KUNGKUK, KAMPUNG DIATAS ANGIN

KUNGKUK, KAMPUNG DIATAS ANGIN :
Ajar Sejarah pada Duta Wisata & Budaya

dwi cahyono

“Kungkuk”, nama kampung wisata di Desa Punten Kec. Bumiaji KWB (Kota Wisata Batu) yang unik. Seunik posisinya, yang berada di lengkung punggung bukit diatas angin. Dari penghujung jalan kampung yang lumayan menanjak, sisi selatan, utara dan timur Kota Batu yang berlatar panorama Gunung Panderman di selatan dan Arjuno-Welirang di utara jelas terlihat dari ketinggian. Sementara Gunung X (Gunung Wukir), yang bagai sebuah tumpeng dibentangan tikar luas, sayup tampak nun jauh di timur.

Terhitung sejak hari ini (11 Mae 2016) hingga tiga hari kedepan, bertempat di Balai Dukuh dan menginap di tumah-rumah warga sepuluh pasang kandikat Kangmas-Nimas Batu menjalani Sesi Karantina. Mereka adalah para muda antusias, yang telah sukaes melampaui dua tahap penyaringan terdahulu, yakni seleksi dari 178 orang peserta menjadi 50 pasang, lalu 25 pasang, dan terakhir menjadi 10 pasang untuk disiapkan guna memasuki tahap final pada tanggal 14 Mei 2016 malam di Hall BO Kota Batu.

Saya berkesempatan untuk turut berkontribusi sebagai pemateri dengan topik “Kilas Sejarah Daerah Batu”. Walau sekilas (1,5 jam), mereka perlu diajak kenal terhadap sejarah lokal, sosio-budaya setempat dan lingkungan fisis-alamiah Batu yang khas. Ini penting, meningat kelak mereka adalah PR atau semacam “Jubir wisata, budaya dan panorama alam Batu”. Sebagai “corong” KWB dalam hal itu, saatnya pada Sesi Karantina “baterainya” musti di-charge, biar lantang dan tepat bicara sebagai PR.

Keberhasilan mereka dalam kegiatan ini susungguhnya tak sekedar dihitung dari jadi juara atau tidak. Namun juga dari seberapa banyak dan mendalam pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman yang mereka peroleh untuk mencerahkan diri selama proses pembelajaran sebelum memasuki sesi final-lomba.Orientasi semata pada produk mustilah diimbangi dengan pemberian porsi perhatian dan penghargaan terhadap proses.

Proses menuju final dan pelatihan pasca lomba adalah sama pentingnya dengan kejuaraan lomba itu sendiri. Tidak apalah tak bisa turut menjadi juara, asalkan dalam proses ini mendapatkan bekal hidup berharga dan pencerahan diri. Oleb karena itu, sesi-sesi pelatihan lanjutan perlu untuk disinambungkan pada pasca lomba, khususnya bagi 10 atau syukur bagi 25 besar pasang peserta Kangmas-Nimas.
Sayang alias “muspro” bila penjaringan kader-kader muda potensial itu tak ditindaklanjuti dengan pembinaan, jika tidak disertai dengan pengembangan, dan apabila tidak fungsikan secara proporsional lewat pendayagunaan. Apalah arti lomba atau pemilihan duta apapun jika tidak dikemas secara komprehensif dalam bentuk “pendidikan ke-duta-an”, karena bakal sekedar menjadi seremoni tahunan atau dwitahunan.

Senyampang di Kungkuk, maka Anes (Jnaneswari) yang senantiasa “nginthil” pun berkesempatan untuk dapat bercengkrama dengan angin, mengakrabi hutan pinus dan melihat dari dekat — walau tak faham — akan aneka tanaman budidaya perkebunan pada penghujung kampung yang memiliki view eksotis itu.

Sumonggo singgah dan syukur bila berkenan untuk bermalam di Kampung Wisata Pertanian Kungkuk.
Salam budaya.
Nuwun.

Dwi Cahyono

KR-Ploso, 11-5-2016




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *