Merajut ingatan Indonesia sebuah refleksi oleh Melani Budianta

Dalam upacara pelantikan RW baru di kelurahan saya di wilayah Jakarta Selatan bulan Juni 2010, Pak Lurah salah melantunkan lagu Indonesia Raya.  Mungkin Pak Lurah tersebut demam panggung, sehingga lupa pada larik-larik lagu yang dinyanyikannya.  Kabarnya ia juga baru saja dilantik.  Insiden lupa pada lagu kebangsaan di atas membuat kita berpikir tentang bangunan yang kita sebut sebagai Indonesia – dan berbagai persoalan yang menggoyah landasannya dalam dekade kedua abad ke 21.

Bangunan Indonesia ada dalam dua tataran. Yang pertama adalah tataran Negara, dalam bentuk suatu pemerintahan yang berdaulat, yang mencakup suatu wilayah geopolitik yang disebut Indonesia.  Setelah berhasil merobohkan pemerintahan yang dianggap terlalu otoriter, dan melalui suatu proses demokratisasi yang mengaggumkan dunia, Indonesia memasuki fase ketika keberadaan Negara dipertanyakan.   Media massa membeberkan pembusukan yang menyusup dalam sendi-sendi pemerintahan melalui korupsi oleh pihak eksekutif, legislatif dan bahkan yudikatif.  Aktifis hak asazi manusia menggugat apa yang disebut pembiaran terhadap berbagai kasus kekerasan terhadap minoritas, konflik komunal dan kekerasan berbasis agama. Para pegiat sosial mempertanyakan kehadiran Negara dalam berbagai kasus yang melanda warga, dari persoalan TKI, kasus Lapindo, sampai pemiskinan akut di perkotaan dan pedesaan.

Bangunan kedua yang tidak terlihat tetapi menjadi landasan dari hidup bernegara adalah visi kebangsaan sebagaimana dihayati oleh warganya.  Visi itulah yang menggerakkan setiap warga Negara untuk membangun ruang bersama.  Berkat visi kebangsaan yang inkulusif dari para pendiri Republik,  penduduk yang tersebar di 13 000 pulau, berbicara dalam 700an bahasa, terdiri dari 300 lebih suku bangsa, dapat hidup berdampingan dalam sebuah rumah yang disebut Indonesia.  Persoalannya, apakah visi tentang rumah bersama yang inklusif itu masih kuat tertanam dalam keyakinan warganya?  Beberapa penelitian yang dilakukan oleh sejumlah LSM mengindikasikan menurunnya toleransi di kalangan masyarakat.  Ada responden yang tidak ingin bertetangga dengan orang berlainan agama. Bahkan guru-guru agama di sekolah mendukung kekerasan yang dilakukan atas nama agama dan moralitas. Mencuatnya kasus Negara Islam Indonesia (NII) di kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa dasar-dasar Negara yang sudah disepakati tidak lagi dihayati oleh seluruh warganya.

Apa yang dapat disumbangkan Ilmu Pengatahuan Budaya untuk mengatasi krisis multidimensi yang menggerus landasan bangun ke-Indonesiaan dalam dua tataran tersebut?  Kajian tradisi tulis, sejarah dan kajian budaya dapat menunjukkan kearifan lokal dan model  tata pemerintahan yang bersih di masa lampau maupun di masa kini. Kajian etika dan filsafat kenegaraan dapat diusung untuk menawarkan ketahanan mental.  Namun, sumbangan terbesar ilmu-ilmu pengetahuan budaya justru terletak dalam upaya memperkuat bangunan dalam tataran kedua –  yakni proses pembentukan visi bersama dalam rumah Indonesia.

Berbagai teori sosial telah menunjukkan bahwa kebersamaan dalam komunitas yang membentuk satu Negara Bangsa tidak terjadi begitu saja.  Selain ‘kecelakaan sejarah’ – dalam kasus Indonesia melalui pengalaman kolonial, Negara Bangsa membangun identitas bersama melalui berbagai proses.  Simbol-simbol kenegaraan, ideologi Negara,  adanya bahasa dan media komunikasi yang menyatukan, adalah beberapa bagian dari upaya ‘membayangkan’ – dan dengan demikian meneguhkan komitmen sebagai satu bangsa.  Teori konstruksi sosial tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Negara-Bangsa – yang dalam istilah Benedict Anderson merupakan komunitas yang dibayangkan – adalah ilusi, atau rekayasa sosial politik belaka.  Sebaliknya yang justru ditunjukkan adalah bahwa proses membangun kebersamaan dalam sebuah Negara Bangsa berlaku secara terus menerus.  Seperti dikatakan oleh Stuart Hall, identitas bersama adalah suatu proses ‘menjadi’ yang tidak pernah berhenti.

Proses menjadi Indonesia yang terus berlangsung sampai saat ini tidak bisa tidak ditopang oleh ingatan bersama sebagai satu bangsa. Kasus Pak Lurah yang lupa pada lagu kebangsaannya, menunjukkan betapa pentingnya merajut ingatan  Indonesia secara berkelanjutan.  Kasus NII di kalangan generasi muda menandakan bahwa jangan-jangan telah terjadi suatu keterputusan memori kolektif antara generasi terdahulu dan generasi penerusnya.  Esai reflektif ini ditujukan untuk mengerahkan berbagai kemungkinan untuk mengatasi ‘amnesia kolektif’ melalui proses-proses budaya. Secara khusus, esai ini akan mengangkat permasalahan ingatan bersama, yang bukan saja terbengkalai untuk dibangun, tetapi juga yang masih perlu deolah secara kritis untuk menyembuhkan luka-luka sejarah.

Untuk itu pertama-tama, esai ini akan memetakan posisi ingatan berbangsa  yang pada abad ke-21, ketika globalisasi, ketertinggalan dan ekses desentralisasi membelah kebersamaan di tanah air.  Bagaimana ingatan yang plural saling bersaing dalam ruang kebebasan berekspresi saat ini, dan bagaimana pertarungan itu perlu disikapi secara kritis meupakan bahasan selanjutnya.  Esai ini  membahas peran karya kreatif dalam mengisi ruang itu untuk membangun ingatan bersama.  Terakhir, kita akan memikirkan, ruang –ruang macam apa yang dibutuhkan untuk membangun ingatan bersama, serta bagaimana cara mewariskan ingatan bagi generasi cyber di masa datang.  Diharapkan sumbangan pikiran ini dapat ikut membangun rumah bersama yang lebih kokoh dan tidak lekang digerus oleh gejolak zaman.

 

Ingatan Indonesia di Abad ke-21: Konteks Global-Lokal

Kapan sajakah dalam 24 jam kehidupan sehari-hari kita berpikir tentang Indonesia? Berapa banyak penduduk Indonesia yang ingat dan sadar bahwa mereka merupakan pemilik negeri ini? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh. Pada kenyataannya kesadaran tentang Indonesia sebagai rumah bersama tidak serta-merta dapat diasumsikan dirasakan sama kuatnya oleh semua warganya.  Menurut data SP 2010 7% penduduk di Kalimantan Tengah tidak dapat berbahasa Indonesia.[1] Secara keseluruhan, dengan menghitung manula dan balita di seluruh Indonesia, diperkirakan jumlah itu dapat mencapai 40%. [2] Bagi warga yang terkucil di daerah pedalaman, misalnya di Papua, Indonesia mungkin datang dalam sosok pejabat – atau bahkan tentara, yang konotasinya berbeda-beda sesuai dengan pengalaman historis mereka.  Sebaliknya di kota-kota besar orientasi global yang ditunjang dengan gaya hidup kosmopolitan berikut akses internet, televise kabel, serta berbagai jejaring sosial membuat Indonesia tidak terlalu relevan dalam kehidupan sehari-hari sebagian generasi muda.

 

Kesenjangan yang disebutkan di atas, antara ketertinggalan mengakses Indonesia dan loncatan untuk mendunia, telah berlangsung sepanjang sejarah negeri ini.  Namun, perubahan pesat yang terjadi setelah reformasi 1998 telah membawa  tantangan-tantangan baru. Yang pertama, proses demokratisasi pesat terjadi sebagai respons terhadap pemerintahan otoriter yang memakai dasar-dasar kebangsaan dengan pendekatan indoktrinasi.  Kejenuhan terhadap kebijakan sentralistis dan pendekatan keamanan teritorial yang militeristis selama 3 dekade telah melahirkan kebutuhan desentralisasi kekuasaan dan pegurangan kontrol Negara dalam kehidupan warga.  Kebijakan desentralisasi yang diimplementasikan secara pesat sejak 2001 tanpa diiringi penguatan landasan bersama, membuat ‘haluan negara’ menjadi tidak jelas.  Berbagai penelitian yang diadakan oleh LSM menunjukkan terbitnya perda-perda yang bertentangan dengan konstitusi.  Sementara itu, pemulihan terhadap wacana penyeragaman di masa Orde Baru terekspresikan dalam pencaharian identitas kedaerahan, yang di beberapa daerah memunculkan ideologi putra-daerahisme, dan pengaggungan keaslian budaya.  Padahal kekuatan budaya Indonesia sepanjang usianya justru terletak pada sifatnya yang lintas budaya, cair dan terbuka.

 

Pergantian pemerintahan dalam putaran yang cepat, dan  kepemimpinan nasional yang lemah dan cenderung populis, membuat pemerintah kehilangan kredibilitasnya.   Muncullah wacana “absennya” atau tidak hadirnya Negara.         Pada saat yang sama, visi kebangsaan tenggelam dalam gejolak politik identitas dan kepentingan kelompok yang saling bersaing untuk memperebutkan kontrol atas kekuasaan politik maupun budaya.

 

Sementara itu kekuatan kapitalisme global semakin tak terbendung masuk ke pelosok negeri.  Tanpa adanya Negara yang kuat untuk melindungi warga yang masih tertinggal, kekuatan pasar  semakin memperkuat ketimpangan sosial. Resistensi terhadap ketimpangan akibat kapitalisme global yang dilihat sebagai kekuatan neo-liberal telah memunculkan reaksi balik yang memakai moralitas dan identitas agama sebagai perisainya.  Maka fundamentalisme ekonomi dan fundamentalisme agama saling bertaut sebagai kekuatan global yang ikut mengisi ruang-ruang publik dan privat di negeri ini.

 

Ingatan Indonesia macam apakah yang tersisa dalam pertarungan berbagai kepentingan global-lokal di abad ke-21?  Sejarah nasional yang tertoreh dalam buku-buku teks dan diwujudkan dalam wacana resmi bersaing dengan berbagai memori kolektif komunitas dan kelompok warga – yang di masa kritis selepas reformasi diwarnai oleh konflik antar kelompok.  Konflik Ambon, Poso, Kalimantan, Papua masih menyisakan trauma yang perlu masih memerlukan penyembuhan melalui ingatan baru yang merangkul semua dalam semangat keIndonesiaan yang diperbaharui.

 

Di masa lalu Indonesia telah membangun berbagai monumen, dan menghasilkan berbagai macam teks yang menampilkan visi ke-Indonesiaan yang sesuai masanya, seperti tugu dan Monumen Nasional, berbagai museum, film serta karya kreatif yang menampilkan perjuangan fisik maupun perjuangan menjadi Indonesia dalam arti yang luas.  Tetapi konteks Indonesia di masa kini dengan persoalan-persoalan abad ke-21 perlu mendapat reartikulasi yang kontekstual. Lagipula, sebagian monumen ingatan yang dibangun di masa Orde Baru, serta monumen-monumen perjuangan, cenderung membangun dikotomi hitam putih antara diri (self) dan Yang Liyan (Others) atau yang diliyankan.  Kekerasan dan kepahlawan dalam konsep militer menjadi nyaris satu-satunya cara yang ditonjolkan dalam narasi kepahlawanan.

 

Dikotomi antara pahlawan dan musuh menjadi bermasalah ketika dalam berbagai konflik komunal yang membelah negeri ini, yang bertumbukan adalah sesama bangsa Indonesia.  Model monumen ingatan yang dikotomis antara kawan dan lawan, bingkai naratif korban dan motif balas dendam, akan mepersulit proses penyembuhan luka historis masyarakat yang mengalami konflik seperti yang terjadi di Ambon, Poso, Kalimantan.  Demikian pula, generasi pasca reformasi – yang merupakan anak cucu mereka yang terbunuh dan membunuh di pergulatan ideologis di tahun 1965 dan konflik-konflik komunal di berbagai daerah, masih perlu mengalami suatu rekonsiliasi untuk berdamai dengan masa lalunya.

 

Menelisik Secara Kritis Ingatan Bersama

 

Sejak katup reformasi 1998 membuka proses demokratisasi, berbagai naratif tentang kebangsaan yang ditulis dari perspektif yang berbeda-beda mulai muncul dan bersaing di arena kebebasan berekspresi.  Versi buku putih tentang 30 September 1965 dan film Penghianatan G30S PKI yang selama 2 dekade diputar setiap tahun untuk anak-anak sekolah, kini bukan lagi satu-satunya kebenaran tentang apa yang terjadi di masa lalu.  Memoir para tapol 1965, menunjukkan betapa betapa banyak orang yang telah divonis sebagai penghianat bangsa dan mendapat stigma seumur hidup merupakan orang-orang kecil yang tidak tahu apa yang terjadi,  orang-orang yang mencintai tanah airnya sebagai seniman, guru, tentara –  yang menjadi korban gejolak zaman.

 

Dalam perkembangan selanjutnya, perbedaan visi para tokoh elite yang memberikan pembenaran posisi melalui narasi biografi masing-masing,  pertarungan ideologis antara kelompok fundamentalis dan liberal, membuat pertarungan ingatan menjadi  semakin ramai.  Berbeda dengan generasi di masa Orde Baru, yang diayomi dengan interpretasi tunggal yang dijaga melalui indoktrinasi dan sensor, generasi pasca reformasi memerlukan ketahanan dan sikap kritis untuk menyikapi berbagai perbedaan.  Konteks global dan transnasional membuat persaingan ingatan menjadi lebih kompleks. Justru ruang demokrasi yang hingar bingar seperti ini, menjadi peluang untuk menumbuhkan sebuah generasi tangguh yang tak mudah terindoktrinasi. Sebaliknya, tanpa  kemampuan untuk bertanya secara kritis, generasi muda menjadi  sasaran empuk iklan, larut dalam arus gaya hidup metropolitan, mudah terbujuk oleh  radikalisme, dan kekerasan.

 

JJ Rizal (akan terbit, 2011)[3] menekankan pentingnya sejarah  untuk mengetahui dari mana kita datang, mengapa kita sampai ke posisi saat ini, dan ke mana kita akan pergi, rangkaian pertanyaan yang relevan bagi generasi muda yang secara umum sedang dalam proses mencari jati diri.  Dalam hal ini, upaya menerbitkan kembali dan mengaktualisasikan kembali pikiran-pikiran para pendiri bangsa  merupakan suatu proyek yang penting untuk mewariskan ingatan Indonesia.  Ingatan akan masa lampau tersebut tidak akan berguna, jika sekedar dihapalkan atau diketahui.  Yang lebih penting adalah membuat sebanyak mungkin warga merasa memiliki ingatan bersama tersebut.  Internalisasi aktif hanya dapat terjadi ketika kita berdialog secara kritis dengan sumber-sumber ingatan masa lalu.  Kegiatan membaca dan memilih surat-surat Kartini untuk diekspresikan ulang sesuai konteks masa kini, misalnya, lebih berguna daripada acara berpakaian tradisional di Hari Kartini.

 

Proses membaca kembali pemikiran masa lalu perlu diimbangi dengan kemanpuan berpikir kritis. Melalui berbagai jalur pendidikan formal, informal dalam berbagai tataran, melalui penelitian, dan publikasi ilmiah, universitas perlu mempertajam kemampuan menelisik narasi-narasi kebangsaan. Melalui analisis wacana, misalnya, mahasiswa diajak mengkaji rlasi kuasa dan kepentingan yang terselip dibalik berbagai naratif tentang kehidupan yang ditawarkan.  Siapa yang mempunyai posisi untuk mengingat dan membayangkan masa depan bagi bangsa?  Dari perspektif mana naratif tentang masa lalu, masa kini dan masa depan dibangun?  Latar belakang apa yang membingkai naratif itu?  Naratif mana yang dianggap lebih absah dan lebih berterima?    Sebagai penduduk, misalnya, betapa sering kita tiba-tiba menyadari bahwa kota sudah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan impian kita, atau bahwa lingkungan asri yang menjadi sumber kehidupan di pedesaan tiba-tiba telah  berubah menjadi rentetan mal yang tidak kita perlukan.  Visi dan naratif masa depan siapakah yang telah menjadi blue print atau master plan?

 

Dengan kesadaran kritis diharapkan muncul kepekaan terhadap suara-suara yang selama ini tersisihkan dari visi kebangsaan yang dibangun. Kita pun menyadari bahwa di setiap narasi ingatan, selalu ada yang dipilih untuk diingat dan dilupakan.  Hal-hal apakah yang telah tersisihkan dari ingatan bersama?  Apa sajakah yang terseleksi untuk diingat?  Bagaimana ingatan itu dirangkai dan dimaknai?  Apa implikasi dari cara kita mengingat dan melupakan? Cerita-cerita apa yang selama ini menjadi acuan kita sebagai sebuah bangsa?

 

Apakah kita sudah mendengarkan kisah-kisah orang kecil?  Sadarkah kita bahwa pengetahuan yang diakumulasi bertahun-tahun oleh para petani yang menempati sebagian besar tanah air kita sangat penting untuk kita ingat dan kita wariskan?   Siapa yang mendengar dan mengingat kearifan lokal komunitas-komunitas tradisional yang akrab dengan alam?  Apakah kita memperhitungkan dan mendengarkan cerita para TKI dan TKW yang terancam oleh berbagai bahaya di manca Negara? Apakah cerita dan suara mereka dianggap penting?  Apakah kita belajar dari kisah warga dalam kehidupan sehari-hari di berbagai komunitas tentang solidaritas kemanusiaan, ketahanan dan kreatifitas mereka menjalin kebersamaan?

 

Kajian kritis juga membantu kita untuk dapat mengarifi, bukan untuk menghakimi, perbedaan apa yang selama ini telah memisahkan diri kita dari yang lain,  masa lalu apa yang menyatukan dan memisahkan kita? Bagaimana masa lalu yang melahirkan kita memberikan pemahaman atas identitas dan kekuatan kita sebagai bangsa? Dan yang lebih penting, masa depan bersama apa yang dapat kita bangun bersama sebagai satu bangsa?

 

Dengan mempertanyakan hal-hal mendasar di atas, kita mulai dapat menimbang ingatan Indonesia macam apa yang perlu kita bangun.  Apakah Indonesia yang kita ingat, sebenarnya hanyalah terbatas pada Jawa, atau bahkan Jakarta?  Apakah Indonesia yang kita bayangkan tersambung dengan Indonesia di wilayah Timur – yang selama ini telah banyak tertinggal? Bagaimana kita merajut berbagai kisah yang terlupakan dari tanah air dan mewariskannya kepada generasi mendatang? Visi Indonesia masa depan apakah yang ingin kita bangun? Apakah Indonesia yang kita bangun terbuka bagi interaksi global dan pada saat yang sama mempunyai karakter yang kuat dan tangguh? Apakah kita akan melupakan gambaran yang mulai hilang tentang Indonesia yang indah dan hijau menjadi membiarkan pulau-pulau  tenggelam akibat pemanasan global?  Bagaimana kita dapat menciptakan iklim demkoratis, dan siap berdialog  dan belajar mendengarkan perspektif dan visi yang beragam, agar kita dapat mengelola perbedaan dengan damai dan bijak?  Bagaimana kita berdamai dengan masa lalu yang penuh konflik, dan merajut solidaritas dalam keragaman?

 

Karya Kreatif sebagai Monumen Ingatan

 

Dalam novel yang memenangkan hadiah Nobel, Beloved, Toni Morrison menyuguhkan secara simbolik konsep re-membering, mengingat kembali masa lalu, yang diibaratkan dengan proses menjahit kembali anggota tubuh (member) yang telah terpotong-potong (dismembered) oleh sejarah perbudakan di Amerika Serikat. Melalui karya fiksi tersebut, trauma perbudakan yang menghantui tokoh budak perempuan Sethe – mewakili dan mewujudkan trauma masa lalu yang tertoreh dalam sejarah Amerika Serikat. Novel itu tidak secara hitam putih menyalahkan Negara atau orang kulit putih, atau Negara-negara bagian pendukung perbudakan. Yang muncul adalah suatu gambaran yang kompleks, yang menunjukkan bagaimana sistem kekerasan saling menjalin menggerus kemanusiaan.  Pada saat yang sama, novel itu tidak berhenti pada proses menangisi masa lalu.  Yang ditampilkan justru upaya mengngkat tokoh utama dari siklus kekerasan, kemarahan dan kebencian yang nyaris menghancurkan dirinya. Akhir novel menunjukkan bagaimana anggota komunitas bersama-sama “mengusir” hantu masa lalu dengan kebersamaan.  Novel Morrison dan berbagai teks yang menguak kekerasan kolektif dalam sejarah Amerika Serikat menawarkan upaya untuk berdamai dengan masa lalu.

 

Dalam konsep re-membering  yang ditawarkan oleh Morrison, terjadi interaksi antara yang pribadi dengan gerakan sosial untuk memberi makna baru yang menyembuhkan  pada masa lalu sebagai suatu strategi untuk hidup di masa kini dan sebagai suatu cara mewariskan pengetahuan dan kebijakan bagi generasi mendatang.  Konsep ini bukan sesuatu yang baru.   Contoh yang lain adalah inisatif para ibu di Eropa dan Amerika  — yang kemudian dilanjutkan oleh gerakan solidaritas AIDS – untuk merajut kain perca menjadi suatu karya seni.  Tiap potongan perca mewakili ingatan akan masa lalu – potongan pakaian anak-anak mereka di masa kecil, pakaian yang dipakai dalam momen-momen penting dalam sejarah keluarga, dan dalam kasus penderita AIDS, pakaian almarhum penderita.  Rangkaian ingatan itu dibingkai dengan pemaknaan yang baru, yang sifatnya meneguhkan dan merangkul. Ibu-ibu akan mewariskan selimut atau hiasan dinding kain perca itu kepada anak-anaknya sebagai warisan sejarah keluarga. Aktifis AIDS memakai rangkaian kain perca sebagai sarana mensosialisasikan dukungan luas bagai kepedulian terhadap penderita AIDS.

 

Dari dua contoh di atas, karya seni yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia dan karya ibu-ibu rumah tangga yang menjahit sobekan masa lalu di pojok sepi rumahnya, kita  melihat bagaimana ingatan bersama dijahit untuk kepentingan masa kini dan masa depan.  Dengan cara yang berbeda kain perca dan teks naratif membangun referensi bersama.  Potensi ini dimiliki berbagai produk budaya lainnya, dari seni yang mengartikulasi genre lama seperti tradisi oral dan budaya pertunjukan Nusantara, mitos dan legenda, sampai ke bentuk-bentuk yang modern seperti film, memoir dan biografi, program televisi, media massa, dan produk-produk multimedia melalui internet dan jejaring sosial.

 

Melalui berbagai wahana di atas, teks-teks kreatif tidak hanya merefleksikan kehidupan berbangsa dari masa ke masa, melainkan juga ikut berkontribusi pada pembangunan kebangsaan itu sendiri. Pertama-tama karya kreatif  merepresentasikan permasalahan yang dihadapi bangsa di masa lalu dan di masa kini. Dalam karya-karya tersebut Indonesia – dalam kompleksitas dan keragamannya –dibayangkan kembali untuk pembacanya, termasuk mimpi dan visi Indonesia dan sekaligus mimpi buruk yang pernah dan sedang dialaminya.  Seni kreatif berpotensi mengacu, mengaktualisasikan kembali dan menciptakan kembali mitos-mitos budaya, legenda, konsep budaya dan bahasa di wilayah Indonesia dalam dinamika global-lokal.  Melalui berbagai medium, verbal, visual, auditori dan kinestetik, seni dan industri kreatif embuka ruang untuk membangun hibriditas lintas budaya, termasuk dalam menyajikan isu-isu identitas budaya yang berpotensi menjangkau berbagai lapis audiens.

 

Beberapa karya kreatif yang mencuat di dekade pertama dan kedua abad ke-21 adalah novel Andrea Hirata  Laskar Pelangi dalam rangkaian trilogi yang difilmkan  (20   ) serta film Nia Zulkarnaen, Serdadu Kumbang (2011)  Karya di atas mewakili puluhan karya generasi muda lainnya yang menawarkan mimpi Indonesia dari perspektif berbeda dari wacana dominan.  Tema perjuangan anak-anak kelas bawah untuk menggapai mimpinya melalui ruang pendidikan yang membebaskan dalam kedua film tersebut mendapat respons positif dari audiens Indonesia  Munculnya generasi muda sineas Indonesia yang mengolah ke-Indonesiaan dalam konteks masa kini dengan perspektif yang berbeda juga telah menjadi sorotan ilmuwan manca negara.  Film-film karya sineas muda di abad ke-21 tidak lagi terjebak pada wacana nasionalisme sempit. Mereka menerjemahkan kelenturan hidup generasi muda urban dengan referensi global, dan pada saat yang sama mengangkat ke-Indonesiaan dalam keragamannya yang menjadi bagian kehidupan sehari-hari.  Ketika polemik pro dan anti-poligami membelah masyarakat sipil di Indonesia, film Berbagi Suami karya Nia Dinata mengangkat persoalan itu dari berbagai sisi tanpa menggurui maupun kehilangan perspektif yang kritis.  Novel Ben Sohib The Da Peci Code dengan jurus humor yang segar dan tajam mempersoalkan fundamentalisme dan kesempitan cara berpikir, dan sekaligus menunjukkan kompleksitas masyarakat Betawi di konteks abad ke-21. Melalui karya-karya kreatif ini kita melihat bagaimana generasi muda membangun monumen monument ingatan akan  Indonesia yang terbuka, multikultural, rileks tapi penuh percaya diri.

 

Justru di saat Indonesia dalam tataran pemerintahan digerogoti oleh berbagai kelemahan, geliat visi kebangsaan melalui karya kreatif generasi muda di abad ke-21 memberikan harapan. Meskipun demikian, perlu dicatat pula bahwa oasis budaya kreatif ini kecil jumlahnya dibandingkan dengan karya kreatif lain yang ikut arus dominan dalam ruang-publik yang semakin dipersempit oleh politik identitas dan  kegersangan wawasan budaya.  Bagaimana media massa disadarkan agar tidak memberikan corong bagi  heroisme kekerasan dan ideologi segregatif yang semakin menggerus kebersamaan, masih merupakan tantangan.

 

 

Menciptakan Ruang bagi Ingatan Bersama

 

Ketika segregasi sosial mulai terjadi, diperlukan kerja keras untuk memperluas dan  memperbanyak ruang-ruang publik untuk mengalami kebersamaan lintas budaya.  Seperti disebutkan sebelumnya, penelitian yang dilakukan berbagai LSM menunjukkan semakin banyak ruang publik yang diwarnai dengan identitas kelompok.   Selain perumahan mewah yang menjual pembedaan sosial dan eksklusifitas, bermunculan perumahan dengan identitas keagamaan, seperti perumahan Islami.   Sejarah kolonial menunjukkan bagaimana pemerintah Hindia Belanda melakukan kontrol atas populasi dengan cara menciptakan perkampungan berdasarkan kelompok etnis dan rasial.  Di abad ke-21, tanpa disuruh, masyarakat Indonesia telah melakukan segregasi sosial pada dirinya sendiri.  Lilawati Kurnia (akan terbit, 2011) menunjukkan melalui penelitiannya di Pasar Baru, bahwa segregasi ruang berdasarkan identitas kelompok lebih rentan menjadi sasaran dalam konflik komunal, daripada ruang publik yang memungkinkan interaksi lintas batas.  Pemisahan dalam ruang publik berdasarkan identitas kelompok juga menunjang penajaman stereotip antar kelompok.

 

Zeffry Alkatiri (akan terbit, 2011)  memimpikan ruang multikultural di dunia pendidikan, dari tingkat dasar sampai menengah atas.  Menurut Zeffry sekolah-negeri di masa lampau menjadi ruang ketika siswa belajar tentang keragaman secara langsung dari interaksi sosial dengan siswa dari latar belakang yang berbeda-beda.  Saat ini ruang multikultural itu digantikan dengan sekolah-sekolah dengan basis agama, atau sekolah-sekolah mahal yang bersifat eksklusif.  Tanpa ruang-ruang publik yang memungkinkan interaksi warga yang beragam terjadi, maka proses menjadi Indonesia dan proses mengingat Indonesia menjadi sangat terbatas.

 

Penggusuran tempat-tempat bersejarah, lapangan sepak bola, taman kota yang bisa diakses siapa saja membuat kontak antar warga menjadi berkurang. Pada saat yang sama mal-mal berebutan mengganti ruang warga yang terbuka menjadi ruang konsumsi.  Perubahan zaman memang tak pelak membawa perubahan tempat, aktivitas dan cara mengingat Indonesia.  Bagi generasi yang lahir di tahun 1950an seperti saya, berkemah bersama ratusan peserta jambore pramuka dari berbagai daerah, menyanyikan lagu-lagu daerah, menjelajah alam – adalah pengalaman tak ternilai untuk mengingat Indonesia dan mengalami kebersamaan.  Bagi generasi lainnya, pengalaman itu mungkin didapat ketika menonton film seri si Unyil.  Untuk generasi  yang turun ke jalan di waktu reformasi, gerakan menurunkan Suharto adalah momentum ke-Indonesiaan yang tak terlupakan.  Cakupan ruang yang dapat dipakai untuk menggerakan kesadaran berumah bersama, tidak lagi terbatas pada ruang fisik.  Bahkan untuk generasi abad ke-21, interaksi di  dunia maya dan jejaring sosial mungkin lebih intensif.

 

Cara mensosialisasikan keIndonesiaan pun tidak pelak lagi harus berubah sesuai perkembangan zaman.  Kesempatan mengekspresikan kegelisahan sosial melalui musik rap ala Indonesia dan mengisi graffiti di tembok kota lebih efektif ketimbang ceramah dan wejangan.  Cara indoktrinasi terbukti hanya efektif untuk membentuk manusia penurut yang ternyata justru rentan direkrut untuk menjadi ‘pengantin’ bom bunuh diri, dan korban penculikan oknum NII.  Generasi masa kini membutuhkan partisipasi aktif dan kebebasan berkreasi.  Di era ketika semua informasi dapat diakses melalui dunia maya, yang perlu dibangkitkan adalah kesempatan bagi generasi muda untuk memikirkan Indonesia dalam konteks kehidupan sehari-harinya yang paling riil, untuk mengolahnya secara kreatif dan kritis dengan bahasa dan cara mereka sendiri.  Upaya membuat blog dan kampanye virtual untuk mengumpulkan dukungan bagi warga Indonesia yang mengalami masalah, seperti kasus Prita, menunjukkan bagaimana warga mengubah kondisi yang kurang menyenangkan menjadi kesempatan untuk menggalakkan solidaritas sosial.

 

Yang penting dari kesemuanya adalah kesempatan bagi semua orang untuk berinteraksi dengan warga setanah air melampaui sekat-sekat kelompok.  Hanya dengan perluasan ruang-ruang bersama dan interaksi yang berkualitas, kita berharap mampu menumbuhkan nasionalisme yang luwes, terbuka, kosmoplitan dan berkemampuan tinggi untuk mengolah sumber daya budaya Indonesia.  Ketika Negara digerogoti oleh berbagai masalah sistemik dan menganggap kebudayaan hanya sebagai komoditi dan turisme, maka tantangan untuk merajut ingatan Indonesia berada di tangan semua warganya.  Anak-anak komunitas Tanoker di desa Jember, dibantu orang tua dan aktivis budaya, mulai membangkitkan kembali mainan tradisional.  Arsitektur dan aktivis filantrofi budaya menggerakkan perusahaan swasta untuk memanfaatkan dana CSR guna mendanai pembangunan kembali rumah-rumah adat di Wairebo, Flores, Nias dan Kalimantan, yang terancam punah dari ingatan.  Pegiat film dokumenter merambah pelosok Indonesia, tidak sekadar untuk merekam jejak-jejak masa lalu, tetapi untuk membagikan kamera dan mengajari anak-anak di pelosok untuk memotret masa kini untuk impian di masa depan.  Jika dihimpun, berbagai aktifitas warga untuk membangun Indonesia di atas akan mengalahkan suara sumbang Pak Lurah yang lupa lagu Indonesia Raya, akan melampau sekat-sekat radikalisme dan rasisme, dan akan mengerjakan sebagian PR Negara yang lupa pada janjinya.

 

Dengan mengerahkan semua daya untuk merajut Ingatan Indonesia dan mewariskannya pada generasi mendatang, kita menjamin bahwa  Indonesia seratus tahun ke depan, tidak  tinggal sekadar ingatan.

 

****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Data BPS 2010 memasukkan kemampuan berbahasa Indonesia dalam salah satu komponen yang didata. Hasil sensus belum diterbitkan, namun beberapa daerah telah mengeluarkan data sementara. Lihat catatan tentang hasil sensus di Kalimantan Tengah di

http://media.hariantabengan.com/index/detailpalangkarayaberitatext/id/2952SP%202010%20Tentukan%20Arah%20Pembangunan

[2] Wawancara dengan Multamia Lauder (19 Juni 2011).  Hasil UAN 2011 tingkat SLTA menunjukkan nilai rata-rata Bahasa Indonesia dengan pencapaian yang paling rendah.

[3] Baca gagasan JJ Rizal tentang proyek ‘Masup Jakarta’ dalam wawancara tokoh-tokoh Betawi, Zeffry Alkatiri, JJ Rizal dan Ben Sohib, “Not Like Eating Chilli: Constructing Cultural Space for the BEtawians” akan terbit dalam Inter-Asia Cultural Studies Journal, no……….




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *