PIJAT TUBUH MANUAL, ANTARA KESEHATAN DAN KENIKMATAN : Ungkapan Visual pada Relief Candi dan Susastra Lama

Pijet yuuuuuuk !

PIJAT TUBUH MANUAL, ANTARA KESEHATAN DAN KENIKMATAN : Ungkapan Visual pada Relief Candi dan Susastra Lama

Oleh : M. Dwi Cahyono

Tukang Pijet
Kecrak kecrek turut pinggir dalan gede
Wis adate tukang pijet golek gawe
Kecrak kecrek sopo sing kroso boyoâ
Wis jamaâ dicelukke pijet wae

Ngendi wae wis carane ojo diece
Yen beneran awak lungkrah biso sumiyah
Boyok pegel awak kesel di ingel ingel
Yen ra ngandel ojo mangkel mundak kogel

Ngendi wae wis carane ojo diece
Yen beneran awak lungkrah biso sumiyah
Roso meri wong saiki akeh sing lali
Jare gengsi jebul mikirke sing siji

Kecrak kecrek tukang pijet masa kini
Sing dipijet bukan kayu bukan besi
Kecrak kecrek tukang pijet kelas tinggi
Lembut hati bubar mijet nyiwel pipi

(Syair lagu “Tukang Pijet”, penyanyi : Wadjinah)

A. Pijat sebagai Saranan Relaksasi dan Kesehatan

Pijat, pijit atau urut (massage) adalah istilah umum untuk kegiatan memberi tekanan pada anggota tubuh terutama kulit, otot, dan urat dengan teknik tertentu. Kata “pijat” atau “pijit” dalam bahasa Indonesia dalam arti : mengurut bagian tubuh untuk melemaskan otot sehingga peredaran darah kancar (KBBI, 2002:872), kerapatan pula dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan dengan penulisan “pijet”. Secara harafiah, kara “ijet” atau kata hadiannya “anijet, pinijet, amijeti, pinijetan” berarti: memijit, memencet, meremas, melumatkan, mengurut, atau memijat (Zoetmulder, 1995: 817). Istilah ini dijumpai dalam pustaka kakawin Arjunawiwaha (2 5), Bharatayuddha (5.6), Smaradahana (22.7, 26.8), Sumanasantaka (101.1), kitab Tantupamggelaran (78), Kirung Malat (8 71) dan Tantru Demung (1 23).

Terapi pijat dapat menjadi sarana relaksasi yang tepat dalam melepas kepenatan. Selain itu, pijat dapat meredakan gejala penyakit tertentu dan memberi kenikmatan. Pijat bisa juga menjadi suatu metode penyembuhan atau terapi kesehatan tradisional, yang dilakukan memberikan tekanan kepada tubuh, baik secara terstruktur, tak terstruktur, menetap atau berpindah tempat – dengan memberikan tekanan, gerakan, atau getaran. Pemijatan bisa dilakukan secara manual atau menggunakan alat mekanis. Pijat biasanya dilakukab dengan menggunakan tangan, jemari, sikut, lengan, kaki, atau alat pemijat. Tindakan ini memberikan relaksasi, rasa nyaman, dan kebugaran. Pada beberapa kasus, pijat dapat digolongkan sebagai tindakan medis terapi penyembuhan, namun bisa juga sebagai terapi kesehatan yang bersifat rekreasional, bahkan bersifat seksual (pijat erotis). Pijat dapat dilakukan tanpa atau dengan minyak pelumas untuk memberi efek licin dan hangat.

Pijat dapat dikakan untuk kepentingan relaksasi, rasa nyaman, rejreasional, ataupun seksual. Untuk yang terakhir, teknik foreplay yang kreatif brrupa pijatan sensual dapat membuat orang lebih rileks usai melewati hari kerja yang melelahkan, sekaligus bisa merangsang titik-titik sensitif yang akan menyalakan gairah. Pijat ini merupakan perlakuan kasih sayang lewat komunikasi dan sentuhan, yang bisa mengubah keadaan emosional seseorang. Memijat bisa memberi efek yang luar biasa positif terhadap ikatan emosional untuk pertahankan keadaan mental orang dewasa. Pada tubuh pria dan wanita, terdapat titik-titik sensitif yang dapat meningkatkan gairah seksual atau bahkan memicu orgasme jika disentuh dengan cara tertentu. Bagian-bagian itu menyebar di seluruh tubuh. Tiap orang memiliki zona sensitif yang berbeda. Secara umum ada di punggung, leher, telapak tangan, payudara, bokong dan paha. Massage bisa dilakukan dengan menekan, meremas, membelai atau menggosok, sama halnya dengan teknik pijat pada umumnya. Teknik menekan dapat membantu mengurangi ketegangan pada otot atau bagian tubuh yang diberi pijatan. Namun, tidak semua teknik pijatan bisa diaplikasikan pada setiap bagian tubuh. Beberapa zona sensitif di area tubuh tertentu memerlukan pijatan yang lebih ringan dan lembut.

B. Ungkapan Pijat pada Data Masa Lampau

Dalam sumber data masa lalu, tergambar adanya bagian tubuh tertentu yang mendapat pemijatan. Kakawin Arjunawiwaha (2 5) menyebut pemijatan pada betis (amijet wetus). Adapin kitab Tabtri Demung (1.23) menyebut pemijatan pada kaki (pinijetan suku). Bahkan, kajawin Sunansantaka menyebut pijitan pada susu (amijet-mijet susu). Orgab tubuh yang dipijat bisa saja bagian kepala, yang dalam bahasa Jawa Baru diistilahi dengan “meteki, dipeteki, petekan (kata dasar “petek”). Dalan bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengah, kata “petek” antara lain memuay arti : menekan (Zoetmulder, 1995:812), yang dalam konteks “meteki sirah” menjukuk kepada penekanan dengan teknik utut organ kepala. Pada relief certa “Mahajarnawibhanga” dijumpat adegan perawatan tubuh (bahasa Jawa Baru “ngadi saliro”), yang antara lain dilakukan dengan pemijatan kepalki.

Bagian tubuh lain yang acap menjadi sasaran pemijatan adalah punggung dan perut. Malahan, pijat perut (dalan istilah medis “palpasi”) secara khusus bisa diberikan kepada wanita hamil, sebagaimana musik dijumpai visualisasinya pada reluef cerita “Ramayana” di pagar langkan sisi dalam Candi Prambaban srbagai utaya untuk membantu dan menolong kelahiran. Pijat perut pada wanita hamil acap pula dilakukan untuk menata posisi bayi dalam kandungan. Pijat perut tradisional konon dilakulan terhadap wanita pasca melahirkan, yang dalam bahasa Jawa Baru disebut “malik dadah”.Selain itu, ada pula pijat khusus yang diberikan kepada bayi, yang sesuai dengan kegiatannya dinamai “pijet bayi”.

Pelaku pijat bisa perempuan, bisa juga laki-laki. Tukan pijat perempuan lebih banyak jumpahnya ketimbang pria. Ada sebutan “dukun” yang dipadu debgan kata “pijat, pijet” menjadi “dukun pijet”, yang menunjuk kepada orang yang memijat (pemijat), atau semajam “juru pjet” pada sebutan kuno. Namun, tidak semua kegiatan peminjatan dilakulan oleh pemijat yang telatih khusus (dukun pijet, juru pijjet, tukan pijet) namun bisa juga oleh siapa saja, misal istri kepada suami, anak kepada orang tua, teman kepada teman lainnya, dsb. Bisa juga pijat dilakukan secara bergantian, sehingga terdapat sebutan “pijet-pijetan (istilah arkhais “pinijeten”). Bahkan, parnah ada kegiatan saking pijat pundak sejumlah orang yang duduk berderat melingkar.

Pemijatan tak tertutup kemungkinan dilakukan sebagai ekspresi kasih sayang, seperti ustri terhadap suami, atau anak terhadap orang tua, abdi terhadap tuannya, dan bisa jadi oleh orang tua mepada anqk kecilnya Oadaar langkan teras ke-2 di Candi borobudur terdapat sebyah panil relief yang secara helas memperlihatkan pemijatan lembut dan penuh kasih yang dilakukan oleh seorang wanita muda kepada seorang pria. Obyek terpijat dalam posisi berbaring agak miring Kepalanya disangga dengan tangan kanan, asapun kakinya ditumpangkan di paha perempuan pemijat yang dyduk bersimpuh. Pemijatan diarahkan ke bagian paha kiri dan pinggang. Tergambar bahwa terpijat amat menikmati kenyamanan pemijatannya. Pemijatan dilakukan di sebuah dipan bertiang empat dan dilengkapi atap dipan, dimana dua pasang burung yang saling berkasih terlihat bertengger di atas atap dipan. Seolah-olah ada kesesuaian suasana perkasih dari pasangan burung merpati dan pemijatan mesra dari sepasang insan yang berada dipeduan tersebut.

C. Akar Tradisi Pujat Teadisional

Dikatakan “pijat tradisional” karena pemijatan manual itu telah mentradisi pada masyarakat bersangkutan. Dari sumber data artefaktual yang berupa relief candi, tergambar bahwa pijat telah dilakukan paling tidak pada abad IX Masehi, seperti yang tetpahatkan di Candi Prambanan dan Borobudut. Sebagai kata sebut, istilah “pijet” telah kedapatan dalam susastra abad XI Masihi seperti kedapatan dalam kakawin Arjunawiwaha (2 5). Kegiatan ini ini berlanjut ke masa-masa berikytnya, bahkan hingga sekarang, dengan teknik dan tujuan yang kian beragam. Oleh kareba itu, cukup alasan untuk menyatakan bahwa pijat telah “menyejarah” dalam sejarah Jawa. Pijat juga busa dikata “memadyarakat”, karena lintas lapis sosial, lintas ysia, ataupun lintas area mengenal, melakukan, bahkan ada yang keranjingan umtuk pijat. Ada orang bilang, pijat itu “nyandu”, bikin orang ketagihan pijat.

Tukang pijat menjadi profesi khusus, baik pada pria dan banyak lagi yang wanita. Ada pemijat yang biasa, ada pemijat yang bermantra, dan ada pula pijat pehibur. Malahan, ada pemijat perempuan muda di panti-panti pijat, yang terkadang adalah prajtek layanan seksual terselybung, yang pijatannya acapkali diplesetkan dengan sebutan “pijat komplit”. Pada senumlah daerah, di yempat-tempat terbuka atau ditempat penginapan ada tawaran hasa pijat, baik yang non-seksual ataupun yang berbau seksual. Pemujat yang umumnya dilakukab oleh para wanita setengah baya hingga agak sepuh di Yogya mendapat sebutan “kecrak-kecrek”, yang dunanai demikian karena orang yang menawarkan jasa pujat ini mambawa alat bunyian, yang dunamai dan berbuyi (inomatopae) “kecrek”. Ada pula yang kini marak adalah pijat yang dilakukan oleh penyandang tuna netra, yang dinamai “pijat tuna netra”. Secara lrbih khusus, terdapat pemijatan untuk kesehatan, seperti pijat refeksi, pijat sangkal putung, pijat kehamilan, dsb.

Demikianlah sekelumit tulisan mengenai khasanah pijat di Nusabtara, sebagai wujud kekayaan budata bsngsa. Semoga tulusan ini memberi kefaedahan bagi para pembaca budiman. Sebagai pamungkas kalam, penulus sampaikan “pujat yuk ….”. Nuwun.

Sangkaling, 1 Februari 2029
Griya Ajar CITRALEKHA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *