Catatan Pasamuhan Pembakti Kampung Se-Malang Raya

Malang, 23 November 2019

 

“Pancasila Ada di Kampung Mu, Kampung Ku, Kampung Kita Semua Indonesia”

Pasamuhan Pembakti Kampung Se-Malang Raya

Lembah Budaya Kampung Cempluk-

  1. Pembukaan:

Prof. Haryono (Plt. Kepala BPIP)

Salam Pancasila yaitu salam dengan lima jari di atas bahu yang berarti masyarakat Indonesia mampu mengamalkan lima sila Pancasila yang ada.

Kebudayaan bukan hanya sekedar dari seni. Menurut Bahasa Yunani budaya adalah “colere” yang artinya merawat, menjaga, atau mengolah. Kunci dari sebuah kebudayaan adalah inovasi. Berbicara tentang inovasi, teknologi unggul itu merupakan bagian dari kebudayaan.

Selama ini kita hanya memandang Pancasila sebatas toleransi saja, padahal lebih kompleks dari itu. Toleransi harus diikuti dengan kreasi, dan kreasi itulah yang akan menciptakan sebuah inovasi dalam sebuah kebudayaan. Menjadi masyarakat berdaya melalui kebudayaan-kebudayaan yang dimiliki, itu dapat diciptakan melalui kampung-kampung di Indonesia. Dari kampung, Indonesia mampu berkembang dan masyarakat dapat berdaya.

  1. Diskusi:
  2. Yogha Pranata, STP (Penemu Inovasi Taman Energi berbasis Sampah Rumah Tangga)

Latar belakan dari riset adalah permasalahan limbah. Limbah merupakan sumber daya yang tidak dimanfaatkan. Paradigma “buanglah sampah pada tempatnya” rasanya kurang tepat, lebih baik “olahlah sampah dengan teknologi tepat guna”. Kemudian adanya kelangkaan energi, dalam mengatasi masalah kelangkaan energi harusnya menjadi tugas kita bersama, bukan hanya tugas pemerintah saja dengan cara memberikan subsidi. Masyarakat harus mampu mandiri dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitarnya. Masyarakat dan pemerintah harus mampu bergerak bersama agar tercipta masyarakat berdaya. Selanjutnya adanya pupuk kimia, ini yang bahaya, misalnya penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu panjang dapat menurunkan kualitas tanah.

Melihat potensi Kampung, yang pertama adalah Pancasila, yang mana Pancasila harus dipraktikkan tidak hanya sekedar kata-kata saja. Kedua, semangat gotong royong yang masih banyak ditemukan di kampung-kampung. Kita harus mampu melakukan banyak kegiatan secara gotong royong, dan ketiga banyak limbah organik rumah tangga, pertanian dan peternakan yang mampu kita olah dan manfaatkan dengan cara bersama-sama atau gotong royong sehingga mampu menciptakan sebuah masyarakat bedaya dan harmonis.

Solusi taman energi, tujuannya adalah: menghasilkan bahan bakar energi masak listrik, lingkungan bersih, pupuk organik dan sayur organik. Jadi tujuan besar dari taman energi tersebut adalah menjadikan masyarakat mandiri energi, pangan serta ekonomi.

  1. Dr. Rianto M. Hum (Pengantar Kebudayaan Jawa)

Budaya berasal dari kata “budhi” dan “daya”. “Budhi” merupakan akal yang artinya potensi kekuatan yang dimiliki oleh manusia yang dapat menerjemahkan fenomena manusia baik secara nyata atau ghaib, yang dapat diterima oleh manusia lainnya. Kemudian “daya” merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak. Inti dari budaya adalah nilai. Nilai merupakan ide yang berada pada pikiran manusia, karena diyakini itu bermanfaat untuk kehidupan manusia itu sendiri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memandanga kebudayaan adalah: pertama, budaya itu sifatnya relatif, misalnya saja budaya Jawa, Madura dan Sumatera itu berbeda. Tidak dapat disamakan antara budaya yang satu dengan lainnya. Kedua, tidak boleh etnosentris, etnosentris merupakan sebuah persepsi yang menganggap bahwa kebudayaan yang dimiliki itu lebih baik dari kebudayaan lainnya. Padahal semua budaya yang ada di Indonesia itu memang dikodratkan berbeda oleh sang pencipta. Ketiga, sensitivitas kebudayaan, dalam hal ini kkita tidak boleh melihat budaya itu hanya dari gebyarnya saja, tetapi juga lihatlah kebatinannya. Keempat, tafsir kebudayaan yaitu dalam memandang budaya kita harus paham dari tafsir-tafsir yang ada, karena dalam kehidupan manusia selalu membawa tafsirnya masing-masing.

Jika kita ingin melihat sebuah kebudayaan, maka lihatlah karya seninya. Seni menjadi kunci dari sebuah kebudayaan. Seni menjadi kunci dari kebudayaan karena ada “bahasa”. Bahasa yang perlu dipegang antara lain: Bahasa verbal, Bahasa ini langsung dapat kita ketahui. Kemudian, body language yaitu bahasa tubuh manusia, serta para bahasa yaitu intonasi, dari intonasi tersebut mampu membawa sebuah makna. Seni adalah muara dari kebudayaan itu sendiri.

Dalam kebudayaan, cara berpikir manusia juga harus dilihat, karena saat ini makna dari melakukan sebuah aktivitas sudah mulai hilang, karena kebanyakan di zaman ini orang-orang yang melakukan aktivitas sebuah kebudayaan hanya ikut-ikutan saja.

Merdeka dalam sebuah negara merupakan rahmat dari Yang Maha Kuasa. Masalah di Indonesia seperti korupsi, narkoba, itu masih kalah besar dengan masalah jika ideologi Pancasila hilang dalam diri kita. Pancasila termasuk berkat rahmat Allah, jika pancasila hancur, maka hancur pula kita. Oleh karena itu, nilai budaya harus ditanamkan pada bangsa ini.

  1. Prof. Haryono (Plt. Kepala BPIP)

BPIP memiliki komitmen untuk penggiat-penggiat kampung di Indonesia. BPIP tidak ingin kampungnya merdeka, tapi justru masyarakatnya sendiri belum merderak, ini sangat ironis sekali. Mari bersama mengembangkan Pancasila dalam lagu hidup.

Bagaimana kita mampu mengembangkan nilai-nilai budaya menjadi sesuatu yang baik. Karena Pancasila bukan hanya tentang kebaikan, tetapi tentang “keluhuran” dan “kebajikan”. Kemudian diharapkan para jejaring kampun tidak bergantung lagi pada perusahaan-perusahaan besar, kita harus mandiri, masyarakat harus berdaya. Jadikan nilai-nilai Pancasila menjadi nilai hidup. Nilai-nilai tersebut sudah ada pada kehidupan masyarakat, nilai-nilai itu sudah ada di kampung-kampung

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *