KAMPUNG LITERASI

Meluaskan wawasan literasi

Literasi tidak hanya terjadi di kampus-kampus ketika mahasiswa pura-pura punya buku atau membacanya tetapi tak pernah berdialog dengannya untuk mendewasakan diri. Tidak juga hanya terjadi di perpustakaan-perpustakaan tempat para pemikir peneliti mengolah data mencari sumber-sumber akurat satu pengetahuan untuk dijadikan karya tulis, laporan, dan atau tugas dari institusi pendidikan agar segera mendapat gelar. Literasi adalah pergaulan sangat intim dengan ilmu dan pengetahuan. Pertama-tama dalam semangat personal untuk membuka diri, kemudian kesediaan untuk berdialog dengan pengetahuan yang berada di luar dirinya dengan tanggungjawab dan disiplin tradisi intelektualitas, dan berakhir pada sebuah pesan-pembelajaran (learning-point) yang dengan dasar itu disuarakan lewat tulisan dan juga sikap hidup agar berjumpa dengan realitas di sekelilingnya untuk kembali pada proses yang pertama lagi.

Jelaslah bahwa buku-artikel-hasil penelitian, pengalaman-keahlian-kepandaian, lantas internalisasi-dialog-transformasi, merupakan prasyarat dan keharusan proses yang perlu dijalani seseorang untuk masuk dalam dunia literasi. Tidak mudah, namun juga tidak terlalu sulit. Karena semua prasyarat itu tersedia dengan amat berlimpah nan murah disekitar kita. Seseorang yang sedang melihat sebuah batu dan mengamatinya, membandingkannya dengan batu yang lain, mendiskusikan dengan orang lain apa jenis batu itu, mencari segala bentuk informasi mengenai batu itu, lantas berpikir serius tentang asal muasal, fungsi, dan keseluruhan kisah dan potensi batu yang sedang terabaikan di pinggir jalan tersebut adalah orang yang sedang melakukan proses literasi.

Demikianlah pada dasarnya setiap orang, dalam segala bentuk aktivitas hidupnya, memiliki kesempatan emas untuk hidup dalam dunia literasi.

Ukuran terhadap minat baca dan miskinnya tulisan-tulisan berbasis pada keutuhan proses intelektual bagi aktivitas literasi memang penting dan sangat memberi peringatan keras pada tiap orang untuk tidak mengabaikan begitu saja keutuhan sifat dasar manusiawi untuk merasa dan berpikir sebagai rujukan dasar bersikap dan bertindak. Minat baca pada masyarakat perlu ditingkatkan, senada dengan minat menghasilkan bahan untuk dibaca. Nah tentang apa saja yang bisa dibaca, bagaimana cara dan prosedurnya, lantas hingga sampai pada bentuk bahan baru yang bisa dibaca oleh orang lain perlu dimulai dengan cara yang komprehensif. Langkah itu perlu dibebaskan dari beban politik pendidikan dan bujukan manis dunia media yang seringkali hanya menghasilkan gelar-gelar dan lembaran kertas sertifikasi serta pengakuan semu dunia maya.

Langkah pembudayaan literasi, secara sederhana dapat terjadi bahkan di kampung-kampung dengan fokus pada potensi setempat yang bisa dibaca dan menghasilkan bahan bacaan baru bagi generasi selanjutnya.

Pendekatan holistik

Darimanakah sebaiknya kita segera memulai membangun literasi berbasis kampung? Pertanyaan ini serumit menjawab kenapa generasi muda sekarang tidak memiliki minat baca terhadap buku-buku keilmuan yang bermutu. Salah satu hal yang perlu ditelusuri adalah kisah atau katakanlah sejarah tentang sejak kapan literasi itu tidak lagi diminati atau setidaknya menjadi kehilangan peran pentingnya dalam proses hidup bermasyarakat. Apakah hal itu memang sudah merupakan tradisi dan budaya sosial politik masyarakat kita yang telah sedemikian rupa tidak mampu kapasitas berpikirnya akibat ditelan jaman? Kalau memang begitu, sejak kapankah tradisi itu dibangun dan menjadi menguat? Apakah memang sejarah peradaban kita tidak pernah dilengkapi oleh tradisi intelektual yang memanfaatkan teknologi teks sebagai bagian terpentingnya? Demi menyiapkan sebuah pemahaman tentang kampung literasi termasuk di dalamnya usulan sistematika kurikula yang bisa ditawarkan, maka tulisan ini hendak fokus pada satu contoh kampung, namun tetap dengan kesadaran pendekatan holistik.

Mengapa pendekatan holistik itu diperlukan? Yang dimaksud dengan pendekatan holistik adalah keterbukaan sistem literasi itu sendiri terhadap segala aspek yang ada baik di dalam, diantara, maupun dibalik teks-teks (yang akan kita baca) maupun dalam konteks (yang akan menjadi lapangan kerja paling riilnya). Atau apa yang selama ini dikenal dengan istilah lintas disiplin, lintas ilmu, atau lintas dimensi sekalipun. Sepanjang segala bentuk material, kisah, dan bahkan rasa dijumpai, pada saat itulah kesempatan terbaik membangun kesadaran literasi. Jadi kata kuncinya adalah keterhubungan. Bisa jadi sifat dan bentuk keterhubungannya sangat tebal, bisa jadi sangat tipis. Sejauh ada makna dalam keterhubungan lintas disiplin itu, segala kemungkinan perlu dihampiri dan dipertimbangkan.

Dalam sebuah kampung telah tersedia beragam sumber yang dibutuhkan guna mengadakan literasi dengan pendekatan holistik. Tiap kampung punya cerita dan asal-usulnya, punya sejarah proses perkembangan dan pembangunannya, punya orang-orang yang tinggal tetap atau keluar masuk yang berpengaruh terhadap kesadaran bersama, punya moment-moment penting dan segala bentukan aturan bersama yang diciptakan untuk mempertahankan kelangsungan kampung. Dalam bentuk teks yang terbuka untuk dibaca, letak demografis berkaitan dengan sistem ekologis, pemilihan ruang berdasarkan mata angin dan fungsi praktisnya, benda-benda hasil sejarah budaya yang tersisa, jenis pohon dan pilihan sistem pertanian, binatang piaraan dan kearifan lokal dalam membangun relasi dengannya, segala jenis kesenian dan kebiasaan, bahasa dan cara hidup, dan lain sebagainya merupakan medan-medan penting terutama bagi penghuni kampung itu sendiri untuk terus dibaca, dinamai, dan dijadikan bahan-bahan literasi baru.

Jadi pada dasarnya pendekatan holistik itu melibatkan keseluruhan aspek yang ada di dalam kampung untuk dijadikan medan utama bagi proses literasi. Buku-buku dan segala bentuk informasi tentang kampung tentu dibutuhkan sebagai referensi berguna, metode dan sistimatika yang paling tepat tentu perlu direncanakan sejak awal. Namun yang terlebih penting dari itu semua adalah ketulusan tiap orang dalam menjumpai dirinya – keutuhan hidupnya – yang adalah bagian penting dari proses peradaban.

Membuat Assesment

Langkah pemetaaan awal yang paling penting untuk dilalui adalah pemetaan historis terhadap sejarah literasi itu sendiri. Assesment ini diperlukan agar komunitas dikampung menemukan sendiri sumber-sumber terpenting dalam komunitasnya yang berhubungan dengan praktek literasi yang ada. Secara umum sejarah mencatat bahwa proses literasi, entah itu dalam skala yang sangat kecil, maupun dalam skala sekelas lembaga pendidikan terjadi di kampung-kampung yang ditujukan khusus untuk itu maupun yang memang memiliki orang-orang yang menekuninya. Jika dalam sebuah kampung, masyarakatnya mampu mengembangkan sebuah sistem sosial, sistem bercocok tanam, apalagi yang telah menghasilkan sistem musikal tertentu, tradisi literasi tentu saja sudah terjadi. Mungkin bentuk utamanya bukan naskah, atau artikel atau bahkan buku seperti yang kita jumpai sekarang.

Ada bentuk-bentuk alternatif yang khas tiap kampung, bagaimana sebuah komunitas mengembangkan literasinya.

Jadi objek sejarah literasi adalah segala jenis karya kreatif dalam sebuah komunitas yang terus menerus memberikan ruang bagi generasi selanjutnya untuk membacanya, menginterpretasikannya, dan kemudian memanfaatkannya bagi konteks kekinian literasi selanjutnya. Ukurannya sederhana, jika hasil karya kreatif itu memberi kesempatan pada semua orang untuk menyuarakan nilai-nilai kehidupannya dan visi hidup sosial yang semakin beradap, maka hal itu dapat digunakan sebagi titik pijak menandai sejarah terjadinya proses literasi. Assesment awal seperti ini nantinya akan dipertemukan dengan aspek-aspek terkait yang menentukan kekhasan sebuah kampung. Bisa jadi dalam satu kampung yang paling menonjol adalah bacaan dalam bentuk teks, namun dalam kampung lainnya dalam bentuk benda-benda bersejarah dan atau dianggap penting bagi kehidupan kampung, sementara di kampung lainnya lagi yang menguat menonjol adalah kisah-kisah yang terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat kampung itu sendiri.

Hasil dari assesment awal inilah yang akan digunakan sebagai lapisan pertama penyusunan wajah literasi kampung. Oleh karena itu dibutuhkan kejujuran dan ketulusan agar segala data literasi yang ada dapat bersama-sama “di taruh di meja” untuk dapat dibaca dan diapresiasi secara bersama-sama terutama oleh seluruh anggota masyarakat kampung. Sekalipun begitu, peta dasar ini bukanlah final. Karena kita semua menyadari bahwa ketika diketemukan bukti baru, maka harus selalu disediakan ruang interpretasi baru bagi bangunan tradisi literasi itu.

Hal pertama yang paling mudah untuk dijadikan titik pijak pemetaan sejarah literasi adalah materi-materi budaya yang masih tersisa, diantaranya adalah: benda-benda purbakala, realitas geo-ekologis posisional kampung, jenis-jenis tanaman endemik, metode penamaan wilayah, peralatan-peralatan teknologis kuno, dan hubungannya dengan garis sejarah dalam konteks yang lebih luas. Dalam tiap kampung materi-materi seperti ini relatif masih tersedia dengan baik dan siap untuk diinterpretasikan lagi. Tentu dibutuhkan kesediaan dari semua pihak untuk membuka dan menyampaikan apa saja yang berhubungan dengan hal itu kepada komunitas agar materi dasar tersebut bisa terkumpul dengan semakin lengkap.

Hal kedua yang tak kalah pentingnya untuk dapat dengan teliti dikumpulkan sebagai sejarah literasi kampung adalah jejak-jejak historis yang berada dalam segala bentuk ekspresi estetis, etis, dan kosmologis baik yang pernah ada dan dikenal, maupun yang masih dipraktekkan dan dihidupi bersama dalam kampung. Segala jenis syair-musik dan alat-alat bunyinya, lukisan-ukiran-kerajinan, kuliner-olahan pertanian, dan lain-lain adalah medan-medan penting untuk menemukan gambaran bagaimana sebuah komunitas memiliki tingkat sentuhan dengan dunia bathinnya yang kemudian mewujud dalam ekspresi-ekspresi tersebut. Sampai langkah ini semakin nampak bahwa keterlibatan masyarakat setempat adalah keharusan di dalam melakukan pemetaan literasi kampung.

Oleh karena itu kita perlu langkah ketiga yaitu semacam ferifikasi dari sebanyak keberagaman penduduk kampung. Disinilah mekanisme dialog antara perencanaan, temuan, dan pemaknaan mendapatkan ruangnya. Langkah ini diperlukan karena semua orang menyadari bahwa kadang ada banyak peristiwa dengan segala buktinya yang memang disengaja untuk dihapuskan dan ditiadakan dari memori masyarakat. Melalui langkah ferifikasi setidaknya kita bisa melihat bahwa dalam proses sejarah selalu ada moment-moment yang tidak selamanya bisa diungkap kembali secara terbuka, atau masih membutuhkan kelengkapan penjelasan dan kesiapan diri dari seluruh anggota masyarakat untuk mengungkapkannya. Selanjutnya dengan kesadaran ini memperlihatkan bahwa literasi tidak pernah tuntas sepenuhnya. Pun literasi dalam konteks sekecil kampung, masih selalu terbuka ruang-ruang untuk selalu diisi dengan pengetahuan dan visi hidup bersama yang baru.

Proses literasi yang apresiatif

Dengan bermodal pada hasil assesment, yang tentu saja dilakukan secara terus menerus, maka ruang-ruang diskusi bisa dibuka dengan juga melibatkan orang-orang yang memiliki kompetensi di bidangnya. Sejarahwan, budayawan, sosiolog, pelaku seni-tradisi lokal, pun segala profesi yang ada di dalam kampung adalah sumber-sumber informasi dan sekaligus alat untuk mengasah agar bahan dasar assesment awal itu menghasilkan tulisan-tulisan baru yang melengkapi perkembangan peradaban kampung. Demikianlah proses literasi kampung itu selalu bersifat komprehensif dan partisipatif.

Tentu orang mengharapkan ada temuan baru, ada kejutan, ada informasi yang ditambahkan dalam memori mereka ketika berada dalam proses literasi. Harapan itu amatlah wajar. Namun memberikan tanda yang amat kuat bahwa dibutuhkan sikap mental tertentu dalam menjumpai bahan material maupun non material yang digunakan dalam proses literasi. Dia bersifat komprehensif karena meliputi keseluruhan aspek karsa dan karya yang ada di dalam kampung, dan dia bersifat partisipatif karena setiap orang adalah sumber-sumber ilmu yang penting bagi proses literasi kampung. Maka dari itu, proses literasi kampung yang berlangsung dengan metode apresiatif adalah pilihan terbaiknya.

Demikianlah gambaran awal atau semacam usulan pengembangan literasi kampung yang bisa dicoba tawarkan sebagai wawasan baru pemberdayaan komunitas berbasis aset-aset terpenting kampung itu sendiri. Jika disitu ada sebuah batu kuno, pada saat itulah literasi kampung bisa dimulai, namun pada saat sebuah tembang didendangkan dan musik tradisional digemakan pada saat itu pula literasi terjadi. Demikianlah pada dasarnya, pun literasi sesungguhnya bergerak dan berasal dari kampung.

 

Kristanto Budiprabowo




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *