Festival Kampung Buntoi Kalimantan Tengah

“Festival Kampung Buntoi”
15, 16, 17 Juli 2016
Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah Jaringan Festival Kampung Nusantara
Oleh Rayhan Sudrajat

Menjelaskan kepada warga desa Buntoi mengenai Festival Kampung Buntoi.

Menjelaskan kepada warga desa Buntoi mengenai Festival Kampung Buntoi.

“Tabe salamat lingu nalatai, salam sujud karendem malempang. Adil Ka’talino, bacuramin ka’ suraga, basengat ke’ Jubata. Mamut Menteng ureh utusku isen mulang jeteh penyangku”.

Ijinkan saya bercerita sedikit mengenai perjalanan saya menuju desa Buntoi yang luar biasa ini pada saat kunjungan saya kesana hari minggu tanggal 7 Februari 2016 lalu.

Desa Buntoi terletak sekitar 70 kilometer dari ibukota Kalimantan Tengah, Palangka Raya. Desa yang termasuk didalam Kabupaten Pulang Pisau ini menyimpan banyak sekali potensi alam, maupun seni, dan budaya asli dari Kalimantan Tengah. Terletak di pinggir Sungai Kahayan, dan memiliki 2 pulau yaitu pulau Buntoi dan Mintin membuat desa Buntoi menjadi sebuah desa yang indah.

Dengan berbagai aliran sungai kecil yg berhulu di kawasan hutan gambut dalam (peatdome), kearifan handil dalam konsepsi tata air lahan pertanian masyakat mengalir riuh dan tenang sampai Sungai Kahayan semakin magis. Kita pun dapat mengayuh pelan kelotok (penyebutan sampan kecil khas Dayak Ngaju) ke berbagai daerah. Berbagai hasil hutan seperti karet, nangka, durian, cempedak, serta buah- buahan lainnya tersebar di setiap penjuru Desa Buntoi.

Disamping itu, terdapat sebuah Huma Gantung khas Dayak Ngaju yang masih terdapat di desa Buntoi dalam keadaan terawat. Letaknya yang dekat dengan hutan yang masih terjaga, membuat desa Buntoi selalu dalam keadaan yang dingin dan sejuk pada malam hari. Membuat rasanya tidak ingin lekas pergi cepat-cepat. Ah dasar, ini memang hanya saya saja yang jatuh cinta dengan Kalimantan Tengah. smile emoticon

Akhirnya pada hari Minggu, 7 Februari 2016 saya menuju Desa Buntoi ditemani oleh berbagai saudara-saudara baik saya di Palangka Raya. Kami bertemu dengan Pak Restono selaku pengelola Rumah Bambu, hasil hibah dari PBB pada tahun 2012 lalu. Setelahnya, kami langsung berkeliling kampung dan melihat berbagai macam potensi yang telah saya jabarkan diatas. Memang sungguh luar biasa. Tidak lama hari mulai sore, kami memutuskan untuk pulang setelahnya akan diadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat dan perwakilan warga dari Desa Buntoi pada hari Selasa 9 Februari 2016 sore.

Selasa sore, kami semua bertemu di aula Rumah Bambu ditemani oleh kepala desa, sekretaris desa, pemuka adat, serta perwakilan warga dari Desa Buntoi. Setelah melakukan presentasi, saya sangat senang dan bersemangat saat melihat antusiasme warga yang sangat aktif dan bergairah. Akhirnya, kami melakukan pembentukan panitia langsung pada hari itu juga dan disepakati bahwa Festival Kampung Buntoi 2016 akan dilaksanakan pada tanggal 15 sampai 17 Juli.

Festival Kampung Buntoi ini akan diisi oleh berbagai kegiatan seperti: diskusi budaya, panggung seni, pasar kuliner tradisional, penampilan seni musik tradisional, kontemporer, modern, serta penampilan seni tari, dan lain-lain. Semua penampil acara tersebut akan diisi oleh berbagai artist dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah, provinsi lain di Indonesia, serta penampil dari mancanegara yang disusun oleh Jaringan Festival Kampung Nusantara.

Dengan semangat swadaya warga desa Buntoi sendiri, kami optimis bahwa Festival Kampung Buntoi dapat menjadi sebuah refleksi untuk desa-desa lainnya Di Kalimantan Tengah, khususnya Kalimantan. Karena sadar atau tidak disadari, sebuah seni dan budaya adalah pertahanan terakhir yang menjadi identitas sebuah budaya bangsa. Lebih spesifik, hal tersebut melekat penuh dengan identitas sebuah masyarakat adat. Hal inilah yang kami garisbawahi menjadi tugas bagi kita semua untuk terus mempertahankan dan menyebarkan “Hari Kebudayaan” setiap kampung yang ada di Indonesia.

Dengan kondisi sekarang, seni hanyalah berada di tataran sekunder, bukan di tataran primer. Namun pada kenyataannya, semua orang membutuhkan seni. Semua orang membutuhkan berkesenian agar tetap hidup dan menjadi manusia sebagaimana mestinya. Jika seni hanyalah menjadi ‘hiasan’ semata. Ia pun hanya menjadi ritual yang kosong tanpa ada yang mengetahui arti sebenarnya. Sebuah acara adat hanya akan menjadi komoditas tanpa ada yang menggali serta mendokumentasikannya. Sungguh sayang sekali jika terjadi sampai seperti itu.

Untuk menutup tulisan ini, saya ucapkan terima kasih kepada Pak Restono dan keluarga, Pak Doli selaku kepala Desa Buntoi, Bang Arjoen De-civiel , Bang Dedi Siswanto dan Mba Lilik Borneo, Kalvery Ben Gorio dan Riri, serta semua warga Desa Buntoi yang sangat bersemangat. Semua hal yang kami lakukan tentu jauh dari kesempurnaan. Saran dan masukan yang membangun dari saudara-saudara sekalian tentu akan membuat setiap hal menjadi lebih baik lagi untuk kemajuan seni dan budaya kita semua.

Akhir kata, saya berharap bahwa setiap hal yang kita lakukan untuk kemajuan masyarakat adat serta seni dan budaya kita dilancarkan tanpa kurang suatu hal apapun. Kiranya Ranying Hatalla Langit melihat dan mendengar. Sahey.

Salam tabé Hakaséné. Isen mulang!

Ululululululuuu….. uuuuuu…. Liiiieewww!

Bandara Tjilik Riwut, 10 Februari 2016.

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *