KALEIDOSKOP SEWINDU JAPUNG NUSANTARA MENEBAR “VIRUS”, MEMBERI WARNA DALAM GELIAT BUDAYA ANAK NEGERI

Jaringan Kampung Nusantara (Japung Nusantara) sebagai jejaring antar pegiat budaya berbasis kampung dan desa yang tumbuh dari akar rumput, kini telah mencapai usia 8 tahun. Sewindu bisa dianggap sebagai usia yang masih cukup muda, namun muda bukan berarti tidak dewasa, dan kematangan tidak diukur dari umur, tapi ditakar dari apa yang telah menjadi capaian dalam proses perjalanannya.

Delapan tahun silam, 17 Januari 2016, tepat di tengah panas terik siang bolong, di kabupaten yang berada di ujung paling timur Pulau Jawa, Japung Nusantara dideklarasikan dengan gegap gempita. Semula komunitas ini dimaklumatkan dengan judul “Jaringan Festival Kampung Nusantara”, yang diluncurkan dalam rangkaian sebuah event perayaan budaya Festival Kampong Temenggungan, di sebuah kampung yang termarginalkan di kabupaten Banyuwangi. Grup WhatsApp dibuat sehari setelah jejaring ini dideklarasikan.

Grup WA menjadi media berkomunikasi para deklarator jejaring ini, yang semuanya dibebaskan untuk merekomendasikan kawan maupun relasinya yang dianggap se-visi, untuk bisa diajak ikut bergabung di grup WA ini. Dan dalam perjalanannya, terjadi berbagai diskusi menarik yang salah satunya memutuskan untuk merubah nama Jaringan Festival Kampung Nusantara menjadi Jaringan Kampung Nusantara. Kata “Festival” dihilangkan, dengan alasan karena tidak semua anggota grup berorientasi menyelenggarakan kegiatan dalam bentuk festival.

Grup WA ini menjadi media interaksi aktif para anggotanya. Share ide, share pengalaman, atau yang biasa disebut sebagai “saling-silang ide”, menjadi nafas keseharian grup WA yang hari ini beranggotakan 88 orang yang berasal dari berbagai komunitas, dengan diselingi (dalam porsi besar) percakapan saling bully, sebagai tanda kasih sayang dan kerukunan, terutama bagi orang-orang yang cenderung liar dalam berpikir, tidak normatif, dan sangat kreatif (untuk urusan memb-bully) dalam merangkai kata-kata, maupun dalam mengutak-atik desain grafis maupun foto (juga untuk urusan bully-mem-bully).

Dalam Grup WA Japung Nusantara terjadilah komunikasi yang sangat inspiratif, membangun, sekaligus menghibur. Anggota grup WA ini mulai dari aktivis karang taruna, pegiat-pegiat informal kampung, kepala desa, perangkat desa, seniman, budayawan, guru, mahasiswa, dosen, doktor, profesor, sampai artis. Sangat beragam, namun tetap cair.

Selain grup WA, Japung juga memiliki website, yaitu Japungnusantara.org, dan Facebook Jaringan Kampung Nusantara yang juga terus aktif berjalan, mungkin agak perlahan, namun cukup konsisten, menjadi etalase ruang display bagi berbagai dokumentasi dan cerita tentang beraneka kegiatan maupun beragam pemikiran para anggota Japung Nusantara.

Di kemudian hari, para pegiat Japung Nusantara mencoba menarasikan dan menemukan kesimpulan tentang sebetulnya siapa dan “makhluk apa gerangan” mereka ini. Pada perayaan ulang tahun pertama Japung Nusantara, yang diselenggarakan di Villa Handayani, Kota Batu, pada 20-22 Januari 2017, lahirlah sebuah rumusan bersama tentang “pembakti”, inilah kesimpulan tentang apa dan siapa Japung Nusantara.

Japung Nusantara bukanlah sebuah organisasi, Japung Nusantara hanyalah sebuah komunitas bagi para “pembakti” kampung, yang secara riilnya masing-masing orang hanya terikat dalam sebuah grup WhatsApp. Namun perjalanan para personil dan komunitas di Japung Nusantara secara kongkrit, baik secara langsung maupun tidak langsung, telah memberi cukup banyak warna pada berbagai geliat budaya di negeri ini.

Para pembakti Japung Nusantara tentunya cukup bisa mengingat, bagaimana perjalanan Japung Nusantara, di awal-awal berdirinya Japung Nusantara, warna kegiatan anggota-anggota Japung Nusantara lebih pada berbagai kegiatan festival budaya, berupa aktivitas perayaan budaya yang diselenggarakan secara mandiri di pelosok-pelosok kampung para anggota Japung, dengan adanya saling support oleh para pembakti lintas kampung. Selain kegiatan budaya, muncul pula berbagai geliat yang lain, seperti memberdayakan kampung melalui aktivitas konservasi lingkungan hidup, wisata desa, penguatan ekonomi melalui produk-produk UMKM, dan lain sebagainya.

Kehadiran beberapa akademisi sebagai pembakti, turut melahirkan warna-warna yang kuat. Para pembakti yang berbasis akademisi melihat adanya pergerakan masif para pembakti kampung sebagai sebuah sesuatu yang perlu diriset, didokumentasikan, dan dirumuskan sebagai bagian penting dunia keilmuan. Dijadikanlah para pegiat budaya kampung ini sebagai narasumber dalam bebeberapa kegiatan workshop, seminar, bahkan konferensi berlevel internasional, sekaligus apa yang menjadi proses dan capaian para pembakti kampung ini ditulis secara kolektif oleh para pembakti, sebagai rekam jejak para pembakti melalui buku berjudul “Meniti Arus Lokal-Global, Jejaring Budaya Kampung”.

Dalam perjalanan Japung Nusantara, tercatat banyak juga terjadi sinergi “bergizi” antar para pembakti anggota Japung Nusantara. Baik sinergi dalam aneka pemikiran, sampai sinergi dalam berbagai kegiatan, yang murni tumbuh dari akar rumput, komplit dengan terjadinya dinamika maupun sedikit gesekan di sana-sini, sebagai sebuah proses pendewasaan bagi para pembakti, sekaligus sebagai “seleksi alam”, yang mau tidak mau dan suka tidak suka, terjadi pula secara tidak direkayasa.

Maka tidak salah bila kita katakan bahwa, usia sewindu mungkin masih muda, namun muda bukan berarti tidak dewasa, karena telah cukup panjang perjalanan Japung Nusantara dengan segala pengalaman dan warna-warninya. Dan secara langsung maupun tidak langsung, Japung Nusantara sebenarnya telah cukup banyak mewarnai geliat budaya di negeri ini.

Agar koridor yang sudah ada ini tetap terjaga dengan baik, dan makin bisa berkembang dengan proyeksi ke depan yang positif, maka dalam periodik-periodik tertentu diperlukan adanya proses refleksi sejenak untuk merumuskan kembali apa yang selama ini menjadi rekam jejak perjalanan maupun pemikiran para pembakti kampung dalam Japung Nusantara. Terutama terkait dengan “terminal-terminal capaian apa” yang telah ditemukan para pembakti di sepanjang perjalanan, serta sembari “mengintip dan mewaspadai” apa-apa yang menjadi arus besar dalam ranah politik yang bisa berpotensi merusak beraneka tatanan budaya yang telah dibangun.

Selamat ulang tahun sewindu Japung Nusantara

Salam budaya….

Oleh: Bachtiar Djanan




Leave a Reply

Your email address will not be published.