MERAYAKAN KEBERAGAMAN DALAM BALUTAN KEMANUSIAAN

 

(Catatan #1 BUEN FESTIVAL II 2017)
Oleh: A. Bustanul Arif

Indonesia adalah negara yang kaya. Kaya akan sumber daya alam, keragaman suku, bahasa, agama, dan budaya. Kekayaan itu menjadi modal terbesar untuk meneguhkan eksistensinya sebagai bangsa yang besar, sebagai negara yang besar. Bukan hanya itu, nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap budaya menjadi elan vital yang mampu menggerakkan manusia di dalamnya untuk selalu berada dalam garis saling menjaga, melindungi, menghormati, dan menyayangi.

p

Nilai-nilai ini kemudian terkontaminasi oleh arus modernisasi yang mampu mengubah kultur masyarakat dan kecenderuungan individual. Urbanisasi, individualisme, budaya konsumen (konsumerisme), merangsek ke dalam relung kehidupan. Apalagi revolusi digital sebagai anak sah dari revolusi dot com telah mengubah tatanan hidup, kultur, mindset, orientasi, dan menggeser nilai-nilai yang harusnya tertanam di dalam diri setiap individu sebagai bagian dari entitas sosial dan budaya yang lebih besar.

Pergeseran inilah yang kemudian memotivasi kami untuk melakukan sebuah tindakan nyata, merajut kembali nilai-nilai yang tercecer, memungut kembali kebijaksanaan-kebijaksanaan lokal (local wisdom) yang terlupakan, juga merunut kembali tradisi-tradisi luhur nenek moyang yang selalu terhubung dengan keramahan lingkungan dan kedamaian dari energi alam.

Maka sebuah kesadaran harus dibangun. Sebuah pencerahan harus diupayakan. Dan sebuah tindakan harus diwujudkan. Semua hanya untuk satu tujuan: mengembalikan diri pada kesejatian, yakni kemanusiaan. Kita semua sama. Apapun latar belakang kita, apapun suku kita, apapun agama kita, bahkan apapun bangsa kita, kita terpatri dalam satu hakikat yang sama, bahwa kita adalah manusia. Maka sebagai sesama manusia kita harus saling memahami kebutuhan, kecenderungan, dan keinginan masing-masing.
Saat politik lebih cenderung mengobrak-abrik, saat agama lebih cenderung memantik bara, maka seni dan budaya menjadi satu-satunya kemungkinan untuk meluruhkan pertikaian, mendamaikan pertentagan dan merukunkan segala perbedaan.

Maka BUEN FESTIVAL II ini berupaya meneguhkan semangat kerukunan ini dengan membangun kesadaran bersama bahwa kita sama-sama manusia yang disatukan dalam satu bangsa, yakni Indonesia. Kita sadar bahwa kita berbeda. Namun perbedaan itu adalah keragaman yang harus disikapi sebagai kekayaan dan anugerah kebaikan. Maka sudah selayaknya itu semua dirayakan dengan semangat gelora kemanusiaan.

Bukan sebuah kebetulan jika di Desa Bangun Mulya, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, tempat diselenggarakannya BUEN FESTIVAL II, hidup rukun berbagai suku yang ada di Indonesia. Ada suku Paser, Dayak, Bugis, Toraja, Batak, Jawa, Madura, dan lain-lain yang hidup berdampingan dan saling menghargai satu sama lain. Penduduknya juga memeluk dua agama, Islam dan Kristen. Dan semua baik-baik saja.

Inilah realitas yang coba di-highlight oleh BUEN FESTIVAL II ini. Inilah semangat yang coba diartikulasikan melalui BUEN FESTIVAL II ini. Inilah pesan perdamaian dan kemanusiaan yang coba diresonansikan oleh BUEN FESTIVAL II ke seluruh penjuru negeri, bahkan ke seluruh dunia. Biar dunia tahu bahwa di belahan Indonesia, jauh di pedalaman Kalimantan, ada cinta yang didendangkan oleh sebuah kampung. Cinta yang mengajak siapa saja untuk saling menyapa. Cinta yang mengundang siapa saja untuk mengumbar rasa. Cinta yang melantun untuk merambah kesadaran akan nilai kemanusiaan dan sekaligus nilai kebangsaan yang harus kita jaga dan kita rawat dengan seksama. Karena itu semua adalah anugerah dari Sang Maha Kuasa.

Itulah kenapa di puncak acara dihadirkan tarian kolosal dari beberapa suku itu, diiringi gegap gempita musik dari masing-masing daerah dan digelar di jalanan, dekat dengan penonton (membaur bersama mereka). Di sepanjang 500 meter jalanan utama area festival, masing-masing suku berlari, menari bergantian, berkeliling sepanjang jalan. Lalu disusul dengan suku-suku yang lain. Puncaknya, mereka menari bersama-sama, berkeliling memutar, bergandengan tangan, diiringi juga dengan kibaran merah putih. Sebuah kemeriahan dari semangat persatuan dan kesatuan. Juga semangat kebangsaan.

Kaltim, 8 Agustus 2017

 

Foto by Ari PPU




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *