut, terdapat fasilitas pengolahan hasil tambang beserta rumah tinggal para karyawan tambang (mess karyawan atasan “bule” Belanda hingga pekerja kasar). Jalur angkut batubara, baik jalur darat (kini menjadi prasarana transportasi lokal) maupun jalur air pada Sungai Mahakam, masih bisa ditelisik keberadaannya. Latar sosial-budaya sekitarnya “multi enik”, yang memberi gambarkan bahwa Loa Kulu adalah distrik tambang yang terbilang maju pada jamannya (sejak Masa Hindia Belanda hingga Orde Baru), sehingga menjadi destinasi bagi para pendatang dari berbagai pulau di Indonesia, bahkan dari manca negara, untuk berdatangan mengais rejeki dari batu hitam sebagai bahan bakar itu.

rumah mukim ( foto oleh dwi cahyono )

Salah satu jejak tertinggal dalam wujud arsitektural — baca “‘Bangunan Cagar Budaya (BCB)” — adalah “Magazijn” dan bangunan-bangunan kuno lain di sekitarnya. Lokasinya tepat di tepi Mahakam, yang memberi gambaran bahwa di lokasi ini bongkah-bongkah batubara dari areal eksplorasi dicacah, dan selanjutnya dikapalkan ke luar daerah bahkan keluar negara. Atap seng bergelombang yang berbentuk kubah sebanyak enam deret menjadi kenampakkan khasnya sebagai suatu fasiltas arsitektural kompleks industri pertambangan kuno. Para pelintas dari Tenggarong ke Balikpapan atau sebalinnya, perhatiannya acap tersedot ke bangunan tua yang berada di tepi jalan poros ini.

Kekunoannya kian tampak mencolok, karena gedung tua ini kondisinya kini nyaris fragmentaris. Dua atap kubah bangunan deret ke-5 dan ke-6 telah runtuh. Selebihnya yang tersisa, kini berlobang-lobong, yang bocor dan menggenangkan air di lantai ketika musim hujan. Anyaman bambu (gedek) pelapis dalam bagi langit-langit atap (plafon) hanya tersisa di atap kubah deret ke-1. Itupun telah tidak utuh lagi. Kusen-kusen pintu, cendela, angin-angin atas maunpun daun pintu dan cendela telah lama raib dijarah orang. Tembok sisi depan (bangunan deret ke-1 retak dan dalam posisi miring, menunggu saatnya untuk roboh. Yang lebih mengenaskan lagi, dua setengah deret bangunan di belakang (deret ke-4, 5 dan 6), dinding bagian atas dan atapnya dililiti akar menjalar yang telah membesar ukurannya dan ditumbuhi semak-semak cukup rapat.

Kondisi tersebut memberi gambaran bahwa bangunan bernama “Magazijn” itu telah demikian lama tak terurus. Setidaknya, setelah industri kayu olahan yang menggantikan industri tambang ini tak beroperasi lagi pada tahun 1990-an, bangunan eks tambang dan kayu olahan ini diterlantarkan . Kondisi kurang terurus juga tampak pada bangunan panjang bertingkat [dari bahan kayu] di sisi belangnya dan bangunan tembok di sampingnya kirinya (mendingan cukup terawat, karena masih digunkan untuk gedung UKM). Bangunan-bangunan kuno lainnya, yang konon berada di samping kanan dan seberang jalan malahan kini telah musnah dan digantikan dengan bangunan baru. Tragisnya, bangunan Magazijn yang masih tersisa itu kini hanya difungsikan asal-asalan sebagai tempat penampungan barang bekas, yang kian “menyampahkan” heritage ini.

Ibarat pepatah “habis manis sepah dibuang”, heritage alam dan budaya (BCB) terkait dengan industri tambang batubara periode awal di Loakulu ada “PEMBIARAN”, baik segi perlindungan maupun perawatannya. Pelestariannya terabaikan, sehingga menimbulkan kerusakkan bahkan kemusnahan terhadap aset budaya masa lampau. Padahal, Kutai Kartanegara dan daerah lain tetangganya yang pa masa lalu sepemerintahan dengannya (pada era Kasultanan ataupun Kabupaten Kutai) mendapat “berkah” dari penambangan batu bara, sedari dulu hingga kini. Seakan tak ada “take and give”, yakni telah mengambil untung dari ekskorasi batubara dan [seharusnya] berbaik untuk menyisihkan sebahagian dari perolehannya untuk mengkonservasi peninggalan sejarah pertambangan batubara di daerahnya. Suatu sikap dan tindakkan yang “tak tahu diri”, yang hanya “mau mengambil” namun “tanpa mau ganti memberi”.

kondisi memprihatinkan di gedung belakang ( foto oleh dwi cahyono )

Kini saatnya, meskipun telah amat telambat, Pemkab Kukar bergegas untuk mengkonservasi BCB Magazijn dan bangunan-bangunan lain yang terkait dengannya dalam konteks “Jejak Sejarah Pertambangan Batubara Periode Awal”. Ada baiknya, Magazijn dimanfaatkan sebagai “Museum Sejarah Pertambangan Batubara”, sehingga dengan demikian diperoleh dua kemanfaatan sekaligus, yaitu (a) BCB dilesatarikan, dan tinggal lama (b) difungsikan sesuai konteks sejarahnya, yakni sebagai museum khusus terkait Sejarah Pertambangan Batubara di Kalimantan Timur. Jangan sampai rencana pembangunan jembatan melintas Mahakam di Loakulu justru bakal melumatkannya. Tak ada alasan bagi daerah semampu Pemkab Kukar untuk beralibi dengan mengatakan “tak mampu” mengkonservasikannya. Jadi, tingga ada kemauan atau tidak, tinggal menilai penting ataukah tidak heritage budaya di daerahnya.

Semoga tulisan ini bisa membuahkan kefaedahan. Setidaknya menjadi picu bagi Pemkab Kukar untuk bertindak semestinya terhadap Magazijn sebagai salah satu BCB di daerahnya. Jika tak ada tindakan demikian, diharapkan komunitas atau perorangan peduli-pecinta heritage untuk tampil menjadi semacam “Tim SAR” terhadapnya, mengingat ibarat “kapal”, Magazijn nyaris tenggelam, sehingga kini dalam kondisi “SOS”. Maka, pekikkan “Save Magazijn”. Magazijn adalah korban “keabaian budaya” dari suatu daerah yang nota bene memiliki perjalanan sejarah-budaya panjang, kaya, dan beragam. Terima kasih perhatiannya.

Malang, 26 Februari 2018
PATEMBAYAN CITRALEKHA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *