KAMPUNG, PANCASILA, DAN GAIRAH KITA MEMBANGUN INDONESIA


(Catatan #1 Paska Persamuhan Pembakti Kampung 2019)
Oleh: Akmad Bustanul Arif *

Japungnusantara.org. Persamuhan Nasional Pembakti Kampung 2019 yang diadakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Anyer Banten pada 26-30 Oktober 2019 lalu menjadi momentum terbaik yang telah mempertemukan para aktivis, pemerhati, pegiat, dan pembangun (selanjutnya akan disebut pembakti) kampung-kampung di seluruh pelosok Nusantara. Mungkin belum semua pihak terakomodasi, tetapi setidaknya persamuhan itu telah menjadi ruang strategis bagi banyak orang yang selama ini dengan diam-diam atau terang-terangan telah bekerja sedemikian rupa untuk membangun kampung dan masyarakatnya. Semua tak lain adalah untuk tujuan yang jauh lebih besar, yakni membangun (manusia) Indonesia.

Bicara kampung adalah bicara lokalitas. Bicara corak khusus, karakter, kecendeungan, dan subkultur yang khas. Bicara kampung adalah bicara problematika masyarakat dan lingkungannya dalam lingkup sosial yang kecil dan terbatas. Tetapi justru di sinilah titik tempat semua problem sosial dan kultural berasal dan berakar. Efeknya bisa ke mana-mana, ke ranah-ranah sosial yang jauh lebih luas dan besar. Keberhasilan kita dalam mengatasi atau memecahkan persoalan-persoalan itu menjadi tolok ukur (dan sumbangsih) keberhasilan kita dalam memecahkan persoalan bangsa.

KAMPUNG DAN PEMBUMIAN PANCASILA

Harus kita akui bahwa bangsa kita sedang menghadapi persoalan besar. Selain carut marut politik (akibat ulah para elit), liberalisasi ekonomi, kerusakan lingkungan, dan lain-lain, menguatnya politik dentitas dan melemahnya rasa kebangsaan menjadi persoalan yang sangat serius yang kita hadapi hari ini. Ditambah, minimnya literasi digital yang menyebabkan manusia kebanyakan ( common people ) mudah terpengaruh dan tersesatkan oleh informasi-informasi yang tidak benar ( hoax ) yang dikonsumsi melalui media sosial. Hal ini semakin memperkeruh keadaan dan memperbesar ruang chaos di lingkup publik. Dan ini juga menjadi salah satu sebab semakin menguatnya radikalisme agama dan ekstrimisme yang berujung pada terorisme.

Dibutuhkan ruang yang lebih steril untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut di atas. Dan kampung adalah salah satu ruang itu tempat segala hal dikomunikasikan dan segala persoalan dipecahkan. Di kampunglah segala sesuatu bisa dipetakan, ditata ulang, dibersihkan, dan dirapikan. Termasuk masalah ideologis dan kebangsaan.

Saat ini banyak pihak yang mulai sadar bahwa jawaban dari benturan ideologis yang berpotensi merongrong kebangsaan kita adalah pembumian kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Namun banyak yang lupa bahwa dikampung-kampung Pancasila telah menjadi bagian laku hidup sehari-hari karena itu telah menjadi DNA mereka. Paling tidak, hal ini bisa kita lihat dari budaya gotong royong yang masih menggejala di sana. Bukankah gotong royong adalah inti dari Pancasila?

Memang harus di akui semangat dan budaya gotong royong ini mulai melemah di beberapa tempat, khususnya di wilayah-wilayah urban (dan tidak sedikit yang mulai merambah ke wilayah rural). Di sana materialisme dan individualisme menjadi panglima yang bercokol di pikiran bawah sadar masyarakatnya. Tidak semua, tetapi mayoritas sudah terjangkiti keduanya sehingga segala sesuatu harus diukur dengan uang dan imbalan. Jika tidak ada uang dan imbalan, orang akan enggan untuk melakukan sesuatu, meskipun itu berdampak baik bagi orang lain dan lingkungannya.

Untungnya, saat ini mulai lahir aktivis-aktivis kampung. Orang-orang yang sadar akan pentingnya penguatan kampung yang kemudian bergerak dan mengorganisasikan diri. Mereka mencoba mengonsolidasikan kekuatan-kekuatan (sumber daya manusia) yang ada di sana untuk bersama-sama bergerak dalam rangka membangun kampungnya.

Mereka mulai membaca ulang kampungnya, mengidentifikasi problemnya, menabulasi potensinya, sekaligus memetakan peluang-peluang dan kemungkinan-kemungkinan akan solusinya. Mereka melakukan need assessment dan membuat road map bagaimana menjadikan kampung mereka berdaya. Dan untuk melakukan itu semua mereka tak membutuhkan imbalan. Mereka tak menuntut untuk mendapatkan uang. Mereka inilah para pembakti yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Bahkan mereka tak butuh eksistensi mereka diakui. Yang mereka inginkan adalah masyarakat berdaya, lingkungan mereka berjaya. Ini bisa ditelisik dari mereka yang tergabung dalam Jaringan Kampung Nusantara.

Jaringan Kampung Nusantara (Japung Nusantara) bukanlah organisasi formal yang terlembagaan. Ia bukan ormas. Cari alamatnya pun tidak akan pernah ditemukan. Tetapi orang-orangnya ada. Ia adalah jaringan komunikasi antar kampung yang sudah bergerak di seluruh pelosok Nusantara ini. Ia adalah kumpulan para pembakti yang bergerak sebagai katalisator perubahan di kampung-kampung. Ia adalah ruang interaksi dan saling silang ide untuk sama-sama membangun kampung dan masyarakatnya. Semua disatukan oleh satu nilai dan kesadaran yang sama, yakni bahwa setiap orang memiliki Personal Social Responsibility (PSR) alias Tanggung Jawab Sosial Personal. Dan Japung Nusantara terbuka untuk siapa saja yang ingin mengoneksikan diri padanya, untuk menjadi bagian dari pejuang-pejuang Indonesia. Pejuang yang bergerak di wilayah sunyi, yang rela untuk tak pernah terpublikasi atau terapresiasi.

PERSAMUHAN DAN PERTEMUAN GAIRAH MEMBANGUN INDONESIA

Sekali lagi, persamuhan nasional yang digelar BPIP beberapa waktu lalu telah menjadi momentum strategis yang sangat disyukuri oleh para pembakti kampung di Indonesia. Pertemuan itu meneguhkan kesadaran bahwa mereka tidak sendiri. Mereka memiliki teman yang sama-sama berjuang di lingkungan dan masyarakatnya untuk membangun Indonesia.

Seperti selalu disinggung oleh Redy Eko Prasetyo, pembakti dan pelopor Japung Nusantara, bahwa kapung adalah serambi Indonesia, maka membangun kampung berarti juga membangun Indonesia. Apapun yang kita lakukan untuk membangun dan memberdayakan kampung kita menjadi salah satu upaya suci dan sumbangsih nyata kita dalam membangun Indonesia.

Oleh karena itu jangan pernah meremehkan upaya kecil yang kita lakukan dikampung dan desa, karena itu bisa sangat berdampak besar bagi pembangunan bangsa. Bayangkan, jika ada banyak orang seperti kita yang bergerak di kampung-kampung dan desa-desa, betapa berdayanya Indonesia. Betapa makmurnya Indonesia. Dan jika itu terjadi, betapa bahagianya kita.

Salam Pancasia!

Penajam Paser Utara, 5 November 2019

*Writer and Community Organizer




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *