ULANG TAHUN PERTAMA JAPUNG , “SALING-SILANG IDE SINERGI KAMPUNG”

ULANG TAHUN PERTAMA JAPUNG, SALING-SILANG IDE SINERGI KAMPUNG

poster japung ultah

Pancasila, jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Alangkah hebatnya! Negara Gotong-Royong!”

(Ir. Soekarno, Pidato 1 Juni 1945 di dalam sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (BPUPKI)

Gotong Royong

Di jaman teknologi makin canggih dan serba digital, semangat serta praktek gotong-royong saat ini mungkin tak lagi mudah dijumpai, semacam bersembunyi entah di mana. Istilah gotong-royong yang merupakan kata-kata asli Indonesia seperti terselip dan tak lagi memiliki banyak ruang untuk digunakan, tak lagi terlalu populer untuk dibahas, dan mungkin tak lagi terlalu menarik untuk didiskusikan.

Dengan pergeseran jaman yang membuat manusia makin materialis, makin pragmatis, dan makin individualis ini, mungkin suatu saat gotong-royong hanya tinggal menjadi sebuah legenda, sebuah mitos, sebuah cerita rakyat, yang diawali dengan pembukaan “Pada jaman dahulu…”, “Di masa lalu…..”, dst. Mungkin suatu saat orang hanya mendengar istilah “gotong-royong”, namun tak lagi memahaminya, tak lagi tau rasanya, dan tak lagi kenal prakteknya.

Ya, “Gotong-Royong”, sebuah istilah yg menjadi tema besar semangat pegiat Jaringan Kampung Nusantara, di manapun berada. Atas sebab gotong-royong inilah maka Japung ada. Untuk proses gotong-royong inilah maka Japung bersinergi saling mensupport. Dan untuk hasil gotong-royong inilah maka Japung berbagi ide dan bersuara.

Apa dan Siapa Japung

Japung itu apa..?

Di mana kantor Japung..?

Bagaimana caranya menjadi anggota Japung?

Apa syarat pendaftaran untuk menjadi anggota Japung?

Apa fasilitas yg didapatkan sebagai anggota Japung?

Pendaftaran masuk Japung bayar berapa?

Itu pertanyaan-pertanyaan yang cukup sering muncul kepada penggiat-penggiat/pembakti Japung saat mereka mendiskusikan tentang Japung di kampungnya, atau di forum-forum yang lain. Dalam setahun perjalanannya, memang terlihat gebyar Japung yang tampak begitu menggeliat, khususnya di berbagai kegiatan dan peristiwa seni budaya di nusantara.

Berita dan ulasan tentang Japung cukup banyak mewarnai liputan-luputan berbagai media online, media cetak, media elektronik, dan viral yang berseliweran di jejaring sosial media, maupun di berbagai grup chat online. Ini membuat Japung makin dikenal, dan makin membuat orang penasaran tentang apa, siapa, dan bagaimana Japung.

Di luar pelaku-pelaku penggiat Japung, mungkin banyak orang membayangkan Japung sebagai sebuah organisasi, atau lembaga, atau yayasan, memiliki program kerja, struktur organisasi, dan kelengkapan-kelengkapan administrasi organisasi lainnya.

Padahal Japung hanyalah sebuah jejaring tanpa organisasi..

Secara fisik, Japung hanyalah sebuah grup WhatsApp…

Lebih tepatnya, sebuah grup WhatsApp yang berisi orang-orang aneh, orang-orang yang “tidak normal”, orang-orang yang “kelebihan energi”, orang-orang yang “cari repot”. Mereka adalah orang-orang yang punya sebuah perhatian dan keinginan kuat untuk menggali potensi dan mengembangkan kampung dengan caranya masing-masing, dengan minat dan bakatnya masing-masing. Akhir-akhir ini sering didengungkan dengan istilah “pembakti”.

Deklarasi Japung

pkpk[l[

foto by Bachtiar

Setahun yang lalu, tepatnya di hari Minggu, 17 Januari 2016, jam 10 pagi, di sebuah ruangan ber-AC namun penuh asap rokok di kantor kelurahan Temenggungan Banyuwangi, Redy Eko Prasetyo berapi-api menjelaskan tentang kampung sebagai “karung pasir pertahanan budaya” dengan ditunjang ilustrasi slide yang tampil di LCD proyektor, sementara di ruang pendopo kelurahan sekelompok seniman lintas bangsa sedang berlatih tari berkolaborasi dengan kelompok pencak silat lokal Suaka Pasung Laksa, dan berjarak 4 rumah dari kantor kelurahan beberapa orang sedang menorehkan kuasnya di atas kain spanduk putih membuat tulisan “Jaringan Festival Kampung Nusantara, Temenggungan, Banyuwangi, 17 Januari 2016”, sementara di jalan kampung warga asyik berjualan kuliner tradisional melayani pengunjung yang berbelanja sambil menonton penampilan kesenian tradisional.

Pada jam 11.15 semua peserta diskusi, para seniman lintas bangsa, para pesilat, seniman-seniman dari berbagai daerah, para seniman tradisional setempat, dan sebagian warga dewasa dan anak-anak, berangkat berjalan kaki bersama melakukan arak-arakan, sambil membunyikan tabuh-tabuhan alat musik yang mereka bawa. Setengah kilometer arak-arakan ini berjalan di panas terik matahari, yang akhirnya berakhir di depan gapura pendopo Kabupaten Banyuwangi, di depan alun-alun Taman Sritanjung, Banyuwangi.

Spanduk dibentangkan, bak seorang pemimpin demonstrasi, Redy berorasi sejenak dengan megaphone yang suaranya “kemresek” tidak begitu jelas. Semua peserta arak-arakan bertepuk tangan, kemudian berfoto bersama dengan spanduk yang terbentang. Itulah deklarasi “Jaringan Festival Kampung Nusantara” (sekarang menjadi Jaringan Kampung Nusantara). Dideklarasikan tepat pada tengah hari, jam 12 siang bolong, dan tepat di tengah-tengah jantung kota Banyuwangi, di hari terakhir kegiatan Festival Kampong Temenggungan, Banyuwangi.

Kemudian peserta menyeberang jalan ke alun-alun mencari tempat teduh di bawah pohon beringin, semua peserta bergantian mencantumkan tanda tangannya di spanduk, para pesilat menyuguhkan performance  jurus-jurusnya dengan iringan tabuhan gamelan, para seniman cilik memainkan kesenian Barong Osing, seniman jaranan tradisional pentas sejenak, lalu rangkaian ceremony deklarasi diakhiri dengan berdoa bersama dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Keesokan harinya, pada tanggal 18 Januari 2016, dibuatlah grup WhatsApp “Jaringan Festival Kampung Nusantara”, yang kemudian atas pertimbangan mendasar agar bisa bergerak dengan lebih luwes dan lebih luas, nama ini diubah menjadi “Jaringan Kampung Nusantara”.

Dibuatlah juga grup Facebook “Jaringan Festival Kampung Nusantara”, untuk sarana komunikasi dan informasi aktifitas kawan-kawan penggiat kampung kepada publik. Kemudian dibangunlah website www.japungnusantara.org untuk lebih bisa memfasilitasi pendokumentasian database, layanan informasi dan publikasi, serta sebagai media untuk berbagi ide dan pemikiran.

Mengapa Ada Japung

Masih jelas dalam ingatan saya, sejak beberapa bulan sebelum pelaksanaan deklarasi ini, Redy telah membawa isu dan menghembuskan konsep tentang jaringan kampung ini di berbagai kesempatan. Dalam diskusi-diskusi informal sambil ngopi, dalam perjumpaan dengan beberapa komunitas di berbagai daerah. Saya sendiri sempat terlibat bersama Redy dalam dua kali forum diskusi bersama pemuda-pemuda kampung di Besuki Situbondo dan di kampung Temenggungan Banyuwangi pada akhir November 2015.

Kampung sebagai sumber kearifan lokal, kampung sebagai gudang nilai-nilai luhur, kampung sebagai penjaga seni tradisi, kampung sebagai lumbung ide. Di tengah gempuran modernisasi, penetrasi budaya global melalui media digital, banjirnya produk pabrikan impor, dan derasnya pemodal asing berinvetasi di negeri ini, perlu adanya sebuah benteng pertahanan, “karung pasir” yang menjaga hempasan arus globlal yang membuat potensi dan nilai-nilai lokalitas ter-abrasi.

Itulah latar belakang mengapa kita perlu kembali ke kampung, merawat dan menjaga nilai-nilai yang masih hidup, menggali dan menelusuri nilai-nilai luhur yang mungkin sudah terpendam. Kemudian membangkitkannya kembali, dan membuatnya menjadi sesuatu yang produktif. Salah satunya adalah dengan melahirkan “hari raya kebudayaan” atau festival di kampung-kampung, sebagai sebuah sarana pemantik menghidupkan gotong-royong warga kampung dan pemicu bagi warga agar berpikir bersama untuk kampung.

Demikianlah kontent yang sering dibawa oleh Redy di berbagai forum diskusi formal maupun informal. Kadang “virus” ini berhasil menular ke kawan-kawan lain, namun tak jarang pula hanya masuk di telinga kiri dan keluar di telinga kanan, bahkan di-reject ditolak.

Ultah Japung Pertama

Satu tahun, adalah waktu yang singkat. Dalam ukuran pertumbuhan manusia, usia satu tahun ibaratnya bayi yang masih baru belajar berjalan, belajar bicara, belajar duduk, belajar memahami komunikasi dari luar dirinya, dan lain-lain. Intinya, masih belajar.

Japung pun juga masih belajar. Lebih tepatnya sebenarnya yang belajar adalah orang-orang yang terlibat di Japung. Yaitu orang-orang dengan warga di kampungnya masing-masing, maupun orang-orang yang secara personal maupun bersama komunitasnya mensupport kampung-kampung orang lain. Ada pula orang-orang yang secara keilmuan, secara skillnya, secara profesinya, secara  minat dan bakatnya, dengan apa yg mereka miliki dan dengan jaringan yang mereka punya, mereka ikut serta ambil peran mendukung pergerakan kampung ini.

Untuk itulah pada kesempatan momentum ulang tahun Japung yang pertama di tahun 2017 ini, kumpul-kumpul para penggiat kampung kali ini memang tidak diagendakan untuk ber-hore-hore (istilah yang sering kita gunakan untuk kegiatan pentas seni budaya), namun lebih pada berdiskusi, sharing, pembahasan, dan perumusan bersama.

Konten pembahasan ini meliputi apa-siapa-mengapa-bagaimana Japung, menyelaraskan visi-misi Japung dan kebijakan global Japung ke depan, sharing dan mereview perjalanan penggiat-penggiat Japung di kampung-kampung yang digarap, membuat kesepakatan aturan main bagi para penggiat Japung dalam nantinya terjun ke masyarakat kampung, dan membuat kesepakatan yang menjadi “model” untuk langkah-langkah Japung ke depan.

Agenda ulang tahun Japung ini akan dilaksanakan pada hari Jumat-Minggu, 20-22 Januari 2017, bertempat di Villa Handayani, yang berada di kota Batu (sekitar 18 km dari kota Malang.

Untuk itu diharapkan kehadiran para penggiat Japung untuk ikut sharing, bersaling-silang ide, dan urun rembug bersama. Akan lebih sempurna, bila masing-masing perwakilan kampung atau komunitas pendukung kampung bisa membuat sebuah tulisan atau materi presentasi mengenai apa yang telah dilakukan, progress yang ada, evaluasi dan perencanaan ke depan, dan pembahasan mengenai potensi serta masalah yang mungkin terjadi.

Jadi, kehadiran sahabat-sahabat penggiat Japung dan pembakti kampung sangat ditunggu. Tiada kesan tanpa kehadiran sahabat-sahabat. Sampai jumpa di Ulang Tahun Japung yang pertama.

(Bachtiar Djanan M.)

Narahubung : Aak agus wayan suprihatin 085646380550


RUNDOWN ULTAH JAPUNG

A. 20 Januari 2017
1. 12.00 – 16.00
Cek in di Villa Handayani

2. 18.30 – 19.30
Makan malam

PEMBUKAAN : Menyanyikan Lagu INDONESIA RAYA
3. 19.30 – selesai
Diskusi intern Japung
a. Redy Eko Prastyo
Apakah Japung?
b. Professor Maryeni :
Rambu Pembakti
Visi dan misi Japung di
 masa mendatang
c. Diskusi dan sharing antar pembakti

Moderator : Trie Utami

Notulen : Bachtiar Djanan, Rayhan

B. 21 Januari 2017

1. Pagi
Acara bebas

2. 12.00 – 13.00
Makan siang

3. 13.00 – 17.00
Diskusi dan sharing antar pembakti
a. Dhanis – Lurah Desa Gondowangi Wagir
Seluk beluk UU desa dg segenap masalahnya
b. Mbah Surip – Lurah Desa Ringin Putih Borobudur
mengubah mindset masyarakat, dr tekanan wisata menjadi masyarakat sadar budaya
c. Diskusi dan sharing antar pembakti

Moderator : Trie Utami

Notulen : Bachtiar Djanan, Rayhan

4. 18.00 – 19.00
Makan malam

5. 19.00 – 23.00
a. Triandi (Kutai Kartanegara)
– Membangun masyarakat pertanian dan mengaitkan kegiatan dg pemerintah sbg fasilitator
b. Supriyadi (dusun Jamus Kauman)
– membangun masyarakat dusun berbasis budi pekerti
c. Diskusi dan sharing antar pembakti

6. 23.30 – 24.00
Tumpengan Ultah Japung
Renungan

7. 24.00 – selesai
SUKARIA BERSAMA JAPUNGERS

C. 22 Januari 2017
Pagi – siang :
Cek Out dr Villa Handayani




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *