FESTIVAL KOPI LEGO ( Kampung Kopi Lerek Gombengsari) Banyuwangi

poster gombengsari

KOPI LEGO (Kampong Kopi Lerek Gombengsari)

Desa Gombengsari merupakan desa yang cukup tua. Dulu, pada jaman Belanda, di kawasan tersebut ada seorang Cina yang bernama Gok Beng, yang merupakan pengepul hasil bumi dari berbagai daerah di Banyuwangi, untuk dijual kembali ke daerah lain. Bila orang mau menjual hasil buminya, mereka mengatakan akan pergi ke Gok Beng, sehingga lambat laun orang mengatakan daerah tempat Gok Beng mengepul hasil bumi dagangan dengan sebutan Gombeng (dari kata Gok Beng, pengucapan lidah Jawa).


Sejak jaman Belanda, di daerah ini terdapat perkebunan kopi Kaliklatak, dengan pekerja perkebunan rata-rata didatangkan dari Madura. Kemudian setelah era kemerdekaan banyak pekerja perkebunan akhirnya memiliki tanah di luar area perkebunan, dan sejak tahun 70-an mereka mulai menanam kopi di tanah-tanah mereka. Hari ini lahan masyarakat yang ditanami kopi mungkin telah mencapai luasan hampir seribu hektar.

Punya Kebun Kopi Tak Punya Produk
Sayangnya saat ini produk kopi Gombengsari ini lebih banyak dijual berupa biji mentah (green bean). Sudah cukup lama produk green bean kopi Gombengsari ini telah dibeli dengan sistem ijon, khususnya oleh pengusaha-pengusaha kopi dari Dampit, Tirtoyudo, dan Ampelgading. Hampir sekitar 80% kopi Gombengsari akhirnya diolah di Kabupaten Malang, dan diberi label Kopi Amstirdam (Ampel Gading, Tirtoyudo, Dampit), yang kini tengah naik daun.

Gombengsari sendiri tak punya branding. Kopi green bean dibeli para tengkulak dengan harga murah dari petani Gombengsari. Bila dikalkulasikan di atas kertas, sebenarnya masyarakat hanya mendapatkan margin keuntungan yang sangat tipis dari biaya operasional yang mereka keluarkan, bahkan tak jarang sebetulnya masuk dalam kategori rugi.

Akibatnya, bertani kopi menjadi “tidak menarik” bagi anak-anak muda di kampung ini. Banyak anak-anak muda di Gombengsari akhirnya pergi mencari kerja ke kota, atau bahkan ke luar kota, karena dianggap bertani kopi tidak menguntungkan. Ini hal yang sangat ironis, di tengah naik daunnya brand kopi Banyuwangi di nusantara.

Semenjak mulai mengenal desa ini pada bulan November 2015, gerakan Hidora (Hiduplah Indonesia Raya) mencoba untuk meningkatkan “nilai jual” dari kopi Gombengsari. Langkah awal adalah dengan mengembangkan wisata kebun kopi, dan memotivasi warga untuk memproduksi kopi bubuk, sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. Diharapkan dengan pengembangan pariwisata kebun kopi ini, produk kopi Gombengsari makin dikenal publik, dan akan menyemangati warga dalam memproduksi kopi bubuk, yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibanding bila kopi dijual dalam bentuk green bean.

Selain kopi, sebagian besar warga desa Gombengsari juga memelihara kambing etawa. Kambing etawa ini kotorannya dimanfaatkan warga sebagai pupuk bagi kebun kopi, dan susunya pun bisa diperah, biasanya susunya dijual sebagai susu kesehatan, suplemen, bahkan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit.

Paket Wisata Kopi dan Kambing
foto gombengsari5Potensi yang dimiliki berupa kebun kopi dan kambing etawa ini, ternyata cukup menarik untuk dijual sebagai paket wisata. Dirancanglah kemasan-kemasan pariwisata berdasarkan aktifitas keseharian seputar kopi dan kambing. Mulai memberi makan kambing, memerah susu kambing, memberi minum anak kambing dengan dot, memandikan kambing, dikombinasi dengan paket wisata kopi, mulai jalan-jalan di kebun kopi, sangrai kopi tradisional, menumbuk, menyaring dan menyeduh kopi, termasuk petik kopi di saat musim panen.

Dari proses pendampingan selama beberapa bulan ini, ternyata memiliki hasil yang cukup signifikan. Wisata kebun kopi dan kambing etawa ini mulai diminati wisatawan, terutama awalnya dari wisatawan mancanegara. Setelah wisatawan mancanegara masuk, wisatawan lokal pun mulai berdatangan. Dampaknya permintaan produk kopi dan susu kambing etawa juga mulai mengalami peningkatan.

Saat ini pendampingan di desa Gombengsari sudah masuk ke tahapan pembentukan organisasi masyarakat pengelola pariwisata berjudul KOPI LEGO (Kampong Kopi Lerek Gombengsari). Pendampingan ini melingkupi program penataan organisasi, pelatihan guide, pengembangan homestay masyarakat, pelatihan service, penggalian potensi lokal yang lain, pelatihan internet marketing, dan lain-lain.

Pada tanggal 26-27 Oktober 2016 ini Kampong Kopi Lerek Gombengsari disupport oleh JAPUNG NUSANTARA (Jaringan Kampung Nusantara) akan mengadakan festival kampungnya yang pertama: FESTIVAL KOPI LEGO. Dengan konten festival berupa seni budaya, proses pengelolaan kopi, potensi kambing etawa, kuliner, dan kerajinan tradisional masyarakat. Festival Kopi Lego akan menjadi sebuah langkah memperkenalkan potensi-potensi yang ada di kampung ini kepada dunia pariwisata dan jaringan kesenian di nusantara maupun internasional.

Proses mengembangkan Kopi Lego ini menjadi sebuah eksperimen membangun masyarakat kampung yang swadaya, mandiri, dan memiliki visi bersama. Kesemuanya ini tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, agar segera terjadi percepatan dan sebagai penyemangat bagi warga desa.

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *