SONJO KAMPUNG SEKITAR BOROBUDUR

SONJO KAMPUNG SEKITAR BOROBUDUR

Oleh: Bachtiar Djanan M.

sonjo (foto by RUlly)

Foto by Rully

 

Salah satu budaya Jawa dulu, bertamu ke rumah sahabat belum tentu punya kepentingan atau tujuan. Kadang sekedar dolan, sekedar ngobrol ngalor-ngidul. Bahkan terkadang tak harus mengetuk pintu, langsung masuk rumah begitu saja, langsung duduk-duduk, lesehan, atau berbaring, di mana saja, tentunya sebatas di ruang publik yang diperkenankan. Itulah “sonjo”.

Sonjo bisa sebentar, bisa berjam-jam. Mengalir saja, bersama asap rokok yang mengepul, sruputan kopi kental, dan kunyahan gorengan, diselingi gelak tawa serta kehangatan kekeluargaan yang akrab.

Di jaman yang pragmatis sekarang ini, budaya sonjo kian langka. Sonjo kerap dinilai tidak berguna, buang waktu, bahkan dianggap mengganggu privasi orang lain. Kebanyakan “keluarga modern” lebih merasa penting untuk bermain gadget atau duduk di depan pesawat televisi.

Sonjo tak sama dengan rapat koordinasi atau diskusi formal, sonjo juga tidak sama dengan ngobrol bergosip. Sonjo adalah ruang kebersamaan yang punya akar sosial kuat. Mempererat persaudaraan, berbagi pemikiran tanpa kepentingan, dan sebuah silaturahmi bermakna.

Sonjo Kampung Bambu Klatakan, desa Wringin Putih, kecamatan Borobudur, foto by Bachtiar

Sonjo Kampung Bambu Klatakan, desa Wringin Putih, kecamatan Borobudur, foto by Bachtiar

Demikianlah sonjo kampung yang dilakukan pegiat-pegiat Japung Nusantara di beberapa desa di seputar candi Borobudur, pada 18-21 Oktober 2016 yang lalu. Ada Trie Utami dan Rully Febrian, sang suami, dari Jakarta; ada Redy Eko Prastyo yang konon “presiden” Japung Nusantara, dari Malang; Kimpling Indro Suseno pegiat budaya dari Jogja; Aak Agus Wayan Joko Prihatin, dosen Universitas Islam Negeri Malang; Dwi Cahyono, sejarahwan dan arkeolog dari Universitas Negeri Malang; Danis Setya Budi Nugraha, kepala desa Gondowangi, Wagir, Kabupaten Malang, beserta timnya; dan saya sendiri, yang datang dari ujung paling timur pulau Jawa, Banyuwangi.

Beramai-ramai kami sonjo ke beberapa kampung di sekitar candi Borobudur. Berbicara tentang situs warisan dunia ini, ngobrol tentang kehidupan masyarakat sekitar situs, berdiskusi tentang alam dan segala potensinya, dan sharing berbagi cerita serta pengalaman dari apa yang pernah kami temukan dan kami kerjakan di daerah kami masing-masing.

Warisan Dunia atau Obyek Wisata

Membicarakan Candi Bodobudur, siapa yang tidak tahu situs ini. Namun, tahu tapi belum tentu mengenal, tahu belum tentu memahami, dan tahu belum tentu peduli. Itulah yang banyak terjadi.

sonjo 2

Sonjo Kampung di Galeri Komunitas Desa Karanganyar, kecamatan Borobudur . Foto by Bachtiar

Hasil survey kepada pengunjung Borobudur menyatakan, rata-rata sebagian besar orang datang dua kali selama hidupnya ke candi yang dibangun sejak tahun 770 sampai 825 masehi  ini. Pertama kali saat masih kecil, kedua kalinya belasan atau puluhan tahun kemudian, saat mengajak anaknya.

Bodobudur sebagai sebuah potret kemajuan peradaban dinasti Syailendra 12 abad yang lalu, kini cenderung hanya menjadi sebuah obyek wisata. Tak ada bedanya dengan dengan berwisata ke pantai, gunung, mall, ataupun tempat rekreasi lainnya.

Candi dengan 2672 relief, 504 arca Budha, dan 72 stupa ini, seringkali hanya menjadi obyek foto, menjadi latar belakang foto selfie pengunjung, menjadi background “panggung” dalam sebuah event, hanya sebagai “barang dagangan” untuk mendapatkan omzet pariwisata.

Padahal Borobudur sejatinya adalah mega perpustakaan kebudayaan. Borobudur adalah sebuah rekam jejak pemikiran, nilai-nilai, catatan peristiwa, dan potret kehidupan, yang menjadi dokumentasi kecerdasan, kemajuan dan kejayaan peradaban di masa itu.

Kenyataan Sebagai Cermin

Dari kacamata pariwisata, Borobudur adalah salah satu magnet besar pariwisata Indonesia. Sekitar 3,3 juta wisatawan nusantara  dan 250 ribu wisatawan mancanegara berkunjung ke candi ini pada tahun 2015, sekitar 2,46% dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tahun itu.

sonjo 3

Sonjo di pusat kerajinan gerabah Dusun Klipoh Desa Karanganyar, kecamatan Borobudur ,Foto by Bachtiar

Namun bila dibandingkan, angka kunjungan wisatawan mancanegara tersebut ternyata masih kalah jauh dibanding kunjungan wisatawan ke situs warisan dunia lainnya, seperti Angkor Wat di Kamboja, yang mencapai angka 2,3 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2015.

Belum lagi kita harus rela menerima kenyataan, bahwa sejak tahun 2007, candi Borobudur tidak lagi masuk dalam 7 Keajaiban Dunia versi lembaga New 7 Wonders Foundation, yang berpusat di Lisabon, Portugis.

Di beberapa penilaian lain, Borobudur disebut sebagai keajaiban yang terlupakan atau “The Forgotten Wonders”  bersama beberapa peninggalan bersejarah dunia lainnya. Perlu kita tahu, peninggalan yang masuk pada kategori “yang terlupakan” itu biasanya adalah situs yang kurang dikenal oleh para sejarahwan dan arsitek dunia.

Sebenarnya kecilnya data kunjungan wisatawan, tidak masuknya Borobudur pada 7 keajaiban dunia, dan masuknya candi ini pada kategori keajaiban dunia yang terlupakan, itu semua adalah cerminan. Menggambarkan bagaimana bangsa kita sendiri mengapresiasi Candi Buddha terbesar di dunia ini, bagaimana bangsa kita menghargai situs yang dibangun dari 55.000 meter kubik batu andesit ini, dan bagaimana bangsa kita merasa penting untuk menggali pengetahuan dari literasi peninggalan peradaban nenek moyang yang terpampang di relief-relief candi ini.

Untunglah Borobudur masih mendapatkan perhatian dunia internasional sebagai Situs Warisan Dunia, yang ditetapkan pada tahun 1991 oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) yang bernaung di bawah PBB. Borobudur adalah satu dari 8 Situs Warisan Dunia yang ada di Indonesia, di antara 980 Situs Warisan Dunia yang berada di 160 negara di seluruh dunia.

Borobudur Bagi Masyarakat

Borobudur berada di sebuah dataran, yang konon merupakan danau purba, dikelilingi perbukitan Manoreh dan gunung-gunung, yaitu Gunung Merbabu (sebelah timur), Gunung Merapi (sebelah Barat laut), Gunung Sumbing (sebelah Selatan) dan Gunung Sindoro (sebelah Utara). Terdapat 20 desa yang berada di kecamatan Borobudur, kecamatan tempat candi ini berdiri megah.

sonjo 4

Sonjo di pusat kerajinan gerabah Dusun Klipoh Desa Karanganyar, kecamatan Borobudur, Foto by Bachtiar

Keberadaan candi ini membuat bisnis pariwisata menggeliat pesat. Puluhan villa, hotel dan resort dibangun di sekitar Borobudur, dengan harga sewa kamar mulai ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah permalam. Sementara, sebagian tanah warga desa sekitar Borobudur kini telah beralih tangan ke investor-investor besar. Entah sudah berapa ratus hektar.

Bisnis-bisnis pariwisata menghasilkan perputaran uang yang besar di sekitar Borobudur. Pertanyaan pentingnya, berapa banyak perputaran uang itu bisa diserap masyarakat lokal?

Sebagian kecil desa di sekitar Borobudur telah mampu menyerap rejeki dari pariwisata, seperti desa Borobudur, Candirejo, dan Wanurejo  sebagai  desa-desa terdekat dari candi. Di sana telah bertumbuhan usaha milik warga seperti homestay, guiding, wisata tur desa, agrowisata rakyat, kerajinan, dan lain-lain.

Namun sebagian besar desa yang lain belum kebagian rembesan rejeki seperti tiga desa tersebut. Kebesaran Borobudur belum berimbas langsung pada desa-desa yang lain. Kalaupun ada sebagian warga desa yang mendapatkan tetesan ekonomi, sebatas pada perorangan warga yang menjadi pedagang asongan atau tukang parkir di Borobudur.

Sebuah PR besar bersama. Bagaimana mendistribusikan kesejahteraan bagi masyarakat di desa-desa sekitar Borobudur, dengan belajar serta memahami Borobudur sebagai sebuah literasi budaya berupa mahakarya situs yang diwariskan para leluhur, yang tentunya bertujuan agar bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

Menghadirkan Borobudur ke Desa

Sonjo 5

Sonjo Radio Komunitas MGM dusun Barelan Desa Wanurejo, kecamatan Borobudur , Foto by Bachtiar

Sonjo Kampung Japung Nusantara dilakukan ke beberapa desa di kecamatan Borobudur, yaitu Kampung Bambu Klatakan desa Wringin Putih, Kampung Dolanan dusun Sodongan desa Bumiharjo, Galeri Komunitas desa Karanganyar, pusat kerajinan gerabah dusun Klipoh desa Karanganyar, dan Radio Komunitas MGM dusun Barepan desa Wanurejo.

Selain itu, ada dua desa di luar kecamatan Borobudur yang tak terlalu jauh, yang juga kami kunjungi, yaitu Kampoeng Dolanan dusun Karanggeneng kecamatan Ngluwar, dan kampung komunitas penggemar ular di dukuh Mbawang dusun Pongangan desa Ngadirejo kecamatan Salaman.

Dari diskusi di Sonjo Kampung dibahas perlunya “mengeluarkan” candi Borobudur, dan “dihadirkan” ke desa-desa. Maksudnya, berbagai pengetahuan dan nilai-nilai yg dipahatkan di relief-relief candi ini perlu dipelajari dan dijadikan inspirasi oleh masyarakat sekitar candi.

Seperti contohnya, menurut penelitian Balai Studi dan Konservasi Borobudur (1999), ternyata ada beberapa jenis produk gerabah yang sampai hari ini masih diproduksi dan digunakan sehari-hari oleh masyarakat dusun Klipoh desa Karanganyar, yang mempunyai kesamaan bentuk dengan yang tergambar pada relief Karmawibhangga, relief Jataka, dan relief Lalitavistara, di Candi Borobudur.

Namun para pengrajin gerabah di Klipoh tidak tahu jika gerabah mereka terpahat di Borobudur. Yang mereka tahu hanya bahwa kerajian gerabah di Klipoh usianya lebih tua daripada candi Borobudur, karena pecahan-pecahan gerabah cukup sering ditemukan pada kegiatan-kegiatan eskavasi di sekitar Borobudur.

sonjo 6

Sonjo Radio Komunitas MGM dusun Barelan Desa Wanurejo, kecamatan Borobudur, Foto by Bachtiar

Selain relief Borobudur yang merekam produk gerabah masyarakat, sebaliknya, apa yang ada di relief Borobudur juga bisa dihadirkan dalam produk-produk masyarakat. Relief sebagai motif produk gerabah cetak, relief dekoratif sebagai motif batik, relief alat musik dawai dan kendang diwujudkan dalam produk alat musik, relief dipakai sebagai desain kaos, cerita dalam relief dikembangkan sebagai dolanan anak, dan lain-lain.

Di Bororbudur terdapat 1.460 panil relief cerita dan 1.212 panil relief dekoratif, itu semua adalah ide dan inspirasi yang bisa dikembangkan sebagai produk-produk kreatif masyarakat. Belum lagi berbagai pengetahuan yang bisa dipelajari dan diserap dari mega perpustakaan literasi berbahan batu andesit ini.

Hari Raya Kebudayaan Borobudur

Menelusuri akar budaya kampung menjadi sebuah keniscayaan. Disadari atau tidak, kampung-kampung sekitar candi Borobudur tentu memiliki kesejarahan erat dengan candi berukuran 123×123 meter dengan tinggi 42 meter ini. Relief  yang terpahat di dinding candi adalah potret peradaban.

Peradaban yang besar tentu tumbuh dari budaya yang tinggi. Budaya yang tinggi tentu tumbuh dari individu-individu yang berproses menemukan jati dirinya. Itulah nenek moyang warga kampung-kampung sekitar Borobudur.

Bagaimana generasi sekarang perlu mempelajari proses yang dilakukan leluhur. Mereka adalah masyarakat yang memiliki capaian tinggi, dalam falsafah hidup, spiritual, wawasan moral, cara berpikir, sistem nilai-nilai, dan citarasa estetik. Dalam konteks sosial, mereka adalah komunitas masyarakat yang terkoordinir dan termanajemen dengan baik.

kampung-dolananBermodal literasi dari Borobudur, ditambah kekayaan potensi alam, aktifitas masyarakat yang khas, kearifan lokal, dan seni budaya yang dimiliki masyarakat, maka bukannya tidak mungkin kejayaan kebudayaan dan peradaban nenek moyang dilahirkan kembali di kampung-kampung sekitar Borobudur.

Menelusuri kembali jati diri kampung-kampung, bisa diawali dengan hari raya kebudayaan, sebagai sebuah momentum kebangkitan masyarakat sekitar Borobudur. Hari raya kebudayaan sebagai sebuah peristiwa budaya. Menghadirkan kesukacitaan rakyat dalam balutan ekspresi seni budaya.

Bagaimana kekayaan budaya nenek moyang yang direkam di relief-relief candi bisa hadir kembali di desa-desa, membuat masyarakat kembali memiliki “keterhubungan” dengan candi yang dibangun oleh nenek moyang mereka sendiri, satu paket dengan pengetahuan dan nilai-nilai yang telah dicapai oleh para leluhur.

Itulah gagasan menarik yang bergulir dalam Sonjo Kampung Jaringan Nusantara. Bagaimana gotong-royong antar kampung sekitar Borobudur hadir kembali di tengah masyarakat yang hari ini kian individualis, gotong-royong seperti halnya nenek moyang mereka bergotong-royong membangun candi Borobudur.

Hari raya kebudayaan bukan sekedar event ataupun tontonan. Hari raya kebudayaan  adalah momentum merayakan sebuah capaian kesadaran untuk bangkit, dengan keterlibatan masyarakat kampung sebagai subyek.

Jati Diri untuk Keberdayaan

Memang tidak semudah membalik tangan untuk mengajak masyarakat menemukan kembali jati diri mereka terkait dengan capaian leluhur seperti yang tergambar di candi Borobudur. Namun hal ini patut diperjuangkan.

Jati diri, kearifan, budaya luhur, dan ekspresi nilai-nilai dalam seni budaya, inilah pondasi dasar membangun masyarakat yang berdaya. Berdaya adalah kemampuan masyarakat untuk hidup dan menghidupi dirinya, serta menebarkan manfaat bagi sekitarnya.

Turunan dari penemuan jati diri ini salah satunya adalah berkembangnya potensi masyarakat untuk menghasilkan produk-produk berkarakter, potensi pariwisata, potensi ilmu pengetahuan untuk pembelajaran, dan

sonjo 7

Sonjo di Kampoeng Dolanan, desa Karanggeneng, Kecamatan Ngluwar, foto by Bachtiar

lain-lain. Ini semua tentunya diharapkan bisa berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat sekitar candi Borobudur yang mengenal, memahami, mengapresiasi, mencintai, dan menghayati jati dirinya, dan tak terpisahkan dari nilai-nilai yang telah dicapai oleh nenek moyang mereka. Itulah awal bangkitnya kembali kejayaan nusantara.

 

 

 

 

 




One thought on “SONJO KAMPUNG SEKITAR BOROBUDUR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *