KITA BUKAN POHON PLASTIK, KITA ADALAH RIMBA DI NUSANTARA ( Catatan Trie Utami untuk BUEN FESTIVAL )

Catatan Trie Utami untuk BUEN FESTIVAL

KITA BUKAN POHON PLASTIK,
KITA ADALAH RIMBA DI NUSANTARA

panen, sumber foto 1936-1939  travel-albums/nederlands-indie

panen, sumber foto 1936-1939 travel-albums/nederlands-indie

Masyarakat yang berdaya, masyarakat yang berbudaya, adalah masyarakat yang memiliki daya dan pengetahuan atas potensinya kebudayaannya masing-masing. Ibarat hutan dengan pohon-pohon rimbun yang tumbuh besar di atas tanah yang subur. Pohon-pohon kekar dan kuat yang hidup di belantara subur makmur bernama Nusantara.

Setiap orang sejatinya tumbuh dan berkembang dengan pola budayanya masing-masing, mengalir dalam aliran darahnya dan berdenyut di alur nadinya, laksana biji yang muncul dari dalam tanah, menjadi tunas, meruas tumbuh berkembang dengar akar yang kuat, menancap kedalam bumi dan menyokong pertumbuhan batang ranting daun dan bakal benih selanjutnya.

Setiap manusia adalah entitas budaya yang melahirkan produk-produk budaya, menyokong pertumbuhan sebuah kehidupan bermasyarakat dan menghasilkan karya-karya kemanusiaan. Manusia adalah makhluk budaya, entitas yang memiliki Buddhi pekerti, berpengetahuan dan memiliki seluruh potensi untuk bernilai guna bagi segenap kehidupan yang melingkupinya.

Tak ada seorang manusia pun yang bisa melepaskan diri dari faktor budaya atau tata cara hidup yang turut menghidupinya sejak dalam kandungan ibu. Setiap manusia yang lahir adalah pemangku budaya, pelaku budaya, pewaris budaya sekaligus memiliki tugas untuk mewariskan budaya tersebut pada penerusnya.

Budaya adalah segenap cara hidup yang melingkupi keseharian seorang manusia, termasuk pola hidup, sistem tata kelola hidup serta seluruh aspek yang melingkupi kehidupannya. Kebudayaan adalah segenap produk yang dilahirkan dari pencapaian budaya itu sendiri, produk budaya tersebut tampil ke permukaan sebagai apa yang sering kita sebut dengan tradisi. Termasuk di dalamnya, produk-produk budaya seperti bahasa, kesenian (musik, tari, nyanyian, seni rupa, seni pahat dan lain-lain), makanan, kostum (cara berpakaian), tata kelola alam dan lingkungan, termasuk berbagai proses ritual dan lain sebagainya.

Manusia sebagai makhluk budaya, sepantasnya mengenal dengan baik seluruh aspek budaya yang menjadi akar dari dirinya secara pribadi. Adalah merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui dari mana dia berasal dan dari budaya seperti apa dia dibesarkan. Ibarat sebuah pohon yang tumbuh secara alamiah, budaya sebagai akar yang tumbuh di atas tanah bernama Nusantara akan menumbuhkan manusia dengan karakter yang kuat, berintegritas dan memiliki identitas budaya serta jati diri yang menopang setiap tindak tanduknya dalam bermasyarakat.

Sepenting apa identitas tersebut bagi seorang manusia? Sehebat apa seorang manusia dapat tumbuh dengan memiliki pengetahuan dan kesadaran atas identitasnya tersebut? Karena setiap bangsa dikenali dari cara dan ciri kebudayaannya masing-masing, karena semua bangsa memiliki identifikasinya sendiri-sendiri. Dengan akar budayanya lah mereka membangun potensinya, menjadi bangsa yang maju dan kuat. Tumbuh seperti hutan yang lebat, penuh dengan nilai guna dan memiliki manfaat yang optimal bagi seluruh kehidupan.

Manusia bukan pohon plastik, hanya tampak segar di permukaan namun tidak memiliki akar dan tak pernah tumbuh, apalagi menghasilkan buah atau benih untuk disemaikan kembali. Manusia adalah pohon alamiah, sebuah entitas budaya yang mengisi setiap relung kehidupan, tumbuh sebagai bagian dari masyarakat dunia, melahirkan buah dan menyemaikan benih sesuai dengan potensi dirinya dan bernilai guna bagi semesta kehidupan.

Kesadaran akan sebuah pribadi sebagai entitas budaya akan melahirkan pemikiran dan tindakan yang bersumber dari nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam lingkup budaya tersebut. Cara dan ciri yang tercermin dalam setiap produk budaya yang ditampilkan oleh setiap pribadi akan menjadi sebuah ciri atau identitas yang dapat menjadi daya saing dan daya tawar setiap bangsa di kancah internasional.

Sepenting apa kesadaran akan pengetahuan budaya ini? Sepenting sebuah pohon yang memiliki akar kuat di atas tanah yang menghidupinya, tak akan rubuh diterjang badai, subur makmur serta dapat mensejahterakan siapapun yang mengambil manfaat dari keberadaannya.

Kita bukan bangsa plastik, kita adalah belantara rimbun yang penuh dengan kebhinekaan, dimana setiap entitas pribadi sebagai pelaku dan pengemban budaya adalah hal penting yang memberi kehidupan kepada entitas lain. Saling menghidupi, saling memberdayakan, membangun kehidupan yang berbudaya, menjadi penjaga dan perawat kebudayaan serta menjadi pewaris identitas budaya yang kelak akan mewariskannya kepada generasi selanjutnya.

Kita bukan pohon plastik,
Kita adalah rimba di Nusantara.

Jakarta, 5 Oktober 2016
Salam Hari Raya Kebudayaan

TRIE ‘iie’ UTAMI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *