Catatan diskusi via WA Group Pembakti Kampung Bekasi ,”Tergusurnya Kampung, Penyakit Kolonial yang Terbawa”

Jumat, 20 Desember 2019. Jelang Agenda Persamuhan Penggerak Kampung dan Festival Kali Piket.
Memanaskan agenda diatas.
Panpel melaksanakan Diskusi via WA Grup.

Kalau kemarin dengan Mas Redy Eko prasetyo,Presiden Japung Nusantara.
Malam ini kita diskusi dengan seorang Profesor.
Namanya Profesor Melani Budianta
Profesor yang juga penggerak Kampung.

Dan Tergusurnya Kampung, Penyakit Kolonial yang terbawa. Ini kesimpulan saya dari pemaparan Prof Melani .

Dia nulis gini, ” Dulu Jakarta ini adalah kampung-kampung yang tersebar. Masih ingat ya dulu Jakarta terkenal dengan nama The Big Village,”

“Wilayah perkotaan yang dibangun di masa kolonial kemudian semakin melebar dan mencaplok kebun dan lahan hijau, maka kampung jadi wilayah pemukiman “informal” yang terselip di sekeliling, di tengah, di pinggiran kota.

Di masa kolonial, yang diteruskan di masa kemerdekaan, kampung sering dianggap sumber “masalah” perkotaan, disebut “slum” atau daerah kumuh, miskin, rawan penyakit dan kriminalitas. Padahal itu terjadi karena dampak urbanisasi yang menghilangkan sumber penghasilan berbasis sumberdaya alam

Kehilangan lahan menjadikan warga beralih profesi, bukan jadi pemilik lahan tapi pendukung sistem ekonomi perkotaan. “Penyakit perkotaan” yang bergaya hidup individualis, bermental transaksional, menggusur keguyuban komunitas.

“Bahkan kampung-kampung di negara jiran seperti Singapura, sudah lenyap ditelan perkotaan,” Tambahnya.

“Warga tergoda menjual tanah untuk dialihfungsi jadi perumahan mahal”

Ia menutup dengan kalimat pertanyaan ,”Apakah ini dialami teman-teman?

Yups. Betul sangat.
Apa yang terjadi di zaman Kolonial.
Sekarang terjadi.
Khususnya di Kab dan Kota Bekasi.

Saat jalan tol Japek membelah Bekasi.
Kemudian menjamur perumahan dan kawasan Industri. Kampung pun tergeser !

Parahnya, Kota yang tercipta meninggalkan DNA Mulia dari kampung.
Keguyuban gak ada.
Individualis.
Kehilangan Identitas.
Terlalu transaksionalis.

Kampung diperlukan justru untuk menjadi “solusi” persoalan perkotaan:

a) memulihkan rasa memiliki komunitas dan kepekaan sosial

b) membangun jati diri yang berakar pada adab dan budaya lokal.

C) berpotensi lumbung budaya untuk menghidupi warga

d) menjadi lumbung pengetahuan dan kreatifitas untuk mengatasi persoalan keseharian (sampah, bencana, apatisme, dst)

Maka, kita perlu menghidupkan kembali Ide/ Gagasan yang dimiliki Kampung.

Atau kata Bang Mansyur Janus, “Marilah kita jaga dan lestarikan kampung kita baik alam dan kearifan lokalnya dari pengaruh budaya luar dari manapun … Kita punya budaya sendiri dan kudu kita junjung dan nguri nguri budaya sendiri pergeseran peradaban dan jaman sudah sangat mencolok sekali apalagi jaman sekarang ini …mari lah wujudkan dengan hal sederhana yaitu kumpul guyup seperti jaman sebelum ada tehnologi gadget ..
Teknologi itu penting dan sudah menjadi siklus peradaban tp sebaiknya tidak serta merta meninggalkan kearifan lokal dan budaya kita ..”.??

pencatat: Komarudin Ibnu Mikam

Rundown FESTIVAL KALI PIKET dan PERSAMUHAN PENGGERAK KAMPUNG BEKASISABTU, 04 JAN 202008.00-09.00 PEMBUKAAN MC Pak…

Dikirim oleh Komarudin Ibnu Mikam pada Rabu, 18 Desember 2019

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *