Seniman Deklarasikan Jaringan Festival Kampung Nusantara

1918969_1173224192706620_6587059429912179586_n

TEMPO.CO, Banyuwangi -Sejumlah seniman Indonesia dan luar negeri mendeklarasikan Jaringan Festival Kampung Nusantara di Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu sore 17 Januari 2016.

Jaringan Festival Kampung Nusantara itu terdiri dari Festival Kampung Cempluk Malang, Festival Jati 7 Jawa Barat, Festival Lima Gunung Jawa Tengah, Festival Kampung Pecinan Malang, Festival Kampung Rengel Tuban.  Selain itu juga ada Festival Kampung Paser Kalimantan Timur, Festival Kampong Temenggungan, Festival Karawang Art Village dan Festival Kampung Celeket.

Para seniman mendeklarasikan Jaringan Festival Kampung Nusantara di depan Pendopo Kabupaten Banyuwangi. Deklarasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Kampong Temenggungan yang berlangsung 16-17 Januari 2016.

Ketua Jaringan Festival Kampung Nusantara, Redy Eko Prastyo, mengatakan, jaringan tersebut berbasis seniman dan kampung-kampung yang bersepakat mempertahankan budaya lokal. Menurut Redy, pertunjukan seni sebenarnya tidak eksklusif di gedung seni atau kampus. “Kami mengajak seniman-seniman untuk menggelar kesenian di kampung-kampung,” kata Redy kepada Tempo, Minggu, 17 Januari 2016.

1486566_1661279320792256_9080737729203493141_n
Para seniman yang ambil bagian dalam deklarasi tersebut yakni antara lain Gilles Saisi (gitaris) asal Prancis, Marios Manelaou (basis etno) asal Cyprus, Isi Wolf (pemain light clarinet) dari Inggris, Sarka Bartuskova (penari) dari Republik Ceko serta dua seniman Lithuania, Matilda Minibrook (fire dancer) dan Lucas Paltanavicius (pemain violin).

Sedangkan musisi Indonesia yang berencana tampil di antaranya berasal dari Bali, NTT, Kalimantan Timur, Bali, Bandung, Yogyakarta, Solo, Tuban, dan Malang.

Menurut Redy, dari sembilan kampung yang bergabung, Festival Lima Gunung adalah tertua. Festival yang telah berusia 14 tahun itu digelar oleh kampung-kampung di sekitar lima gunung di Jawa Tengah seperti Gunung Dieng, Sumbing, dan Merbabu.

Konsep festival kampung, kata Redy, adalah bagaimana mengangkat potensi budaya lokal warga kampung dalam bentuk festival. Termasuk juga mengkolaborasikan kesenian lokal dengan seni daerah lain di Indonesia dan mancanegara. “Sehingga ada interaksi antar seniman dengan warga kampung,” kata penggagas Festival Kampung Cempluk Malang ini.

Antarpelaku seni setiap kampung festival saling mendukung sebagai pengisi acara. Jaringan ini diperluas dengan memanfaatkan media internet sehingga pertunjukan seni bisa disaksikan disiarkan ke seluruh dunia.

Ketua Kampung Wisata Temenggungan (Kawitan) Eko Raskito, mengatakan, konsep festival kampung memperkaya wawasannya dalam bermusik. “Warga kampung akhirnya jadi tahu alat musik daerah lain,” kata ketua grup gamelan Banyuwangi Putra.

Menurut Eko, kolaborasi antara musik etnik dan kontemporer tidak akan membuat budaya asli hilang. Sebaliknya, malah memperkuat kehadiran kesenian lokal. “Seniman asing sangat menyukai alat musik tradisional Indonesia,” kata dia.

IKA NINGTYAS

sumber: http://seleb.tempo.co/read/news/2016/01/18/114737026/seniman-deklarasikan-jaringan-festival-kampung-nusantara




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *