Katastrofi Purba dan Kebudayaan (Tinggi?) Indonesia

217661_2010379904205_7008483_n

Banyak dari kita yang curiga: masa lalu bangsa kita ini rasa-rasanya sering diceritakan penuh dengan kegemilangan budaya tetapi koq masa kini jadi seperti bangsa kerdil yg tidak punya kebanggaan daya saing apapun di dunia?

Dalam rangka menguraikan dan mencari sebab musabab paradoks di atas, sebagai geologist, sayapun coba mengembangkan arah pembahasan ke Katastrofi (Geologi) Purba dan Efeknya pada Budaya.

Indonesia adalah ajang ketidakstabilan bumi dengan 129 gunung api, separoh dari 95 ribu km pantainya rawan terjangan tsunami, belasan ribu kilometer daratannya disayat-sayat patahan aktif siap bergerak setiap saat. Tidak ada satupun kawasan berpenghuni berpenduduk berdaulat seperti Indonesia ini yang punya ancaman bencana begitu banyak dan bervariasi.

Kalau memang seperti itu karakterisasinya, apakah ini hanya baru terjadi akhir-akhir ini? Tentu saja tidak. Umur penunjaman lempeng-lempeng, pembentukan patahan-patahan besar dan pembentukan gunung-gunung api di Indonesia bukan hanya baru-baru ini. Mereka paling tidak sudah terjadi sejak 45 Juta tahun lalu mulai kala Eosen, berlangsung dengan puncak-puncak katastrofi (penghancuran) di kala Oligosen – penggenangan laut 30-23 juta tahun yang lalu, kemudian letusan-letusan gunung api dan pengangkatan-pengangkatan daratan pada Miosen 15 juta tahun yang lalu, silih berganti hingga ketika manusia dianggap mulai ada 1,5 juta tahun yang lalu (Pleistosen), 150 ribu tahun yang lalu (fossil-fossil Sangiran), letusan super-volcano Toba 75 ribu tahun yang lalu yang memusnahkan hampir 95% spesies di bumi, banjir besar 11-10 ribu tahun yang lalu, letusan Krakatau berkali-kali, Tambora, Rinjani di masa sejarah, kesemuanya menunjukkan bahwa dari dahulu kala sampai sekarang, kejadian-kejadian itu adalah keniscayaan, sunatullah, proses geologi biasa. Karena ada kita, manusia, maka itu semua kita anggap sebagai bencana.

Implikasinya adalah: Indonesia, Nusantara, Zamrud Khatulistiwa kita, yang konon punya potensi luar biasa sumberdaya buminya (saya bahas di tulisan lain) ternyata juga menyimpan cerita tentang bencana-bencana yang berulang-ulang kejadiannya. Pertanyaannya: lalu kenapa sejarah modern (tertulis) peradaban kita baru dimulai abad ke-4 Masehi? Kerajaan Kalingga, Mulawarman dan sesudahnya: itulah paling jauh nenek moyang yang bisa kita runut asal usulnya dalam tulisan-tulisan sejarah kita. Lalu pada waktu Yesus atau Nabi Isa berkiprah di dunia abad ke 0, ada apakah di Indonesia? Ketika Plato berfilsafat ria abad 8 sebelum Masehi, apakah tidak ada catatan apapun tentang dan di negeri super potensi kita ini? Waktu raja-raja Firaun membangun piramida-piramida megah 3000 tahun lalu di tempat yang susah-susah di padang pasir sana, apakah nenek moyang kita leyeh-leyehan saja tinggal di gua-gua dan tidak melakukan apa-apa?

Bagi orang seperti saya yang tahu sedikit lebih banyak tentang ilmu bumi dari pada orang lainnya, salah satu kemungkinan jawabannya adalah: “Kita punya masa lalu yang harusnya sama atau lebih hebat dari masa lalu bangsa-bangsa lain di dunia karena keunggulan potensi alam kita. Tetapi karena sifat siklus kebencanaan yang ada maka catatan-catatan dan peninggalan-peninggalan masa lalu itu terhapus, terkubur, terpendam oleh letusan gunung api, terjangan tsunami, goyangan gempa dan gelontoran kuburan lumpur longsoran gerakan tanah di mana-mana” . Setiap kali kebudayaan kita maju, ada bencana yang menghancurkannya, kemudian kita mulai mengulangi segalanya dari mula, dari nol, tanpa apa-apa. Tergantung siapa yang survive pada saat bencana itu. Kalau yang selamat pada waktu kebudayaan tinggi kita dilanda bencana itu adalah tukang rumput, maka kebudayaan kita pasca bencana adalah kebudayaan tukang rumput. Kalau yang selamat dari bencana-bencana itu adalah orang-orang yang bersembunyi di gua-gua, maka kebudayaan kita berulang menjadi kebudayaan manusia gua. Dan seterusnya.

Kemungkinan juga ketika Merapi meletus 1000 tahun yang lalu pada tahun 1006 dan mengubur candi Borobudur, kebanyakan arsitek, insinyur sipil dan para perencana yang pintar-pintar juga terkubur semua bersamaan dengan katastrofi purba itu. Yang selamat mungkin tukang bikin cobek yang kebetulan pergi ke Semarang untuk kunjungan ke sanak jauh. Maka ketika dia kembali ke sekitar candi didapatinya semua kehidupan musnah. Maka dimulailah kebudayaan baru Borobudur dari awal, dari membuat ukir-ukiran, cobek, dan patung-patung batu. Tak ada lagi insinyur-insinyur Gunadharma, terkubur semuanya oleh bencana.

Maka perlu juga direnungkan untuk maju ke depan. Apakah memang sebenarnya dari dulu bangsa Indonesia itu sempat berkembang maju beradab berteknologi tinggi tapi kemudian dihapus berulang-ulang catatannya oleh bencana, ataukah memang masa lalu kita adalah: manusia-manusia gua, manusia-manusia jaman batu, bahkan ketika di Mesir orang-orang sudah berlomba membuat bangunan-bangunan megah??

Tugas kita bersama untuk mengurai masa lalu peradaban kita. Tugas para ahli bumi juga, termasuk mengurai bencana-bencana apa saja yang menyebabkan masa lalu kita terkubur di bawah sana atau hangus menguap seperti sia-sia. Pada saat kapan saja bencana-bencana itu terjadi dan di lokas-lokasi mana: data-data itu semua akan sangat bermanfaat bagi penyusunan kerangka mitigasi keberulangan – periodisitas dan juga magnitude bencana yang bisa dipakai untuk mengantisipasinya ke depan, demi masa depan bangsa yang lebih cerah.

Seringkali logika awam mempertanyakan: andaikata leluhur kita duluuuuuu itu sdh punya kebudayaan yg “maju” , kok tidak ada peninggalannya yg awet yg bisa kita jadikan acuan. Gunung Padang dan Gua Pawon juga kalau toh itu dijadikan pijakan bukti kebudayaan saat itu (5-20rb tahun yl), banyak kontroversi nya. Meskipun misalnya kebudayaan yg berkembang tersapu bencana ber-kali-kali, kok ndak ada satupun yg ces pleng bisa menunjang teori itu. Di Kalimantan yg relatif sepi dari gunung berapi juga tidak ada peninggalan apa2. Bagaimana kita menerangkan semua anomali itu?

Baiknya kita telaah prinsip kimia-fisik batuan: dimana kestabilan unsur kimia ada di mineralnya, kestabilan mineral ada di batuannya dan semuanya itu harus pada kondisi kesetimbangan pembentukannya. Oleh karena itulah yg “abadi” sbg materi adalah unsur dalam mineral dalam batu pada kondisi asal pembentukan. Nah, peradaban manusia yg memanfaatkan unsur kimia dari mineral dari batu itu cenderung mencerabut materi dari kondisi kesetimbangannya. Mineral2 logam dari batuan2 basa dicampur dg berbagai unsur dr mineral lainnya yg juga diambil dari batu akhirnya menjadi MATERI MATERI BARU BUATAN MANUSIA ….

Bom Atom, Bom Hidrogen, baja, monel, alloy, batu2 disemen untuk bangunan dsb ITU SEMUANYA TIDAK STAbIL DI ALAM. Yg stabil dan relatif lebih “abadi” adalah unsur-unsur yg tetap ada di mineral tetap ada di batu, sementara hasil rekayasa manusia: TiDAK STABiL dan akan punah kembali ke unsur/batu tempat asalnya, secanggih apapun materi bikinan manusia dr ekstraksi bahan alam tersebut.

Makanya seringkali sisa-sisa kebudayaan masa lampau ug masih bertahan adalah BATU dan GUA GUA BATU pada kondisi asalnya. Hasil rekayasa manusia cenderung luruh dimakan waktu.

Kalaupun masih ada yg tersisa …. dan diketemukan manusia sekarang: itu disimpan untuk kepentingan kemajuan golongan kelompok sendiri atau direkayasa seolah olah MITOS atau LEGENDA dan tidak masuk dalam main stream publikasi ilmiah yg dikuasai kelompok tertentu!!! Yaitu Kelompok yg sangat memahami sejarah katastrofi dan kebudayaan tinggi ini!!!

Di Indonesia kabarnya ada microchip di topeng abad ke 4 SM yg ditemukan di Jombang. Juga ada tumpukan bahan radioaktif di bangunan peninggalan Belanda abad 19 di Lubuk Linggau yg sdh pakai teknologi XRay (pdhl Merrie Currie baru menemukan prinsip XRay si th 1901 jauh sesudah tahun pembangunan bangunan tsb). Ada lagi terowongan2 Belanda di Gua Jepang Dago Pakar yg kemungkinan mencoba membongkar peninggalan2 aneh disana. Kemungkinan adanya bangunan2 di bawah Gunung Padang maupun Sadahurip Garut yg selalu coba ditutup-tuupi faktanya oleh pihak yang anti. Dan masih banyak lagi yangg kalau diuraikan satu-satu akan semalam suntuk sendiri kita diskusi.

Kenapa ditutup-tutupi dan seolah gak pernah ketemu bukti-bukti itu? Karena FORBIDDEN? Soalnya penelitian-penelitian tersebut bertentangan dengan main-stream archeology yg menganggap kebudayaan manusia itu linier, yaitu dulu purba sekarang modern. Padahal bumi mengajarkan ke kita bahwa proses kejadian pembentukan dan penghancuran bumi beserta isinya adalah SIKLUS , bukan Linier.

Kalau mengakui ada siklus berarti dulu itu ada purba-modern-hancur-purba-modern-hancur-purba-modern-hancur dst….Jadi gak ada yg berani terang-terangan meneliti karena gak sesuai dengan pakem. Kalau gak ada yg meneliti dan mencari mana bisa ketemu????

andang bachtiar andang bachtiar
ADB
ditulis ulang 21 Nov 2015

Andang Bachtiar *)
*) : Geologist Merdeka
Arema-AMC
Ketua Komite Eksplorasi Nasional
Anggota Dewan Energi Nasional




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *