“Sanggar Seni Kololio Peringati Peristiwa Merah Putih” Kampung Merah Putih Sigi

Kamis 11 Februari 2020, 3 orang pemuda dari sanggar seni Kololio sore tadi tengah membersihkan kuburan salah satu Magau (Raja) Dolo terkahir ( Datupamusu). Inisiatif ini timbul sebagai bentuk respon mereka terhadap peristiwa Merah Putih . Dimana pada 11 Februari 1946 pada waktu itu, Datupamusu memerintahkan seluruh masyarakat Dolo untuk mengibarkan Bendera Merah putih diseluruh kampung di Dolo terutama di setiap halaman-halaman masjid, setelah sehari sebelumnya Datupamusu mengatur demonstrasi masa untuk membebaskan H. Joto Daeng Pawindu.

Peristiwa petang itu cukup menegangkan ketika 4 orang pemuda yang ingin mengibarkan bendera itu sempat di cegat oleh Tentara KNIL. Namun pada akhirnya Tentara KNIL tidak bisa berbuat apa-apa dan memilih mundur ketika salah seorang pemuda Kaleke bernama Dae Matadjo Gagaramusu mengeluarkan keris dipinggangnya hendak menikam serdadu. Dengan semangat juang Merah Putih bendera pun dikibarkan tepat disebelah barat antara Masjid Al Mujahidin Kaleke dan bekas Banuaoge Kaleke yang menjadi tempat tinggal Magau (Raja) pada waktu itu.

Selain itu inisiatif untuk membersihkan kubur itu adalah bentuk penghargaan terhadap jasa-jasa tokoh Kampung Kaleke. Menurut salah satu penggas gerakan ini Moh. Fadhil M.Pd, Sejarahwan Kaleke yang kini menjabat sebagai Sekdes Maku sekarang

“Desa Kaleke sebenarnya salah satu aset Kabupaten Sigi, sebuah Desa yang penuh dengan cerita tua, dan banyak melahirkan pemimpin. Ditempat ini pula pertama kalinya salah satu organisasi Islam SI pertama kali masuk di Sigi Dolo dan diterima langsung Magau (Datupamusu) disusul oleh Organisasi Islam lainya seperti Alkhairat dan Ansor. Mata air yang melimpah dan kini menjadi objek wisata (Bionga) adalah salah satu nilai jual ketika dikelola dengan semangat merah putih. Kaleke ini sangat komplit ketika dijadikan destinasi Wisata Literasi untuk Kabupaten Sigi bahkan Sulawesi Tengah. Harapanya mudah-mudahan kedepanya Masyarakat dan Pemerintah lebih sadar lagi akan potensi Desa Kaleke.”

Sementara itu salah satu dari angggota Komunitas Historia Sulawesi Tengah yang juga cucu dari Almarhum pue puti atau Gagaramusu (Ardin) asal Kaleke mengatakan
“kiranya Desa Kaleke bisa membuat satu Festival yang berbasis masyarakat seperti yang sudah diwacanakan Kawan-kawan dari Sanggar Seni Kololio 2 tahun lalu yaitu Festival Kampung Merah Putih, dimana nantinya dalam konten kegiatannya akan ada Pameran sejarah tentang Desa Kaleke dan peninggalan-peninggalan Kerajaan Dolo Tentunya.”




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *