PERHELATAN BUDAYA KAMPUNG MUARA KAMAN : Memberdaya Budaya Kutai Pada Titik Mula (Fajar Sejarah Nusantara)

JAPUNG Nusantara edisi Kutai

PERHELATAN BUDAYA KAMPUNG MUARA KAMAN : Memberdaya Budaya Kutai Pada Titik Mula (Fajar Sejarah Nusantara)

Oleh : M. Dwi Cahyono

muara kaman 2

JAPUNG Nusantara tanggal 30 Agustus 2016 sengaja dihelat di Kampung Muara Kaman Kab. Kutai Kartanegara pada sub-DAS Tengah Mahakam. Tepatnya pada areal pertemuan (muara) Sungai Mahakam dan Kedang Rantau. Tentu, bukan tanpa pertimbangan untuk memempatkan ‘Perhelatan (Festival) Budaya Kampung’ dalam kerangka ‘JAPUNG Nusantara edisi Kutai’ ini di Muara Kaman. Pertama, secara historika-kultura Muara Kaman adalah ‘Mula Budaya’.

Muara Kaman bukan hanya merupakan ‘titik pangkal sejarah-budaya kemonarkhian’ di antero Kutairaya, namun sekaligus suatu lokasi padamana ‘Fajar Sejarah Nusantara Bermula’. Pada Muara Kaman itu jugalah ‘perabadan sungai-sungai besar purba’ di Mandala Tanjungnagara (Kalimantan) awal perlihatkan sosoknnya yang lebih terstruktur. Di Muara Ksman inilah sistem pemerintahan beberbetuk “nagara” atau “karajyan” pengaruh Budaya India perdana hadir di Nusantara.

muara kaman 3Sejauh temuan sumber data tekstual yang berhasil didapat, diperoleh petunjuk bahwa budaya tulis (literal) Nusantara ‘berwaktu mula’ pada penemuan tujuh prasasti yang disuratkan pada tugu batu (yupa) di areal Muara Kaman, tepatnya di situs Banua Lawas. Tarikh relatif (relative dating) berdasarkan tipe aksara (paleografi) pada ketujuh prasasti itu acap dikronologikan pada sekitar abad ke-4 Masehi, semasa pemeritahan Mulavarmman, yakni raja kedua diantara tiga raja yang disebut-sebut di dalam Prasasti Yupa.

Kendati demikian, bukan berarti bahwa proses budaya di Muara Kama baru berawal pada abad ke-4, karena data geranah pada beberapa situs kubur perlihatkan transisi budaya dari Akhir Jaman Prasejarah ke Awal Masa Hindu-Buddha. Bahkan apabila menilik adanya temuan arca perunggu di situs Kota Bangun, kecamatan tetangga Muara Kaman, yang mempersonifikasikan Dhyani Buddha dengan tarikh relatif abad ke-2 Masehi, tergambar bahwa pengaruh kebudayaan India telah menjangkai areal di sub-DAS Tengah Mahakam setidaknya dua abad sebelum berdirinya Kerajaan Kutai di Mauara Kaman. Potensi alam, utamanya emas, minyak — Prasasti Yupa menyebut adanya ‘minyak kental’, dan gaharu nampaknya menjadi picu bagi pelaut India untuk mengarungi samodra dann menyusur ke pedalaman Mahakam untuk mendapatkan komuditas itu, yang pada awal tarikh Masehi banyak dibutuhkan di Asia Daratan hingga Eropa.

Susastra ‘Salasilah Koetai’ menyebut kerajaan ini dengan ‘Kutai Martapura’ – warga setempat juga menamai ‘Kutai Martadipura’, yang bukan berakhir pasca pemerintahan Aswavarmman (salah seorang putra dari Mulavarmman), melainkan berlanjut hingga maharaja Kutai di Muara Kaman bernama Dharma Setia berhasil dikalahkan oleh Sultan Kutai Kartanegara bernama Aji Pangeran Sinum Panji Mandapa pada abad ke-16 Masehi.

Gambaran demikian terdukung oleh data keramik di Muara Kaman yang berasal dari abad ke-9 hingga 19 Masehi. Penguasaan Kutai Kartanegara atas Muara Kaman untuk untuk memperoleh hegemoni tunggal atas DAS Mahakam menjadi momentum alih budaya dari Hindu-Buddha ke Islam di areal yang memiliki geo-strategis ini. Jejak budaya Islam pada Periode Awal Perkembangan Islam didapati di Muara Kaman, baik di situs Banua Lawas ataupun Nusa Martapura.

muara kaman 1Demikianlah, Muara Kaman adalah kawasan historis-arkeologis lintas masa, yakni semenjak Jaman Peasejarah hingga kini. Bahkan, ketika Masa Pertahankan Kemerdekaan RI (1945-1948), kembali Muara Kaman memberi kontribusi historisnya sebagai medan perjuangan (palagan) mempertahankan Kemerdekaan RI pada Desember 1947 yang dipimpin oleh Muso bin Salim. Muara Kaman dengan demikian cukup alasan untuk dinyatakan sebagai ‘daerah yang menyejarah’. Suatu tempat padamana sejumlah mementum historis berangsung. Beragam anasir budaya telah dan tengah tumbuh dan berkembang disini. Ada yang berkelanjutan lintas masa dalam bentuk tradisi budaya, namun tidak sedikit yang nyaris punah sebagai tinggalan historis-arkeologis.

Kedua, Muara Kaman berada pada ‘titik geo-strategis’ interelasi antar daerah dalam kawasan Kutairaya – lewat ‘urat-nadi transportasi air (sungai)’. Dikatakan demikian, karena ‘kampung (banua) purba’ ini menempati percabangan Mahakam, yang sekarang menghubungkan Kutai Kartanegara (Kukar) dengan Kutai Barat (Kubar) dan Kutai Timur (Kutim). Pelaksanaannya di DAS Mahakam tersebut menjadikan Perhelatan Budaya Kampung (PerDaPung) di Muara Kaman sebagai salah sebuah butir mutiara dari ‘Untaian Mutiara Peradaban Mahakam’, yang merangkaikan lintas daerah sepanjang aliran Mahakam berserta anak-anak sungainya. Agenda budaya akbar tahunan “Erau’ pada sentra daerah di Tenggarong, dengan cara demikian bakal menjadi titik kulminasi sejumlah agenda budaya yang lebih mikro dalam rangkaian ‘Festival Budaya Mahakam’ pada waktu-waktu yang berlainan dan di tempat-tempat yang berbeda bagi sejumlah desa (kampung) pada sepanjang DAS Hulu-Hilir Mahakam.

Pada kenyataan lain, Muara Kaman yang mempunyai khasanah budaya lintas masa serta berada pada areal yang memiliki geo-strategis itu kini nyaris berada dalam kerawanan kutural maupun ekologis. Antara akhir tahun 1990an hingga awal tahun 2000an terjadi ‘petaka arkeologis’ oleh terjadinya banyak penggalian liar. Demikian pula lingkungan fisis-alamiah sekitarnya tak luput dari eksploitasi hutan, penambangan mineral dan perluasan lahan kelapa sawit, yang langsung atau tidak langsung dampaknya terpapar pada jejak historis-arkeologis dan tradisi budaya lokal setempat.

Oleh karena itu, pelestarian budaya Kutai di Muara Kaman seyogianya dilaksanakan seiring atau simultan dengan konservasi lingkungan fisis-alamiah sekitarnya melalui gerakan budaya untuk ‘Merevitalisasikan Eko-Budaya Kutai’. Riset dan konservasi historis-arkeologi di areal Muara Kaman yang dirintis tahun 2005-2009 dan turut ‘membidani’ hadirnya Museum Situs perlu ditindaklanjuti dengan pelestarian lingkungan fisis-alamiah maupun pemberdayaan budaya lokal yang khas (unik), menarik dan memiliki akar sejarah tersebut. Festival Budaya Kampung Muara Kaman 2016 ini merupakan pintu pembuka ke arah Revitalisasi Eko-Budaya Muara Kaman dalam kerangka ‘Revitalisasi Semesta Budaya Kutai’.

Sehari lebih, yaitu tanggal 29 Agustus malam sampai dengan tanggal 30 Agustus pagi hingga malam dihelat serangkaian acara, yaitu: (a) Jagongan Eko-Budaya Kampung, (b) Jelajah Situs, (b) Talk Show ‘Prospeksi Revitalisasi Semesta Budaya Kutai’, (d) Performing Art. Perhelatan eko-budaya ini di bingkai ke dalam ‘Festival Budaya Kampung Muara Kaman’ sebagai wujud revitalisasi budaya lewat wahana ‘JAPUNG Nusantara edisi Kutai’. Diharapkan ikhtiar budaya dan lingkungan yang disungsung oleh lintas pihak di dalam dan luar daerah Kutai Kartanegara ini menjadi awal keberangkatan yang baik untuk ‘Memberdaya Budaya Kutai pada Titik Mula’, yang bukan hanya ‘sekali berarti setelah itu mati’, namun berkelanjutan hingga ke tahun-tahun berikutnya.

Semoga membuahkan makna.
Salam bijak budaya, ‘Kutaijayati’.

Sengkaling-Kab Malang, 26 Agustus 2016.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *