KAMPUNG BUDAYA SIDOMUKTI

[9 MARET 2016 – KEPANJEN – MALANG]

Di lorong-lorong dan dipersimpangan geliat pertumbuhan sistematis modernitas kota selalu terselip-tersisa-terjebak-tertahan komunitas-komunitas yang entah segera menyadari entah selamanya akan hancur dalam gilasannya bahwa merekalah bagian terpenting dan pemberi ruh bagi masyarakatnya. Disitulah budaya dibangunkan, digerakkan, dibentuk, dan disebarkan. Ketika bermanfaat mereka dibeli dan lantas dijual, ketika tak produktif mereka dibenci dan disingkirkan. Ketahanan budaya bukan lagi menjadi kesadaran bagi pusat kehidupan nilai kemanusiaan apalagi kelestarian lingkungan, mereka hanyalah etalase usang. Benarkah?

Dalam sebuah komunitas, selalu saja ada orang-orang yang tindakan kreatifnya memberi inspirasi bagi orang di sekitarnya, menghidupi relasi komunitas, dan menegaskan nilai-nilai kehidupan. Ada yang nampak sekilas sebagai seniman, pengrajin, pengerja panggung hiburan, pelaksana ritual, dan beragam aktivitas keseharian yang dijalani tidak sekedar sebagai rutinitas penghabis usia dan pembunuh waktu.

Selalu ada orang-orang yang gerak-geriknya memperlihatkan bahwa manusia tidak hanya hidup dengan makan dan minum dan bereproduksi belaka. Demikianlah sesungguhnya inti budaya dalam tiap komunitas berasal-muasal, yaitu kesadaran bersama akan pentingnya ekspresi hidup sebagai manusia.

Sidomukti bisa jadi adalah pemukiman perkembangan baru dari sebuah kawasan yang disebut Kepanjen (tempat para Panji berkuasa) di sebelah selatan kota Malang. Namun orang-orangnya adalah wujud kreatifitas kawasan yang sedang menemukan keunikan dirinya. Sampah ditemukan sebagai harta berharga tidak hanya karena potensi daur ulangnya, namun juga potensi ekspresi seni yang ada di dalamnya. Wayang plastik daur ulang adalah contoh paling nyata yang telah memperkenalkan kampoeng ini. Kadang disebut Wayang Riwayat, Kadang disebut Wayang wolak-walik, bisa dengan beragam nama dengan satu pesan makna bahwa kreatifitas itu ada pada orang-orangnya, di balik timbunan sampah sekalipun.

sidomukti2Malam itu, dimulailah sebuah semangat baru. Mengembalikan ruh komunitas pada ekspresi maknawi dalam karya kreatif seni yang berpeluang menghidupi. Disadari adanya banyak godaan, dari model kapitalisasi paling kasar hingga politisasi paling halus selalu akan mengikuti seperti bayangan di belakang mereka. Bahkan sejak rencana awal hendak digulirkan. Pamong desa, para pemuda, seluruh warga komunitas menyadari dan melihat bahwa hidup mereka yang bermakna itu jauh lebih penting dan berharga dari segala kenikmatan sesaat yang terus dengan bombastis ditawarkan oleh kecanggihan sistem hidup dunia ini.

Kami bermimpi bersama. Tentang kampoeng-kampoeng yang selalu terhubung, selalu saling mengapresiasi, selalu saling mendukung dalam gerak makna. Kami bahkan menemukan Indonesia disitu, dengan sederhana, dengan kebahagiaan: Indonesia adalah perjumpaan kampoeng-kampoeng. Itulah yang akan kami kisahkan pada anak-cucu generasi bangsa ini.

[Trimakasih pada Ki Dalang Joemali & Aziz Franklin, pak Carik dan Karang Taruna Sidomukti]

 

Kristanto Budiprabowo




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *