BERJALAN, PERJALANAN, DAN DIPERJALANKAN

Sebuah Catatan Kecil dari Ulang Tahun Kedua Japung Nusantara

Oleh: Bachtiar Djanan

 

Tujuh belas Januari 2016, tepat jam 12 siang, seorang pemuda (?) berkulit gelap, tinggi, kurus, berambut gondrong, berkacamata, bak demonstran berteriak lantang menggunakan corong megaphone, di hadapan sekumpulan orang.

Mereka beraktivitas di tengah terik sinar matahari dengan mengenakan aneka kostum, mulai dari kostum tradisional, kostum pencak silat, berkaos, sampai berkemeja. Mulai dari anak kecil, remaja, sampai mbah-mbah, dari yang berkulit gelap sampai yang bule berambut pirang, dan dari kampung-kampung berbagai  penjuru nusantara sampai dari luar negeri.

Di depan bangunan pendopo yang berdiri sejak tahun 1771 yang berada di kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa, Banyuwangi, ratusan orang berkumpul setelah melakukan arak-arakan dengan diiringi tetabuhan gamelan, mereka mengepalkan tangan, bersorak, menorehkan tanda tangan di atas selembar kain, dan diakhiri dengan menyanyikan Indonesia Raya dengan bergelora.

Itulah detik-detik bersejarah deklarasi lahirnya wadah bagi gerombolan manusia aneh dan unik yang menamakan dirinya Jaringan Kampung Nusantara, atau biasa disebut Japung Nusantara. Jejaring dengan anggota para pegiat budaya dari berbagai penjuru nusantara.

Japung berwadah namun abstrak, karena tak berbadan hukum. Mereka adalah kumpulan orang yang  terorganisir namun bukanlah organisasi. Punya orang-orang yang mengurusi, namun tidak punya pengurus, selain hanya ada seorang yang ketiban sampur “dipaksa” untuk menjadi ketua atau koordinator bagi gerombolan manusia  yang kelebihan energi ini.

Japung selalu bergerak dinamis namun tetap tenang, tak terpengaruh geliat politik yang carut-marut dan saling sikut. Pergerakan Japung di mana-mana memberi warna, namun tidaklah membawa warna bendera parpol atau ormas apapun.

Berjalan dan Menggelinding

Kadang ada orang bertanya, di manakah sekretariat Japung? Jawabannya: di HP masing-masing, di grup WhatsApp. Itulah “sekretariat” Japung yang sehari-harinya ramai orang berseliweran datang dan pergi, bertegur sapa, guyon, bertukar ide, sampai melahirkan banyak pemikiran-pemikiran kritis maupun inspiratif.

Ibarat sebuah rumah, jika grup WhatsApp Japung adalah ruang keluarga, sementara website Japung menjadi teras rumah yang bisa dilihat oleh siapapun yang lewat, sedangkan Facebook Japung menjadi ruang tamu bagi siapapun yang ingin bertamu, berinteraksi dan memberi  sumbang saran.

Tak jarang dari ide kecil di grup WhatsApp Japung, terjadilah saling sahut-menyahut pemikiran, saling share gagasan, saling mengisi dan melengkapi, dan bergulirlah ide serta kreatifitas bagai bola salju, menjadi sebuah kerja besar yang digarap secara bergotong-royong dengan gembira.

Hari ini di Penajam Paser Utara, besok di Kutai, lusa di Buntoi, minggu depan di Borobudur, minggu depannya lagi di Cempluk Malang, bulan depan di Bago Probolinggo, minggu depannya bulan depan di Situbondo, dan seterusnya. Seolah tak pernah habis nafas pegiat-pegiat Japung menggelindingkan spirit mencintai kampung dan desa, serta berkarya untuk nusantara, di berbagai penjuru tanah air, melalui beraneka ragam kegiatan.

Warna-Warni Perjalanan

Japung menjadi media berkomunikasi, bersilaturahmi, saling bertukar ide, saling memberi semangat, dan saling mendukung. Japung menjadi perekat dari simpul-simpul antar desa dan kampung di nusantara, dan tentunya juga bagi para pembaktinya.

Pembakti…? Ya pembakti. Itulah istilah yang disepakati bersama untuk menyebut para pegiat  Japung, yaitu mereka-mereka yang mempunyai ketetapan hati untuk meluangkan waktu, tenaga, pikiran, skill, bahkan dananya, untuk berbakti mengembangkan kampung. Baik kampungnya sendiri, atau bahkan bisa saja kampung orang lain.

Istilah “pembakti” ini juga disematkan kepada para pemerhati, para simpatisan, para pendukung, maupun siapapun yang memiliki perhatian dan minat khusus dalam upaya mengembangkan kampung-kampung melalui jejaring Japung Nusantara ini.

   Baca juga: Kumpulan Manusia Aneh itu Berjudul “Pembakti”

Beraneka warna bentuk bakti dari para pembakti Japung kepada kampung-kampung yang mereka temani. Ada yang berupa pengembangan kegiatan budaya seperti festival dan pagelaran, ada yang bentuknya pelestarian lingkungan hidup, ada pengembangan ekonomi warga, ada pengembangan pendidikan anak, ada pengembangan kesenian, ada penggalian sejarah, dan beragam tema lainnya. Sesuai minat, bakat, dan passion masing-masing pembakti maupun komunitasnya.

Dan ibaratnya antara musik jazz dengan musik dangdut, atau antara olah raga sepak bola dan catur, semuanya memiliki proses dan indikator masing-masing, yang tidak perlu harus diseragamkan, atau bahkan tidak perlu saling menilai, apalagi dari kaca mata dan sudut pandang yang  berbeda.

Yang terpenting pada saat berproses, adalah bagaimana masing-masing pembakti senantiasa dalam kesadaran penuh untuk menjaga hati dan motifnya. Karena perlu kita sadari, proses membangun sesuatu di kampung bukanlah proses dua tiga hari atau seminggu dua minggu, bisa jadi dalam hitungan bulan, bahkan biasanya adalah proses panjang dalam hitungan tahun.

Japung yang terdiri dari pembakti kampung dari berbagai penjuru nusantara menjadi forum belajar yang sangat kaya. Pengetahuan, pengalaman, bahkan persoalan yang dijumpai pembakti di suatu daerah akan bisa menjadi referensi berharga bagi pembakti dari daerah lainnya. Perjalanan para pegiat Japung dalam proses pembaktiannya masing-masing ibaratnya sebuah perpustakaan.

Semua orang berproses, dan semua orang belajar dalam prosesnya masing-masing. Tak jarang dalam proses ada sandungan, ada lubang di sana-sini, ada gesekan, ada prasangka, ada kekecewaan, ada tepuk tangan, ada pujian, yang semua itu hanyalah dinamika sebuah proses panjang perjalanan para pembakti. Baik dalam proses perjalanan berkegiatan bersama warga kampung, maupun dalam proses perjalanan sunyi ke dalam dirinya masing-masing.

Apa yang Kau Cari Japung?

Sulit memang mendeskripsikan secara baik dan benar tentang apa, siapa, dan bagaimana Japung Nusantara. Karena pada dasarnya Japung cukup abstrak, para pembaktinya rata-rata adalah orang yang absurd, yang biasanya mengaku sebagai orang-orang yang “tersesat di jalan yang benar”.

Di saat orang-orang kebanyakan memilih untuk hidup di zona nyaman, dengan hidup normatif, mencari rejeki bagi dirinya sendiri dan keluarganya masing-masing, para pembakti Japung justru menyibukkan diri dan beraktivitas demi dan untuk orang-orang lain.

Itulah hobi dan kesenangan para pembakti Japung. Berkarya, berbuat sesuatu, dan memberikan apa yang terbaik yang mereka miliki untuk kampung yang mereka temani. Tentu saja dengan segala kelebihan maupun keterbatasan yang mereka miliki. Karena semua bersifat sukarela. Tak ada yang menyuruh, tak ada yang mewajibkan. Hanya mengikuti panggilan hati.

Keberhasilan bagi para pegiat Japung ukurannya bukanlah hasil finansial. Namun mereka biasanya akan bahagia saat melihat bahwa warga kampung mendapatkan manfaat dari apa yang mereka perjuangkan. Entah seberapa besar manfaatnya, bisa jadi untuk hal-hal yang sangat sederhana, bisa jadi untuk sesuatu yang besar.

Jadi sebenarnya apa yang dicari oleh para pembakti Japung…? Kebahagiaan..? Kepuasan..? Tapi jangan salah, Japung bukanlah alat pemuas, bukan pula alat untuk berbangga-bangga, apalagi sekedar untuk membangun pencitraan.

Deklarasi Jaringan Kampung Nusantara

Deklarasi Jaringan Kampung Nusantara, Banyuwangi, 17 Januari 2016

Diperjalankan…?

Wadah Jaringan Kampung Nusantara terus berjalan seiring waktu. Semakin banyak kampung tergabung, dan makin banyak orang terlibat aktif maupun pasif, menjadi keluarga besar Japung, untuk saling berinteraksi, belajar bersama, dan menjadi bekal dalam berkarya di kampung-kampungnya.

Dua tahun umur Japung. Usia yang sebenarnya masih sangat belia.  Namun muda belum tentu kekanak-kanakan, tua belum tentu dewasa, singkat belum tentu mentah, lama pun belum tentu matang, semuanya bisa berasa tipis-tipis dan abu-abu, dalam sebuah proses perjalanan.

Yang jelas, Japung sebagai sebuah wadah, dan para pembakti sebagai bagian dari Japung, semuanya tengah berproses. Mereka sedang berjalan di track-nya masing-masing, baik sendiri-sendiri ataupun bersama komunitasnya. Terkadang dalam perjalanannya, sesekali mereka bertemu di terminal-terminal pemberhentian, tak jarang hanya untuk sekedar berdialog absurd.

Contohnya, dari perjumpaan dengan beberapa senior yang sudah matang asam garam kehidupan, beliau-beliau sering mengingatkan, agar kita perlu selalu sadar bahwa kita harus berjalan dengan sadar. Dan dalam perjalanan ini, kita perlu belajar untuk selalu menyadari, bahwa kita semua sebenarnya sedang diperjalankan, entah disadari atau tidak…

Jadi, rasanya tidak perlu lagi dipanjanglebarkan, mungkin silahkan bisa disimpulkan sendiri-sendiri, bahwa Jaringan Kampung Nusantara ini sebenarnya semacam makhluk apa gerangan…?

Untuk menutup catatan kecil ini, saya hanya bisa menuliskan: Selamat ulang tahun yang kedua bagi Jaringan Kampung Nusantara.

Semoga segala hal yang baik-baik senantiasa menjadi nafas serta atmosfer Japung Nusantara dan semua pembakti-pembaktinya, di manapun mereka berada.

 

Banyuwangi, 17 Januari 2018

 

..




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *