KAMPUNG BERBAGI IDE

Setiap orang bisa berpartisipasi. (Kampung Cempluk - 2016)

Setiap orang bisa berpartisipasi. (Kampung Cempluk – 2016)

[SONJO KAMPOENG – FATSAL 5]

Ide-ide kreatif dan otentik terutama yang berkaitan dengan seni, tradisi, dan ritual budaya berada paling nyata di dalam Kampung-kampung. Mengapa bisa begitu? Pertama, karena di dalam Kampunglah semua ide kreatif dan otentik itu saling berjumpa, berkolaborasi, bertransformasi, saling menginfusi, dan bahkan saling berkompetisi dengan sehat dan alamiah. Kedua, di kampunglah segala ekspresi kreatif dan otentik itu menemukan apresiasi, evaluasi, dan bahkan diuji dan menemukan nilainya untuk selanjutnya dapat sustainable melintasi jaman dan terinternalisasi dalam sejarah hidup masyarakat. Ketiga, bentuk interaksi antara pelaku seni, tradisi, dan ritual budaya dengan masyarakat kampung berada dalam kesetaraan, keadilan, dan keterbukaan yang alamiah kultural. Tiga hal inilah yang meyakinkan kampung-kampung untuk dapat berbagi ide.

Dengan satu tekad bahwa Kampung adalah lumbung ide dan lumbung itu akan semakin bermanfaat dan menjadi berkat jika dibagikan dengan kampung-kampung lainnya.

Festival Kampung bersifat kultural

Tak bisa dipungkiri bahwa ketiga hal di atas itulah pilar-pilar kekuatan sebuah kampung yang berkembang meluas membentuk jaringan antar kampung dalam semangat saling menghidupi. Sejarah Nusantara membuktikan bahwa dengan menguasai dan mengontrol sistem kearifan Kampung seperti itulah kekuatan-kekuatan dari luar kampung dengan leluasa dapat menaklukkan ketahanan kampung. Di era kolonial, tak capek-capeknya pemisahan antara tradisional dan modern diciptakan dan dimasukkan dalam kesadaran banyak orang. Dengan begitu kompetisi alamiah yang sehat dalam perjumpaan antar kampung terkontaminasi dengan dikotomi stereotiping antara yang tradisional dan yang modern. Contoh yang paling menjadi borok yang sekarang sulit disembuhkan adalah dengan dihadirkannya sistem pendidikan yang tidak ramah dengan epistemologi lokal. Akibatnya jelas, sistem epistemologi lokal dianggap tradisional dan tidak modern maka layak diganti dengan sistem yang lain yang lebih modern yang anti tradisi.

Selama jaman diktaktor berkuasa di Nusantara, ketiga pilar itu tidak dihancurkan, namun dipelihara, dikuasai, diberi asupan yang melenakan, dan dikontrol oleh sebuah sistem politik yang memaksa agar segala arus interaksi, model transformasi, dan bahkan bentuk-bentuk ekspresinya semata tertuju pada glorifikasi pada kekuasaan. Festival kampung yang paling alamiah yaitu “mudik” (ketika semua orang kembali ke kampung “asal”nya untuk bergembira bersama handai taulan) diarahkan dan nampaknya juga dipaksakan untuk terjadi pada saat peristiwa politis  yang disebut kemerdekaan terjadi. Secara masif, festival kampung “tujuhbelasan” diciptakan di tiap-tiap desa dan bahkan daerah terpencil sebagai alat untuk merayakan kuatnya kontrol kekuasaan politis pada seluruh warga masyarakat.

Jika dalam era kolonial tiga pilar kekuatan kampung itu mampu menjadi semangat perlawanan dan untuk itulah kampung-kampung tetap terpelihara secara unik dan khas dalam hal seni, tradisi, dan ritual budayanya. Dalam era diktaktorship orang merasa seperti dibuat mabuk. Berada di dalam situasi “seolah-olah” kreatif dan otentik namun terkaburkan dengan kenyataan bahwa  mereka adalah aset-aset politik yang harus selalu dan merasa terus butuh untuk dikontrol, dikendalikan, diberi asupan, dan didikte dari sistem kekuasaan. Demikianlah trauma sejarah kampung-kampung yang disadari perlu untuk diakui dan agar selanjutnya dapat diatasi dan kalau perlu disembuhkan sama-sekali.

Demikianlah jika tiap-tiap kampung sekarang mulai menggeliatkan diri untuk merefitalisasi festival kampung yang murni kultural adalah dengan cara mengembalikan tiga pilar kreatifitas otentik kampung itu tidak lagi kepada pihak manapun, melainkan menjadikannya milik dan sepenuhnya dibawah kendali kampung-kampung itu sendiri. Pengalaman-pengalaman penting dari kampung-kampung berdaya telah memperlihatkan bahwa aset-aset terpenting kampung akan selalu berada dan menjadi bagian dari kampung jika terus dihubungkan dengan seni, tradisi, dan ritual budaya kampung dan secara berkala dihubungkan dengan kampung lain, dekat dan jauh dengan keragaman kreatifitas otentiknya masing-masing.

Festifal kampung yang bersifat kultural adalah laksana telaga yang menampung segalanya dalam perjumpaan yang tulus untuk bersama-sama saling memurnikan diri agar bermanfaat dan berguna bagi dunia.

Ekspresi seni dan Nilai-nilai

Dalam kampung-kampung ekspresi seni dihargai melampaui kepentingan ekonomi dan politik. Dalam ekspresi seni itulah kampung-kampung membangun identitasnya, namun juga berdialog intensif dengan dunia di sekitarnya. Musim, gejala alam, perubahan pola pikir, transformasi budaya-agama, segala hal yang berhubungan langsung dengan keutuhan hidup manusia konkrit tidak hanya dipelajari dan dipikirkan namun juga dijadikan pijakan-pijakan penting bagi seluruh anggotanya.

Nilai paling menonjol dalam kampung adalah kesederhanaan. Maknanya jelas, bahwa relasi hidup keseharian berinteraksi dengan alam dan perubahan jaman adalah peristiwa penting yang perlu direspon pula dengan apa yang ada pada diri masyarakat kampung. Dan apa yang ada di dalam kampung itu terutama adalah orang-orangnya; tua muda, lelaki perempuan, segala macam profesi, segala macam tingkat pendidikan, dan latar belakang keagamaan. Mereka itulah para filsuf pematri tanda dan makna, mereka juga sekaligus para ksatria pelaksana dan praktisinya, bahkan merekalah pula para brahmana penghubung komunikasi dengan yang illahi. Kesederhanaan yang memiliki arti terlampauinya segala bentuk pemisahan – kerumitan – sistematisasi. Kesederhanaan yang menghasilkan karya cipta yang aplikatif dalam konteksnya, yang belakangan berusaha diurai dengan kaidah-kaidah keilmuan yang semakin tidak sederhana.

Kesetaraan sebenarnya selalu menjadi harapan dalam diri tiap warga kampung. Sekalipun sisa-sisa model struktur sosial paksaan dari jaman kolonial hingga rejim kekuasaan kadang sangat menghantui dan menjadi bekas besar luka yang sulit tersembuhkan, warga kampung pelan-pelan selalu berusaha menetralisirnya dan jika bernai mengembalikannya pada semangat semula terbentuknya kampung, yaitu tempat paling aman bagi setiap anggotanya untuk menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan dan paksaan dari pihak manapun. Dalam kampung-kampung kesetaraan tidak dislogankan berdasarkan bias kekuasaan dan kepentingan hegemoni. Kesetaraan lebih banyak dipraktikkan dalam fungsi yang sangat efektif dan efisien.

Ide kreatif Kampung tak pernah berhenti.

Ide kreatif Kampung tak pernah berhenti.

Demikianlah pilar kampung yang kedua akan terus membesar dan menguat. Peluangnya untuk terus menguji identitas diri dalam perjumpaannya dengan orang lain secara kreatif dicarikan alternatif-alternatif terbaiknya. Tidak selalu berhasil memang, tetapi segala usaha yang hendak memperlihatkan bahwa kampung adalah produser nilai-nilai kemerdekaan kemanusiaan yang sejati tak pernah bisa disangkal.

Setiap orang adalah agen kreatifitas

Tidak ada yang disisakan di dalam kampung ketika mereka memfokuskan diri dalam perayaan akbar bagi kampungnya. Semua orang diberi ruang yang sama untuk berpartisipasi dan berkontribusi berdasarkan minat-minat terbaik yang mereka punya. Menjadi penonton yang baik sekalipun adalah sebuah partisipasi penting. Menjadi penggembira yang menyebarkan suasana keindahan dalam setiap ekspresi sangat sederhana praktis juga dihargai. Semuanya melibatkan diri dalam perannya masing-masing dengan otentik dan penuh kebebasan. Bahkan para pengatur sekalipun kadang muncul dengan spontan ketika dibutuhkan.

Dalam situasi dimana setiap orang adalah agen kreatifitas, fokus kerja paling sederhanapun bisa menjadikan inspirasi paling besar bagi para pelaku seninya. Peristiwa-peristiwa alam di sekitar, dan bagaimana tiap-tiap orang berinteraksi dengannya bersama-sama dengan segala makhluk yang ada adalah dasar-dasar kultural bagi model terbentuknya geliat kampung itu berjumpa dengan kampung lainnya. Itulah moralitasnya, pilihan politisnya, jati dirinya yang sejati sebelum model-model manipulatif yang berorientasi pada kekuasaan dan kekuatan kekerasan untuk menguasai merasuki model-model relasi antar manusia.

Maka kampung berbagi ide merupakan gerakan hidup bersama dalam sebuah kesadaran hakiki sebagai manusia seutuhnya dengan martabat tertingginya, itulah keindahan hidup, itulah yang dirayakan dalam tiap-tiap ekspresi seni, itulah yang layak untuk dijadikan pondasi bagi tiap-tiap pesta kampung.

 

Penulis: Kristanto Budiprabowo




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *