EPITAF NISAN-NISAN TUA PADA KOMPLEKS MAKAM DI “KAMPUNG SALAK” RENGEL

Sebutan “epitaf” berasal dari kata di dalam bahasa Yunani “ἐπιτάφιος, epitaphios”, dalam arti : sebuah orasi pemakaman”. Terbentuk dari kata “ἐπί epi (di, sepanjang) dan “τάφος, taphos (makam)”. Sebutan ini menunjuk pada teks pendek yang menghormati seorang almarhum. Epitaf tak hanya merujuk pada teks yang dituliskan pada sebuah batu nisan atau plang, tapi juga digunakan juga dalam arti figuratif. Ada pula beberapa epitaf untuk diri sendiri, yang telah dibuat sebelum kemangkatannya. Dalam budaya Yunani, epitaf ditulis dalam prosa atau ayat puisi. Kala itu terdapat para penyair yang terkenal lantaran kepuaeiannya di dalam menyusun epitaf, termasuk epitaf untuk dirinya yang dibuat sebeum kematiannya, misalnya William Shakespeare.

Tradisi pembuatan epitaf juga terdapat di sejumlah budaya-agama, antara lain pada kalangan penganut Kristiani, Islam, Konghuchu, Islam, dsb. Bahkan, di makam-makam Islam kuno, epitaf kedapatan tidak hanya hadir di nisan, namun pada sejumlah makam Islam ada yang kedapatan pada jirat (bahasa Jawa “kijing”) atau pada bagian tertentu cungkup makam Selain dalam bentuk tulisan (tekstual), pada sekitar epitaf acap hadirkan gambar simbolik, yang seperti halnya teks tersebut, maknanya berkenaan dengan suatu pengharapan baik untukarwah almarhumah. Seperti gambar matahari (surya) pada bagian atas nisan, yang maknanya terkait dengan “nur (cahaya), yang sejalan dengan pengharapan “semoga [arwah bersangkutan] memprtoleh “jalan terang” di alam kubur.

Isi teks dalam epitaf pada makam Islam antara lain mengenai : (a) identitas dari si mati — hermasuk hal ganeologisnta, (b) waktu kelahiran dan kematian, (c) muasaknya — apabila merupakan orang asing, mauoun (d) kutipan ayat-ayat suc Al Qur’ani yang lazim dibaca ketika melakukan ziarah kubur — yang berisi pengharapan akan kebaikan arwaah. Kecuali teks yang merupakan kutipan ayat suci, teks tidak senantiasa ditulis dengan aksara dan bahasa Arab, namun tak jarang ditulis dengan aksara dan bahasa lain, termasuk dengan bahasa dan aksara lokal, seperti aksara Jawa dan bahasa Jawa. Sering pula terjadi, meskipun menggunakan aksara Arab Pegon, namun bahasanya adalah Jawa atau Melayu. Begitu pula, meskipun terdapat pada nisan makan Islam, namun bisa jadi tidak beksara Arab dan berarikh Hijriah, mekainkan beraksara Jawa Tengahan dan bertarikh Saka, seperti pada kompleks makam di Troloyo (Trowulan) dan di Candi Baru di Ketapang (Kalbar).

Pada makam-makam Islam lama, paling tidak yang berasal dari sebelum tahun 1960-an, penyematan epitaf yang demikian banyak dapati di kompleks makam (ragam sebutan “kuburan, jranatan, bujuk, jober, pusara”, dsb.). Salah satu tempat itu adalah di Desa dan Kecamatan Rengel pada sub-area timur Kabupaten Tuban, baik di kompleks makam kuno Purboyo dan utananya di “Kampung Salak”. Dalam sejumlah nisan (foto terlampir) dilengkapi epitaf pendek (sort inscription) beraksara Arab, Jawa Baru ataupun Latin. Keberadaannya menjadi petunjuk akan adanya penganut Islam di masa lampau pada daerah ini. Atau dengan perkataan lain, Islamisasi telah berlangsung amat lama di Rengel. Bahkan, ada penganut Islam di tempat ini yang menyadang jabatan relatif tinggi, yakni “Pangeran Purboyo”.

Demikianlah sekedar pengenalan awal suatu situs Islam yang berada di Rengel. Bagi yang meminati dan berkrmampuan dalam membaca huruf serta memahami bahasa Arab, monggo untuk berkenan mengadakan studi mendalan terhadapnya, sebagai ikhtiar untuk mengungkapkan sejarah Islam lokal di Rengel. Nuwun.

Sangkaling, 15 Oktober 2019
Griya Ajar CITRALEKHA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *