Edlisi “Mata Hati” SAYUK SAEKO PROYO, MUATAN SPIRIT “KEBERSAMAAN”

Dalam berkehidupan sosial, kebersanaan adalah utama. Ada beragam istilah yang memuat spirit “kebersanaan”. Mutiara kata Jawa seperti ” gotong royong, guyup rukun, gandeng renteng, holopis kontol baris, dan banyak lagi yang lainnya” memiliki muatan spiritualitas yang demikian. Salah sebuah dari yang lainnya itu adalah perkataan “Sayuk saeko proyo”, yang terdiri atas tiga kata, yaitu (1) sayuk, (2) saeko, dan (3) proyo.

Kata “sayuk” adalah kosa kata dalam bahasa Jawa Baru, yang berarti : baik dan damai, rukun. Kata jadian “disayukake” memiliki arti : dirukunkan (Mangunsuwito, 2013:430). Dalan bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan terdapat istilah yang dekat dengan itu, baik aksara pembentuknya ataupun artinya, yaitu “sayukti (sa.yuk.ti), yang berarti :pantas, patut, baik (Zoetmulder, 1995: 1063).Ustillah ini kedapatan dalam kitab Udyoga- parwa (50, 105), Uttarakanda (30), Ramayana (24.27) dan Sutasoma (97.2).

Adapun kata “saeko” tidak didapati dalam bahasa Jawa Baru. Aluh-lih ada kata “sae”, yang berarti : bagus, baik; atau kata “eka” yang berati : berfikir berulang kali sebelumnya (Mangunsuwito, 2013: 442, 227). Namun, dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, justru erdapat kata “sa-eka”, yang berarti :satu — bandingkan dengan kata “sawiji, sasiki”. Dalam kitab Korawasrama terdapat kalimat ” sa-eka ginawe gapura…… ….. sasiki. Kata dasar darinya adalah “eka”, yang berarti : satu, bersama- ama (Zoetmulder, 1995:255).

Istilah “proyo” juga tak terdapat dalam bahasa Jawa Baru. Yang dekat dengan itu adalah “prayoga” atau “praying”, yang berarti : baik, pantas. Kata hack an ” diprayogo” mempunyai arti : dipantas-pantaskan supaya bagus (Mangunsuwito, 1995:430). Amat boleh jadi, kata ini adalah apa yang dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan disebut “praya”, yakni istilah serapan dari bahasa Sanskreta, yang berarti : maksud, tujuan, kecenderungan, kesucian, keinginan, kehendak, hasrat, hendak, bernaksud, sedang merencanakan, disengaja, atau amat berhati-hati (Zoetmulder, 1995:859). Kaata jadian “sapraya” menyandung arti : satu dalam tujusn.

Berdasarkan arti dari masing-masing istilah diatas, perkataan “sayuk saeko proyo” merupakan metafora yang terbentuknya dari kata-kata yang berasal dari bahasa Jawa Kuna, Jawa Tengahan, ataupun Jawa Baru, yang kurang-lebih bermakna : satu (sa-eka) kehendak bersama (proyo, prays) untuk kebaikan (sayuk). Pada mutiara kata ini, paling tidak ada dua pesan yang terkandung di dalamnya, yaitu : (a) kebersamaan atau kedamaian (kerukunan), seperti tercermin dalam kata “saeko”, dan (b) kebaikan, tepatnya kehendak atau tujuan ke arah kebaikan, yang tercermin dalam kata “sayuk” dan “proyo”. Tersirat dalan perkataan itu, meskipun sejumlah orang memiliki kehendak/kemauan sendiri-sendiri, namun mereka memiliki rasa (spirit) kebersamaan, yaitu untuk tujuan kebaikan. Perrihal kebaikan, yakni demi tujuan yang baik, inilah yang justru menjadi tali pengikat kebersamaan (kesatuan) dari sejumlah orang yang berhimpun dalam aktifitas bersama.

Demikianlah, masyarakat yang berbudaya Jawa menggaris bawaii pentingnya kebersamaan dan kehendak baik. Kalapun secara personal bisa saja masing-masing orang memiliki kehendak sendiri yang boleh jadi berlainan, namun untuk kepentingan kolektif, arah tujuan dari kegiatan bersamamya membership ke kebaikan. Pendek kata ” sayuk saeko proyo” mengandung maksud “kebersamaan dalam kebaikan” atau “bersama untuk kebaikan”. Semoga tulisan ringkas dan bersahaja ini dapat memberi kefaedahan. Nuwun.

Sangkaling, 17 September 2019
Griya Ajar CITRALEKHA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *