PARIWISATA SEBAGAI KAPITALIS

penyunting tulisan oleh Rakai Magelang ( Nugroho W )

Kapitalis menurut KBBI adalah  kaum bermodal; orang yang bermodal besar; golongan atau orang yang sangat kaya. Sedangkan dalam arti luas, Kapitalis adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.

Kapitalisme berasal dari kata kapital, yang berarti modal. Kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi dimana sektor industri perdagangan, dan alat-alat produksi dikontrol oleh pihak prival atau sektor swasta dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Pengertian Kapitalisme menurut para ahli :

Karl Marx

Kapitalisme adalah sebuah sistem dimana harga barang dan kebijakan pasar ditentukan oleh para pemilik modal untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Dalam sistem kapitalisme ini, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar demi keuntungan bersama, melainkan hanya untuk kepentingan-kepentingan pribadi.

Adam Smith

Kapitalisme adalah suatu sistem yang bisa mensejahterakan masyarakat apabila pemerintah tidak memiliki intervensi terhadap mekanisme dan kebijakan pasar. Di dalam kapitalisme pemerintah berperan hanya sebagai pengawas saja.

adapun pokok-pokok kapitalisme

  • Sebagian besar sarana produksi dan distribusi adalah milik individu
  • Modal diinvestasikan lagi dalam bentuk usaha untuk menghasilkan laba
  • Barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas sifatnya terbuka untuk siapapun.

Ciri-ciri Kapitalisme :

  1. Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi
  2. Pemilikan alat-alat produksi di tangan individu
  3. Inidividu bebas memilih pekerjaan/ usaha yang dipandang baik bagi dirinya.
  4. Perekonomian diatur oleh mekanisme pasar
  5. Pasar berfungsi memberikan “signal” kepada produsen dan konsumen dalam bentuk harga-harga.
  6. Campur tangan pemerintah diusahakan sekecil mungkin. “The Invisible Hand” yang mengatur perekonomian menjadi efisien.
  7. Motif yang menggerakkan perekonomian mencari laba
  8. Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri.
  9. Paham individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman Yunani Kuno (disebut hedonisme)

Pariwisata sebagai Kapitalis

Tidak dapat dipungkiri apabila pariwisata telah menyumbang banyak devisa bagi Negara ini. Dengan adanya perwakilan pemasaran pariwisata Indonesia di beberapa negara di luar negeri, pemasaran pariwisata Indonesia boleh dibilang cukup terbantu.Perwakilan pariwisata Indonesia di luar negeri yang bergerak di bawah Direktorat Promosi Pariwisata di Luar Negeri ini sejatinya cukup menyumbang secara signifikan  dalam grafik peningkatan kedatangan turis mancanegara ke Indonesia. Memang, peningkatan target wisman ke Indonesia bukan semata keluaran perwakilan ini. Yang terpenting adalah bagaimana pariwisata dapat dijual ke luar negeri namun bukan sekedar menjual. Kata menjual selalu berasosiasi dengan komersialisasi dan merupakan salah satu produk ekonomi kapitalisme. Pariwisata mengambil ruang komoditas besar dalam perekonomian Indonesia, karenanya sektor ini memainkan peran yang cukup besar dalam menambah pundi-pundi negeri ini.

Dengan adanya komersialisasi pariwisata inilah, muncul suatu gejala yang dinamakan Komodifikasi kebudayaan dalam teori Karl Marx ( Encyclopedia of Marxism). Kebudayaan mengalami komodifikasi di dalam industri pariwisata. Marx mengatakan bahwa “Komodifikasi berarti transformasi hubungan yang sebelumnya bersih dari perdagangan, menjadi hubungan komersial, hubungan pertukaran, membeli dan menjual.” Fenomena inilah yang akhirnya menjebak kebudayaan asli Indonesia yang dihadapkan dengan industri pariwisata Indonesia yang terus berkembang. Dengan keberhasilan pariwisata Indonesia, sebaliknya diharapkan agar  pemerintah meningkatkan kewaspadaannya tentang dampak buruk pariwisata Indonesia di beberapa destinasi wisata yang begitu masif menerima kedatangan turis, baik domestik maupun mancanegara.

Komodifikasi kebudayaan memang tidak bisa dilepaskan dari isu pariwisata. Dengan komodifikasi kebudayaan ini, sebuah bangsa menjadi memiliki semacam produk untuk dipamerkan dan  dijualkan kepada pembeli dari luar. Komodifikasi ini sejatinya harus memberi keuntungan bagi masyarakat pelaku kebudayaan tersebut. Komodifikasi harus dapat membangkitkan kembali budaya asli yang hampir punah dan tetap terus terjaga.

Pariwisata kini bak dua sisi koin yang saling bertolak belakang. Ia membawa keuntungan bagi  perekonomian daerah dan pusat, baik masyarakat maupun pemerintah, meningkatkan pamor negeri ini dengan tidak hanya mengandalkan relasi dan diplomasi luar negeri. Lebih dari itu semua, pariwisata meniupkan  ruh tersendiri bagi wilayah destinasi pariwisata.Secara filosofis, segala sesuatunya memiliki sisi positif dan negatif, tergantung bagaimana sisi rasional manusia menilainya. Sebenarnya sisi negatif dari pariwisata sudah teridentifikasi antara lain  :

Masalah Lingkungan Hidup

Kebanyakan kota-kota di Eropa, sebut saja misalnya kota-kota di Belanda, masalah lingkungan mendapat perhatian yang sangat serius. Hal ini dapat kita lihat dari manajemen pengelolaan sampah yang sangat profesional. Burung-burung hidup dengan aman, hidup berdampingan dengan manusia, telah menjadi pemandangan yang sangat mengagumkan di negeri tersebut. Hal ini dimungkinkan karena pemerintahnya yang sangat tegas, sehingga mengharuskan masyarakat disiplin terhadap lingkungan. Sementara di Indonesia masalah kemacetan dan polusi udara semakin menjadi-jadi. Patutlah kita contoh untuk pembuatan program mengatasi kerusakan lingkungan di Negara ini. Tidak satu pun kota yang memiliki idealisme agar terjebak pada masalah kemacetan dan polusi, termasuk di Indonesia. Sejalan dengan hal ini, sudahkah pemerintah memiliki perencanaan untuk mengatasi kemacetan transportasi dan polusi? Sangat langka kita dengar, padahal isu-isu dan prediksi telah lama disampaikan oleh para ahli transportasi, sementara masalah tersebut telah mulai terjadi. Pemerintah kurang memiliki respons untuk masalah ini, jika pun ada perencanaan tentang program ini, biasa hanya manis di atas kertas namun buruk pada pelaksanaan karena kurangnya ketegasan dan akhirnya menyebabkan lemahnya disiplin masyarakat. Program pembangunan dibuat berdasarkan selera siapa yang menjadi pemimpin bukan menjadi rahasia lagi dan pastilah program semacam ini sangat diragukan keberlanjutannya.

Hilangnya jalur hijau serta pertumbuhan daerah ”urban” yang berkembang bagaikan amuba sungguh akan memperparah masalah lingkungan ke depan. Konservasi dan proteksi terhadap lahan-lahan produktif untuk pertanian sangat perlu dilakukan, tidak mudah untuk melakukan alih fungsi lahan, jikalapun ada sabaiknya diarahkan untuk memberdayakan masyarakat lokal, dan tidak mudah meniru pola pembangunan yang telanjur kapitalistik. Rerimbunan hutan nan hijau kini telah beralih fungsi menjadi perhotelan,penginapan,bangunan pendukung sektor pariwisata  seiring berkembangnya industri pariwisata

Ironi Kerusakan Tatanan Sosial dan Budaya

Ketika Masyarakat mulai terpinggirkan secara ekonomi dan geografis, pada saat itulah kita sebenarnya telah mengalami kerusakan tatanan sosial dan budaya. Masyarakat sangat mudah menjual tanah-tanah mereka karena tergiur mahalnya harga tanah juga telah mempercepat hancurnya tatanan sosial dan budaya Masyarakat Indonesia. Selain itu, dengan berkembangnya Pariwisata, secara tidak langsung juga sudah merubah tatanan hidup masyarakat itu sendiri, dimana hampir semua masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi pariwisata bergantung terhadap adanya wisatawan.

Merembahnya konsep desa wisata secara tidak langsung turut andil dalam membantu masyarakat kedalam jurang kehancuran. Dimana seharusnya masyarakat tetaplah menjadi masyarakat biasa akan tetapi dipaksa secara instan untuk berubah demi kepentingan komersil. Pengembangan desa wisata yang dilakukan pemerintah selama ini hanya pasang label semata, tanpa disertai upaya identifikasi kekhasan desa dan keunggulan desa yang dikembangkan sebagai desa wisata. Wajah desa makin cantik karena pemerintah begitu murah hati memberikan bantuan pengembangan fisik dusun dan penataannya.

Tapi, ada aspek lain yang justru berbahaya bagi eksistensi aset wisata budaya di desa wisata itu. Aspek yang berbahaya itu adalah masuk dan makin meresapnya budaya kapitalistik di desa itu. Kini, warga dusun saya itu selalu berhitung untung-rugi, selalu berhitung berapa rupiah keuntungan yang akan diperoleh ketika ada tamu yang menginap di homestay.

Memang aspek ini belum kentara dan belum menjadi budaya dan diharapkan jangan sampai demikian, tapi logika ini jika dibiarkan berkembang akan sangat berbahaya bagi kebudayaan asli

Masyarakat telah berubah menjadi masyarakat konsumer menjadi indikator kelemahan kita menghadapi proses modernisasi dan globalisasi yang dibonceng oleh kemajuan sektor pariwisata. Para generasi muda Indonesia yang sangat mudah terpengaruh muatan negatif modernisasi yang dibawa oleh kemajuan pariwisata juga telah mencirikan hilangnya idealisme pembangunan pariwisata. Kafe remang-remang yang bertumbuh dan bertebaran juga memberikan gambaran bahwa kita belum dewasa untuk menentukan diri kita sendiri.

Ketika semua aspek kehidupan diserahkan pada mekanisme pasar, sebenarnya kita telah rela menjadi budak-budak globalisasi yang amat jauh dari idealisme pembangunan. Mestinya pembangunan pariwisata di Indonesia dikelola di bawah lima aspek: keadilan, efektivitas, efisiensi, kredibilitas, dan integrasi. Pembangunan yang adil adalah pembangunan untuk semua orang. Pembangunan yang efektif adalah yang mampu meminimalkan dampak negatif dan menghasilkan hal positif. Pembangunan yang efisien adalah yang mampu menjangkau masyarakat miskin sekalipun. Pembangunan kredibel adalah yang bertanggung jawab dan benar-benar dibutuhkan untuk bangsa ini, bukan ditentukan oleh kepentingan para investor saja.

Pembangunan yang terintegrasi adalah pembangunan yang tersistem dan memiliki keterkaitan linked system dengan sektor lainnya sehingga memiliki dampak pengganda bagi sektor lainnya untuk berkembang, bukan mematikan sektor yang telah ada.

Ketika kapitalisme telah mendominasi negeri ini, ketika kreativitas seni berubah ke arah komersialisasi, ketika masyarakat tidak merasa hidup dan tinggal di kampung lagi, pada saat itulah kita sebenarnya telah kehilangan idealisme pembangunan. Ketika para buruh bekerja pada hotel bertaraf internasional namun harus puas dengan standar gaji lokal, ketika para perajin harus bekerja sebagai buruh tidak lagi sebagai seniman, ketika para pemahat dan pelukis bekerja bukan atas inspirasi dari jiwanya, ketika petani tidak memiliki lahan pertanian karena beralih fungsi menjadi area penginapan (Hotel, Homestay, Losmen,dll) maka pada saat itu juga Masyarakat sedang berada pada ujung kehancuran identitasnya.

Sebagai bangsa yang ingin tetap melestarikan kebudayaannya di tengah segala arus modernisasi dan alienasi kebudayaan-kebudayaan asing, setiap warga negara harus memiliki pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya kebudayaan dan tradisi. Budaya bangsa adalah inventaris bangsa yang nantinya juga akan dibanggakan oleh anak cucu keturunan kita. Bangsa yang baik adalah selain tak pernah melupakan sejarahnya, juga selalu menjaga kebudayaan aslinya dan tidak akan pernah menjual kebudayaan tersebut. Lestarikan kebudayaan kita untuk kita dan keturunan kita sendiri, karena kitalah yang memiliki dan bertanggung jawab atas kebudayaan tersebut

Seharusnya dengan adanya pariwisata tidaklah harus merubah lingkungan, budaya dan tatanan hidup masyarakat. Alangkah baiknya apabila kita beranggapan bahwa datangnya wisatawan hanyalah sebuah BONUS semata sehingga tidak merubah struktur yang ada.

 

Daftar Pustaka

 

Anonim. 2017. Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. Kbbi.web.id. diakses pada tanggal 20 Agustus 2017, pukul 19.42 Wib. Yogyakarta.

Anam, Munir Che. 2008. Muhammad Saw dan Karl Marx Tentang Masyarakat Tanpa Kelas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Bottomore, Tom (ed.), 2001, A Dictionary of Marxist Thought, Oxford: Blackwell Publishers Ltd.

Blunden, Andy (ed). 2008. Encyclopedia of Marxim

 

Hinch, T.Butler, R. 1996. Tourism and indigenous peoples. 1996 pp.3-19 Faculty of Physical Education and Recreation, Univeristy of Alberta, Edmonton, Alberta, Canada.

 

Magnis-Suseno, Franz. 2001. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta, Gramedia

Meekaew, N., & Srisontisuk, S. 2012. Chiangkhan: Cultural commodification for tourism and its impact on local community. International Proceedings of Economics Development and Research, Volume 42, 34-37.

Shepherd, R. 2002. Commodification, Culture, and Tourism. Volume 2(2), 183-201.

Artikel Online

Cyber, Komunikasi. 2014. KOMODIFIKASI http://bl03cyber.blogspot.co.id/2014/12/komodifikasi.html (diakses 20 Agustus 2017 Pukul 18:40 WIB).

Kurniansah, Rizal . 2015. Kapitalisasi Lingkungan Dan Komodifikasi Kebudayaan Dalam Pengembangan Pariwisata Di Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat  https://rizalmpar.blogspot.co.id/2015/03/kapitalisasi-lingkungan-dan.html (diakses 21 Agustus 2017 Pukul 20:50 WIB).

Pangalih, Sae,. 2013.  KAPITALISME BUDAYA DAN SENI, http://saeitubaik.blogspot.co.id/2013/10/kapitalisme-budaya-dan-seni.html (diakses 22 Agustus 2017 Pukul 21:37WIB).

Prasetyo, Ichwan. 2012.  Desa Wisata, Ancaman Kapitalisme http://www.kompasiana.com/ichwan.prasetyo/desa-wisata-ancaman-kapitalisme_550d5676a33311e11a2e3a82 (diakses 22 Agustus 2017 Pukul 19:20 WIB).

 

 

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *