KAMPOENG TJELAKET MELINTAS MASA : Metamorfosa dari Desa Pertanian menjadi Areal Tengah Kota Malang

Kekayaan Sejarah CELAKET 3

KAMPOENG TJELAKET MELINTAS MASA : Metamorfosa dari Desa Pertanian menjadi Areal Tengah Kota Malang

cempluk1

Dwi Cahyono

A. P e n g a n t a r
Ada empat koridor jalan utama di Kota Malang yang tergolong sebagai ‘koridor jalan arkhais (kuno)’, antara lain Tjelaket, Kayoetangan, Boldy dan Ijen Boulevard. Nama ‘Tjeleket Strrat’ yang sekarang berubah nama menjadi ‘Jl. Jaksa Agung Suprapto’ diambil dari nama sebuah desa kuno di wilayah Gemeente Malang, yaitu Tjelaket, yang terdiri atas dua kampung: (a) Tjelaker Koelon, dan (b) Tjelaket Wetan.

Kedua kampung ini di dalam sistem Pemerintahan Kota Malang berubah nama menjadi ‘Kelurahan Rampal Claket’. Sebagai nama, Tjelaket melekat pada nama jalan, nama sekolahan (SMP Celaket di Gedung Frateran), nama rumah sakit (RSU Tjelaket, kini ‘RSUD Saiful Anwar’), Asrama Polisi Jalan Tjelaket (kini iPolresta Kota Malang’), dsb. Pendek kata, konon nama ‘Tjelaket’ amat familier dengan warga, bukan hanya pada warga Malangraya, namun juga bagi warga di daerah-daerah lain, bahkan warga mancanegara. Mengapa dinamai dengan ‘Tjelaket’?

B. Toponimi Kuno ‘Celaket’

claket 1Nama-nama tempat (desa, kampung, bahkan kota/kabupaten) di Jawa banyak memin-jam nama tumbuhan, atau hal yang berhubungan dengan tanaman. Fenomena demikian tidak terkecuali berlaku di Malang. Banyak desa/kampung di Malang mempunyai unsur nama yang dipinjam dari nama-nama tumbuhan atau berkaitan dengan tanaman. Misalnya, mana ‘Sukun, Blimbing, Glintung, Tunggulwulung, Lokjati, Loksuruh, Lowokwaru, Pakis, Pakisaji (Pakis-haji), Turen’, dan bayak lagi. Celaket adalah salah sebuah diantaranya, yang berasal dari kata ‘calaket atau caleket’.

Secara harafiah kosa kata Jawa Kuna ‘calaket atau caleket’ berarti pedas atau masam. Istilah ini antara lain disebut dalam kakawin Ramayana (6.45) dengan kalimat ‘…. kamalagi calaket kukap gintungan’. Kata-kata yang menyertainya adalah nama-nama sejumlah tanaman, yaitu kamalagi (kini ‘kemlagi’ atau asam), kukap (sejenis pohon sukun atau Artocarpusinsica), dan gintungan (kini ‘glintung’, sejenis pohon atau Schleicheratrijuga). Dalam arti pedas, istilah ini menujuk kepada sejenis tanaman cabai, merica, dsb. Apabila asam rasanya, maka dapat menunjuk pada sejenis pohon asam.

Untuk kemungkinan terakhir, mengingatkan kita pada deretan pohon asam Jawa yang tinggi-besar di kanan-kiri koridor Celaket hingga tahun 1980-an, yang sebagian diantaranya kini masih tertinggal. Kata jadian ‘macalaket, cumalaket, dan nyalaket’ dalam arti pedas atau tajam disebut dalam kitab Arjunawiwaha (34.3), Partayajna (38.10), Tantri Kamandaka (110.20) dan Nawaruci (68.8). Dalam kitab Nawaruci kata jadian ‘cumalaket’ disebut bersama dengan tanaman kunir dan apu (kapur), yakni ramuan penawar upas (bisa) dan racun.

claket 2Asam Jawa konon adalah salah satu jenis tanam keras yang ditaman di sepanjang jalan di wiayah Kota Malang, selain trembesi, nenitri, cemara, dsb. Desa kuno ‘Tjeleket’, yang nama kunonya amat boleh jadi adalah ‘Tjalaket’. Dinamai demikian lantaran keberadaan pohon-pohon asam di sepanjang jalan kuno yang kini dinamai dengan nama pahlawan nasional ‘Jl. Jaksa Agung Suprapto’. Penggantian nama jalan, apa lagi bila ditambah dengan penebangan pohon-pohon peneduh pada sepanjang jalan ini, berdampak hilangnya ‘lamd mark’ setempat, yaitu pohon asam Jawa.
Wilayah desa kuno Tjelaket meliputi pula apa yang kini dinamai Kelurahan Samaan. Bentang selatan desa ini dengan demikian hingga mencapai DAS Brantas. Bentang timurnya meliputi areal rumah sakit, sehingga rumah sakit – sebelumnya merupakan merupakan loji (benteng) Belanda yang perdana di Malang – konon disebut dengan ‘Roemah Sakit Tjelaket’, Demikian pula loji tersebut dinamai ‘Loji Tjelaket’. Makam Samaan boleh jadi konon termasuk areal barat dari desa kuno Tjelaket. Dalam perkembangannya, khususnya semenjak terbentuknya Kotapraja (Gemeente) Malang tahun 1914, wilayah luas dari desa kuno Tjelaket dimekarkan menjadi beberapa desa, yaitu Tjelaket, Samaan dan Klojen Lor.

C. Kilas Sejarah Kampung Tua Celaket

celaket 3Kampung Celaket adalah salah sebuah ‘Kampung Tua’ di Kota Malang. Sebagai kampung tua, Celaket telah menempuh perjalanan sejarah panjang, semenjak Jaman Prasejarah hingga sekarang. Bahkan, dalam beberapa momentum historis di Malang ataupun di Jawa, kesejarahan Celaket dapat dibilang sebagai ‘pemula sejarah’. Data arkeologis yang sampai kepada kita menunjukkan bahwa daerah Celaket, yang terletak di seberang utara aliran Brantas, telah digunakan sebagai areal permukiman Jaman Prasejarah, setidaknya semenjak Masa Bercocok Tanam. Pada situs Punden Mbah Tugu di Celaket Gang I-E, yang berjarak ± 500 m pada uta-ra aliran Brantas, dijumpai menhir, lumpang batu (stone mortar) dari monolith tanpa ditarah dan bejana batu.

Disamping itu di halaman sekolah SMU Cor Jessu pernah ditemukan sebuah periuk berisi lembaran-lembaran tipis emas (swarnapatra) bertulis nama-nama dewata Hindu. Sayang sekali, pada tahun 1928 artefak dari masa Hindu-Buddha ini direlokasikan ke Muse-um Batavia (kini ’Museum Nasional’ di Jakarta). Tinggalan lainnya berupa sebuah umpak besar, lumping batu tanpa ditarah, dan sejumlah arung (salura air bawah tanah) di sepanjang DAS Brantas.

claket 4Tinggalan arkeologis itu menjadi pembukti bahwasa pada jaman Prasejarah daerah Celaket telah dihuni oleh warga masyarakat yang berbasis ekonomi agraris dan berlatar religi pemuja arwah nenek moyang (ancestors worship). Lumpang batu itu menjadi petunjuk pencaharian agraris, dan menhir digunakan sebagai media pemujaan kepada arwah nenek moyang. Latar keagamaannya berubah menjadi Hindu sekte Saiwa pada Masa Hindu-Buddha, sebagaimana terbukti dari inskripsi pendek (sort inscription) pada swarnapatra yang memuat nama-nama dewata Hindu tersebut. Sebagai suatu areal permukiman, desa kuno Tjelaker tentu dilengkapi dengan pasar (pkan) desa, yang jejaknya masih tertinggal – meski kini hanya berupa ‘pasar krempyeng’. Peran pasar desa ini surut, utamanya setelah dibangunnya Pasar Samaan yang jeuh lebih besar.

Pada permualaan abad X Masehi, Celaket berada di lingkungan dalam (watek i jro) atau setidaknya terletak pada pinggiran pusat pemerintahan (kadatwan) Mataram ketika Pu Sindok merelokasi pusat pemerintahan (kadatwan)-nya dari Pohpitu di sekitar Blora ke Tamwlang di bantaran utara aliran Brantas. Toponimi arkhais ‘Tamwlang’, yang menurut linggo-prasasti Turyyan bertarikh 929 Masehi menjadi kadatwan Pu Sindok (Sri Isana) itu, kini mengalami sedikit perubahan penyebutan menjadi ‘Tembalangan (Tamwlang-Tamblang-Tambalang+an-Tembalangan)’, yakni nama kampung di Kelurahan Samaan. Apabila benar demikian, berarti Celaket-Samaan ikut menjadi saksi atas mula sejarah Isanavamsa dalam pemerintahan keraja- an Mataram yang berpusat di wilayah Jawa Timur.

claket 5Peran strategis Celaket kembali terjadi pada mula Sejarah Kolonial di daerah Malang. Loji perdana Kompeni Belanda didirikan di utara Bantas pada tahun 1767, dan untuk kurun waktu lebih dari setengah abad (1767-1821) dijadikan sebagai ‘rumah benteng (castile)’ bagi para serdadu Belanda. Ketika Kompeni Belanda mulai mengembangkan pola permukimam ‘luar loji (luar benteng)’, rumah tinggal orang-orang Belanda pada periode permulaan didirikan di sekitar Loji Utara, yakni berada di sekitar Kampung Celaket serta di Klojen (Ka-loji-an) Lor. Setelah pusat garnizoen direlokasikan dari Loji Utara ke Rampal, eks loji ini dijadikan rumah sakit militer (militair ziekenhuis), sehingga bisa dibilang sebagai ‘embrio’ bagi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kota Malang (kini dinamai ‘RSUD Saiful Anwar’).
Cikal bakal permukiman Indis itu diperluas dalam Bouwplan I (Mei 1917 sd Februari 1918), dengan mengembangkan kawasan perumahan Indis yang dinamai ‘Oranjebuurt’, yang areal-nya Kampung Tjelaket Wetan.

claket 6Permukiman Uranjebuurt serta perluasannya ke arah Celaket dan Lowokwaru yang dibangun pada Bouuwplan tahap IV dilengkapi dengan fasilitas publik, seperti sekolahan, rumah sakit, tempat ibadah, dsb. Lagere School der Fraters van O.L. (kini ‘SMU Frateran’) yang dikelola oleh komunitas Frater dan R.K. MULOschool KekCor Jessu (kini ‘SMU Cor Jessu’) yang dikolola oleh komunitas Zusters Ursulin, yang keduanya berada di Celaket, merupakan fasilitas publik di bidang pendidikan pada Masa Kolonial, yang terus berfungsi hingga kini. Demikian pula Lavalete dan Militair Ziekenhuis (kini berubah menjadi RSUD) adalah dua rumah sakit yang berfungsi lintas masa. Posisi Celaket semakin penting pada paro kedua abad ke-19, tatkala pemerintah Hindia-Belanda menjadikan koridor Celaket hingga Kayu Tangan sebagai ‘jalan poros’ menuju ke sentra Malang, yaitu jalan utama yang menghubungkan Alon-Alon Kotak dengan kota-kota utama di Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya dan Pasuruan. Urgensi koridor Celaket berlanjut hingga kini dan untuk waktu men-datang.

D. Urgensi Festival Budaya Kampung Celaket

claket 7Kilas sejarah di atas memberi kita gambaran mengenai historistas Celaket sebagai sebuah ‘kampung tua’ atau ‘kampung bersejarah’. Pada lintas masa, Celaket menjadi ajang kegiatan lintas budaya, baik budaya Prasejarah, Hindu, Kristiani maupun Islam. Celaket dengan demi-kian merupakan potret ‘kampung multikultural’ di Kota Malang. Oleh sebab itu, cukup alasan untuk menyatakan Celaket sebagai ‘kampung budaya lintas masa’. Dalam jatidirinya sebagai ‘kampung tua, kampung bersejarah, dan sekaligus kampung budaya’, Celaket adalah kawasan heritage yang perlu mendapatkan prioritas dalam konservasi budaya dan ekologi sekitarnya. Festival Budaya Kampung Celaket adalah wahana untuk melestarikan, membina, mengem-bangkan dan mendayagunakan aset budaya lokal di suatu daerah. Kendatipun kini desa kuno yang konon merupakan desa agraris itu telah bermetamorfosis menjadi keluaran yang berada di tengah Kota Malang, namun nuansa kampung yang berciri gotong royong, persaudaraan, toleran atas keragaman budaya dan keyakinan warganya smestinya tidak turut sirna seiring dengan penghapusan status administratf kampung/desa.

Gagasan festival datang dari warga Celaket sendiri, dilakukan dengan ikhtiar warga di tingkat kampung, dan dijaga kesinambangunannya dengan segala daya upaya internal warga Celeket bermitra dengan berbagai pihak yang peduli. Pihak penggagas, pelaksana maupun pemelihara kesimbungan perhelatan budaya kampung memang semestinya berasal dari dan dilakukan oleh warga sendiri (bottom up), dengan sesedikit mungkin bergantung terhadap pendanaan pemerintah. Upaya warga Kampung Celaket dengan ‘Festival Kampung Celaket’-nya bisa dijadikan contoh teladan bagi kampung-kampung lainnya, bahwa festival budaya tidak musti dilaksanakan setingkat desa, namun terbuka kemungkinan kendati hanya di tingkat kampung.

Perlu disadari bahwa justru kampung adalah inti kekuatan dari desa/kelurahan. Karakter lokal acap melekat pada sosio-kultural kampung. Demikian pula, mikro historis berpangkal pada sejarah kampung. Oleh sebab itu, kendatipun dalam sistem Pemerintahan Kota keberadaan kampung telah dihapus, namun khasanah sosial-budaya kampung dan memori masyarakat terhadap kampung pantang untuk dihapuskan.

Semoga tulisan ringkas ini membuahkan makna. Salam budaya ‘viva Japung di Kampoeng Tjelaket’ tahun 2016. Semoga berkelanjutan ke tahun-tahun mendatang. Nuwun.

Sengkaling, 22 Juli 2016




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *