MANTAP, BAHASA INDONESIA KINI JADI BAHASA ILMIAH INTERNASIONAL

Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan sekaligus membanggakan bagi kita Bangsa Indonesia.
Betapa tidak, Bahasa Indonesia kita mulai saat ini telah diakui sebagai bahasa ilmiah internasional. Ini
artinya, Bahasa Indonesia kita sejajar dengan Bahasa Inggris atau bahasa lain yang selama ini
dipergunakan dalam studi-studi ilmiah atau kajian-kajian akademik.

Kabar baik ini lahir melalui Deklarasi Forum Dewan Guru Besar Indonesia tentang Bahasa Indonesia
Sebagai Bahasa Ilmiah Internasional yang dinyatakan oleh para peserta Musyawarah Internasional dan
Seminar Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) IV pada hari ini (6 November 2019) di Universitas
Negeri Surabaya.

Musyawarah internasional itu sendiri dihadiri oleh 154 orang dari 31 delegasi Dewan Guru Besar dan
para pakar/praktisi internasional penggunaan Bahasa Indonesia di luar negeri.

Deklarasi ini muncul setelah melalui beberapa pertimbangan paparan dan hasil diskusi pleno bahwa:

1. Bahasa Indonesia telah memenuhi persyaratan sebagai bahasa internasional karena sampai
saat ini sudah diajarkan di 45 negara;

2. Memiliki kosa kata lebih dari 100.000 dan istilah keilmuan di pelbagai disiplin ilmu yang
mencukupi;

3. Jumlah penutur di Indonesia lebih dari 267.000.000 orang dan Bahasa Indonesia dipahami
dengan baik oleh jutaan orang di berbagai Negara, terutama Negara-negara ASEAN.

4. Bahasa Indonesia diproyeksikan akan menjadi bahasa pengantar dalam kegiatan
perekonomian penting sehingga dipelajari di berbagai Negara.

Dalam deklarasi itu para ilmuan yang menjadi peserta musyawarah bersepakat dan berjanji untuk
menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah internasional.

Deklarasi tersebut ditandatangani oleh beberapa perwakilan guru besar, antara lain: Prof. Kamaruddin
M. Said dari Malaysia, Endina Asri Widartama, BBA dari Singapura, Ass. Prof. Siriporn Maneechukate
dari Thailand, Prof. Mursalim dari Indonesia yang juga menjabat sebagai Ketua FDGBI, Frof. Koentjoro
sebagai Dewan Pakar FDGBI, dan Prof. Setya Yuwana dari Universitas Negeri Surabaya.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *