Memaknai Nilai Gotong Royong dalam Festival Kampung Bago

Memaknai Nilai Gotong Royong dalam Festival Kampung Bago

poster 2

Probolinggo JAPUNG(23/11) -Jaringan Kampung Nusantara bersama pemuda dari Kampung Bago, Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo menggagas untuk menyelenggarakan Festival Kampung Bago. Festival ini akan diselenggarakan pada tanggal 26 – 27 November 2016.

Pergerakan pemuda untuk merintis Festival di Kampung Bago ini dimotori oleh Fajar “Yayok”  Satrio bersama Lurah H Subagio Hadi Santoso. Perintisan kegiatan ini untuk menggali lagi budaya luhur setempat yang sarat dengan nilai-nilai gotong royong melalui media seni pertunjukan.

Festival Bago akan dimeriahkan oleh seniman dan budayawan tidak hanya dari Probolinggo, tapi juga dari Malang. Diantara pengisi acaranya adalah Prof. Dr. Maryaeni M.Pd bersama tim Rumah Musik Tradisi. Dwi Cahyono M.Hum, Redy Eko Prasetyo, Agus “AAK” Wayan , Gamelan Kyai Lemah Abang, Selametan Nyandek Ogem, Jeren Kencak, Hadrah Desa Bago, Winarto Ekram, Malang Dance, Rastalala dan Revolution.

Ir. H. Anung Widiarto, MM. selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo sangat mendukung dan mengapresiasi hadirnya Festival Kampung Bago yang lahir dari gagasan masyarakat dan hasil swadaya masyarakat. “Tahun ini memang kita belum bisa membantu banyak dari segi anggaran, InsyaAllah tahun depan dengan perencanaan yang matang bersama rekan-rekan seniman dan budayawan yang sekarang sudah mulai aktif membantu merancang Grand Design pengembangan seni budaya dan pariwisata di Kabupaten Probolinggo bisa mengintegrasikan beberapa stake holder seni budaya dan pariwisawa besama masyarakat dan bidang usaha yang terkait. Sehingga dampak positifnya dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat setempat.” Ucap Anung Widianto.

Sementara itu Redy Eko Prasetyo selaku Penggagas Jaringan Kampung Nusantara juga sangat mendukung hadirnya Festival Kampung Bago. “Jaringan Kampung Nusantara sangat mendukung munculnya festival-festival kampung yang secara independen dapat menyelenggarakan festival seni budaya. Ekspektasi dalam menyelenggaran festival ini tidak usah muluk-muluk, Flat saja. Yang penting adalah setiap kampung ini bisa memiliki hari raya kebudayaan sendiri-sendiri  yang bisa diramainkan setiap tahun.” Ucap Redy

Oleh: HERI MULYONO




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *