SONJO KAMPOENG FATSAL 3: NGADIPURO – MALANG

Peraga Kang Seger

Peraga Kang Seger

PERADABAN KAMPOENG

Sekalipun diterpa angin perubahan jaman, kadang ditelantarkan oleh geliat pertumbuhan baru jalur perekonomian, dan dianak-tirikan oleh model baru struktur birokrasi pemerintahan, sebuah Kampoeng selalu terlihat akan tetap setia sebisa kreatifitas yang ada padanya untuk mempertahankan makna hidup dirinya, memelihara tanda-tanda, ujaran-ujaran, dan kisah-kisah kearifan yang membuat para penghuninya tetap merasa bangga dan percaya diri. Di kota-kota yang pertumbuhan dan sistem kemasyarakatannya direkayasa agar memenuhi standartisasi dan prasyarat kehidupan modern yang serba memudahkan penghuninya memenuhi kehidupan sehari-harinya tanpa terlalu banyak gangguan dan interupsi relasi dan komunikasi sosial, keberadaan kampoeng tradisional yang masih menyimpan kekayaan sejarah dan penanda budaya masih banyak kita jumpai dan teramat sayang untuk tidak diberi perhatian penghargaan dan penghormatan.

Peradaban kampung seperti ini memberi pesan tegas bahwa kekuatan keutuhan Kampoeng terbangun di atas relasi-relasi antar manusianya.

Oleh karena itu, muncul pertanyaan mendasar: siapakah yang akan menjaga, menghargai, menghormati dan terutama tetap bersedia hidup di dalam keagungan dan keindahan Kampoeng seperti itu? Tentu saja jawabnya adalah … mereka sendiri … para penghuni kampoeng itu sendiri. Dan mereka itu berarti; para generasi tua dengan segala memori dan romantikanya, para generasi muda yang kadang harus tergagap menghadapi realitas perubahan sosial di sekitarnya, dan (inilah kekuatan Indonesia) para penghuni kampoeng-kampoeng lain di sekitarnya yang menghadapi tantangan dan persoalan yang sama.

Apa yang terjadi pada sebuah Kampoeng berdampak pada kampoeng yang lain. Bukan karena mereka terhubung atau tergantung secara ekonomi, bukan karena mereka terkelompok dalam sebuah geografis administratif kekuasaan tertentu, bukan pula karena sekedar adanya hubungan darah dan kekerabatan. Kampoeng-kampoeng itu terhubung karena ada kompleksitas sistem tanda dan makna yang (sayangnya) kelestariannya sejajar dengan kemampuan masing-masing kampoeng itu untuk mempertahankan dirinya. Jadi nampak bahwa ketika menjumpai sebuah kampoeng tradisional yang masih menyisakan sistem tanda dan makna yang terkait dengan kampoeng yang lain itu adalah seperti menemukan harta karun nan berharga yang telah ditinggalkan dan disia-siakan oleh keangkuhan yang dikenal sebagai perkembangan jaman.

BUKAN SEKEDAR NAMA

Nama sebuah Kampoeng mengandung banyak makna. Dia bisa berasal dari stereotiping yang terbangun dalam diri para penghuninya atau berasal dari olok-olok penduduk di sekitar, dia bisa berupa sebuah idealisme komunal – semacam visi komunitas, dan lain sebagainya. Pendek kata, dalam konteks Kampoeng tradisional, penelusuran sebuah nama kampoeng bisa dilihat dari beragam perspektif. Tanda-tanda alam berupa topografi dan vegetasi paling mudah tumbuh atau paling banyak dijumpai adalah sumber penamaan kampoeng yang paling umum. Adanya kekayaan mineral dan alam lainnya termasuk bagaimana orang-orang mengelolanya juga tidak jarang menjadi sumber penamaan. Nama kampoeng selalu menarik dijadikan thema penelusuran bagaimana sebuah sejarah dan budaya dalam sebuah kampung itu terproses, bertahan dan menjadi bagian penting bagi identitas para anggotanya baik yang tinggal tetap disitu maupun yang berasal dari situ namun telah berada di tempat lain.

Berdasarkan perspektif “Panca Desa” (model pembangungan kawasan berbasis pada empat area setingkat desa dengan satu pusat desa – Dwi Cahyono), nama Madyopuro (Bhs. Sansekerta: madya = tengah, pura = pusat keramaian, arah pemujaan, pintu masuk, atau tempat suci) di antara nama desa di sekitarnya seperti Lesanpuro, Sekarpuro, Ngadipuro dan mungkin satu lagi bernama Adhipuro yang bisa jadi sudah lebur menjadi nama Ngadipuro. Penamaan berbasis Panca Desa merupakan era dimana wilayah “di sebelah timur gunung Kawi” ditandai dengan banyak hal. Yang paling menonjol sebenarnya adalah nama perbukitan yang sekarang disebut Gunung mBuring dulunya lebih dikenal sebagai Gunung Malang; perbukitan yang jika dilihat dari lembah timur gunung Kawi selalu nampak melintang (Malang). Maka besar kemungkinan bahwa peradaban kampoeng yang sekarang berkembang menjadi wilayah Malang raya dulunya berpusat dan berawal dari daerah Madyopuro.

Para pelaku seni dalam diskusi

Para pelaku seni dalam diskusi

Selain itu, dalam sejarahnya nama Madyopuro-Ngadipuro juga berhubungan dengan wilayah yang dulunya merupakan tempat para pengrajin emas yang paling handal seantero wilayah kekuasaan kerajaan Singhasari. Bahkan dalam suatu peristiwa dapat ditengarai bahwa di wilayah ini dulunya Raja Hayam Wuruk menempatkan Putri kesayangannya yang bernama Kusuma Wardhani. Kemegahan dan kekayaan wilayah ini secara geografis dapat dengan mudah terlihat karena berada dalam satu lereng dataran tinggi sejajar dengan Singosari dan Turen (yang juga merupakan daerah pemukiman kuno). Tempat ini juga tergolong aman dan strategis bagi usaha pertanian karena diapit oleh dua aliran sungai yang tidak pernah mengering.  [Selanjutnya, catatan mengenai hasil kupasan komplit mengenai Madyopuro dalam acara Sonjo Kampoeng akan tersedia dalam artikel tersendiri yang sedang dipersiapkan oleh pak Dwi Cahyono.]

Satu perspektif historis yang menarik di kawasan madyopuro adalah masih terpeliharanya setidaknya 8 punden, yang beberapa diantaranya masih menyisakan artefak historis seperti yoni, dan sebuah patirtan (sesuatu yang paling dianggap penting dan disakralkan pada era Singhasari-Mojopahit). Yang paling menarik dari perspektif ini adalah adanya makam Ki Ageng Gribig yang dipercaya sebagai penyebar agama Islam pertama di wilayah ini bahkan sebelum kekuasaan dan pengaruh Islam dari Mataram mempengaruhi dan mendominasi. Jika Gribig yang dimaksud adalah putra dari Syeh Menganti (yang adalah paman dari Sunan Giri), maka dapat dikatakan bahwa Islamisasi di malang Raya sudah terjadi di era awal Para Wali atau bahwa syiar Islam di wilayah sbelah timur gunung Kawi berpusat di Madyopuro.

IKON KAMPUNG

Jelas dengan begitu kayanya sejarah dan perubahan sosial-budaya yang terpampang di sepanjang proses kehidupan masyarakat Madyopuro, belum lagi jika ditambahkan pada peristiwa peminggiran disengaja oleh sistem pembangunan era kolonial yang cenderung mengeksploitasi lembah di wilayah timur gunung Kawi ini condong fokus pada area-area sebelah barat Sungai Brantas, membutuhkan kejelian dan ketelatenan untuk menilik kembali jejak kekuatan seni-ritual-tradisi budaya setempat. Namun thema-thema yang telah diawali dengan ekplorasi sejarah memperlihatkan adanya kebutuhan assesment kekayaan seni, tradisi, tanda, ujaran, dan segala macam benda tersisa yang memberi makna dan arti penting bagi masyarakat setempat.

Geliat kawan-kawan penggiat komunitas yang langsung melibatkan baik generasi muda maupun generasi tua dalam event yang akan digelar bertajuk Ngijabi (Ngadipuro Jaman mBiyen) dengan fokus pada terbangunnya Kampoeng Nyuwun Sewu adalah titik penting yang sangat luar biasa. Pertama, hal ini berasal sepenuhnya dari inisiatif lokal. Kedua, pesan yang hendak disuarakan adalah pentingnya mengindentifikasi komunitas berdasarkan hasil karya seni, tradisi dan budayanya. Ketiga, meyakinkan bahwa gerak kreatif sebuah masyarakat berangkat dari yang sederhana, yang ada di komunitas, namun yang memberi makna dan mengeliatkan produktifitas komunitas.

Mereka hendak membongkar stereotiping sebagai kampoeng para pecundang dalam wilayah yang terpinggirkan oleh deru pertumbuhan kota Malang. Mereka justru hendak menegaskan bahwa geliat kampoenglah yang akan menjadi ikon sebuah kota. Dan ketika para generasi muda mengaji kembali pada para tetua desa, belajar kembali pada kearifan seni tradisi, bahasa, ujaran, dan kisah-kisah kearifan lokal yang dimilikinya, saat generasi baru semakin terinspirasi bahwa kebanggaan pada seni tradisi dan keluhuran budaya adalah lebih bermakna, pada saat itulah sebuah bangsa diteguhkan kembali. Saat itulah ikon kampung diciptakan berdasar pada nilai-nilai utama yang menghidupi dan membahagiakan mereka.

Demikianlah, sekali lagi, Sonjo Kampoeng hendak menegaskan kembali bahwa bangsa ini terbangun dengan bermartabat saat inisiatif satu kampoeng berjumpa dengan kreatifitas kampoeng di sekitarnya. Atau dengan kata lain: Indonesia adalah perjumpaan kampoeng-kampoeng.

Dalam kesederhanaan dan kesetaraan, diskusi menjadi sangat bermakna.

Dalam kesederhanaan dan kesetaraan, diskusi menjadi sangat bermakna.

CATATAN:

Semua peserta yang hadir dalam acara Sonjo Kampoeng adalah narasumber yang partisipasinya dalam diskusi memiliki bobot penting yang setara dan sama. Diantaranya adalah Kang Teyer (Karang Taruna), Paklik Noviandri (LPMK), Pakdhe Suprapto (Ketua RW 02), Prof. Dwi Cahyono (Arkeolog), mBah Priyo (Budayawan), Cak Win (Manager Kampoeng Celaket), Mas Restu Respati (Penjelajah Jejak), Mas Bejo & wife (Ekspresor Komunitas), Tim Tulungagung dan kawan dari Jepang (Apresiator tradisi), Charlotte Blackburn (Tata kota dan kawasan), Gus Icroel (Pendekar Gunung Kunci), Bunbun (Carik Bening), Pak Bambang Irianto (RW Glintung), dan banyak lagi kawan-kawan lain yang kontribusinya jelas dan nyata.

 

Kristanto Budiprabowo

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *