Save Pahingan, Save Tradisi, Save NKRI

Ditulis Oleh : Vinanda Febriani

Pahingan
Adalah sebuah tradisi khas kota Magelang. Yakni suatu kegiatan pengajian selapanan yang dilaksanakan setiap ahad pahing di Masjid Jami’ Kota Magelang yang sudah menjadi tradisi lebih dari 60 tahun. Biasanya ulama yang berkhotbah bergantian dari penjuru Magelang. Jamaah yang hadir pun bisa hingga ribuan orang dan bukan hanya berasal dari Magelang saja, kota-kota sekitarnya seperti Purworejo, Kebumen, Wonosobo, Temanggung dan Salatiga juga ikut meramaikan pengajian selapanan Ahad Pahing.

seorang ibu berjualan di pasar pahingan

Seperti mahfumnya suatu pengajian, selalu ada pedagang yang menyertai dan ikut meramaikan. Awal mulanya, para pedagang tersebut merupakan bagian dari jamaah yang ‘Ngayuk’, ngaji sambil jualan. Namun lama kelamaan, banyak pedagang murni yang ikut bergabung untuk menjual barang dan makanan. Makanan paling identik dari semua yang dijual adalah ‘gebleg’ dan ‘kacang godhog’. Pengajian dan ‘Pasar tiban’ tersebut lama kelamaan kian melekat satu sama lain, saling bersinergi, membentuk suatu tradisi yang khas. “Berbicara mengenai Pahingan tidak saja soal pengajiannya, namun juga pasarnya. Begitu pula sebaliknya, keduanya saling berhubungan” ungkap Danu, salah satu penggerak komunitas Save Pahingan.

Polemik tahun 2016

Semangat program ‘Smart City’ dari Pemerintah Kota Magelang pada tahun 2016 silam yang berupaya memisahkan antara pengajian dan ‘Pasar Tiban’ yang mana nantinya pasar akan direlokasi, digabungkan dengan CFD di Rindam. Banyak alasan pemerintah kota yang mendasari program relokasi ini, diantaranya sebab adanya pasar tiban menjadikan pasar Rejowinangun sepi. Alasan lain, ada perda yang tidak memperbolehkan berdagang di area alun-alun, termasuk trotoarnya.

masyarakat akar rumput merawat tradisi pasar pahingan dengan penuh suka cita

Ada beberapa kesalahan pemerintah kota dalam wacana program relokasi pasar tiban seperti :

1. Beranggapan bahwa pasar pahingan sama dengan pasar-pasar pada umumnya. Padahal, pasar ini bersifat spesifik, jelas melekat dengan pengajian pahingan dan telah berusia setengah abad lebih. Sehingga layak disebut sebagai cahar budaya non bendawi.
2. Alasan pemerintah kota yang mengatakan bahwa keberadaan pasar pahingan membuat pasar rejowinangun sepi merupakan alasan yang tidak logis dan tidak rasional. Bagaimana mungkim pasar yang hanya beroperasi selama 35 hari sekali menjadikan pasar yang setiap hari beroperasi menjadi sepi?.
3. Sisi ambiguitas pemerintah kota yang melarang pedagang pasar pahingan berjualan di alun-alun, sementara memberikan ruang luas untuk kuliner ‘Tuin Van Java’, angkringan dan pedagang-pedagang liar. Termasuk, saat Idul Fitri tiba, alun-alun bebas untuk berjualan selama 2 minggu. Lalu yang menjadi polemik di mata masyarakat, dimanakah azas keadilan yang ada?, begitu sekiranya.

Sebab didasari beberapa alasan tersebut diatas, maka munculah komunitas ‘#SavePahingan’.

Penggerak daripada komunitas ini (#Save Pahingan), berangkat dari lintas sektoral baik profesi maupun agama. “Waktu itu, jumlahnya 12 orang” ingat Danu yang juga merupakan bagian dari komunitas #Save Pahingan.

Mereka melakukan perlawanan dengan mengajukan protes kepada DPRD, menggelar event Perfoming art, diskusi-diskusi, membuat polling, demo dan lain sebagainya. Termasuk menjalin komunikasi dengan Ganjar Pranowo, selaku Gubernur Provinsi Jawa Tengah.

Perjuangan untuk mempertahankan tradisi pasar pahingan cukup memakan waktu, tenaga dan pikiran. Termasuk beberapa kejadian intimidasi, demo dan lain sebagainya. Akan tetapi, setelah publik banyak yang mendukung gerakan #Save Pahingan ini, akhirnya Walikota menyerah dan membiarkan pasar tetap berjalan dengan syarat menggunakan konsep baru. Yakni, pedagang tetap tidak boleh berjualan di area alun-alun, namun dipindah di jalan raya depan Masjid Jami’, Kauman, Kota Magelang. Dan bersyukur, berkat antusias ‘pahlawan tradisi’ dan dukungan masyarakat untuk mempertahankan pasar pahingan, maka tradisi tersebut tetap berjalan hingga saat ini.

Komunitas #Save Pahingan ini pula yang kemudian melahirkan paguyuban diskusi lintas agama yang bernama Jamaah Kopdariyah. Hingga saat ini, keduanya saling melengkapi. Jamaah kopdariyah turut serta dalam menjaga, mempertahankan tradisi pahingan dan selalu melibatkan #Save Pahingan di setiap agendanya, begitupun sebaliknya, komunitas Save Pahingan selalu melibatkan ‘Jamkop’ di setiap eventnya yang diselenggarakan setiap 35 hari sekali.

Mari, jaga tradisi untuk kawal NKRI.
(Sumber narasi : tanya via WA kepada narasumber, Danu Wiratmoko, Vocalis Grup Band ‘Danu & The Last Winery’, penggerak komunitas #SavePahingan dan penggerak paguyuban Jamaah Kopdariyah Magelang Raya).

Terus tebarkan kebaikan, taburkan cinta kasih dan berbagi karunia, kedamaian untuk semua insan. Tetap bersatu dalam kebhinnekaan.

Save Pahingan, save tradisi, save NKRI !!

 

Vinanda Febriani
Siswi kelas XI di MA Ma’arif Borobudur
Netizen Jamaah Kopdariyah, Magelang Raya

Borobudur. Rabu, 23 Mei 2018.

*Foto diambil dari berbagai sumber (Facebook).

#Savepahingan #Savetradisi #SaveNKRI #Jamaahkopdariyah #Magelang#WonderfulofMagelang #JagatradisiKawalNKRI #Saveakalsehat




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *