Titik Balik Menuju Festival Kampung Langai 2016

13549373_965623800203186_1769001158_n“Festival Kampung Langai”, adalah nama/judul yang disematkan dalam pagelaran seni itu. Sebuah “pesta” atau “hajatan” seni yang diinisiasi oleh komunitas-komunitas seni di Situbondo. Lahir melalui proses panjang dan rumit, ditengah “ompong“nya ruang apresiasi seni. Sebuah upaya dan gerakan para pemuda Situbondo dalam merespon wacana /stereotype negatif tentang masa depan seni dikalangan seniman Situbondo itu sendiri.
Respon Kegelisahan
Berawal dari kegelisahan seniman muda, yang semakin hari, semakin kehilangan kepercayaan diri untuk berkreasi di tanah kelahirannya sendiri. Tidak heran banyak rekan-rekan seniman yang memilih untuk ber-hijrah ke Jakarta, Surabaya, ataupun Jogjakarta untuk mencari penghidupan yang layak dan memilih ruang berkaryanya. Bahkan tidak jarang saya mendengar kalimat seperti ini “Kamu ngapain di Situbondo? disini gak mungkin maju-maju!, kalau pengen maju ke Jakarta pusat industri musik!”. Saya sudah cukup bosan mendengar keluhan seperti itu, seolah-olah Situbondo benar-benar tidak menjanjikan apa-apa, dan hanya layak sebagai tempat untuk menikmati masa-masa pensiunan atau menjadi pegawai P*S yang hidupnya sangat santai dan tidak kreatif. Kenyataannya kondisi tersebut diperburuk lagi dengan efek modernisasi dan kapitalisasi industri yang semakin mengancam eksistensi seni tradisi. Seni tradisi semakin hari semakin punah satu persatu, salah satunya adalah seni populer tahun 80-an Al Badar yang saat ini sudah benar-benar punah. Para seniman tradisi kini sudah banyak yang beralih profesi menjadi guru ngaji, buruh pabrik, dan pekerja kasar lainnya. Jika nasibnya sedikit beruntung, paling-paling mentok mengisi job panggilannya dinas kebudayaan. Bisa dibayangkan kan, mereka berkreasi hanya ‘dalam rangka’ saja. Kalau di kampus saya dulu musisi/seniman yang demikian sering disebut sebagai Kuli Seni, karena dia berkarya atas dasar panggilan saja bukan digerakkan oleh naluri dan imajinasi naturalnya.

Berangat dari kegelisahan tersebut, anak-anak muda kreatif di Situbondo menyatukan pikiran, dan merapatkan barisan, guna membangkitkan semangat untuk kembali berkarya bersama-sama, memberikan ruang kreatif, dan membangun sebuah gerakan yang memberikan tawaran atas fenomena kebuntuan tersebut. Mengambil nama “festival” (berasal dari bahasa latin festum) yang berarti pesta atau sebuah perayaan khusus. Festival di Situbondo identik dengan sebuah kompetisi seni seperti festival band, festival musik rock, dan lainnya, namun dalam konteks ini, festival merujuk pada sebuah pagelaran seni dan ruang apresiasi seni yang non-kompetisi sesuai dengan makna etimologinya yakni ‘pesta’. “Kampung Langai” adalah nama sebuah daerah/kampung yang dijadikan lokasi pertunjukannya. Langai adalah akronim dari lao’ Songai (selatan sungai), ada juga yang mengatakan bahwa langai diambil dari nama sebuah pohon yang banyak tumbuh di daerah tersebut. Lokasi festival tersebut disuaikan dengan lokasi Rumah Baca Damar Aksara yang menjadi base camp komunitas. Terletak di desa Sumber Kolak, Kecamatan Panarukan, Situbondo.

Solidaritas Tanpa Batas
Festival Kampung Langai, bukan semata-mata ajang hura-hura dan hiburan saja, Ia memiliki visi yang strategis yakni sebuah ‘semangat’ untuk menyatukan komunitas-komunitas, seniman, budayawan, penikmat seni, dan kaula muda menuju ke arah Situbondo yang lebih progresif. Walaupun terkesan ‘absurd‘, namun pada kenyataannya mereka bisa membuktikan, bahwa mereka mampu menjadi wadah kreatif bagi komunitas-komunitas di Situbondo. Tidak seperti penyelenggaraan event milik pemerintah maupun swasta yang memiliki sponsor penuh dan dana yang fantastis. Fest Kampung Langai diselenggarakan dengan dana swadaya, bahkan sebagian besar didapat dari hasil ‘ngamen bareng’, penjualan marchandise, dan sumbangan para donatur. Sepengatahuan saya, beberapa properti panggung, lighting dan instrumen musik juga merupakan hasil pinjaman, mereka dengan senang hati meminjamkan barangnya untuk dipakai secara berjamaah. Padahal resikonya besar, namun karena rasa solidaritas dan kebersamaan yang terjalin kuat, meleburkan itu semua, mereka saling bersodaqoh (entah berupa pemikiran, tenaga, materi maupun doa). Saya pikir, justru karena kondisi dan situasi krisislah yang memunculkan semangat solidaritas dan kebersamaan di antara anggota komunitas.

Fest Kampung Langai mempunyai harapan besar, agar nantinya tidak hanya muncul sebagai kegiatan euforik saja, namun lebih kepada sebuah kegiatan yang berkontribusi secara nyata kepada masyarakat setempat. Melalui kegiatan ini, setidaknya masyarakat setempat memiliki wadah untuk mengekspresikan bakat dan kemampuannya dalam bidang seni. Para pemuda, anak-anak, serta kelompok kesenian tradisional setempat menampilkan pembacaan puisi, tartil qur’an, dan macopat. Ibu-ibu juga memperkenalkan kuliner khas setempat dalam gelaran tersebut. Seorang sahabat saya, Ali Gardi (Panitia/tim artistik) mengatakan bahwa “masyarakat Kampung Langai sangat antusias dengan acara ini, mereka sering menemani kami ketika menggarap instalasi, bahkan tidak jarang mereka menyuguhi kami dengan gorengan dan kopi”.

Festival Kampung Langai #1
Festival Kampung Langai diadakan pertama kali pada tahun 2014, menyajikan beberapa format pertunjukan antara lain: Solo Piano Klasik, Ansamble Musik Etnis (Situbondo Ethno Society), Band (Lembayung, Marijuana, Magnum, TimeLine Keroncong, Paskalis and His Band), Tari (tradisional dan modern), Macopat, Musikalisasi Puisi, Paduan Suara (Suara Persada) dan lainnya. Redy seorang pemain musik etnis profesional yang berasal dari Situbondo juga turut memeriahkan acara ini. Ruang pertunjukan yang disajikan sangat sederhana, tidak menggunakan panggung, hanya beralaskan karpet, background lukisan di dinding rumah berlogo festival kampung langai dan permainan lighting minimalis. Pertunjukan menjadi menarik karena batas antara performer dan audience tidak jauh, hanya beberapa meter saja, bahkan ada beberapa pertunjukan yang bersifat partisipatoris. Suasana kampung direpresentasikan oleh ornamen dan pernak pernik panggung seperti ranggun (tenda bambu), ruang lesehan penonton, dan beberapa properti panggung lainnya. Fest Kampung Langai 1 dikemas dalam dua malam, dipandu oleh pembawa acara Tapu Kilap (opek). Selepas acara berakhir, Fest Kampung Langai banyak mendapatkan respon positif dari audiens, beberapa diantaranya mengatakan bahwa mereka “mendapat pengalaman musikal yang fresh dan tergolong baru di lingkungan Situbondo”. Penonton yang hadir menyaksikan pertunjukan tidak hanya dari Situbondo saja, namun sebagian ada yang datang dari Asembagus, Besuki, Bondowoso dan Jember. Simak kilas balik dari acara Fest Kampung Langai #1 berikut,

Festival Kampung Langai #2
Kesuksesan Fest Kampung Langai 1, menjadi tantangan bagi beberapa komunitas yang tergabung, untuk kembali menggelar acara yang sama dengan kemasan yang lebih menarik. Tepat setahun setelah dilaksanakannya Fest Kampung Langai 1, Fest Kampung Langai 2 kembali diselenggarakan dengan kemasan pertunjukan yang jauh lebih menarik. Beberapa komunitas mulai berkontribusi dalam gelaran acara ini, seperti Situbondo Kreatif dan Komunitas Penulis Muda Situbondo. Situbondo Kreatif berkontribusi dalam bidang photography dan videography, sedangkan KPMS berkontribusi dalam bidang penulisan. Format acara yang disajikan dikemas dalam dua hari, dari sore hingga malam hari. Adapun beberapa performer yang tampil adalah Solo Piano (Lahindra, Aying, Jaya dan Jimmy), Situbondo Ethno Society Feat Argo (Jogjakarta) dan Unen-Unen Tuban, Kampung Langay Band (Irma, Bobby Berliandika, Risma, dan Tizar), Marijuana, Lembayung, Sanggar Tari Kembhang Molja, DKK Unej, Trio Drumer (Ezra, Andre, dan Danu), dan lainnya. Konsep ruang pertunjukan digarap dengan sangat apik, menggunakan properti dari bahan jerami bekas yang dibentuk seperti orang-orangan sawah. Dengan panggung procenium ala Indonesia (posisi penonton duduk lesehan) yang mengesankan pertunjukan ala pedesaan namun dikemas dengan anggun. Nuansa pedesaan masih menjadi ‘ikon’ pertunjukan dalam gelaran Fest Kampung Langai #2. Simak beberapa kilas balik Fest Kampung Langai 2 Berikut,

Festival Kampung Langai #3 – coming soon

Tahun ini (2016) Festival Kampung Langai #3 akan kembali digelar dengan konsep acara yang lebih menarik dari sebelumnya pada tanggal 05-06 Agustus 2016. Beberapa performer akan siap untuk menyajikan repertoar pertunjukannya. Tidak hanya mengekplorasi seni pertunjukan, dalam Festival Kampung Langai #3, juga ada pameran seni rupa, fotografi serta seni instalasi.

Pada acara Fest Kampung Langai #3, panitia akan menggunakan sistim ticketing, namun sistem ini berbeda dengan sistem ticketing pada umumnya (menggunakan uang). Para penonton yang hadir diwajibkan untuk membawa beras seperempat kilo, mirip seperti sistem transaksi barter di jaman dahulu. Hal ini menyesuaikan dengan tema acara dalam Festival Kampung Langai #3 yakni “abeli ka kampoeng” (kembali ke desa), dimana pada jaman dahulu masyarakat masih menggunakan sistem transaksi barter ini. Hasil dari ticketing akan didistribusikan dan disumbangkan kepada masyarakat Kamung Langai.

Catat tanggalnya, jangan lupa datang dengan mengajak rekan, saudara atau kekasih (jika ada). Simak video teaser/trailernya berikut,

penulis: Panakajaya Hidayatullah




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *