GLINTUNG GO GREEN ON URBAN FARMING FESTIVAL Hari Raya-nya Para Pembakti Lingkungan Hidup Kampung 3G

GLINTUNG GO GREEN ON URBAN FARMING FESTIVAL

Hari Raya-nya Para Pembakti Lingkungan Hidup Kampung 3G

Oleh: Bachtiar Djanan M.

Kampung padat penduduk di salah satu sudut kota Malang ini berbatas jalan raya di sebelah barat, dan rel kereta api di sebelah timurnya. Dulu kampung ini selalu banjir di musim penghujan, sampah berserakan di lorong-lorong jalan kampung yang sempit, kumuh, tingkat kesejahteraan rendah, tingkat kriminalitas tinggi, permasalahan sosial bertumpuk. Itulah potret masa lalu wilayah RW 23, kelurahan Purwantoro, kecamatan Blimbing, kota Malang.

Hari ini bila kita masuk ke kampung ini, kita akan melihat sebuah kampung yang asri dan adem. Hijaunya tanaman di dalam pot berjejer dipasang di dinding-dinding rumah warga, di tanah-tanah sempit depan rumah, bahkan digantung-gantung di teras. Instalasi hidroponik bertebaran di berbagai sudut kampung. Udara di kampung ini terasa jauh lebih segar dengan suhu jauh lebih dingin, apabila dibandingkan dengan lokasi beberapa puluh meter ketika kita masih berada di luar kampung.

Ketua RW Diktator

ihi

Ibu Ibu penggerak PKK RW 23 Glintung dan Ketua RW 23 Bambang Irianto

Kampung Glintung Go Green (Kampung 3G), demikian warga kampung dengan bangga menyebutkan julukan bagi kampungnya. Pak Bambang Irianto, sang ketua RW di kampung ini, berhasil menjadi pelopor dalam gerakan gotong-royong warga untuk membuat kampung ini ramah lingkungan dan sehat.

Semenjak terpilih sebagai Ketua RW 23 empat tahun yang lalu, Pak Bambang Irianto menggunakan “kekuasaannya” sebagai ketua RW untuk mengedukasi warganya agar mau menanam di rumah masing-masing. Bila tidak ada tanaman, maka urusan apapun yang memerlukan stempel RW tidak akan dilayaninya. Sempat mendapat penolakan warga, diprotes di sana-sini, sampai dicap sebagai ketua RW yang dholim, tapi Pak Bambang tidak bergeming. Tidak menanam, tidak dilayani keperluannya di RW.

Dengan “ke-diktaktor-an” ini akhirnya warga mulai mau menanam. Menanam di botol bekas, di kaleng bekas, di panci bekas, di sepatu bekas, dan di media apapun. Menanam tanpa uang. Tanaman bisa minta tetangga, cari di tepi sungai, cari di pinggir jalan, dan lain-lain. Maka perlahan tapi pasti, kampung ini berubah menjadi kampung yang hijau.

Menabung Air

Kampung ini dulu selalu menjadi langganan banjir, karena letaknya lebih rendah dari jalan raya, dan terdapat sungai saluran buangan drainase yang berada persis di samping kampung. Atas partisipasi warga serta dukungan dari harian Malang Post dan Universitas Brawijaya, secara bertahap dibangunlah sumur-sumur injeksi, parit-parit resapan, dan lebih dari 600 lubang biopori, yang mampu menyerap ratusan ribu liter air hujan yang dulunya selalu menggenangi kampung di saat hujan.

iniohi

Buku 3G yang telah dirilis saat hari raya kebudayaan kampung glintung

Gerakan Menabung Air (Gemar), demikian warga kampung menyebutnya. Dengan adanya sumur injeksi, parit resapan, dan biopori, maka masalah banjir teratasi, air hujan meresap ke tanah, dan dalam tiga tahun ketinggian air sumur warga naik sampai sekitar dua meter. Belum lagi secara periodik warga bisa mendapat keuntungan memanen pupuk kompos dari sampah-sampah organik yang dimasukkan ke ratusan lubang-lubang biopori di sepanjang lorong-lorong kampung.

Ketahanan Pangan

Ibu-ibu PKK di kampung tak mau ketinggalan. Mereka aktif menanam sayur-sayuran dan buah-buahan di berbagai media tanam yang ada. Di pot, di pipa, di kaleng, di media hidroponik, dan lain-lain.

Intinya adalah bagaimana kebutuhan sayuran dan buah untuk warga bisa mereka penuhi sendiri di kampungnya, tidak perlu beli. Sebuah aktifitas pertanian di tengah kota yang mampu menumbuhkan ketahanan pangan.

Wisata Edukasi

Berbagai hal yang telah dilakukan warga Kampung 3G ini rupanya menarik minat banyak orang untuk mengetahui seperti apa kampung ini menyelesaikan masalah lingkungan hidupnya. Banyak orang tertarik untuk belajar, atau mungkin hanya sekedar ingin tahu.

Untuk melayani kebutuhan orang lain yang ingin tahu mengenai kampung ini beserta programnya, maka dibuatlah paket-paket wisata edukasi. Bukan saja belajar tentang pengelolaan kampung go green, warga juga lengkap menyediakan paket makan, paket coffee break, aneka suvenir, produk kesehatan, dan lain-lain.

Semula tamu wisata edukasi belum tentu ada sekali sebulan. Kemudian meningkat. Tiap bulan datang tamu, meningkat tiap minggu ada tamu, bahkan sekarang hampir tiap hari berdatangan tamu-tamu dari berbagai kalangan untuk belajar di Kampung 3G. Mulai pelajar sekolah, perguruan tinggi, berbagai instansi pemerintahan, perusahaan-perusahaan, sampai komunitas-komunitas kampung atau desa dari berbagai kota dan kabupaten. Kadang sampai beberapa bis dalam sekali kunjungan tamu.

Wisata edukasi ini tentunya menghasilkan keuntungan bagi warga, karena memang dikelola dengan manajemen yang profesional. Semua orang dan semua pihak yang terlibat mendapatkan rejeki dari aktifitas wisata edukasi ini. Maka aktifitas Kampung 3G dan berbagai turunannya ini akhirnya menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pengangguran di kampung yang dihuni oleh sekitar 300 KK ini.

Go Internasional

Saat ini sudah banyak tamu-tamu wisata edukasi yang berkunjung ke kampung 3G. Mulai yang berasal dari kota Malang, dari luar kota Malang, dari luar pulau Jawa, bahkan dari luar negeri. Tercatat kampung ini telah dikunjungi oleh tamu-tamu lebih dari 40 negara, terutama dari kalangan perguruan tinggi. Mereka datang ke Kampung 3G untuk belajar kepada warga kampung tentang bagaimana warga berhasil mengatasi masalah di kampungnya dengan sangat inspiratif.

Selain itu, Gerakan Menabung Air (Gemar) di Kampung 3G sekarang juga sudah terdengar di dunia internasional. Kampung 3G mewakili kota Malang, saat ini terpilih sebagai 15 besar finalis dalam lomba kota inovatif dunia Guangzhou Award for Urban Innovation 2016, yang diselenggarakan di Guangzhou, Tiongkok. Para finalis ini sebelumnya berhasil menyisihkan lebih dari 300 peserta dari kota-kota di seluruh dunia. Pada tanggal 5-8 Desember 2016 ini, 15 finalis akan diundang ke Guangzhou.

Hari Raya 3G

Sebagai ekspresi rasa syukur akan progress yang telah dicapai oleh warga kampung 3G setelah empat tahun berjuang membenahi kampungnya, pada tanggal 10-12 November 2016 kampung ini menggelar Glintung Go Green on Urban Farming Festival. Sebuah kegiatan hari raya kebudayaan bagi warga kampung 3G, yang didukung oleh Jaringan Kampung Nusantara.

Festival kampung yang dibuka oleh Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Soni Sumarsono, dan Walikota Malang Moch. Anton ini cukup padat kegiatan. Ada Seminar “Peluang Agribisnis di Perkotaan”, Seminar “Kesehatan Masyarakat dan Obat Herbal”, Pameran Agro Inovasi, Bazaar, Launching Buku Kampung 3G, Launching dan Pemutaran Film Balada Rimba Kota, Orasi Budaya, hiburan band, marching band anak-anak, tari-tarian, pentas musik etnik, Saling-Silang Bunyi, Wayang Kulit, dan Wayang Wolak-Walik.

Seminar di Gang

Ada dua kegiatan seminar yang diselenggarakan di Glintung Go Green on Urban Farming Festival. Tak seperti seminar yang umumnya dilaksanakan di gedung-gedung seminar di kampus atau di hall-hall hotel, di kampung 3G kegiatan seminar dilaksanakan di sebuah gang jalanan kampung, yaitu di Glintung Gang IV. Di tengah jalan, dengan rerimbunan tanaman dalam pot-pot yang menempel di dinding gang sebagai dekorasi “ruang seminar”.

opjpojop

workshop dan seminar di gang kecil kemapung 3G

Seminar “Peluang Agribisnis di Perkotaan” dilaksanakan pada hari Jumat, 11 November 2016, dengan narasumber Prof Dr Arief Harsono dari Balitkabi, dan Damanduri, Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Audiens yang hadir dari berbagai RW kampung-kampung di kota Malang.

Seminar “Kesehatan Masyarakat dan Obat Herbal” digelar pada hari Sabtu, 12 November 2016, dengan pembicara Nur Santi Dwi Arimbi dari Harmony Herbal Yogyakarta. Peserta seminar ini adalah warga Kampung 3G, terutama dari kalangan ibu-ibu.

Saling Silang

Jaringan Kampung Nusantara turut menyemarakkan hari rayanya para pembakti lingkungan hidup Kampung 3G. Saling-silang bunyi, saling-silang ide, saling-silang dukungan, dan saling-silang silaturahmi, semua terjadi dengan sangat hangat dan akrab di Kampung 3G.

Ada Trie Utami dan Rully Febrian sang suami dari Jakarta, Redy Eko Prastyo sang (konon) presiden Japung, Ki Dalang Ardi dengan wayang kulitnya, Ki Jumali dan Kak Azis dengan wayang wolak-walik berbahan plastik bekas dan kerdus bekas, Ghuiral Sarafagus dari Jember, Xamagata etnik dari Majalengka, Prof Djoko Saryono, Prof Maryen, DR Riyanto, Aak Agus Wayan Joko Prihatin, Heri Mulyono, Taufan Agustiyan sang sutradara film dokumenter, Dwi Cahyono sang sejarahwan, Hanafi dan Karang Taruna Kampung Cempluk, Lestari Band dari Malang, Singgih Prayogo dan John Arif Kopirock dengan kendangnya dari Jakarta, serta saya dan istri yang datang dari Banyuwangi.

Jadilah tiga hari penuh warna di Kampung 3G. Glintung Go Green on Urban Farming Festival benar-benar menjadi hari raya ungkapan rasa syukur bagi warga Kampung 3G, setelah selama empat tahun mereka tak kenal lelah untuk bekerja siang dan malam membenahi kampungnya.

Balada Rimba Kota

Pada malam penutupan Glintung Go Green on Urban Farming Festival, ditampilkanlah potret perjalanan panjang perjuangan warga kampung 3G dalam menata kampungnya, melalui launching dan pemutaran sebuah film dokumenter produksi Equator Cinema, sebuah rumah produksi yang bergerak pada pembuatan film dokumenter, edukasi, dan advokasi masyarakat, untuk isu-isu sosial budaya.

“Balada Rimba Kota”, demikian judul film dokumenter yang proses syuting dan editingnya memakan waktu 8 bulan, merupakan hasil riset dan observasi dari Taufan Agustiyan dan DW Nugroho di kampung 3G. Dalam film ini Taufan Agustiyan juga sebagai sutradara film, sedangkan untuk pengambilan gambar dilakukan oleh DW. Nugroho, Benny Setiawan, dan Grise Febrianto, penata musik oleh Taruna, dan proses editing dikerjakan oleh DW. Nugroho.

Film dokumenter “Balada Rimba Kota” ini menjadi sebuah karya yang diharapkan bisa menginspirasi banyak orang, banyak kampung, dan banyak daerah di nusantara. Seperti halnya buku “Kampung 3G” karya penulis Soetopo Dewangga, yang diterbitkan oleh penerbit Citta Gracia, dengan editor Dra. Erlin Iriani, MM., yang juga dilaunching dalam Glintung Go Green on Urban Farming Festival kemarin.

Inspirasi Nusantara

Glintung Go Green menjadi referensi nyata sebuah keswadayaan masyarakat kampung yang tak kenal lelah bergotong-royong memperjuangkan kampungnya agar menjadi lebih baik. Glintung Go Green menjadi inspirasi nusantara, bahkan dunia.

Selamat berjuang selalu untuk Pak Bambang Irianto, para aktifis Suku Dalu, dan segenap warga Kampung Glintung Go Green.

Salam Lestari…!!!

Foto by Bachtiar Djanan




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *