Pembudayaan Desa Berbasis Kawasan – FGD – SDGs Center UB 2024

Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) merupakan komitmen global dan nasional dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Tujuan tersebut dirumuskan ke dalam 17 program berkelanjutan, yaitu: (1) Tanpa Kemiskinan; (2) Tanpa Kelaparan; (3) Kehidupan Sehat dan Sejahtera; (4) Pendidikan Berkualitas; (5) Kesetaraan Gender; (6) Air Bersih dan Sanitasi Layak; (7) Energi Bersih dan Terjangkau; (8) Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; (9) Industri, Inovasi dan Infrastruktur; (10) Berkurangnya Kesenjangan; (11) Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan; (12) Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab; (13) Penanganan Perubahan Iklim; (14) Ekosistem Lautan; (15) Ekosistem Daratan; (16) Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh; (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kesemua tujuan tersebut saling terkait satu sama lain.

Dalam rangka mewujudkan misi SDGs tersebut, dibutuhkan partisipasi setiap pihak bangsa. Individu, komunitas, perguruan tinggi, dan pemerintah berkolaborasi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Tiap individu dan instansi punya potensi dan keahlian masing-masing sehingga apbila dikolaborasikan akan membentuk suatu harmoni. Seperti halnya kampus sebagai lumbung ilmu pengetahuan dapat memproduksi kajian untuk menyokong gerakan tujuan pembangunan berkelanjutan. Sebagaimana tampak pada SDGs Center Fisip UB yang giat melakukan kajian dan pendampingan masyarakat desa.

Pada Jumat, 26 Januari 2024, Pukul 13.30-18.55 WIB, SDGs Center UB melangsungkan agenda FGD (Focus Group Discussion) Penyusunan Rencana Program Sekolah Kader Desa dan Akselerasi Pembudayaan Desa Berbasis Kawasan. Kegiatan yang berlangsung di lantai 8 Gedung C Fisip UB tersebut turut dihadiri oleh Dr. Moh. Muzakki, S.Pd., M.Si., Bito Wikantosa, S.S., M.Hum. (Staf Ahli Kemendes) Hilmar Farid, M.A., Ph.D. (Dirjen Kebudayaan) Mohtar Habudin, M.Si., Dhanny Septimawan Sutopo, S.Sos., M.Si. Dr. I Gusti Agung Anom Astika. Dr. Rianto Hanggendali, M.Hum. Trie Utami (Jaringan Kampung Nusantara), Syahirul Alim, M.Ikom., dan Balai Pelestarian Kebudayaan Perwakilan 13 Desa DPMD Kabupaten, dan undangan khusus para pembakti kampung.

Pada kesempatan tersebut, saat membuka acara, Dr. Moh. Muzakki, S.Pd., M.Si., menyampaikan bahwa problematika dunia belakangan ini, sebagaimana rilis GSDR PBB, berfokus pada pengurangan kesenjangan sosial seminimal mungkin. Diharapkan, SDGs Desa dapat mengurangi kesenjangan tersebut. Dalam konteks ini, masyarakat tidak bisa hanya memanfaatkan suprastruktur pemerintah, tetapi penguatan kerja sama pentahelix. Karena itu, tindakan logis yang perlu ditempuh yaitu pendidikan desa perlu dikembangkan.

Sementara itu, Perwakilan Wakil Rektor I UB, menegaskan pentingnya pembangunan desa demi akselerasi kesetaraan antara kota dan desa. Melihat kebutuhan nyata tersebut, Universitas Brawijaya berkomitmen meningkatkan pembangunan desa. Tahun lalu, Universitas Brawijaya mengadakan program MMD (Mahasiswa Membangun Desa) di 1000 desa. Namun, membangun desa percontohan masih menemukan kesulitan. Tidak hanya itu, ada program Doktor Mengabdi menargetkan desa-desa tertinggal di Jawa dan luar Jawa, serta Profesor Sambang Desa.

Sejalan dengan perlunya akselerasi pembangunan desa, dibutuhkan aktor-aktor di desa yang mempunyai kesadaran dan semangat untuk membangun kebudayaan desa berbasis kawasan. Sebagaimana juga ditekankan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid. M.A., Ph.D., bahwa dengan adanya program Sekolah Kader Desa dari SDGs Fisip UB, diharapkan Sekolah Kader Desa dapat melestarikan kebudayaan asli di masing-masing daerah.

Mendetailkan gagasan-gagasan sebelumnya, Bito Wikantosa, S.S., M.Hum. dari Kemendesa, menguraikan hal-hal yang harus ada dalam Sekolah Kader Desa. Pertama, harus menanam nilai desa-desa. Semakin besar lulusan kader desa yang berpendidikan, maka besar kemungkinan desa tersebut mengurus desanya sendiri. Kedua, harus menghasilkan output konkret untuk desa, mengaktualisasi desa. Ketiga, kader-kader desa harus menjadi pelopor desa yang mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan memanajemen desanya baik dari segi data mengenai desa dan konflik di desa. Perlu adanya proses pembimbingan/mentoring saat turun lapangan. Keempat, meliputi aksi refleksi. Hasil dari Pendidikan kader desa harus berbasis lokalitas yang menghasilkan output yang linier dengan kebudayaan.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Desa Sumberdem dan Desa Sukolilo turut berbicara tentang harapan Sekolah Kader Desa dapat mendorong peningkatan kualitas sumber daya alam dan manusia, menguatkan posisi desa karena mampu berdaya sendiri. Pengembangan potensi desa: sentra olahraga, sentra UMKM produk singkong, gula merah, wisata.

Persoalan, tantangan, potensi, dan harapan telah terangkaum dalam pertemuan Sekolah Kader Desa yang difasilitasi SDGs Center Fisip UB. Agenda tersebut hanyalah langkah awal kerja-kerja tujuan pembangunan berkelanjutan ke depan. Harapannya melalui pertemuan ini, tujuan semakin jelas sehingga langkah konkret dan strategis dapat dilakukan dengan kolaborasi antarpihak.

 




Leave a Reply

Your email address will not be published.