RAGAM BENTUK DAN FUNGSI “DOLANAN BOCAH” BERLATAR BUDAYA ETNIK JAWA KUNO KINI

 

Cublak-cublak suweng
Suwenge ting kelender
Mambu ketundung gudel
Tak empol lera-lere
Sopo nggowo ndelikake
Sir-sir-pong dele gosong 2X

Oleh : M. Dwi Cahyono

Mulai Senin, 7 Oktober 2019 hingga seminggu berikutnya, bertempat di Ibu Kota Negara RI (Republik Indonesia) Jakarta dihelat “PKN (Pekan Kebudayaan Nasional”. Salah sebuah menu budaya penting yang disajikannya adalah gelaran beragam permaunan tradisional pada kawasan Car Free Day di Jl. Sudirman. Dalam bahasa Jawa Baru, sebutan untuknys adalah “dolanan bocah”, yang di kawasan sub-kultur Arek dinamai dengan “Dolinan Arek”.

A. Terminologi “Dolanan Bocah”

Kata jadian dalam bahasa Jawa Baru “dolanan” pada sebutan “dolanan bocah” berkata dasar (linggo) “dolan”, yang berarti : bermain-main, atau berjalan- jalan buat senangkan hati. Kata jadian “dolanan” menunjuk kepada : barang mainan (Mangunsuwito, 2013: 276). Istilah ini juga hadir sebagai kosa kata serapan [dari bahasa Jawa] dalam Kota kata bahasa Indonesia, yang juga berarti : pergi untuk bersenang-senang. Adapun kata jadian “dolanan” menunjuk pada (a) bermain- main, (b) mainan (KBBI, 2002: 272). Dalam arti ini, istilah “dolan” ataupun “dolanan” berkenaan dengan “kesenangan”, dilakukan untuk tujuan “menyenangkan hati (rekreatif)”.

Tetnyatalah bahwa kata “dolan” telah kedapatan di dlam bahasa Jawa Tengahan, yang secara harafiah berarti : kawan se permainan, atau menunjuk pada : binatang kesayangan. Adapun jata jadiannya, yaitu “dodolan, adodolan”, berkenaan dengan : bermain (Zoetmulder, 1995:224). Istilah ini disebut dalam Kidung Malat (8.149, 16.60). Sebutan lain yang dekat dengannya adalah “men (samdhi dalam dari “ma+in”), yang berarti : menghibur (bergembira, mengasyikkan) diri, bermain (Zoetmulder, 1995: 667). Kata jadiannya adalah “amen”. Istilah- istilah itu terdapat dalam pustakaWirataparwa (32, 96), Udyogaparwa (118), Sumanasantaka (59.1, 90.3, 113.6), Abhimanyuwiwaha (52.23), Tantupangge- laran (104), Tantri Kediri (58), Kutaramanawa (148), Kidung Harsya- wijaya (2,38, 2 143, 4.30, 6.91, 26.3), Kidung Sunda (3.49), Kidung Malat (7.35, 14.18), Wasengsari (7.42), dan Tantrikanabdaka (1.81). Selain itu disebut dalam prasasti Jawa (vN 8.5B.3, vN 3.A.8, serta OJO 36 susi I dan 43 susi II. 16) maupun dalam prasasti Bali (For 88f.VIIa 2). Permainan atau pelakunya diistilahi “menmen”, sedangkan tempat untuk menghibur diri dinanai “pemenan”.

Kata Jawa Kuna dan Jawa Tengahan “men (main)” diserap ke dalam bahasa Indonesia juga sebagai “main”, yang antara lain berarti : (a) melakukan permainan untuk menyenangkan hati, atau (b) melaksanakan perbuatan untuk bersensenang, (c) mempertunjukkan tontonan, dsb. KBBI,2002: 697). Kata jadian “bermain” mengandung arti : melakukan sesuatu untuk bersenang-senang. Sesuatu yang dipakai untuk bermain, barang yang dipermainkan, mainan, dan hal bermain disebut “permainan”. Alat untuk bermain disebut dengan “mainan”. Tegambar bahwa “men (main)” bersinonim arti dengan “dolan”. Demikian pula, kata jadian “mainan’ dan “dolanan” keduanya bersnonim arti. Sebutan “mainan anak” dengan dimikian sama arti dan sekaligus adalah terjemahan dari “dolanan bocah”. Sejak dulu, kata “men” lebih sering dipetgunakan dari pada “dolan”. Terkait dengan kata “dolan”, dalam logat Arek istilah disebut “dulin”, sehingga permainan anak diistilahi dengan “dulinan arek”.

B Ragam Jenis dan Bentuk Dolanan Bocah

Robert dan Sutton Smith (1971:46) klasifikasikan permainan menjadi dua golongan bear, yaitu: (1) permainan untuk bermain (play), dan (2) penainan untuk bertanding (game). Ada tiga sifat permainan untuk bertanding : (a) bersifat fisik (game of skill), (b) bersifat siasat (game of stategy), (c) bersifat untung-untungan (game of chance). Pada jenis pertama, suatu permainan dilaksanakan semata buat bermain (playing), bahkan bermain- main. Permainan ini umumnya bersifat pribadi, yaitu buat dinikmat sendiri oleh pelakunya. Berbeda dengan jenis yang kedua, dimana permainan itu dilakukan sebagai uji sesuatu, untuk mendapatkan posisi unggul (pemenang). Adapun diitilk dari jenisnya, ada yang berupa (a) pengoperasian atan bermain (mainan), (b) menyanyi — baik dengan atau tanpa disertai alat bermain dan gerakkan tertentu, (c) adu ketangkasan, ketrampilan ataupun kepiawian, (d) melaksanakan kegiatan dengan pola atau tata cara tertentu — dengan atau tanpa ada pemenangnya, (e) memainkan aksi yang akrobatik, musllihat mata (misalnya : sulapan atau disebut juga “sunglap”), tebak-tebakan, bahkan terdapat sajian tertentu yang mempergunakan magi, mistis, hipnotis (psikologi bawah sadar), atau cara-cara luar biasa. Pads dasar nya, permainan disajikan untuk mempertontonkan sesuatu, sehingga bila, ada sentuhan seni (artistik) di dalamnya, maka bisa dimasukkan sebagai “seni pertunjukkan” dalam arti luas.
.
Permainan bersifat “universal”, dimana pun atau kapan pun permainan senantiasa ada. Setiap etnik maupun sub-etnik yang ada di Indonesia memiliki permainannya sendiri, yang terkadang merupakan permainan masa lampau yang mampu bertahan hidup hingga kini — baik tanpa ataupun dengan sejumlah perubahan. Permainan yang demikian diistilahi dengan “permainan etnik tradisional”, yang menjadi bagian folklore Nusantara. Hal demikian, tanpa terkecuali ada di Jawa, yang dinamai dengan “dolinan Jawa tradisional”. Berikut dikemukakan (1) permanian Jawa masa lampau (archais) seperti diberitakan oleh sumber data susastra kuno dari Masa Hindu-Buddha, dan (2) permainan tradisional Jawa yang berasal dari pasca Hindu-Buddha, yang jejak tradisinya masih dijumpai hingga sekarang.

1. Permainan Arkhais Masa Hindu-Buddha

Meski tidak amat banyak, divdalam sumber data tekstual masa lalu dijumpai sejumlah istilah yang sangatlsh mungkin menunjuk kepada beragam permainan arkhais. Salah satu diantaranya adalah permainan akrobatik, seperti tergambar pada arca kecil (T = 20 Cm) koleksi Wolff asal dari Surabaya atau mungkin dari Mojokerto, yang memberi kita gambaran tentang seorang wanita yang melakukan gerakan akrobatik. Kaki, tubuh, maupun tangannys dilengkungkan, dengan kedua tangan menyentuh alas — yang berbentuk kura-kura. Kepala berada di depan bawah, diantara dua tangannya, sehingga rambut tergerai. Busans yang dikenakan bersahaja, bahkan tubuh bagian bawah cuma mengenakan cawat dan ikatan pinggang. Berkenaan dengan itu, W. F. Stutterheim (1932 :271-273) memoertanyakan “apakah arca ini menggambarkan adegan akrobatik masa Jawa Kuna?”. Gerakan tubuh yang demikian dalam bahasa Jawa Baru diistilahi “ngayang, atau kayang” Pada permainan “damparan”, pemain acap lengkungkan tubuhnya serupa itu, bahkan dengan posisi demikian bisa sambil berlajan. Permainan ini bercirikan akrobatik, yang memperlihatkan aspek ” kehebatan atau virtousitas” (Sedyawati, 1981/1982: 70-73).

Sejumlah permainan disebut dalam sumber data susastra. Kakawin Arjunawiwaha (14.4-7) misalnya, menyebut adanya permainan catu, yaitu permainan dadu secara berkelompok oleh para gadis di alam Kaindran. Permainan yang lainnyav inamai “kilusu ruyung”, yaitu alat bermain dari kayu pohon enau (ruyung) yang lemas (kilusu) (Zoetmulder, 1995: 501, 967), yang dimainkan oleh beberapa gadis yang menemani Rukmini di suatu taman. Sayang tak diperoleh informasi tentang cara menainkannya. Perihal permainan dan pertanding juga diberitakan dalam kakawin Sutasoma (127.13). Berita lainnya didapatkan dalam Kidung Sri Tanjung (1.7), yang ceritakan mengenai anak-anak yang menainkan cikal, yaitu suatu permainan yang menggunakan buah pohon cikal (Entada pursaetha, Rumph. Vpl.4) yang berbentuk bulat ceper (Zoetmulder, 1995:174). Menurut Prijono (138:157), konon permainan ini terdapat di Jawa Tengah dengan nama “bengkat”. Pads bagian lain dari susastra ini (5.58) fikabarkan adanya anak-anak yang memainkan anepa[h], yang sayang sekali tidak disertai keterangan mengenai bentuk permainannya.

Masih dibdlam Kidung Sri Tanjung (5.58), terdapat permainan lain yang dinamai dengan “agundu”, yakni permainan dengan menggunakan buah bulat pohon bendo, yang dalam konteks permainan ini buah gundu dimasukkan ke dalam lobang, seperti pada permaian butir kelerang (neker) yang dinamai dengan “wok-wokan”. Pads Kidung Sunda (2.85) sebutannya adalah “gandu”, yang ketika dimainkan gandu dalam keadaan berputar. Dahulu tatkala kelereng belum lazim dipergunakan, bola bundar itu bisa berupa biji klerak. Ada tiga macan permainan gundu, yaitu (a) memasukkan gundu ke dalam lobang kecil pada permukaan tanah (wok- wokan), (2) arahkan biji gundu “gaco” ke deretan gundu lian (cirak), atau (3) tembakkan secara tepat ke buah gundu lainnya pada jarak tertentu (tujon). Mainan yang demikian masuk dalam kategori permainan untuk bertanding. Selain itu, Kidung Sri Tanjung menyebutkab adanya “permainan api” (Prijono 1938, I : 29-30).

Kidung Panji Anggraeni (Pierbatjaraka, 1969:10) mengiiformasikan adanya permainan “kecek” yang menggunakan uang logam sen (kece) oleh Semar bersama anak-anak. Permainan dengan memakai uang logam (coin) yang demikian masih dikenal sekarang, dengan cara melempar uang logam ke atas dan menebak gambar apa yang ada di sisi atas ketika uang itu jatuh di tanah. Permainan lain, yang disebut “bubungkul”, diberitakan dalan Kidung Sunda (3.50). Menurut C. C. Berg (127:26) adalah semacam permainan anggar dengan memakai tongkat oleh sejumlah anak laki- laki dalam posisi membentuk pagar melingkar. Selain itu, susastra ini menyebut permainan “apelengkungan”, yang oleh Berg (127:126) diterjemah dengan permainan tusuk-tusukan (steel speed), atau kemungkinan lain berbentuk kedua tangan dua pemain dipertemukan dalam fornasi yang melengkung dan beberapa pemain lainnya masuk melewatinya — seperti p
permainan “jamuran” sekarang.

Ada juga permainan yang dinamai “walangan”. Kats “walang” adalah nama binatang. Permainan dengan menggunakan media binatang walang dilakukan dengan meminta gerakan walang, misalnya pads walang kadung. Pemain menyeebut istilah tertentu, lalu meminta agar walang membuat gerakan yang sesuai dengan kata yang diucap itu. Apabila benar demikian, maka permainan ini adalah salah satu diantara tidak sedikit permainan yang menjadikan binatang — utamanya insekta, sebagai binatang mainan, seperti jangkrik, kwangwung, kupu-kupu, capung, dsb. Anak-anak pada masa lalu gemar memainkan binatang, baik untuk jenis permainan untuk bermain atau permainan untuk bertanding.

Permainan lainnya kategori permainan untuk bertanding adalah “susudukan”, yang secara harafiah berarti tusuk-tusukan, yakni permainan perkelahian pura-pura menggunakan tiruan keris atau tombak. Dalam bentuk yang lain, permainan ini nengingatkan pada permainan tombak atau lembing tumpul di dalam gladi (olah) keprajuritan, yang dinamai “watangan (Kidung Ranggalawe 4.1-3). Kadang ditambah istilah “parampogan” menjadi kata gabung “watang parampogan”, yakni suatu adu tanding, dimana seekor harimau dibunuh oleh sejumlah orang menggunakan tombak. Permainan untuk bertanding ini juga diinformasikan dalam kitab “Ying-yai Sheng-lan” karya Ma Juan tahun 1416, mengenai pertandingan yang dinumpainya di Jawa. Pada acara ini, seekor harimau dibunuh beramai-ramai menggunakan banbu runcing, dengan musik pengiring genderang.

Periihal permainan susudukan juga dberitakan pula dalam Kidung Hasyawijaya (4.43b), yang digelar ketika berlangsung upacara tahunan Galungan, antara para ksatria Singhasari VS Daha (Berg, 1931: 121-122). Serupa dengan itu diberitakan dalam Kidung Ranggalawe (3.21, 4.12). Di bagian lain dari kidung Ranggalawe (3.21) disebutnya dengan “rarastea atanding”, yang diselenggarakan di Daha antara para prajurut Daha VS Tumapel pada pasta tahunan Galungan. Hal serupa disebutnya dengan “atanding (Kidung Sunda 4.12)”. Nagarakretagama (87. 1- 2) memakai sebutan “kanjar” untuk suatu pertandingan yang serupa, yaitu permainan untuk bertanding dengan mempergunakan senjata tajam dalam Festival Bulan Caira di Lapangan Bubad.

Permainan di atas tidak dilakukan oleh anak- anak, memainkan oleh orang dewasa, tepatnya para ksatria. Permainan jenis ini adalah “prang pupul”, yakni permainan perang-perangan yang memakai tongkat untuk melukai, serupa dengan apa yang kini disebut dengan “tiban atau ujung”. Terdapat juga permainan adu tinju yang dinamai “prep”, serta adu tarik yang disebut “matali- tali” — sekarang diistilahi dengan “tarik tambang”. Permainan ini diberitakan di dalam kitab Sumanasantaka (113.90), yang disajikan pada acara pernikahan Aja dan Indumati. Ada pula permainan/lomba adu lari (sasarama), yang diselenggarakan di pusat pemerintahan kerajaab Daha untuk menyambut kedatangan Raden Wijaya (PRaraton, bagian IV). Selain itu Ada pula lomba yang diselenggarakan oleh raja Drupada sebagaimana diberitakan oleh kitab Adiparwa, yakni lomba membentang busur panah (Juynboll, 1906: 179). Pertabdingan lainnya berupa lompat api, yang diberitakan oleh Sumanasantaka (113.9).

Permainan lain, yang juga untuk orang dewasa, cenderung bersifat perjudian. Dalam prasasti Kakurungan (VIb.3) diberitakan bahwa ketika dilangsukan acara Sang Hyang Ajna Prasasti di Desa Kakurungan diselenggarakan “judi taruh (nita), perjudian tertentu (judi), dan permainan dadu (parih-parihan)” selama sepekan. Begitu pula Prasasti Canggu (IXa.3), yang menyebut permainan “sabung ayam (angadwa sawung) , nita dan perjudian (judi)” selama sepekan pada acara serupa. Perjudian lain yang diberitakan oleh Kidung Malat (56) adalah “cuki (sekarang disebut “ceki”)”, yaitu suatu permainan dengan memakai kartu di atas papan, yang menurut istilah Tiong Hoa kartu tersebut dinamai *cek” (Zoetmulder, 1995:180). Kata jadian “acuki” dipergunakan untuk menyebut permainan cuki (ceki). Pada susastra itu, cuki dilakukan eleh para istri Panji di suatu pagi. Hingga beberapa dasawarsa lalu permainan ceki acapkali pula dilakukan oleh wanita-wanita Jawa.

2. Permainan Lama dan Jejak Tradisinya

Pada masa sekarang ada sejumlah permainan, yang merupakan permainan dari masa lampau yang berlanjut hingga masa kini — dengan atau tanpa modfikasi. Tak mudah untuk tentukan bilamana dan dari manakah asal kelahirannya, meskipun dapat diprakirakan bila berasal dari masa lalu di Jawa. Permainan yang demikian ada yang amerupakan kreasi warga lokal, dan ada pula yang merupakan pengaruh dari luar lokalitasnya, bahkan ada pula yang muasalnya dari manca Negara dengan disertai beberapa perubahan seperlunya. Oleh sebab lintas masa atau lintas generasi, maka termasuk dalam kategori “permainan tradisional”. Begitu pula, lantaran tumbuh-berkembang pads lingkungan kerakyatan, maka acapkali disebut “permainan rakyat”.

Permainan dakon — sebutan lain “congklak” — adalah salah satunya. Perminan ini sangat lah mungkin merupakan permainan rayat agraris. Adanya apa yang disebut “lumbung” di ujung kanan-kiri dakon menjadi pertunjuk mengenai itu. Sumber data arkeologi memoerluhatkan adanya bongkah batu dengan permukaan atas rata dan dilengkapi dengan beberapa cekungan yang mengingatkan kepada dakon, sehingga mendapat sebutan “watu dakon”. Artefak dari tradisi megalitik ini konon digunakan sebagai media pengihitungan musim dalam tentukan waktu tanam. Pada senumlah warga etnik — semisal di Sulawesi, ada tradisi permainan dakon pada malam hari (Jawa “leklekan”), yaitu ketika ada orang meninggal.

Permainan anak Jawa yang dinamai ” cublek- suweng” — yang disertai dengan penyanyian lagu tentang itu, diyakini sebagai tinggalan dari era Kewalian, yang konon difungsikan sebagai media siar Islam — seperti juga pada tembang “Ilir-ilir” ciptaan Sunan Banang. Memang, suatu permainan acap disertai dengan nyanyian, seperti misalnya perrimanan “jamuran, slapdur, yo ngguwak kucing gering, ndok-ndokan”, dsb. Lagu atau tembang dolanan yang dinyanyikan teraebut terkadang memuat terbakarn, semisak tembang “Bapak Pucung”. Pada mainan yang “setengah mistis” menyerupai “Jailangkung”, yaitu “Ni Diwut” pun memiliki lagu mainannya sendiri. Bisa juga disertai dialog antar permain, seperti pada permainan “luk-luk wing”. Dengan tambahan lagu (tembang), dialog pendek atau punggunaan media (mainan) tertentu, maka dolanan bocah menjadi lebih menarik, dinamis, bahkan ada sentuhan artistik.

Pada prinsipnya permainan anak musti bersifat “aseseble”, artinya dapat dinainkan oleh anak, meski untuk dapat memainkan atau memiliki keunggulan dibanding pemain lainnya butuh adanya ketekunan dalam berlatih, kecerdikan, kecermatan, kehati-hatian, kekompakkan, dsb. Prasyarat yang demikian utamanya untuk jenis permainan untuk bertanding, seperti “enthik, wok-wokan, damparan, gobak sodor, jumpritan, bemteng-bentengan, gedrik, seprengan (lompat tali), egrang, sepatu bathok, terompah panjang (theklek dowo — dimainkan secara kolektif), kekehan, yoyoan,, dan masih banyak lagi yang lainnya. Permainan yang demikian itu menarik perhatian dan mebdorong pelibatan diri anak, baik perorangan atau berkelompok, karena tidak hanya seru, lebih dari itu memberi kepuasan batin bagi anak yang memperoleh kemenangan, dan sebaliknya ada “hukuman ringan” bagi merek yang kalah — misalnya pada permainan “gendong- gendongan”.

Benda yang didapatkan lantaran nemperoleh suatu kemenangannya dalam “bermain untuk bertanding”, seperti butir-butir kekereng dalam permainan “wok- wokan, cirak, tujon”, permainan “umbul wayang”, pernainan “jepretan karet gelang”, permainan adu kuat “ali-ali isi salak” ataupun “ali-ali buah miri”, dsb. telah cukup memberi kepuasan hati. Terkadang, areal bermain hingga cukup jauh dari rumah, dengan pergi “ngluruk”. Ada orang tua anak yang kurang suka terhadap permainan demikian, karena menganggap “berbau judi”, terlebih benda- benda itu musti dibeli, sehingga menimbulkan keborosan. Oleh karena dilarang orang tua, tidak jarang anak pergi diam-diam, curi-curi kesempatan, serta sembunyikan barang mainannya. Itulah yang oleh warga Malang disebut “mbethike arek”. Terkadang pula, lantaran permainan-bertanding, dua orang anak atau lebih terlbat perkelahian kecil (gelut), dan akhirnya melibatkan orang tuanya.

Diantara permainan yang ada, terlihat adanya imitasi dari perang-perangan dan cari- kejar- tangkap, seperti pada perrnainan “bentengan, anggar, jompritan, jelungan, bedil-beilan (bedil banyu, bedil bambu, bedil dibis), tulup- tulupan (peluru dari biji kacang hijau) “, dsb. Malahan ada permainan yang membutuhkan persiapan panjang, seperti permainan ” layangan”, yang membutuhkan oersiapan panjang, mulai dari (a) nggawe layangan, (b) nggelas benang, (c) ngundho layangan, (d) sambitan, hingga (d) nggodak layangan pedot”. Pendek kata, ketika musim layangan tiba, maka hari-hari anak disubukkan (umek) oleh layangannya. Itu pula lah yang kacang membuat “sewot” orang tau, lantaran anaknya tidak indahkan (mbanggel) terhadap larangannya.

Demikian banyak permainan rayat tradisional, msks terlampau panjang untuk ditulis semua. Me ski demikian, apa yang terpaparkan diaras cukup memberi gambaran tentang kekayaan dan keragaman, baik jenis, bentuk, ataupun fungsi permainan rakyat, yang acap dinamai “dolanan bocah”. Unsur sebutan “bocah” itu tetnyata tidak merupakan batasan mutlak, karena boleh jadi permainan itu dimainkan oleh orang yang dari usianya tak lagi masuk dalam kategori “anak- anak”. Memang pada dasarnya, terlepas dari usianya, semua orang ingin punya mainan dan bermain, sehingga lantaran malu memainkan mainan anak-anak, maka orang tua beralih kepada permain lain, seperti main judi, main perempuan, main mata, main falas, main suap, main narkoba, main jabatan, dsb., yang tentu jauh lebih berbahaya daripada “main perang- perangan”-nya anak, dan ternyata tidak merasa malu untuk menainkannya, he he he ….

C. Ragam Fungsi Dolanan Bocah

Terlepas bagaimana bentuk dan cara memainkan serta muasalnya, yang terang dari waktu ke waktu, malahan dari masa ke masa, senantiasa didapati permainan anak. Hal ini menjadi petunjuk bahwa pernainan anak dipandang penting, karena memberi kegunaan atau berfungsi nyata. Meskipun dinamai “dolanan” atau “mainan”, namun tidak semata-mats berfungsi : (a) rekreatif (hiburan atau kesenangan, bahasa Jawa “sukan-sukan”), namun sekaligus memiliki (b) fungsi edukatif (pendidkan), (c) sportif (keolahragaan, ketangkasan, dan ketrampilan), (d) sosiologis (kemasyarakatan, yakni mempererat ikatan sosial), (e) ekolologis (wahana penyadaran untuk bijak-arif terhadap lingkungan), termasuk juga fungsi (f) relegio-maagis. Dengan perkataan lain dolanan bocah memiliki keragaman bentuk dan fungsi, berada dalam lintas masa, serta tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Mainan rayat bagi anak-anak yang masuk dalam kategori “tradisional” merupakan warisan budaya (heritage), aset kultural “tak benda (intangible)” — kecuali alat mainannya, sehingga patut dilestarikan dan dimanfaatkan bagi khalayak.

Tidak tepat menggeneralisasikan (digebyah uyah) bahwasanya dolanan bocah tradisional tak relevan dengan kehidupan masa kini lantaran keinggalan zanan (out of date). Memang, tak dapat dipungkuri bila permainan itu “tidak modern” — karena masuk dalan kategori “tradisional” Namun, bukan berarti bahwa yang tradisional itu tidak punya kegunaan bagi kehidupan sekarang. Seperti telah terpapar di atas, terdapat beragam fungsi dolanan anak, yang fungsi-fungsinya relevan dengan aneka kebutuan hidup kini (rekreatif, educatif, sosiologis, ekologis, sportif, maupun relegio-magis). Tidaklah tepat bila permainan tradisional dinyatakan sebagai tidak memiliki muatan teknologis dan dasa logis. Ada aspek teknologis pada mainan tradisional, yang berupa teknik ungkit pada bandulan, tennis pompa pada mainan semprotan banyu, teknik aerologi pada layangan, pampat udara dalam bedil bambu, teknik kinetik pada permainan yoyo dan kekehan, dsb. Demikianlah, ada prinsip logika yang turnt mendasari cara kerja mainan anak tradisional. Oleh karen itu, tidaklah perlu “risih” atas ketradsionalan dolanan tradisional.

Pada waktu tertentu di masa lalu, tatkala panorama tengah elok-eloknya, seperti malam bulan purnama, anak-anak menumpahkan suka citanya dengan menggelar aneka dolanan bocah. Demikian pula ketika tiba hari istimewa, seperti lebaran, peristiwa hajatan, liburan sekolah, dsb., momentum waktu bergembira itu diisi dengan memainkan dolanan. Demikianlah, sesi bermain (play) — yang adalah “dunia keriangan anak” — menjadi ajang ekspresi kegembiraan yang memuaskan batinnya. Bermain mustilah bergembira, bahagia. Karena itu, meski sulit, permainan “plurutan jambe (panjat pinang)”, yang pemainnya mandi lumour, penuh dengan gelak tawa. Demikian pula, permainan “gebuk guling” di batang banbu melurtasi sungai jadi tontonan gratis yang “ngeri-ngeri sedap”. Tidak ada suka-cita yang melebihi ketika anak-anak terlibat dalam keseruan dalam bermain. Maka, berikan porsi cukup bagi anak untuk mengisi “waktu bermain”-nya dengan permainan anak, bukan dengan permainan orang dewasa pada diri anak.

Bermain tidak musti dengan mainan mahal, bukan hanya dengan jenis permainan atau wahana bermain import, tidak harus dengan pergi jauh ke tempat wisata untuk bahagiakan anak dalam bermain, nanun cukuplah walau di lingkungan sekitarnya dengan wahana bermain yang meskipun bersahaja dari jenis pernainan rayat tradisional. Justru, pernainan tradisional memberi ruang kreatifita bagi anak, lantaran ia tak hanya terlibat pada (a) bagian hilir (lower), sebagai operator alat bermain — beda dengan mainan jadi, yang cukup dengan menbeli dan tinggal mengoperasikannya, namun lenih jail dilibatkan sedari (b) bagian hulu (upper) , melai pengadaan bahan (material mentahan) untuk membuat mainan, serta di (c) bagian tengah (midle) lewat pembuatan perangkat bermain. Pasca bermainan, anak bertindak menjadi “pemelihara (maintenance) yang baik dan ngemi- emi” atas maunan buatannya. Bahkan, ketika mainannya rusak, anak ambil peran sebagai reparatornya. Tergambar bahwa mainan anak kerakyatan- tradisional melubatkan anak dari hulu hingga hilir, baik sebagai (1) eksplorator bahkan, (2) kreator perangkat bermain, (3) operator alat mainan, (4) maintenance alat mainan pasca bermain, hingga (5) reparator alat mainannya apabila rusak.

Pada beberapa dasawarsa terakhir, terdapat fenomena kurangnya kesempatan bermain bagi anak di masa kanak- kanak. Hal inilah yang menjadikan orang “ngidam bermain”, justru ketika telah memasuki jenjang usia remaja, malahan pada usia dewasa. Tawuran para remaja, para pelajar, tawuran warga dari kampung bertetangga, termasuk ketika para pelajar SLTP dan SLTA yang kemarin terlibat demostrasi ke gedung DPR RI adalah “wujud terlambat” dari “permainan perang-perangan” masa kanak-kanak. Ada realitas “lucu, namun naif”, dimana Polisi dan Aparat Keamanan lain diajak “jompritan” dan lempar- lemparan oleh remaja ingusan. Jam belajar di sekolah yang kelewat padat, picu “akselerasi pendidikan” yang membuat pelajar bagai “sapi kerapan”, ditambah lagi dengan “perampokkan waktu bermain anak” oleh gadged (Hp, Video Game), menjadikan naluri “bermain” atau “main-main” nya menyeruak justru ketika telah melewati usia kanak-kanak. Naif, namun nyata. Nuwun.

Sangkaling, Carwash 76, Selasa 8 Oktb. 2019
Patembayan CITRALEKHA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *