SOSOK IKONIK MAKHLUK MITOLOGIS SANG GARUDA PADA MASA HINDU-BUDDHA DAN PERTUMBUHAN ISLAM NUSANTARA LAMA

A. Sosok Makhluk Mitologis Garuda

Salah sebuah makhluk mitologis yang dulu banyak tampil sebagai ikon (icon) pada khasanah budaya Nusantara Lama, utamanya masa Hindu-Buddha dan sub-masa Pertumbuhan Islam, adalah sosok “Garuda”. Makhluk mitologis ini diwujudkan secara “antropomorfis”, yakni sebagai : setengah manusia (antrophos), setengah binatang (tepatnya setengah burung). Memang, makhluk mitologus seringkali digambarkan sebagai “paduan” dua ataupun lebih binatang atau paduan binatang dan manusia. Oleh karena itu, sosok demikian tidak dapat dijumpai di dunia nyata, melainkan hanya kedapatan di dalam “dunia mitos”. Garuda karenanya bukanlah sosok binatang yang sepenuhnya, demikian pula bukan merupakan manusia sepenuhnya, namun adalah “manusia setengah burung”.

Indikator binatang, yakni burung, di dalam sosok ikonografi garuda tampak di bagian (a) muka (face), utamanya paruhnya — serupa dengan paruh burung jenis perot; (b) sepasang sayap dan bulu-bulunya; maupun (c) tapak kaki yang menyerupai tapak kaki burung, lengkap dengan taji (jalu)-nya, pertanda burung pejantan. Adapun indikator manusia tampak di bagian (a) kepala, seperti rambut dan telinga — acap kenakan anting- anting (kundala): (b) tubuh; (c) tangan, maupun (c) kakinya. Bentuknya sangat menyerupai organ tubuh manusia. Garuda tak sama dengan “Jatayu”. Pada relief “Ramayana” di candi Prambanan, tepatnya di pagar langkan sisi dalam candi induk Siwa, sosok Jatayu divisualkan sebagai burung sepenuhnya, yakni burung besar.

B. Latar Mitologis Sang Garuda

Sebagai makhluk mitologis dengan anatomi berupa “manusia setengah burung”, Garuda lebih tampilkan sikap maupun perilaku seperti manusia ketimbang sebagai binatang. Terlebih, di dalam mite “Garuda (Garudeya)”, ia dikisahkan sebagai putra Winata, yang menetas dari telur ke-3 yang dierami, yakni telur pemberian dari suami (Bhangawan Kasyapa). Sebagai seorang anak Dewi Winata, Garuda tampil sebagai anak yang “subudhi”, yakni seseorang yang berbudi luhur (su = baik, budhi = budi). Hal demikian tergambar pada sikap dan perilaku bhakti-nya pada sang ibu (bisa disebut “bhakti-ibu’). Dalam mitologi ini, Garuda digambarkan sebagai seorang putra yang taat berbakti terhadap “Prativi (Pertiwi = Ibu)”, dan sekaligus simbol “pembebas” dari belenggu kekuasaan (dalam bentuk perbudakan) pihak lain.

Untuk mendapatkan tirthamreta sebagai prasyarat tebusan bagi kebebasan ibunya, sang Garuda musti berjuang keras, malahan harus terlibat pertempuran dahsyat melawan Dewa Wisnu — sebagai penjaga tirthamreta [yang diwadahi di dalam kamandalu]. Demikian kuatnya “spirit bhakti-ibu”Garuda, sampai- sampai Dewa Wisnu nyaris tkalahkannya. Memang, bhakti yang tulus dan bersungguh-sungguh dari anak (Garuda) pada bundanya (Winata) merupakan sumber kekuatan (power resourch) hebat, sehingga kekuatan Dewata (Wisnu) sekali pun nyaris dapat dikalahkannya. Menyikapi hal itu, solusinya adalah tirthamreta dipinjamkan pada Garuda untuk syarat penebusan bagi kebebasan ibunya dari perbudakan, dengan kompensasi sang Garuda bersedia menjadi wahana (kendaraan) Dewa Wisnu. Demikianlah latar mengapa wahana Wisnu berupa Garuda — selain gajah putih Airawata.

Kisah mengenai sang Garuda termaktubb di dalam wiracarita “Mahabharatta”, tepatnya bagian (parwa) perdana — dinamai dengan “Adiparwa”. Ada kaitan antara kisah (a) “Sang Garuda (disebut juga dengan “Garudeya”) dengan (b) “Samudramantana” atau “Amretamantana”. Boleh dibilang bahwasanya kisah Garudeya adalah “bingkai cerita” dari kisah tentang pengadukan samudra susu (ksirarwana) untuk bisa mendapatkan air kehidupan atau keabadian (tirtha amreta — ‘a’ = tidak, ‘mreta’ = mati). Inti pesan dari cerita “Garudeya” adalah”pembebasan (kalepasan — ‘lpas’ = bebas, lepas) ibu Garuda, yakni Winata, dari perbudakan Kadru dengan barang tebusan berupa tirthamreta. Winata diperbudak Kadrru, lantaran ia dikalahkan secara licik oleh Kadru ketika keduanya terlibat dalam pertaruhan (totohan) menebak warna bulu dari kuda Uchaiswara, binatang yang keluar dari samudra susu yang diaduk tersebut.

Winata dan Kadru merupakan dua perempuan yang menjadi istri dari Bhagawan Kasyapa. Lantaran keduanya steril (mandul), tidak memungkinkan melahirkan anak, maka kepada keduanya diberi sejumlah telur (hantlu — ‘tlu’ = tlur, kini disebut ‘telur’) untuk dieraminya, sesuai dengan jumlah yang dimintanya. Kadru yang mengharap anak banyak meminta 1000 butir telur, dan sebaliknya Winata hanya meminta 3 butir telur. Telur dari Kadru pada saatnya menetas semua menjadi 100 ekor ular. Lantaran kurang sabar menanti tiba saat menetasnya telur, maka telur dari Winata hanya menetas sebuah pada waktunya, yaitu telur yang ke-3, berwujyd Garuda yang mempunyai jasnani sempurna Adapun telurnya yang ke-2, yang telah dipecah [sebelum tiba waktu untuk menetas] cuma hasilkan manusia dengan jasmani tidak sempurna, yakni cuma separoh badan. Bahkan telur ke-1, yang dipecahnya lebih awal, hanya mengeluarkan kilatan sinar. Anak yang lahir dengan jasmani yang tidak sempurna dari telur yang ke-2 yang tegesa dipecah lantaran Winata kurang sabar menanti tiba waktu bagi telurnya untuk menetas itu marah, lontarkan sapata (kutuk, tuah) kepada ibunya bahwa kelak bakal diperbudak oleh orang lain.

Demikianlah, kendati Winata tidak seambisi Kadru dalam hal jumlah anak, namun Kadru lebih sabar dalam menanti tibanya waktu telur yang dieraminya menetas. Tergambar dalam kisah ini suatu realitas bahwa telur akan menetas dengan sendirinya bila telah tiba waktu, sehingga dibutuhkan “kesabaran dalam menanti tiba waktu tetas. Tergambar pula realitas bahwa ular dan burung — termasuk juga Garuda — adalah reptil dan unggas, yang menetas dari telur, tidak dari proses kelahiran. Adalah juga suatu realitas bila kepada Kadru dan Winata yang menginginkan anak diberikan telur oleh suaminya, lantaran keduanya adalah wanita mandul. Pada kisah mitologis ini, Garuda bukan hewan, melainkan “anak” seorang dewi (Kadru), dan “ayah”-nya adalah seorang bhagawan (Kasyapa). Oleh sebab itu, sikap dan perilakunya lebih menyerupai manusia, bahkan memperlihatkan sikap dan perilaku manusia yang baik (subudhi).

C. Sebutan “Garuda” di Sumberdata Tekstual

Istilah “garuda (ditulis ‘d’ titik bawah)” adalah kata serapan dari bahasa Sankreta yang menunjuk pada: garuda (Zoetmulder, 1995: 279). Istilah “Garuda” kedapatan dalam Agnipurana (371), Smaradahana (7.6, 30.8, 32.4), Sumanasantaka (151 5), Arjuna- wijaya (1.19, 50.2), Tantrikamandaka (54), Kidung Sunda (1.11), Sri Tsnjung (3.29), Nawaruci (47), KD (4.8), dsb. Ada kata jadian “ginarudan (memperoleh sisipan ‘in’)” berarti : seperti (dalam bentuk) Garuda. Istilah yang bersinonim arti dengannya adalah kata gabung “garudarupa”, berarti : berbentuk (gambar) Garuda.

Kata “Garuda” dapat dirangkai dengan kata lain, antara lain dengan istilah “mungkur” menjadi “garuda mungkur”, seperti disebut dalam kita Nawaruci (37), yang berkenaan dengan ukiran atau ragam hias pada suatu gapura (gopura). Kata gabung lainnya adalah “Garudadhwaja”, yang menunjuk pada : panji-panji Garuda, atau berpanji Garuda, dan bisa juga sebutan untuk Dewa Wisnu. Di dalam sejumlah sumberdata prasasti dijumpai kata gabung “garudamukha”, yang berarti : cap (materai atau lancana) berbentuk muka Garuda, misalnya dalam kalimat “sang hyang ajna haji prasasti tinanda garudamukha (OJO 58 no. 24)”. Istilah ini bersinonim dengan “garudawaktra”, yang berarti : kepala Garuda. Serupa itu adalah kata gabung “garudawaktra”, yang berarti : perbadanan Garuda, atau nama gelar perang tertentu. Organ tubuh garuda, yaitu bulu-bulunya disebut dengan “garudaroma”. Ada pula suatu panah yang memiliki unsur sebutan “Garuda”, yaitu “garudagni’.

Adanya beragam sebutan yang berunsur istilah “garuda” itu memberi petunjuk bahwa Garuda terbilang “populer” pada masa Hindu-Buddha. Sosok Garuda yang gagah dan perkasa, serta keberaniannya terbang sendirian — sehingga terkesan sebagai binatang “soliter” — membuat banyak orang mengaguminya. Garuda acapkali diberi julukan “raja burung”, seperti tergambar dalam sebutan “raja-wali”. Ada kemungkinan sosok makhluk mitologis ini mengambil contoh model burung elang. Meski demikian, bukanlah berarti bahwa Garuda sama dengan elang. Di dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan terdapat istilah “helang”, yang berarti : elang, suatu jenis burung buas (Zoetmulder, 1995). Sebutan lain terhadapnya adalah “bido”, yang melayang dalam lingkaran luas di udara. Ada pula yang menyebut “kekelik” — menurut bunyi lengking nyaring (kelik) -nya. Kekelik adalah elang, dengan warna bulunya berbintik- bintik, terbang amat tinggi, dan sesekali menukik tajam ke sungai untuk menangkap ikan atau ular. Seakan-akan ada perseteruan bubuyutan antara elang (kekelik) dan ular, sehingga pada dunia mitologi pun “raja elang” Garuda acap digambarkan bermusuhan dengan ular. Boleh jadi, Jatayu yang tampi di dalam wiracarita “Ramayana” merupakan gambaran mengenai burung ini.

D.. Wujud Ikonografis Sang Garuda pada Masa
Hindu-Buddha

Dalam wujud visual, sang Garuda hadir sebagai sosok ikonografi dalam bentuk arca, relief dan ragam hias (ornament) candi, maupun lancana prasasti, bahkan hadir pula sebagai ragam hias dalam aksesoris pada agian belakang mahkota (makuta). Kalaupun dalam masa pemerintahan
kerajaan Mataram ketika ber-kadatwan (pusat pemerintahan) di Jawa Tengah telah terdapat arca dan relief Garuda, manun jumlahnya tidak sebanyak dan seragam yang didapati di daerah Jawa Timur dari masa kerajaan Mataram di era pemerintahan Airlangga hingga masa-masa sesudahnya (Kadiri, Singhasari, terlebih di masa Majapahit). Hal ini memberi petunjuk bahwa kian lama sosok Garuda semakin populer di masyarakat Jawa masa Hindu- Buddha. Malahan, berlanjut hingga memasuki masa Pertumbuhan hingga Perkembangan Islam, dan dalam masa-masa sesudahnya.

Berlainan dengan pada Masa Mataram, dimana Garuda cenderung tampil sebagai wahana dari Dewa Wisnu, pada masa Jawa Timuran selain sosok Garuda hadir sebagai wahana dari Dewa Wisnu juga dihadirkan dalam wujud relief cerita “Garudeya” dan “Samudramantana” di sejumlah candi maupun di dalam kaitannya dengan tema tirthamreta. Popularitas sang Garuda melatari kehadirannya sebagai ragam hias (ornament) yang berupa “garudamukha” pada komponen arsitektural candi. Bahkan, garudamukha hadir pula sebagai “lancana (cap, materai)” prasasti. Pada periode percandian Jawa Tengahan, arca sang Garuda ditempatkan dalam candi khusus yang dinamai “Candi Garuda”, yakni sebuah diantara tiga “candi wahana” di depan atau berhadapan dengan “candi induk Wisnu” di kompleks Candi Prambanan. Ada pula patung Garuda sebagai “wahana (kendaraan)” Wisnu koleksi Museum Nasional Jakarta — mungkin dari Jawa Tengah. Arca Garuda itu berada dalam posisi jongkok di belakang arca Dewa Wisnu yang posisinya berdiri. Selain itu, relief Garuda tampil di panil ke-1 dari serangkaian panjang relief cerita “Ramayana” pada pagar langkan candi induk Siwa pada komleples candi Prambanan. Pada panil ini, Garuda dihadirkan sebagai wahana Dewa Wisnu, ketika Dewa Wisnu dan para dewa yang beraudensi kepadanya berada di dasar samudra.

Arca Garuda lainnya koleksi Museum Nasional berasal dari daerah Dieng juga berupa wahana Wisnu. Pada arca ini Dewa Wisnu digambarkan dalam posisi menunggang Garuds dengan cara dipanggul di pundaknya. Paruh arca Garuda itu patah. Meski demikian, tidak diragukan bahwa arca yang lebih perlihatkan unsur manusianya daripada unsur binatangnya itu adalah Garuda sebagai wahana Wisnu. Terdapat juga patung Garuda dari Banyumas, sebagai arca tunggal. Posisinya duduk, dengan tangan menyembah (anjali mudra). Anasir manusia pada arca ini sangat dominan. Adapun unsur binatangnya hanya hadir pada paruhnya — separuh depan dari paruhnya rompal. Saya Garuda berada di punggungnya, dan tidak dalam posisi sedang terkembang. Ada pula arca Garuda membawa buli-buli –dilengkapi dengan lubang, sebagai tempat keluarnya air. Dengan demikian jelas bahwa arca Garuda ini merupakan jaladwara (arca pancuran), yang sangat mungkin berasal dari pasca abad X Masehi.

Arca Wisnu mengendarai Garuda yang sangat terkenal adalah arca perwujudan Airlangga dari Patirthan Belahan, yang kini merupakan benda koleksi Museum Trowulan. Berdasarkan arca perwujydannya yang demikian, maka sebutan Airlangga di dalam sumber data tradisi ketika menjalani “masa kependetaan”-nya adalah “Rsi Jentayu”. Sepasang kaki Garuds diganbarkan mencengkeram kuat tubuh dua ular-Naga yang posisinya bertolak belakang. Garuda VS Naga merupakan gambarkan “oposisi biner” dari dua unsur alamiah, yaitu (a) Garuda sebagai simbol dari dunia atas, (b) Naga sebagai simbol dunia bawah. Sesuai dengan asal keletakannya pada dinding patirthan (kolam suci) Jolotundo, maka salah satu tangannya digambarkan membawa buli-buli untuk mengalirkan air, sehingga dapat dimasukkan ke dalam kategori “arca pancuran (jaladwara)”. Arca yang serupa, tapi berukuran lebih kecil pernah terdapat di halaman Candi Singosari, patirthan Mondoroko, dan patirthan Beji di Kota Batu (kini koleksi Museum Adam Malik Jakarta), dsb. Dalam fungsinya sebagai arca pancuran, arca Garuda terpasang pada salah satu bilik patirthan Jolotundo, patirthan Sumber Beji di Jombang, dsb. Ada pula ragam hias berupa muka Garuda (Garudamukha) yang dipahatkan pada antefix sejumlah candi masa Singhasari – Majapahit. Garudamukha didapati juga sebagai “lancana” prasasti-prasasti di era Arilangga maupun sejumlah prasasti di awal pemerintahan kerajaan Janggala.

Utamanya dalam percandian masa Majapahit, sosok Garuda acap tampil dalam hubungannya dengan relief cerita “Garudeya” maupun cerita “Samudramantana (Amretamantana)”. Relief ini dipahatkan di batur (soybadement) candi Kidal di sub-area timur Kabupaten Malang. Meskipun hanya terpahat di tiga buah panil pada pilaster, namun masing-masing memuat “key schene” dari tiga fase (babak) cerita “Garudeya,”, yaitu : (1) fase perbudakan, (b) fase pebysan, dan (c) fase kebebasan. Lebih rinci daripada itu adalah relief cerita “Garudeya” yang dipahatkan pada kaki (basement) candi Kedaton di lerang barat Gunung Argopuro (Hyang) pada sub-area timur Kabupaten Probolinggo. Ada pula relief cerita “Garudeya” di Candi Sukuh pada lereng barat Gunung Lawu (Katong), utamanya di Pendopo teras sisi kiri, yang tersebar ke dalam beberapa komponen bangunan. Disamping itu relief yang menggambarkan Garuda mencengkeram dua ekor naga kedapatan pada sisi kanan-kiri atas gapura padhuraksa I. Bahkan, pada halaman III terdapat dua buah arca Garuda dengan ukuran besar. Meski kedua arca itu kepalanya rompal, sebuah lebih perlihatkan ciri manusianya, dan sebuah lain lebih perlihatkan ciri binatangnya.

Salah satu candi yang secara arsitektural jelas menampilkan tema cerita “Samudramantana” adalah Candi Penampihan di lerang tenggara Gunung Wilis pada sub-area barat Kabupaten Tulungagung. Pada candi yang bergaya seni- bangun “punden berundak” era akhir Majapahit ini kedapat kepala arca Garuda, yang sekarang direlokasikan ke Museum Wajakensis. Relasi Garuda dan air, tepatnya tirthamreta, menjadi alasan mengapa ada sejumlah Yoni yang cerat (saluran air yang telah disucikan)-nya disangga oleh Garuda. Masih terkait dengan Yoni — bisa juga pedestal untuk arca Dewata, terdapat juga relief Garuda yang dipahatkan pada sisi kanan bagian batangnya. Selain itu terdapat pahatan figur Garuda — atau mungkin adalah “raksasa bersayap” — ukuran besar, sebagai komponen candi, asalvdari candi Minakjinggo, yang kini koleksi Museum Trowulan. Relief Garuda juga didapati terpahat di dinding Goa Selamangleng pada lerang gunung Klotok Kediri, yang tangan kirinya memegang seekor ular.

Demikianlah, dalam periode percandian Jawa Timuran, khususnya di masa Majapahit, sosok Garuda banyak hadir ke dalam beragam media ekspresi (arca, relief, ragam hias, dan lancana prasasti). Tampaknya perterjemahan Adiparwa [padamana kisah “Samudranantana” dan cerita “Garudeya” termaktub] dari bahasa Sanskerta ke Jawa Kuna di era raja Dhammawansa Tguh (awal XI Mesehi) menjadi picu kian populernya kisah “Garudeya” pada masyarakat Jawa masa Hindu-Buddha.

D. Ragam Hias Garuda pada Arsitektur Masa
Pertumbuhan Islam

Popularitas Garuda pada masa Hindu- Buddha berlanjut memasuki masa Pertumbuhan Islam. Larangan untuk pahatkan figur makhluk hidup (manusia dan binatang) kala itu “tifak mampu menganulir” hasrat untuk menghadirkan ragam hias Garuda pada seni-bangun Islam. Gapura makam Sendangduwur pada Pantura Jawa di Kabupaten Lamongan menghadirkan ragam hias Garupa, baik pada sayap gapura ataupun antefix di atap gapura. Dengan adanya pahatan berupa sayap Garuda itu, maka hadir bangunan yang disebut dengan “gapura bersayap”. Konsepsi “gapura bersayap” berkenaan dengan simbolisasi “pintu surga (lawange swargo)”.

Konsep “gapura bersayap’ populer pada sub-masa Pertumbuhan dan Perkrmbantan Islam Nusantara. Pahatan berbentuk gapura lengkap dengan gepakan sayap pada kanan-kiri gapura padhuraksa acapkali tampil dalam bentuk ukir kayu di cungkup-cungkup makam Islam lama. Kalaupun tidak secara eksplisit menggambarkan sayap burung di kanan-kiri gapura, namun tambahan komponen arsitektur sayap pada kanan-kiri gapuran cukup banyak hadir di gapura- gapura padhuraksa pada masa Pertumbuhan dan Perkembamgan Islam di Jawa. Sebenarnya bentuk gapura yang demikian telah hadir semenjak masa Hindu-Buddha, sehingga dapat dinyatakan sebagai suatu fenomena “kesinambungan” budaya lintas masa.

E. Teladan Sang Garuda sebagai “Pebhakti dan
Pembebas”

Sang Garuda tudak hanya ditampilkan sebagai makhluk mitologis “manusia setengah burung” yang gagah perkasa, namun dicitrakan sebagai pribadi “subudhi”, yakni seorang dengan sikap dan perilak baik. Dalam cerita “Garudeya”, ia dicitrakan sebagai pribadi yang taat berbakti kepada ibu (Winata). Bhakti-ibu tergambarkan dalam perjuangan gigih Garuda medapatkan tirthamreta sebagai tebusan guna “bebaskan ibunya dari perbudakan”. Garuda karenanya adalah “sang pebhiakti” dan sekaligus “sang pembebas” dari belenggu. Spirit baktinya yang tulus dan bersungguh-sungguh menghadirkan “semangat juang (spirit)” yang luar biasa besar, sehingga kekuatan (power) yang dihasilkan di dalam dirinya nyaris dapat jalahkan kekuatan Dewata (Wisnu), sebagaimana tergambarkan dalam pertempuran Garuda melawan Wisnu untuk mendapatkan tirthamreta.

Kejuangan gigih sang Garuda yang dilandasi oleh spirit bhakti-nya tersebut patut dijadikan contih teladan. Bhakti-ibu untuk membebaskan ibunya dari belenggu perbudakan yang dalam cerita “Garudeya” diteladankan oleh Garuda itu busa dibandingkan dengan spurit bhakti para Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) untuk membebaskan “Ibu-Pertiwi (Negeri)”-nya dari belenggu pejahajahan. Oleh karena itulah ketika pada awal Kemerdekaan RI tengah dicari dan ditemukan formulasi “Lambang Negara RI”, maka sang Garuda dikalkulasi sebagai “tepat” untuk dijadikan sumber inspirasi. Sang Garuda yang sayapnya tergepak — sebagaimana acap digambar pada seni-aca dan relief candi, serta gapura bersayap — pada akhirnya dipilih dan dijadikan unsur pembentuk untuk formulasikan Lambang Negara RI. Baik sebutan daripadanya, yakni “Garuda”, maupun wujud anatomi darinya yaitu “burung garuda”, maupun substansi dari kejuangan dan bhati-nya menjadi unsur penting untuk memformulasikab Lambang Negara RI, yang dinamai “GARUDA PANCASILA”.

Bukan hanya Garuda yang dijadikan sebagai unsur pembentuk Lambang Negara RI, namun sepasang ular-naga dalam posisi yang saling bertolak belakang yang pads seni-arca ataupun relief candi digambarkan sebagai dicengkeram kuat oleh kedua kaki Garuda turut dihadirkan. Pada Lambang Negara RI, sepasang ular-naga itu dimidifikasi menjadi srlembar pita dengan lengkung di kedua ujungnya, padamana sasanti “Bhineka Tunggal Ika” — yang bersumber dari susastra Kakawin “Sutasoma” karya rakawi Pu garud — disuratkan padanya. Disamping itu di dadanya ditambahkan perisai, yang memuat lima lambang perihal lima sila dari Pancasila, yaitu : bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, dan padi-kapas.

Demikian sekilas tulisan tentang sosok ikonik dari sang Garuda pada kesejarahan Nusantara Lama. Semogalah dapat menambah khasanah pengetahuan para pembaca budiman. Nuwun.

Sangkaling, 21 Oktober 2019
Griya Ajar CITRALEKHA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *