SENI, TRADISI, DAN WARISAN BUDAYA

SENI, TRADISI, DAN WARISAN BUDAYA

Oleh: Djoko Saryono

Indonesia

Mari kita mempersoalkan kembali konsepsi tradisi. Apakah yang dimaksud dengan tradisi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dika­takan, tradisi ada­lah (a) adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat, dan (b) penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar. Konsepsi ini mengimplikasikan, tradisi merupakan sesuatu yang berada di belakang, telah lampau, telah jadi (given), telah berhenti atau beku, dan diwaris­kan. Pada dasarnya, hal ini merupakan pandangan regresif, ke belakang, tentang tradisi; pandangan yang sangat memuja harmoni.

Tentu saja pandangan tersebut tidak salah. Tetapi, terbatas dan dapat menimbulkan pelba­gai dampak merugikan. Mengapa terbatas? Soalnya, implementasi pandang­an tersebut cenderung membendung kreativitas, kreasi baru, dan eksperimen baru. Di samping itu, juga membuat orang tampak pasif dan reseptif, kurang proaktif dan produktif. Mengapa dapat berdampak merugikan? Soalnya, aplikasi pan­dang­an tersebut membuat manusia menunggu warisan generasi se­belumnya, mengeramatkan apa yang digolongkannya sebagai tradisi. Di sam­ping itu, dapat pula memacetkan atau menimbulkan stagnasi kreativitas, dan menghalangi terjadinya eksperimen yang menghasilkan kemajuan.

Itu sebabnya, tampaknya kita perlu memperluas konsepsi dan pandangan tentang tradisi. Kita perlu mengembangkan pandangan progresif, ke depan, tentang tra­disi; pandangan yang memberi ruang bagi dinamika. Dalam pers­pektif ini, tradisi perlu dipandang sebagai sesuatu yang berada di depan, be­lum jadi (selalu menjadi), terus bergerak atau hidup, dan dibangun. Di sinilah tradisi dapat dilihat sebagai model-model, pola-pola, sistem-sistem, dan cara-cara yang dibangun oleh manusia secara terus-menerus, dikembangkan oleh manusia secara terus-menerus, dan diperhitungkan oleh manusia secara te­rus-menerus. Dengan demikian, tradisi bukan sekadar apa yang kita warisi, melainkan juga apa yang kita bangun secara terus-menerus. Dalam pandang­an seperti inilah tradisi terbuka bagi eksperimen, kreativitas, dan dinamika.

Selanjutnya, marilah kita bedakan antara kesenian tradisi dan tradisi kesenian. Secara umum dan konvensional, kesenian tradisi lazim dipahami sebagai kesenian lokal atau daerah yang sudah turun-temurun diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sementara itu, tradisi kesenian dapat dipahami sebagai model, pola, sistem, dan cara yang mantap dan mapan yang telah di­bangun, dikembangkan, dan ditegakkan serta diperhitungkan oleh komunitas kesenian secara terus-menerus se­hingga dapat menjadi pemandu, tolok ukur, dan patokan kesenian atau berkesenian.

Pertanyaan terpenting kita sekarang: apakah sudah ada tradisi kesenian In­donesia? Jika sudah, seperti apakah tradisi kesenian Indonesia? Jika belum, apakah kita perlu membangun tradisi kesenian Indonesia? Seperti apakah tra­disi kesenian Indonesia yang kita kehendaki? Bagaimana­kah kita harus mem­bangun tradisi kesenian Indonesia? Siapa sajakah yang perlu terlibat dalam upaya membangun tradisi kesenian Indonesia? Unsur apa sajakah yang perlu dibangun dalam tradisi kesenian Indonesia? Hal-hal ini tampaknya harus kita jawab ketika kita hendak membangun tradisi kesenian, bukan sekadar mempertahankan kesenian tradisi.

Siapa meragukan keberadaan, kedudukan, fungsi, dan peran seni yang demikian fundamental dan strategis dalam kehidupan manusia? Secara spiritual, filosofis, etis dan estetis, seni merupakan fakta humanitas dan mentalitas yang sangat fundamental dalam berbagai kebudayaan dan peradaban di pelbagai belahan dunia. Sudah lama [sejak zaman kuno] seni menjadi wahana atau instrumen utama ekspresi atau presensi spiritualitas, filfasat, etika, dan estetika, bahkan pendidikan. Secara politis dan ekonomis, seni merupakan fakta kemasyarakatan dan kebendaan yang sangat strategis dalam kebudayaan dan peradaban di berbagai belahan dunia. Kenyataan menunjukkan, sudah lama seni menjadi pilar kekuasaan atau negara, bahkan menjadi instrumen konsolidasi kekuasaan. Seni menata negara dan kekuasaan sering menggunakan seni. Pada masa kejayaan Singhasari, Majapahit, dan Mataram serta Orde Baru, kita menyaksikan betapa seni telah menjadi sarana legitimasi dan delegitimasi kekuasaan; alat melawan sekaligus meneguhkan kekausaan. Sudah lama pula seni menjadi identitas kelompok masyarakat tertentu, misalnya kita mengenal etnik Asmat dan Dani berdasarkan seni mereka. Bahkan pada zaman sekarang, seni telah menjadi komoditas ekonomi kreatif [ekonomi budaya] atau industri kreatif yang sangat penting dan menjanjikan; semakin banyak produk ekonomis-bisnis bersentuhan atau berlumur seni, bahkan produk ekonomis itu berupa seni budaya. Ini semua menunjukkan betapa keberadaan, kedudukan, fungsi, dan peran seni demikian berarti dalam dinamika kehidupan manusia.

Supaya keberadaan, kedudukan, fungsi, dan peran seni yang demikian berarti dapat bertahan, bahkan berkembang dalam suatu peradaban dan kebudayaan diperlukan dialektika seni. Yang dimaksud dialektika seni di sini adalah: seni selalu memerlukan pembaharuan [restorasi] di samping pelestarian seni [konservasi]; memerlukan penemuan [invensi, inkuiri] di samping pemeliharaan [kultivasi]; memerlukan perubahan dan pengembangan di samping pewarisan; memerlukan daya cipta seni [kreativitas] di samping daya hidup seni [survivalitas]; dan memerlukan kebaruan [inovasi] di samping keteraturan [kovensi]. Daya hidup, keteraturan, pelestarian, pemeliharaan, pemertahanan, dan pewarisan seni secara berkesinambungan dan berkelanjutan akan membuahkan seni tradisi, sedangkan daya cipta, kebaruan, perubahan, pembaharuan, penemuan, dan pengembangan seni akan membuahkan tradisi seni dalam lintasan kehidupan seni. Kehidupan seni yang dinamis selalu memerlukan seni tradisi dan tradisi seni secara serempak [simultan]. Ini mengimplikasikan, baik seni tradisi maupun tradisi seni sama-sama dibutuhkan dalam dinamika kehidupan seni, supaya kehidupan seni berakar secara kuat dan bertumbuh secara kokoh. Dikatakan demikian karena pada dasarnya seni tradisi merupakan produk masa lalu yang menjadi akar kehidupan seni, sedangkan tradisi seni merupakan produk masa kini dan masa depan yang menjadi tanah tumbuh seni.

Berhubung merupakan buah daya hidup, keteraturan, pelestarian, pemeliharaan, dan pewarisan, maka seni tradisi dapat digolongkan ke dalam warisan budaya [cultural heritage]; sedangkan tradisi seni dapat digolongkan ke dalam buah cipta[an] budaya [cultural works] karena merupakan hasil daya cipta, kebaruan, perubahan, pembaharuan, penemuan, dan pengembangan seni. Di sini perlu disertakan catatan bahwa buah cipta budaya dapat menjadi warisan budaya pula bilamana sudah diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikut. Ringkas kata, seni tradisi adalah salah satu bentuk warisan budaya, sedang tradisi seni adalah salah satu bentuk buah cipta budaya. Kebudayaan yang hidup dinamis dan mampu memenuhi kebutuhan pemangkunya selalu memiliki warisan budaya yang kaya-bermakna dan buah cipta budaya yang kuat: hubungan sinergis warisan budaya dan buah cipta budaya menimbulkan dinamika kebudayaan. Di sinilah tampak betapa fundamental dan strategisnya keberadaan, kedudukan, fungsi, dan peran warisan budaya dan buah cipta budaya dalam dinamika kehidupan manusia sekaligus kebudayaan di berbagai belahan dunia. Kehidupan sebuah kebudayaan dan peradaban selalu ditopang oleh seni tradisi sekaligus tradisi seni yang kuat pada satu sisi dan pada sisi lain disangga oleh warisan budaya sekaligus buah cipta budaya yang kaya.

Sehubungan dengan itu, dalam sebuah kebudayaan dan peradaban, diperlukan pelestarian dan pemeliharaan seni tradisi sekaligus pembaharuan, penemuan, dan pengembangan tradisi seni; dibutuhkan pemeliharaan warisan budaya sekaligus penemuan dan pengembangan buah cipta[an] budaya. Agar hidup dan berkembang secara dinamis dan maju, kebudayaan dan peradaban Indonesia dan juga kebudayaan dan peradaban etnik di Indonesia jelas memerlukan pelestarian dan pemeliharaan seni tradisi sekaligus penemuan dan pengembangan tradisi seni pada satu sisi dan pada sisi memerlukan pemeliharaan warisan budaya sekaligus penemuan dan pengembangan buah cipta budaya. Di samping itu, diperlukan pula pelindungan seni tradisi sekaligus tradisi seni pada satu sisi dan pada sisi lain diperlukan pelindungan warisan budaya sekaligus buah cipta[an] budaya. Sebagai contoh, kita memang harus melestarikan, memelihara, dan bahkan melindungi tari bedhoyo, lukisan Raden Saleh, dan patung Asmat, tetapi kita juga harus memperbaharui, menemukan, dan mengembangkan tari-tari baru, lukisan-lukisan baru, dan patung-patung baru yang bermakna dan bermutu. Di sinilah new art harus diterima dan diberi tempat dalam tradisi seni Indonesia sekalipun jelas bukan seni tradisi. Kita memang harus melestarikan, memelihara, dan melindungi arsitektur etnik, bentang alam otentik [hutan hujan tropis dan subak misalnya], bangunan masa lalu [candi dan gedung kuno], alat-alat musik lokal [angklung misalnya], tarian etnik, dan senjata etnik sebagai warisan budaya Indonesia, tetapi kita juga harus berusaha memperbaharui, menemukan, dan mengembangkan ciptaan-ciptaan budaya baru, misalnya seni baru, arsitektur baru, dan motif busana baru serta bentang alam [lansekap] baru. New art adalah buah daya cipta budaya yang baru sehingga perlu kesempatan dan ruang hidup dalam kebudayaan Indonesia.

Oleh karena itu, kita harus memperhatikan dan melindungi seni tradisi sekaligus tradisi seni pada satu sisi dan pada sisi lain warisan budaya sekaligus buah cipta budaya. Soalnya, kebudayaan dan peradaban Indonesia memerlukan seni tradisi sekaligus tradisi seni dan warisan budaya sekaligus budah cipta budaya. Bila seni tradisi dan warisan budaya semata yang kita urusi dan lindungi, kita niscaya bakal kehilangan masa depan dan hanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Bila tradisi seni dan buah cipta budaya belaka yang kita urusi dan lindungi, kita bakal kehilangan akar budaya dan hanya hidup dalam bayang-bayang masa depan. Baik pelestarian, pemeliharaan, dan pelindungan seni tradisi dan warisan budaya maupun pembaharuan, penemuan, dan pengembangan tradisi seni dan buah cipta budaya belum kita lakukan secara sungguh-sungguh. Maka, tugas utama kita sekarang adalah melestarikan, memelihara, dan melindungi seni tradisi dan warisan budaya secara sungguh-sungguh sehingga tidak punah, masih dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikut. Di samping itu, tugas utama kita adalah memperbaharui, menemukan, dan mengembangkan tradisi seni dan budah cipta budaya secara sungguh-sungguh agar seni-seni baru dan ciptaan-ciptaan budaya baru dapat dihasilkan. Di sinilah diperlukan konservasi seni tradisi sekaligus inovasi tradisi seni; juga konservasi warisan budaya sekaligus kreativitas budaya.

Sumber foto: Wikipidia

http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/budaya-bukti-identitas-kita/




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *