SMARADAHANA MENGEJOWANTAH Festival Kampung “Genderang Purnama  Ganesya Karangkates” VI

Oleh : M. Dwi Cahyono

Rabo, 21 Agustus 2019 adalah pembukaan atau hari pertama dari empat hari (Rabo-Sabtu) Festival “Genderang Purnama Ganesya Karangkates”, yang kali ini telah memasuki sesi VI. Pembukaan diisi dengan dua acara, yakni (a) Kirab Budaya pada siang-sore hari, serta (b) pentas seni dan saresehan budaya pada malam hari. Festival sesi VI tersebut sengaja mengangkat tema “Asmaradahana, Api Cinta Jenggala-Panhalu”. Suatu tema yang tepat dan kontekstual, karena kakawin Smaradahana karya rakawi Put Dharmaja yang disurat semasa pemerintahan raja Kaneswara I (1115-1130 M.) memyat kisah mitologis tentang “Kelahiran Dewa Ganesya”

Kisah mitologis inilah yang kontekstual dengan aset budaya luhur di Desa Karangkates Kab. Malang, yakni sebuah arca Ganesya dalam posisi berdiri samabhangga (tegak lurus) di atas kapalasana (singgasana deretan tengkorak — petanda aliran Tanteayana), suatu karya masterpiece ikonografis pengaruh kesenian Phalla dari Masa Keemasan Singhasari, tepatnya pada era pemerintahan raja Kretanegara. Perihal kisah mitologis inilah yang saya (Dwi Cahyono) bahas pada Saresehan Budaya, Rabo malam tangfal 21-8-2019. Semoga ke dream kisah “Api Asmara (smara = Asmara, dahana = api)” ini mampu di”sendratari”kan sebagai ikin tari pada Festival Genderang Purnama Genesya Karangkates. Pentas kesenian hari ke-1 ini dipungkasi dengan menyanyikan musik akustik-etnis oleh “Salakara” yang multi menentukan karaktter warna musiknya dan kian dihidupkan nuansa rtistiknya dengan rarian tunggal dari para penari handal setempat.

Sebagai suatu Festival Kampung, perhelatan yang secara periodik dihelat di Desa Karangkates adalah prestasi yang patut diiacungi jempol. Eksistensinya terbukti, karena pada tahun ini (2019) telah masuk pada sesi VI. Tentulah, tidak mudah untuk menjaga konsistensi Festival Kampung hingga lebih dari sesi yang ke-3, dan Karangkates riil membuktikan konsistensinya itu. Antusias dan kepeduluan warga akan budaya lokalnya secara dengan visi budaya pemerintah Desa Karangkates, walhasil mampu hadirkan helat budaya yang sungguh-sungguh, bahkan terkesan all out untuk ukuran desa.

Tidak tanggung–tanggung, festival digelar hingga empat hari berturut-turut, dengan beragam acara. Dalam hal tempat pementasan, barangkali hanya sedikit sesa yang punya panggung pertunjukan permanent dalam ukuran besar di tanah lapang luas seperti yang dimiliki Oleh Karangkates. Para muda, para seniman setempat dan partisipasi para seniman serta budayawan lintas desa bahkan lintas daerah seakan gayung besambut dengan dukungan serius dari pemerintah desa — meski dukungan Pemkab Malang hingfa se jauh ini belum juga nyata terlihat. Kedepan mustilah pula ada dukungan dari pihak pengelola Bending and Karangkates dan Bending and Laor, karena areal festival betada dalan apitan kedua bendungan itu.

Semoga Festival “Genderang Purnama Ganesya Karangkates” kedepan kian membahana, seperti bahana bunyi genderang yang ditabuh bertalu-talu. Selamat berolah seni-budaya. Kontrubusimu untuk merevitalisasi kampung, untuk melestarikan dan memgembamgkan budaya lokal patut diteladani oleh kampung-kampung lain. Suminggo hadir pada pancakes acara Sabtu malam, 24 Agustus 2019 Nuwun.

Sangkaling, 22 AguAgustus 2019
Griya Ajar CITEALEKHA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *