FONOLOGI SEHARI HARI – Oleh: Sudibyoh Glendoh

 

JapungNusantara.com. Yang paham bahasa Arab jengkel mendengar ucapan orang kebanyakan karena memakai dengan kacau : /amin, aamin, amiin, aamiiin/. Mereka juga jengkel karena ada yang mengucapkan /insyaallah/ ada yang / inshaallah/, /Allah, Alloh/. Aliran Saudi menyanyi /Yaaa Jamalu…Yaaa Jamalu/. Aliran Mesir bernyanyi /Yaaaa Gamalu, Yaaa Gamalu/.

Irama musik Madura berderap melangkah ke sawah atau ke laut, irama musik Sunda menghentak mencari, irama musik Jawa menikmati leyeh-leyeh rokokan di persawahan. Anak daratan pedalaman bicaranya pelan merasa lebih sopan daripada anak pesisir yang bicaranya keras-keras meskipun tak sedang marah.

Struktur supra orang nusantara menanam bunyi tembakan /dor dor dor/, struktur supra Belanda bunyi tembakanya bersuara ngepang /pang, pang, pang/. Bicara inggrisnya si Australi kedua pojok bibirnya ketarik ke samping, kulit hitam Amerika seperti ngerap. Akhir kalimat Jawa datar, akhir kalimat Sunda njenthit, sementara bahasa kawan Madura seperti main drama.

Setiap bahasa sebenarnya sudah cukup mampu untuk melayani pemiliknya dalam berkomunikasi tentang keperluan-keperluannya melalui bunyi-bunyi yang dilambangkan dengan huruf-huruf dalam bahasa itu dan bunyi-bunyi yang tak terlambangkan dengan hutuf-huruf dalam bahasa itu dalam bentuk jeda, nada, tempo, dan dinamiknya.

Setiap bahasa akan melatih pemakaianya dalam komunikasi sehari-hari melalui bunyi-bunyi yang dianggapnya cukup tersebut dalam memahami kata-kata dan mengungkapkan kata-kata. Bahasa Bali melatih orang Bali hanya dengan
/th/ untuk kata-kata yang dalam bunyi bahasa Jawa dibedakan pengucapannya ada yang ujung lidahnya menyentuh gigi /t/ dan yang menyentuh gusi atas /th/.

Bahasa Jawa melatih orang Jawa hanya dengan /p/ untuk kata-kata yang dalam bahasa Indonesia dibedakan antara /p/ yang mengatupkan dua bibir dan /f/ yang mengatupkan gigi depan atas dengan bibir bawah. Bahasa Batak melatih orang Batak hanya dengan /e/ taling untuk kata-kata yang dalam bahasa Jawa dibedakan antara /e/ seperti pada kata seneng, ember, dan bebek.

Karena alasan tersebut, maka sebenarnya orang harus maklum jika orang mengucapkan kata-kata pengaruh dari bahasa lain dalam bahasanya dengan ucapan bahasa asalnya. Dijamin, orang Bali tak mengalami kesesatan makna meski dia memahami dan mengucapkan kalimat : bathu-bathu ini harus dithatha. Dalam kasus yang mirip, begitu juga untuk orang Jawa dan Batak, juga lainnya.

Begitulah, bahasa mendidik penuturnya. Kebaliknya adalah, orang harus belajar mengikuti aturan prngucapan bahasa lain kalau dia memang sedang belajar berkomunikasi dalam bahasa lain. Dia harus belajar menguasai pengucapan seluruh bunyi dalam bahasa yang dipelajari.Tanpa ini, dia tak akan fasih berbicara dalam bahasa yang sedang dipelajari itu.

Tetapi karena adanya hal tersebut, ketakfasihan seseorang bicara dalam bahasa lain, orang umumnya juga bisa memahami. Itu harus dipahami karena alat ucap ada saatnya membatu bila saatnya tiba. Alat ucap tak lagi dapat ditekuk dan tak lagi mampu belajar. Ucapan kata-kata seseorang dalam bahasa lain adalah warna ucapan bahasa asalnya. Orang hanya bisa maklum, dan tak perlu memaksa .

Orang Jawa asal Malang yang sedang berbahasa Indonesia menunjukkan warna Jawa Malangannya. Warna Malang itu adalah menggunakan bunyi /a/ pada akhir kata untuk bertanya : makana, ikuta, masih tidura.

Belum lagi warna Jawanya. Gaya superlatif orang Jawa tidak membutuhkan amat sangat terlalu paling sekali, tetapi cukup memanjangkan pengucapan vokal pada suku terakhir kata : jauuuuuuh, jalaaaaaan, tiduuuuuuuur, atau menambahkan /u/ pada posisi sebelum suku pertama kata : juauh, duekat, muendelik.

Dasar Jawa, njlimet dalam relung renik nuansa : brul, brel, brol, brut, bret, brot, pril, prul, prol, jres, jrus, jros, thing, thung, thong, theng, ebrek ewek-ewek, obrok owok-owok.

Kini di kalangan muda, gejala kelisanan memberi nuansa gaya dengan menambah bunyi /h/ pada akhir kata berakhir vokal : /satuh majuh, duah gayah, sotoh, baksoh, sepakbolah sepaktakroh, Indonesiah terasa baruh/.

Begitulah fonologi sehari-hari atau fonologi asal njeplak mencatat. Tapi bisa saja dibuat label yang tampak akademis, misanya dengan menyebut Fonologi Sosial atau Fonologi Kultural.

Fonologi adalah cabang ilmu bahasa yang sering dianggap sunguh-sungguh kurus kering kerontang. Meski sebenarnya, ilmu ini memungkinkan pakarnya untuk berdialog dengan fisika, musik, antropologi atau lainnya. Di prodi bahasa, dosen-dosen biasanya menghindari jatah memegang matakuliah ini. Padahal sebenarnya ilmu ini menarik jika mampu menanam penghayatan seperti terlihat pada bocah yang tak bisa bilang /mama/ jika ia tak punya sebuah bibir saja apalagi tak punya dua bibir.

Mau melatih pe├▒ghayatan fonologi? Sekarang yang ingin bisa mencoba mengucapkan /mama/ dengan membuang satu bibir saja. Uahuahuahua…




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *