TRADISI RERESIK, DESA KRISIK

TRADISI RERESIK, DESA KRISIK

kresik 3

Krisik adalah sebuah desa di kabupaten Blitar paling utara sehingga berbatasan dengan Desa Pagersari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Butuh waktu satu jam dari pusat kota Blitar untuk sampai di desa Krisik. Desa kami merupakan wilayah yang berupa persawahan dan perbukitan diantara gunung Kawi dan Kelud sehingga mayoritas masyarakat membudidayakan sayuran dan sapi perah. Aneka sayuran secara mudah dan murah bisa ditemukan di desa kami. Susu sapi pun setiap hari diperah oleh peternaknya. Ibu – Ibu yang menggendong malken atau lelaki yang mengendarai sepeda buntut berisi rumput adalah pemandangan bagaimana cara masyarakat desa Krisik nyambut gawe. Dari tanah, air dan udara di Krisik lah yang telah menumbuh suburkan sayuran yang kami tanam. Dari rerumputan yang tumbuh di tanah Krisik lah sapi – sapi kami bisa menghidupi lewat susunya yang murni.

Kepada alam yang telah menghidupi kami dan leluhur yang telah mbabat alas desa Krisik, kami hendak menyelenggarakan acara bersih desa yang setiap tahun sekali kami selenggarakan. Hari Jum’at Legi bulan Selo (Dzul Qoidah) adalah hari bagi kami untuk menghaturkan sesaji sembah terimakasih di pundhen Rambut Monte. Leluhur kami mengajarkan untuk melarung kambing Kendhit di telaga Rambut Monte agar nafsu kami ikut terlarung. Kemudian selamatan nyadran di Candi Rambut Monte lengkap dengan sesaji ubo rampe, kami haturkan untuk berterimaksih kepada Sang Semesta, sebab Kuasanya lah kami bisa berkehidupan aman dan tentram di desa Krisik. Tidak cukup dengan dua ritual itu, kami pun melaksanakan parade jolen. Jolen adalah miniatur berbentuk atap rumah, masjid atau sesuai dengan kreasi masing – masing RT di desa kami yang berisikan tumpeng, sesaji atau hasil panen unggulan. Jolen diarak dari kawasan candi Rambut Monte menuju pundhen dusun Wonorejo yaitu Watu Dakon.

Untuk itu kami menamai agenda bersih desa tahun 2016 ini dengan “Reresik Desa Krisik.“ Kami berharap dengan diselenggerakannya tradisi reresik desa ini, bukan hanya sebatas rame – ramean ing gawe. Tradisi reresik bukan hanya berarti agenda untuk membersihkan lingkungan atau papan panggonan kang dipundhi – pundhi atau dihormati (Pundhen). Lebih dari itu, tradisi reresik adalah membersihkan jiwa kami agar terhindar dari sifat – sifat yang menimbulkan bahaya bagi kelangsungan hidup manusia dan semesta. Selain itu, tradisi reresik desa juga untuk menghaturkan do’a kepada leluhur cikal bakal dan akal bakal. Keduanya adalah perpaduan antara pemikiran dan perbuatan untuk mengawali kehidupan di desa Krisik melalui proses babad desa atau pembukaan pemukiman baru jauh beberapa ribu tahun lalu.

Dalam tradisi reresik desa, Ruwatan murwakala adalah ritual yang tidak boleh ditinggalkan. Setiap hari Sabtu paginya, cerita wayang bertema Betara Kala dikisahkan oleh seorang dhalang Kandabuwana lengkap beserta seorang pesinden dan ubo rampenya. Dalam salah satu kisahnya diceritakan bahwa sang dhalang membawa sapu lidi untuk membersihkan lingkungan, papan panggonan dan jiwa siapapun yang menghuni desa Krisik agar terhidar dari bahaya dan ujian.

Tradisi reresik desa merupakan tradisi yang sudah melegenda di lingkungan kami. Sebanyak empat dusun menggelar acara selamatan atau kenduri di masing – masing pundhen. Kami sekedar mengikuti tradisi yang telah diajarkan secara turun – temurun oleh leluhur kami. Akan tetapi, kami lantas tidak begitu saja mengikuti adat tanpa menggali maksud dan makna dari ritual reresik desa. Monggo hanyengkuyung sesarengan. Mari memaknai. Rahayu

 

Sumber: https://desakrisik.wordpress.com/2012/10/08/bersih-desa/




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *